Pada Kamis, 1 April 2026, Halaman Aula Terbuka Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang bertransformasi menjadi panggung budaya yang penuh semarak. Udara pagi yang masih sejuk disambut oleh ratusan anak sekolah dasar dan guru yang antusias. Sekitar 300 peserta dari lima sekolah, SDK Wijana Jombang, SDK Petra Jombang, SD Negeri Sengon Jombang, SD Negeri Jombang 2, serta SD Negeri Bendet, berkumpul dalam acara “Wayang Masuk Sekolah”. Program ini merupakan wujud nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Jombang dalam melestarikan warisan budaya Jawa, khususnya wayang kulit, di tengah gempuran digitalisasi dan modernisasi yang semakin masif.
Acara ini bukan sekadar hiburan semata. Seperti yang sering ditegaskan Bupati Jombang Warsubi, wayang harus dikenalkan sejak dini sebagai pondasi budaya generasi muda. Wayang bukan hanya tontonan, melainkan pelajaran cinta tanah air, nilai-nilai luhur, dan kearifan lokal yang terkandung dalam setiap lakon dan filosofinya. Program “Wayang Masuk Sekolah” yang digagas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang ini telah berjalan sejak tahun sebelumnya, dengan berbagai lokasi seperti di Perguruan Muhammadiyah Mentoro. Pada 1 April 2026, giliran halaman terbuka dinas menjadi saksi bagaimana seni tradisional ini “masuk” ke hati anak-anak sekolah.
Jadwal acara yang padat namun edukatif dimulai tepat pukul 08.00 WIB. Suasana langsung hidup dengan Tampilan Karawitan Anak dari SMP Negeri 1 Kudu. Anak-anak pelajar SMP ini membawakan komposisi gamelan Jawa yang merdu, mengalunkan irama tradisional sebagai penyambutan tamu undangan. Lantunan saron, gender, dan kendang membius hadirin, seolah mengingatkan bahwa generasi muda Jombang masih mampu menjaga kelestarian karawitan. Penampilan ini bukan hanya pembuka, melainkan pengingat bahwa musik gamelan, jiwa dari wayang kulit, masih bernyawa di kalangan pelajar.

Pukul 09.10, acara resmi dibuka oleh pemandu acara dengan sambutan hangat. Suasana semakin meriah saat Tampilan Tari Pembuka “Pugno Gandrung” oleh IJ Art. Tari ini, yang kental dengan nuansa gandrung Jawa Timur, dibawakan dengan energik oleh penari-penari muda. Gerakannya yang lincah, kostum warna-warni, dan iringan musik menciptakan suasana penuh kegembiraan. “Pugno Gandrung” sendiri merupakan kreasi tari lokal yang menggabungkan elemen tradisional dengan sentuhan kontemporer, menjadi simbol bahwa budaya Jawa tetap relevan dan menarik bagi generasi Z.
Setelah doa yang dipimpin panitia pada pukul 09.25, acara memasuki bagian inti. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang menyampaikan laporan kegiatan selama sepuluh menit. Beliau menjelaskan bahwa “Wayang Masuk Sekolah” adalah bagian dari Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Kabupaten Jombang yang sedang disusun Tim PPKD. Program ini bertujuan tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik anak-anak tentang nilai-nilai wayang sebagai media pendidikan karakter.
Pukul 09.40, sambutan resmi disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam orasinya, beliau menekankan pentingnya mengintegrasikan budaya lokal ke dalam kurikulum sekolah. “Wayang adalah cermin kehidupan. Di dalamnya ada filsafat, sejarah, dan moral yang bisa membentuk karakter anak bangsa,” ujarnya. Sambutan ini disambut tepuk tangan meriah oleh para murid yang mengenakan seragam sekolah mereka.
Puncak acara terjadi pada pukul 09.55 hingga 10.25: Pagelaran Wayang oleh Ki Sri Bawono Kusdi Waluyo. Ki Bawono, dalang cilik asal Bakalanrayung, Kudu, Jombang, yang telah dikenal sejak kecil sebagai prodigy wayang kulit gagrag Jawa Timuran, tampil memukau. Meski masih muda, ia telah pentas di berbagai acara, termasuk Hari Wayang Sedunia. Lakon yang dibawakan (meski tidak disebutkan secara spesifik dalam rundown, namun sesuai gaya Ki Bawono) penuh dengan dialog kocak, musik gamelan yang hidup, dan visual wayang kulit yang indah. Anak-anak peserta terpukau melihat bayangan wayang di layar, mendengar suara dalang yang lincah, dan merasakan langsung bagaimana wayang mampu menyampaikan cerita epik Mahabharata atau Ramayana dengan bahasa yang mudah dipahami. Penampilan Ki Sri Bawono Kusdi Waluyo ini menjadi magnet utama, membuktikan bahwa wayang bukan milik orang tua saja, melainkan bisa dikuasai dan dinikmati generasi muda.
Setelah pagelaran, pukul 10.25 hingga 10.55, digelar Workshop Wayang Bersama Tim PPKD Jombang. Tim Penyusun Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah ini memberikan materi praktis. Peserta diajak mengenal anatomi wayang kulit, cara memainkan tokoh-tokoh wayang, bahkan mencoba teknik dasar mendalang. Workshop ini interaktif; anak-anak antusias memegang wayang, belajar gerak-gerik, dan memahami simbolisme di balik setiap tokoh seperti Puntadewa atau Werkudara. Tim PPKD menjelaskan bahwa wayang adalah media pendidikan holistik, mengajarkan etika, kepemimpinan, dan harmoni sosial.
