Prasasti Anjuk Ladang (juga dikenal sebagai Prasasti Candi Lor) merupakan salah satu dokumen sejarah paling krusial dari periode awal Kerajaan Medang di Jawa Timur. Dikeluarkan oleh Sri Maharaja Mpu Sindok Sri Isyanawikrama Dharmottungadewawijaya pada abad ke-10 Masehi, prasasti ini tidak hanya mencatat anugerah tanah perdikan (sima), tetapi juga menjadi saksi bisu peristiwa militer yang mempercepat konsolidasi kekuasaan di wilayah baru setelah perpindahan ibu kota dari Jawa Tengah. Prasasti ini berangka tahun 859 Saka (937 M) menurut Louis-Charles Damais, atau 857 Saka (935 M) versi Jan Laurens Andries Brandes. Ia ditemukan di reruntuhan Candi Lor, Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, sekitar 4 km selatan kota Nganjuk.
Saat ini, prasasti asli (nomor inventaris D.59) disimpan di Museum Nasional Jakarta. Batu andesitnya berukuran besar: panjang sekitar 1 meter, lebar 0,8 meter, dan tinggi mencapai 2,1 meter. Tulisan terpahat pada dua sisi, muka (recto) berisi 49 baris dan belakang (verso) sekitar 14–36 baris, menggunakan aksara Jawa Kuno (Pallawa) dan bahasa Jawa Kuno. Sayangnya, bagian atas banyak aus akibat cuaca dan usia, sehingga rekonstruksi penuh bergantung pada perbandingan dengan puluhan prasasti Mpu Sindok lainnya. Transkripsi alih aksara pertama kali dilakukan Brandes (sekitar 1887) dan dimuat dalam Oud-Javansche Oorkonden (1913) oleh N.J. Krom. Terjemahan lengkap belum pernah diterbitkan secara resmi; para ahli hanya menganalisis bagian-bagian kunci.
Isi Prasasti: Transkripsi Parsial dan Penafsiran
Prasasti dimulai dengan kalender (kalendriks) yang presisi:
Swasti cakawarsatita 857 caitramasa tithi dwadacicuklapaksa naksatra barunadewata brahmayoga kolawakarana irika diwa…
Ini menunjukkan tanggal tepat 10 April 937 M (atau 935 M), hari Krishna paksa ke-12 bulan Caitra. Kemudian disebutkan perintah raja:
Sanya ajna sri mharaaja pu sindok sri isanawikrama dharmmotunggadewa tinadah rakryan mapighai kalih rake hino pu sahasra, rake wka pu balicwara umingso i rakai kanuruhan pu da kumonakan ikanang lmah sawah kakatikan…
Raja memerintahkan pejabat tinggi (Rakai Hino Pu Sahasra, Rakai Wka Pu Baliswara, Rakai Kanuruhan Pu Da) untuk menjadikan tanah sawah kakatikan (kemungkinan jenis sawah tertentu) di Anjuk Ladang sebagai sima (tanah perdikan bebas pajak). Tanah ini dipersembahkan kepada bhatara di sang hyang prasada kabhaktyan (bangunan suci) di Sri Jayamerta, sebagai dharma (persembahan suci) dari Samgat Anjuk Ladang.
Bagian paling ikonik (baris A.14–15):
… parnnaha nikanan lmah unwana san hyan prasada atêhêra jaya[sta]mbha wiwit matêwêkniranlahakan satru[nira] [haj]ja[n] ri [ma]layu.
Terjemahan bebas: “Di tempat ini [yang telah dipilih] agar menjadi tempat didirikannya bangunan suci, sebagai pengganti tugu kemenangan (jayastambha), [di sanalah] pertamakali menandai saat ia [raja] mengalahkan musuhnya, raja dari Malayu.”
Ini bukti langsung bahwa jayastambha (tugu kemenangan) didirikan untuk memperingati kemenangan atas pasukan Malayu, lalu diganti dengan candi suci, kemungkinan besar Candi Lor itu sendiri. Prasasti juga memuat daftar panjang mangilala drwyahaji (pajak dan pungutan yang dilarang masuk ke wilayah sima), seperti pangkur, tawan, tirip, pangaruhan taji, hingga juru tuha judi. Ada pula pasak-pasak (hadiah emas dan kain) bagi 43 pejabat yang menghadiri upacara manasuk sima. Bagian akhir berisi sapatha (kutukan) bagi pelanggar: “Siapa yang melanggar akan dikutuk dewa, dimakan harimau, disambar petir, atau menderita di neraka.”
