Pameran Aksara Gata: Mengungkap Makna dan Membaca Tanda dalam Jejak Budaya Nusantara

Pada tanggal 30 Maret hingga 2 April 2026, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang menyelenggarakan Pameran Aksara Gata sebagai bagian dari Program Pelestarian dan Pengelolaan Cagar Budaya. Pameran ini digelar di lingkungan dinas setempat dan menghadirkan puluhan panel edukatif berdesain elegan dengan latar hitam yang memperkuat nuansa historis. Judul besar “AKSARA GATA” dengan subjudul “Mengungkap Makna Membaca Tanda” langsung menyambut pengunjung, dikelilingi ornamen kaligrafi dan motif arsitektur tradisional yang mengingatkan pada pintu gerbang pengetahuan masa lalu.

Pameran ini bukan sekadar pameran visual, melainkan perjalanan intelektual yang mengajak masyarakat memahami bagaimana aksara menjadi medium komunikasi, agama, kekuasaan, sastra, dan bahkan hubungan manusia dengan alam. Melalui kurasi yang rapi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang berhasil menyajikan narasi lintas zaman mulai dari aksara Pallawa abad ke-5 hingga aksara Latin era kolonial, sekaligus menegaskan komitmen pelestarian cagar budaya di Jombang sebagai bagian dari warisan nasional Nusantara.

Latar Belakang Historis Aksara di Nusantara

Sejak masuknya pengaruh India sekitar abad ke-5 Masehi, aksara Pallawa menjadi fondasi tradisi tulis-menulis di Nusantara. Panel “Perkembangan Aksara di Nusantara: Aksara Pallawa, Awal dari Sebuah Tradisi” menjelaskan bahwa prasasti tertua ditemukan di Bukit Bebus, Muara Kaman, Kalimantan Timur pada 1879. Prasasti-prasasti Kerajaan Kutai ini menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta, menandai awal kekuasaan kerajaan di wilayah timur Nusantara. Di Jawa, aksara ini berkembang menjadi Aksara Jawa Kuno (Kawi) dengan variasi Kawi Tua (750–925 M), Kawi Muda (925–1250 M), dan varian lokal masa Majapahit.

Panel “Aksara Sumatra Kuno: Lokalitas dalam Perkembangan Aksara di Nusantara” menunjukkan Prasasti Hujung Langit (997 M) sebagai penanda munculnya aksara Sumatra Kuno yang kemudian melahirkan aksara Rejang (Bengkulu), Kaganga (Lampung), dan Batak. Sementara itu, panel “Aksara Sunda Kuno: Variasi Aksara di Bumi Jawa” memamerkan Prasasti Kawali, Kebontenan, dan Batutulis yang menggunakan bahasa Sunda Kuno hingga abad ke-18. Aksara Bali Kuno pun mendapat sorotan tersendiri pada panel “Aksara Bali Kuno: Warna Aksara dalam Rekaman Kehidupan”, dengan Prasasti Sukawana (804 Saka/882 M) sebagai bukti paling awal.

Islam membawa revolusi baru melalui Aksara Arab. Panel “Aksara Arab: Medium Budaya dan Agama Melalui Aksara” menegaskan bahwa aksara ini masuk sejak abad ke-13 M dan berkembang menjadi Pegon (Jawa dan Sunda) serta Jawi (Melayu). Naskah lontar, kertas, dan nisan masjid kuno menjadi media utama penyebaran agama dan budaya. Seni kaligrafi Islam (khat) bahkan disebut sebagai “spiritual geometry” seperti dikutip dari Yaqut Al-Musta’shimi pada panel “Spiritualitas dalam Seni Kaligrafi Islam”.

Manuskrip Tek Djin Peng Lan Warisan Hidup Cerita Rakyat Tionghoa di Tengah Masa Kolonial Indonesia
Manuskrip Tek Djin Peng Lan Warisan Hidup Cerita Rakyat Tionghoa di Tengah Masa Kolonial Indonesia

 

Inti Pameran: Mengurai Makna di Balik Tanda

Salah satu panel paling filosofis adalah “AKSARA MENGURAI MAKNA”. Teksnya menyatakan bahwa kemunculan aksara di Nusantara bukan sekadar literasi, melainkan medium berbagi konsep, ide, dan pengetahuan yang sarat makna. Epigraf dan filolog berhasil membongkar “lempeng-lempeng logam” dan “bongkah-bongkah batuan” serta deretan lontar untuk mengungkap misteri masa lalu.

Panel “Aksara dan Sastra” menghadirkan syair indah terjemahan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang terpahat pada nisan Sultan Malik Al-Saleh (Kerajaan Samudera Pasai) dan nisan di Barus serta Papan Tinggi. Syair tersebut berbunyi:

Sesungguhnya dunia ini fana Dunia ini tiada kekal Sesungguhnya dunia ini ibarat sarang Yang ditenun oleh laba-laba Sesungguhnya memadailah buat engkau dunia ini Hai orang yang mencari makan Dan hidup hanya singkat saja Semuanya tentu akan menuju kematian.

Puisi ini menjadi pengingat bahwa aksara bukan hanya alat tulis, melainkan pembawa pesan spiritual yang abadi.

Panel “Aksara Han: Pintu Masuk Menuju Dunia Kosmopolit” mengejutkan dengan temuan prasasti beraksara Han di Pasir Kapal (Kepulauan Selat Karimata) dan dua prasasti baru yang ditemukan warga Desa Ngasinan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang pada Agustus 2024. Temuan ini membuktikan adanya kontak dagang dan ekspedisi Dinasti Yuan abad ke-11 dengan Nusantara.

