Di Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tersimpan sebuah harta karun budaya yang rapuh namun penuh makna mendalam. Manuskrip Bendel Cerita Hong Sin, atau lebih dikenal sebagai Hong Sin (Feng Shen) Penganugerahan Malaikat, adalah salah satu objek manuskrip sastra klasik Tiongkok yang menjadi bagian koleksi berharga di Museum Pribadi Tony Hersono, atau Museum Fu He An. Terbuat sepenuhnya dari bahan kertas, manuskrip ini memiliki dimensi lebar 21 cm, panjang 16 cm, dan tebal 3 cm. Ukuran kompak ini membuatnya mudah dibawa dan dibaca, khas bacaan tradisional Peranakan yang beredar di kalangan komunitas Tionghoa-Indonesia pada masa lalu. Menurut Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, manuskrip ini adalah cerita tentang penganugrahan malaikat, sebuah roman epik yang mengisahkan perebutan kekuasaan antara manusia, dewa, dan makhluk gaib, di mana para pahlawan dianugerahi gelar keilahian setelah pertempuran besar.
Cagar Budaya
Manuskrip Sastra Sin Jin Kwie Ceng See: Jejak Kertas yang Menyimpan Epik Kepahlawanan Dinasti Tang di Tanah Jombang
Di tengah hiruk-pikuk Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terdapat sebuah benda yang tampak sederhana namun menyimpan kekayaan budaya lintas zaman dan benua. Manuskrip Sastra Sin Jin Kwie Ceng See adalah salah satu objek warisan budaya yang kini disimpan dengan penuh kehati-hatian di Museum Pribadi Tony Hersono, atau lebih dikenal sebagai Museum Fu He An, yang berlokasi di Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. Manuskrip ini bukan sekadar tumpukan kertas lama; ia adalah saksi bisu perjalanan sastra klasik Tiongkok yang telah meresap ke dalam khazanah budaya Tionghoa-Indonesia. Dibuat dari bahan kertas, dengan dimensi lebar 22 cm, panjang 34 cm, dan tinggi 3 cm, manuskrip ini menjadi bukti hidup bagaimana cerita kepahlawanan seorang jenderal Dinasti Tang menyeberangi lautan dan berakar di Nusantara.
Cerita Babad Desa Jombang Versi Buyut Sarmi: Legenda Asal-Usul Nama dan Jejak Peradaban Hindu-Buddha di Laporan Penelitian Percandian Abad 9-15 Masehi
Dalam buku Laporan Penelitian Percandian Hindu-Buddha Abad 9-15 Masehi di Jombang yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang pada tahun 2025, salah satu bagian yang paling menarik perhatian adalah pembahasan mendalam tentang Cerita Babad Desa Jombang Versi Buyut Sarmi. Halaman 5 buku ini secara khusus menguraikan versi babad tersebut sebagai salah satu narasi rakyat yang menjadi kunci untuk memahami asal-usul nama “Jombang” sekaligus menghubungkannya dengan konteks arkeologi dan historiografi percandian Hindu-Buddha di wilayah tersebut.
Menggali Warisan Percandian Hindu-Buddha di Jombang: Tinjauan Mendalam Buku “Laporan Penelitian Percandian Hindu-Buddha Abad 9-15 Masehi di Jombang”
Pada tahun 2025, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang menerbitkan sebuah karya penting yang menjadi tonggak baru dalam pelestarian warisan budaya Jawa Timur. Buku berjudul Laporan Penelitian Percandian Hindu-Buddha Abad 9-15 Masehi di Jombang ini bukan sekadar dokumen administratif, melainkan laporan penelitian ilmiah yang komprehensif tentang situs-situs percandian (candi dan bangunan suci) Hindu-Buddha yang tersebar di wilayah Kabupaten Jombang. Dengan logo resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang yang menampilkan simbol pemerintahan daerah, buku ini diterbitkan sebagai bentuk konkret komitmen pemerintah kabupaten dalam mendokumentasikan sejarah klasik Jombang yang sering kali terabaikan di tengah hiruk-pikuk pembangunan modern.
Rekonstruksi Geospasial Prasasti Pucangan: Mengungkap Lokasi Pertapaan Airlangga di Lereng Gunung Pugawat
Pada 31 Maret 2026, Aula 1 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang menjadi saksi Diskusi Epigrafi Nusantara #53 yang diselenggarakan PAEI KOMDA JATIM. Pembicara utama, Rakai Hino Galeswangi, menyajikan materi berjudul “Rekonstruksi Geospasial Prasasti Pucangan”. Presentasi ini tidak sekadar memaparkan isi prasasti, melainkan melakukan rekonstruksi spasial secara ilmiah untuk menjawab perdebatan panjang tentang lokasi asli pertapaan yang disebut dalam prasasti tersebut. Dengan menggabungkan analisis epigrafi, etimologi, toponimi, dan bukti arkeologis, Galeswangi menawarkan pendekatan geospasial yang membuka kemungkinan baru: Gunung Pucangan di Jombang sebagai lokasi paling masuk akal bagi pertapaan suci yang dibangun Raja Airlangga.