Frasa penting lain: “Kita prasiddha mangraksa kadatwan rahyangta i Mdan i Bhûmi Matarâm” , menegaskan kelanjutan tahta Mataram di Medang (nama istana baru di Jawa Timur).

Konteks Sejarah: Jasa Rakyat Anjuk Ladang dan Ancaman Malayu
Menurut Prof. J.G. de Casparis (dalam Some Notes on Transfer of Capitals in Ancient Sri Lanka and Southeast Asia, 1958), penduduk Anjuk Ladang berjasa besar membantu pasukan Mpu Sindok menghalau invasi tentara Malayu (kemungkinan besar dari Sriwijaya atau kerajaan vassalnya di Jambi). Pasukan musuh telah mencapai dekat Nganjuk, mengancam ibu kota baru Watugaluh. Atas jasa itu, desa diberi status sima swatantra (bebas pajak, otonom, dan suci). De Casparis menghubungkan peristiwa ini dengan naiknya Mpu Sindok dari pejabat tinggi menjadi raja penuh, sebuah hadiah politik atas loyalitas rakyat.
Prasasti ini dikeluarkan sekitar 8 tahun setelah Mpu Sindok naik takhta (929 M). Ia menunjukkan strategi politik-ekonomi cerdas: memberikan sima bukan hanya sebagai imbalan militer, tetapi juga untuk mendorong pertanian, loyalitas, dan pemeliharaan candi. Sri Jayamerta (kemungkinan nama candi atau petirtaan) menjadi pusat keagamaan Hindu-Siwa yang mendukung legitimasi Wangsa Isyana.
Signifikansi bagi Sejarah Perpindahan Mataram dan Fondasi Majapahit
Prasasti Anjuk Ladang menjadi “benih” nama Nganjuk modern. “Anjuk” berarti kemenangan atau tanda kemenangan, “Ladang” berarti wilayah, sehingga Anjuk Ladang = “daerah kemenangan”. Karena pengaruh pengucapan Jawa kuno, nama ini berevolusi menjadi Nganjuk. Ini toponim tertua yang tercatat di Jawa Timur.
Secara lebih luas, prasasti ini mengungkap dinamika perpindahan kekuasaan:
- Ancaman eksternal: Invasi Malayu mempercepat konsolidasi di lembah Brantas yang lebih strategis dan subur.
- Rekonstruksi kerajaan: Sistem sima menjadi model feudal yang stabil, mendukung pembangunan infrastruktur dan candi-candi baru.
- Kelanjutan dinasti: Wangsa Isyana yang lahir dari tangan Mpu Sindok menjadi jembatan langsung ke Airlangga, Kediri, Singhasari, hingga Majapahit. Frasa “mangraksa kadatwan rahyangta i Bhumi Mataram” menegaskan kontinuitas, bukan pemutusan.
Berbeda dengan prasasti Cunggrang (929 M) yang lebih fokus pada pendirian sima religius di Gunung Penanggungan, Anjuk Ladang lebih “politik-militer”—menunjukkan bagaimana Mpu Sindok mengubah bencana (letusan Merapi + invasi) menjadi peluang fondasi peradaban baru.
Warisan Hari Ini dan Potensi Pembelajaran Sejarah
Candi Lor (kemungkinan besar candi yang disebutkan) kini hanya reruntuhan bata merah, tapi menjadi cikal bakal Kabupaten Nganjuk. Museum Anjuk Ladang di Nganjuk menyimpan replika prasasti dan artefak terkait, termasuk fosil mamalia dan benda arkeologi lain. Prasasti ini menjadi sumber utama bagi penelitian sejarah lokal dan nasional, potensinya sebagai bahan ajar sangat tinggi karena menggabungkan elemen militer, ekonomi, agama, dan budaya.
Meski belum ada terjemahan lengkap, rekonstruksi dari puluhan prasasti Sindok lainnya memungkinkan pemahaman utuh. Prasasti Anjuk Ladang bukan sekadar batu bertulis, melainkan bukti hidup bahwa perpindahan Mataram ke timur bukan pelarian, melainkan strategi visioner Mpu Sindok yang menyelamatkan peradaban Jawa dari kepunahan.
Dengan demikian, prasasti ini menguatkan narasi besar: dari kehancuran Borobudur-Prambanan akibat Merapi, lahir kerajaan baru yang tangguh, yang kelak melahirkan Majapahit, kerajaan maritim terbesar Nusantara. Anjuk Ladang bukan akhir cerita, melainkan babak baru kemenangan yang abadi.