Spiritualitas, Kuasa, dan Mantra

Pameran juga menyoroti dimensi spiritual dan kekuasaan. Panel “Spiritualitas dalam Seni Kaligrafi Islam” memaparkan perkembangan khat Kufi sejak abad ke-11 hingga gaya Naskhi, Tsuluts, dan Riqa’ yang populer di Cirebon, Yogyakarta, Surakarta, dan Palembang. Sementara panel “Aksara dan Kuasa” menjelaskan bagaimana prasasti digunakan sebagai alat hegemoni dan kontrol sosial, seperti Prasasti Yupa di Kutai dan Prasasti Kota Kapur di Sriwijaya yang memuat sumpah dan kutukan.

Lebih menarik lagi, panel “Aksara dan Mantra” membahas tradisi lisan yang kemudian dituliskan. Mantra usadha di Jawa dan Bali, mantra pengobatan Banjar berbahasa Arab Melayu, hingga naskah Pustaha Laklak Batak yang berisi ilmu hitam dan pengobatan, menunjukkan betapa aksara menjadi penyimpan pengetahuan gaib dan medis.

Panel “Aksara dan Alam” serta “Seni Menatah Alam” menggambarkan bagaimana alam menjadi inspirasi utama. Motif sulur, bunga melati, lotus, dan pucuk rebung pada nisan Makam Kawah Tekurep Palembang serta larangan memburu hewan tertentu pada prasasti membuktikan kesadaran ekologis leluhur kita.

Kitab Anbiya Naskah Kuno Beraksara Pegon Bahasa Jawa Baru di Dusun Payak Santren, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang
Kitab Anbiya Naskah Kuno Beraksara Pegon Bahasa Jawa Baru di Dusun Payak Santren, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang

 

Visual dan Artefak yang Menghidupkan Narasi

Foto-foto yang diabadikan pengunjung menunjukkan betapa kaya visual pameran. Ada replika batu prasasti beraksara Sunda Kuno yang berbentuk daun lontar, relief nisan batu dengan kaligrafi Arab bergaya Kufi, peta benteng era Portugis yang menandai masuknya aksara Latin pada 1522 (Prasasti Padrao), serta gambar naskah lontar Bali yang penuh ilustrasi tokoh pewayangan.

Panel “Aksara Jawa Kuno: Riwayat Transisi & Adaptasi” menampilkan foto Prasasti Hampran (750 M) di Salatiga, sementara panel “Langgam Aksara Para Pujangga” menjelaskan variasi tulisan Kawi yang membulat, condong, hingga miring (kursif) seperti tipe Sukuh.

Semua panel dilengkapi teks bilingual (Indonesia-Inggris) dan sumber rujukan ilmiah seperti Repositori Benda Cagar Budaya, sehingga pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga memahami konteks akademisnya.

Signifikansi Program Pelestarian Cagar Budaya

Pameran Aksara Gata bukan sekadar pameran sementara. Ini bagian dari program strategis Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap cagar budaya. Di tengah ancaman urbanisasi dan digitalisasi, pengetahuan tentang aksara menjadi benteng pelestarian identitas. Melalui pameran ini, generasi muda diajak mengenal bahwa aksara bukan artefak mati, melainkan “gata” atau gerbang menuju pemahaman masa lalu yang hidup.

Dalam kurun empat hari (30 Maret–2 April 2026), pameran diharapkan menarik ribuan pengunjung dari kalangan pelajar, mahasiswa, tokoh masyarakat, dan wisatawan. Kegiatan pendamping seperti workshop membaca aksara kuno, diskusi filologi, dan tur virtual juga direncanakan, sehingga pameran menjadi sarana edukasi interaktif.

Kitab Anbiya Naskah Kuno Beraksara Pegon Bahasa Jawa Baru di Dusun Payak Santren, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang Jawa Timur
Kitab Anbiya Naskah Kuno Beraksara Pegon Bahasa Jawa Baru di Dusun Payak Santren, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang Jawa Timur

 

Kesimpulan: Aksara sebagai Warisan yang Hidup

Pameran Aksara Gata berhasil menyatukan berbagai benang merah sejarah Nusantara: dari Pallawa hingga Han, dari Arab hingga Latin, dari mantra hingga kaligrafi. Setiap panel bukan hanya informasi, melainkan undangan untuk “membaca tanda” , tanda bahwa budaya kita kaya, berlapis, dan penuh makna.

Seperti yang tertulis pada panel pembuka: “Manusia memiliki cara tersendiri dalam berkomunikasi… berawal dari ungkapan simbolik, berkembanglah aksara yang kemudian disepakati dan dipahami oleh sekelompok masyarakat sebagai sarana berkomunikasi, menyampaikan gagasan atau pesan, hingga menyebarluaskan ilmu pengetahuan.”

Di Jombang, pada awal April 2026, kita diajak kembali merenung: betapa pentingnya menjaga aksara agar tidak hanya menjadi artefak di museum, melainkan tetap menjadi “gata” yang membuka pintu pemahaman bagi generasi mendatang. Pameran ini membuktikan bahwa pelestarian cagar budaya bukan tugas pemerintah semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat yang mencintai warisan leluhur.

Dengan semangat “Aksara Gata”, mari kita terus mengungkap makna dan membaca tanda agar budaya Nusantara tetap hidup, berkembang, dan menginspirasi dunia.

Tinggalkan komentar