Prosesi Upacara Adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Jatilawang, Banyumas: Warisan Budaya Leluhur yang Penuh Makna

Di tengah perbukitan hijau Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terletak Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang. Desa ini bukan sekadar pemukiman biasa, melainkan pusat spiritual dan budaya bagi Komunitas Adat Bonokeling. Sebagai penganut Kejawen yang diwariskan dari sosok leluhur bernama Eyang Bonokeling, komunitas ini hidup dalam wilayah adat yang sakral, dijaga secara turun-temurun dengan penuh khidmat. Prosesi upacara adat Bonokeling, khususnya Perlon Unggahan atau Unggah-Unggahan, menjadi puncak ritual tahunan yang sarat makna. Ritual ini bukan hanya seremoni, melainkan perjalanan batin yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, mengajarkan nilai kesederhanaan, syukur, dan harmoni dengan alam serta sesama.

Mengenal Bonokeling, Komunitas Adat di Banyumas Keturunan Kerajaan Pajajaran

Dilansir dari website resmi informasi Desa Pekuncen, hingga kini keturunan dan pengikut Bonokeling tersebar luas di berbagai kecamatan di Cilacap, seperti Adipala, Binangun, Kroya, dan Sidoarjo. Ribuan “anak putu Bonokeling” ini tetap menjaga ikatan genealogis yang kuat, meski jarak memisahkan mereka. Tradisi ini telah bertahan ratusan tahun, menjadi bukti keteguhan budaya leluhur di era modern. Artikel ini akan mengupas secara mendalam asal usul prosesi adat ini, makna mendalam di balik setiap langkahnya, serta berbagai upaya pelestarian yang dilakukan komunitas agar warisan ini tidak punah ditelan zaman.

Asal Usul Eyang Bonokeling dan Lahirnya Komunitas Adat

Sejarah Komunitas Adat Bonokeling tak lepas dari sosok Eyang Bonokeling, atau yang dikenal juga sebagai Kyai Bonokeling. Menurut tradisi lisan dan catatan sejarah lokal, beliau adalah putra bangsawan dari Kadipaten Pasir Luhur, bagian dari Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat. Nama aslinya sering disebut sebagai Raden Banyak Tole atau anak dari Adipati Banyak Blanak. Konflik prinsip dengan ayahnya mendorong beliau meninggalkan kedudukan bangsawan dan bermigrasi ke wilayah Pekuncen pada abad ke-17. Di sini, Eyang Bonokeling membabat hutan belantara, membuka lahan pertanian, dan mengajarkan teknik bercocok tanam serta beternak kepada penduduk setempat.

Pengaruh Eyang Bonokeling tidak berhenti di pertanian semata. Beliau juga dikenal sebagai murid Ki Kajoran dari Mataram dan penyebar ajaran Islam yang bercampur dengan kearifan lokal Jawa, yang kemudian dikenal sebagai Islam Kejawen atau Islam Adat. Nama “Bonokeling” sendiri merupakan nama samaran yang sengaja dijaga kerahasiaannya agar tetap sakral. Ajaran ini menyebar ke wilayah sekitar, termasuk hingga Cilacap, sehingga keturunan beliau kini mencapai ribuan jiwa. Desa Pekuncen menjadi pusat spiritual karena makam Eyang Bonokeling yang kini dijadikan situs cagar budaya.

Komunitas ini terbentuk sebagai ikatan kekerabatan berbasis genealogi. Mereka menyebut diri “anak putu Bonokeling” dan menjadikan adat sebagai sendi utama kehidupan sosial. Wilayah adat di Desa Pekuncen, termasuk kompleks makam, Bale Mangu, dan Bale Malang, dianggap sakral dan dijaga ketat turun-temurun. Hingga kini, sekitar 90% warga Desa Pekuncen masih memegang teguh ajaran ini, meski hidup berdampingan dengan masyarakat Islam puritan di sekitarnya.