Sesi berikutnya, pukul 10.55 hingga 11.25, adalah Tanya Jawab bersama Imam Ghozali. Drs. Imam Ghozali AR, M.Hum., pegiat teater kawakan Jombang dan salah satu pemateri PPKD, menjadi narasumber. Beliau yang malang melintang di dunia teater profesional menjelaskan filosofi wayang secara mendalam. “Wayang adalah cermin diri. Setiap lakon mengajarkan bagaimana menghadapi konflik kehidupan dengan bijaksana,” ujar Imam Ghozali. Anak-anak dan guru diberi kesempatan bertanya, mulai dari “Kenapa wayang harus dilestarikan?” hingga “Bagaimana cara menjadi dalang cilik seperti Ki Bawono?”. Sesi ini sangat edukatif, menghubungkan wayang dengan kehidupan sehari-hari dan tantangan modern.
Pukul 11.25 hingga 11.50, suasana semakin ceria dengan Kuis bersama Anom Antono. Anom Antono, Pamong Budaya Ahli Muda Sub Koordinator Sejarah dan Nilai Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang, serta dalang senior yang getol memperjuangkan legalitas budaya lokal, memimpin kuis interaktif. Beliau, anak seorang dalang dan aktif memperkenalkan wayang serta macapat ke sekolah-sekolah, menyajikan pertanyaan-pertanyaan menyenangkan tentang tokoh wayang, sejarah, dan nilai budaya. Hadiah sederhana diberikan kepada pemenang, membuat anak-anak semakin semangat. Kuis ini menjadi ajang mengasah pengetahuan sekaligus hiburan.
Acara ditutup pukul 12.00 oleh panitia dengan doa penutup dan foto bersama. Meski singkat, dua jam penuh ini meninggalkan kesan mendalam bagi 300 peserta. Murid-murid dari SDK Wijana, SDK Petra, SD Negeri Sengon, SD Negeri Jombang 2, dan SD Negeri Bendet pulang dengan senyum lebar, membawa pulang bukan hanya kenangan, melainkan benih cinta terhadap budaya leluhur.
Signifikansi “Wayang Masuk Sekolah” bagi Pendidikan dan Pelestarian Budaya
Program ini lahir dari keprihatinan atas pudarnya minat generasi muda terhadap seni tradisional. Di era gadget dan konten digital, wayang kulit, yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Manusia sejak 2003, rentan terlupakan. Kabupaten Jombang, dengan kekayaan sejarah dan budaya Jawa Timurannya, memilih pendekatan proaktif melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Bekerja sama dengan Tim PPKD, program ini mengintegrasikan wayang ke dalam pendidikan formal dan nonformal.
Ki Sri Bawono Kusdi Waluyo sebagai dalang cilik menjadi inspirasi bagi anak-anak. Ia membuktikan bahwa wayang bisa dikuasai sejak kecil. Sementara Imam Ghozali dan Anom Antono mewakili generasi yang lebih matang, memberikan fondasi teori dan praktik. Anom Antono khususnya, dengan latar belakang keluarga dalang dan posisinya di dinas, telah lama mengunjungi sekolah-sekolah untuk mengenalkan wayang dan macapat. Kolaborasi ini menunjukkan sinergi sempurna antara seniman, pegiat budaya, dan pemerintah daerah.
Manfaat acara ini sangat nyata. Bagi siswa, wayang mengajarkan nilai-nilai Pancasila melalui cerita wayang: gotong royong, keadilan, dan pengendalian diri. Bagi guru, acara ini menjadi bahan ajar yang segar untuk mata pelajaran Seni Budaya dan Pendidikan Karakter. Secara lebih luas, “Wayang Masuk Sekolah” mendukung Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Jombang yang sedang disusun, memotret kondisi kebudayaan eksisting dan merancang strategi pemajuan.
Di tengah arus globalisasi, program seperti ini menjadi benteng pertahanan identitas bangsa. Seperti yang disampaikan narasumber, Korea dan Jepang sukses menjadikan budaya sebagai kekuatan ekonomi. Jombang pun bisa melakukan hal serupa dengan wayang kulitnya yang kaya gagrag Jawa Timuran.
Harapan ke Depan dan Kesimpulan
Acara 1 April 2026 hanyalah satu episode dari rangkaian “Wayang Masuk Sekolah”. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang berencana memperluas cakupan ke lebih banyak sekolah, bahkan melibatkan dalang cilik seperti Ki Sri Bawono dalam tur sekolah. Workshop dan kuis diharapkan menjadi model yang bisa direplikasi di kabupaten lain.
Bagi para peserta, hari itu bukan sekadar acara rutin. Mereka pulang dengan pemahaman baru: wayang adalah hidup, wayang adalah Jawa, wayang adalah Indonesia. Melalui tangan kecil Ki Bawono, suara Imam Ghozali, dan semangat Anom Antono, budaya leluhur terus hidup.
“Wayang Masuk Sekolah” di Jombang membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak harus kaku. Dengan pendekatan yang menyenangkan, edukatif, dan inklusif, generasi muda diajak mencintai warisan tanpa merasa dipaksa. Semoga program ini terus berkembang, menjadikan Jombang sebagai pusat kebangkitan wayang kulit di Jawa Timur. Karena di balik bayangan wayang, terdapat cahaya harapan untuk masa depan bangsa yang berbudaya.