Pameran Aksara Gata: Mengungkap Makna dan Membaca Tanda dalam Jejak Budaya Nusantara
Pada tanggal 30 Maret hingga 2 April 2026, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang menyelenggarakan Pameran Aksara Gata sebagai bagian dari Program Pelestarian dan Pengelolaan Cagar Budaya. Pameran ini digelar di lingkungan dinas setempat dan menghadirkan puluhan panel edukatif berdesain elegan dengan latar hitam yang memperkuat nuansa historis. Judul besar “AKSARA GATA” dengan subjudul “Mengungkap Makna Membaca Tanda” langsung menyambut pengunjung, dikelilingi ornamen kaligrafi dan motif arsitektur tradisional yang mengingatkan pada pintu gerbang pengetahuan masa lalu.
Analisis Perbandingan Prasasti-Prasasti Mpu Sindok: Strategi Rekonstruksi Kerajaan Medang di Jawa Timur (929–947 M)
Mpu Sindok, raja pertama periode Jawa Timur Kerajaan Medang (Mataram Kuno), meninggalkan warisan epigrafi yang luar biasa: setidaknya 20 prasasti yang tersebar dari tahun 929 hingga 944 Masehi. Prasasti-prasasti ini menjadi sumber utama untuk memahami perpindahan ibu kota dari Bhumi Mataram (Jawa Tengah) ke Watugaluh (Jombang) serta pendirian Wangsa Isyana. Berbeda dengan periode Jawa Tengah yang prasastinya lebih sporadis, dokumen-dokumen Sindok hampir seluruhnya berfokus pada penetapan sima (tanah perdikan bebas pajak), anugerah loyalitas, infrastruktur, dan legitimasi religius. Analisis perbandingan ini mengungkap evolusi kebijakan: dari fondasi religius-legitimasi di awal pemerintahan, menuju pembangunan ekonomi-militer di fase konsolidasi.
Prasasti Anjuk Ladang: Analisis Mendalam atas Bukti Sejarah Perjuangan Mpu Sindok dan Lahirnya Wangsa Isyana di Jawa Timur
Prasasti Anjuk Ladang (juga dikenal sebagai Prasasti Candi Lor) merupakan salah satu dokumen sejarah paling krusial dari periode awal Kerajaan Medang di Jawa Timur. Dikeluarkan oleh Sri Maharaja Mpu Sindok Sri Isyanawikrama Dharmottungadewawijaya pada abad ke-10 Masehi, prasasti ini tidak hanya mencatat anugerah tanah perdikan (sima), tetapi juga menjadi saksi bisu peristiwa militer yang mempercepat konsolidasi kekuasaan di wilayah baru setelah perpindahan ibu kota dari Jawa Tengah. Prasasti ini berangka tahun 859 Saka (937 M) menurut Louis-Charles Damais, atau 857 Saka (935 M) versi Jan Laurens Andries Brandes. Ia ditemukan di reruntuhan Candi Lor, Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, sekitar 4 km selatan kota Nganjuk.
Budaya Arek di Jombang: Warisan Majapahit yang Egaliter dan Tetap Hidup di Tengah Zaman
Budaya Arek merupakan salah satu identitas paling khas di Jawa Timur. Ia bukan sekadar dialek atau kesenian, melainkan cara hidup yang egaliter, lugas, dan penuh semangat gotong royong. Wilayah Arek secara historis mencakup wilayah timur Sungai Brantas: Surabaya, Mojokerto, Malang, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, dan tentu saja Jombang. Di Jombang, budaya Arek bukan campuran biasa, melainkan inti yang paling kuat karena letak geografisnya tepat di pusat bekas Kerajaan Majapahit.
Naskah Pelestarian Warisan Budaya Takbenda oleh BPK Wilayah XI: Fondasi Ilmiah untuk Keberlanjutan Identitas Jawa Timur
Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI, yang berbasis di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, memainkan peran sentral sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kebudayaan dalam menjaga warisan budaya takbenda (WBTb) di Provinsi Jawa Timur. Warisan budaya takbenda mencakup segala bentuk pengetahuan, praktik, ekspresi, dan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun, seperti seni pertunjukan, tradisi lisan, ritus, dan bahasa daerah. Berbeda dengan cagar budaya benda yang berwujud fisik, WBTb rentan punah jika tidak didokumentasikan, dipelajari, dan diwariskan secara aktif.