Asal usul ini menjelaskan mengapa prosesi adat Bonokeling begitu kental dengan nilai kesederhanaan dan penghormatan alam. Eyang Bonokeling datang bukan sebagai penakluk, melainkan pembuka lahan yang mengajarkan harmoni antara manusia, tanah, dan Tuhan. Warisan ini kemudian diwujudkan dalam berbagai perlon (ritual kebutuhan spiritual) tahunan, dengan Unggahan sebagai yang terbesar.

Ikhtiar Komunitas Adat Bonokeling, Pertahankan Pangan Lokal dari Ancaman Gastrokolonialisme

Kepercayaan Kejawen Bonokeling: Sinkretisme yang Harmonis

Komunitas Adat Bonokeling menganut Kejawen yang sinkretis, perpaduan Islam dan tradisi Jawa kuno. Mereka meyakini rukun iman secara penuh, tetapi hanya melaksanakan sebagian rukun Islam: syahadat, puasa Ramadan, dan zakat. Sholat lima waktu tidak menjadi kewajiban utama; sebaliknya, doa dan penghormatan disalurkan melalui Eyang Bonokeling sebagai perantara kepada Gusti Allah. Ajaran ini dijaga dengan prinsip keleman (kerahasiaan) agar tetap sakral dan tidak tercemar.

Struktur komunitas dipimpin oleh Kyai Kunci (juru kunci makam) yang menjabat seumur hidup sebagai mediator roh Eyang dengan anak putu. Di bawahnya ada Bedogol (kepala dusun/RT) dan sesepuh adat yang menyampaikan ajaran. Ritual dilakukan di tempat-tempat sakral seperti makam Eyang Bonokeling, dengan bahasa doa campuran Arab dan Jawa. Ini mencerminkan filsafat Kejawen yang menekankan kebatinan, penguasaan diri, dan harmoni kosmos.

Kejawen Bonokeling juga menekankan kesetaraan gender. Pria dan wanita memiliki peran setara di bumi, meski dalam ritual tertentu pria bertanggung jawab atas pemotongan hewan dan memasak sebagai simbol pengabdian. Wilayah adat dijaga ketat, termasuk larangan mengubah bentuk makam atau mengkomersialkan situs secara berlebihan. Kepercayaan ini menjadi pondasi kuat bagi prosesi adat, yang bukan sekadar acara tahunan, melainkan penguatan identitas spiritual di tengah gempuran modernisasi.

Deskripsi Prosesi Upacara Adat Bonokeling: Perlon Unggahan yang Sakral

Prosesi utama upacara adat Bonokeling adalah Perlon Unggahan atau Unggah-Unggahan, digelar setiap tahun pada Jumat terakhir bulan Ruwah (Sadran), tepat satu minggu sebelum Ramadan. Ritual ini berlangsung selama tiga hari dan melibatkan ribuan anak putu dari Banyumas hingga Cilacap. Berbeda dengan Nyadran biasa di Jawa, Unggahan Bonokeling lebih menekankan perjalanan fisik dan spiritual secara bersama.

Persiapan dan Kebersamaan Awal Sejak pagi hari Jumat, suasana Desa Pekuncen dipenuhi aroma rempah dan suara gotong royong. Kaum pria bertanggung jawab penuh memotong hewan ternak, sapi, kambing, dan ayam, sebagai simbol tanggung jawab dan pengabdian. Kambing dipanggang terlebih dahulu sebelum dikuliti agar bulu mudah dibersihkan. Bumbu untuk hidangan wajib seperti becek kambing (gulai kental khas) ditumbuk manual dengan lesung hingga halus. Daging sapi diolah menjadi serundeng dengan kelapa parut di tungku kayu bakar, serta lemang yang diaduk menggunakan rimbagan (alat bambu panjang) dari jarak jauh agar tidak terkena panas langsung. Semua proses ini mempertahankan teknik tradisional turun-temurun.

Wanita menyiapkan ambeng, keranjang anyaman berisi hasil bumi seperti nasi, sayur, dan lauk pauk, sebagai simbol syukur atas panen. Seluruh keluarga besar berkumpul di rumah adat untuk doa awal yang dipimpin sesepuh atau Kyai Kunci.

Perjalanan Sakral Laku Lampah Puncak prosesi dimulai dengan laku lampah, perjalanan kaki puluhan kilometer tanpa alas kaki. Peserta mengenakan pakaian adat Jawa kuno: wanita berkebaya atau kemben dengan kain jarit dan selendang putih/batik; pria memakai kain jarit, jas hitam, serta ikat kepala. Mereka berjalan berbaris sambil membawa ambeng di pundak menggunakan bambu. Perjalanan ini bukan sekadar fisik, melainkan ziarah batin yang melambangkan kesederhanaan dan kedekatan dengan alam. Peserta bermalam di rumah warga atau rumah bedol di sepanjang rute, memperkuat silaturahmi antar keturunan.
Ritual di Kompleks Makam Eyang Bonokeling Sesampainya di makam, peserta bersuci di pesucen (tempat wudu tradisional), kemudian sowan (ziarah) dengan khidmat. Doa dipanjatkan di depan makam, diikuti mbabar, ritual pembacaan doa dan wejangan dipimpin Kyai Kunci di Bale Mangu. Acara ini sarat kekhidmatan, dengan suara lantunan doa dalam bahasa Jawa dan Arab bergema di antara pepohonan. Ziarah dilanjutkan ke makam leluhur lain di sekitar kompleks.
Kenduri dan Penutupan Ritual diakhiri dengan makan bersama atau kenduri di Bale Malang. Hidangan disajikan di atas daun pisang sebagai wadah alami. Semua peserta duduk lesehan, saling berbagi, dan bersalam-salaman. Makanan utama seperti becek kambing, serundeng sapi, serta nasi bungkus menjadi simbol kebersamaan. Acara tiga hari ini ditutup dengan doa penutup dan pembagian berkah.

Prosesi ini diulang dalam bentuk lebih kecil pada ritual lain seperti Perlon Turunan (setelah Ramadan) atau Sedekah Bumi, tetapi Unggahan tetap menjadi yang paling meriah dan menyatukan ribuan jiwa.

Perlon Bonokeling: Tradisi Kesetaraan Peran Perempuan dan Laki-Laki di Tanah Jawa – Project Multatuli

Makna Filosofis dan Simbolik Prosesi Adat Bonokeling

Setiap elemen dalam prosesi Unggahan Bonokeling mengandung makna mendalam yang mencerminkan filsafat Kejawen. Pertama, jalan kaki tanpa alas kaki melambangkan kerendahan hati dan harmoni dengan alam. Tanah yang disentuh langsung oleh kaki menjadi pengingat bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Perjalanan ini juga membersihkan lahir batin sebelum menyambut Ramadan, sekaligus sebagai bentuk ibadah syukur.

Kedua, peran pria dalam memasak dan pemotongan hewan melambangkan tanggung jawab sebagai kepala keluarga sekaligus pengabdian kepada leluhur. Sementara wanita menyiapkan ambeng, menunjukkan kesetaraan peran, pria dan wanita berdampingan dalam menjaga tradisi. Hidangan tradisional seperti becek kambing dan serundeng yang dimasak secara manual mengajarkan kesabaran dan gotong royong; tidak ada alat modern yang menggantikan lesung atau tungku kayu.

Ketiga, kenduri dengan wadah daun pisang dan makan bersama melambangkan kesederhanaan serta persaudaraan. Tidak ada hierarki; semua duduk setara. Doa yang dipimpin Kyai Kunci menegaskan peran Eyang Bonokeling sebagai perantara, memperkuat keyakinan bahwa syukur kepada Tuhan harus melalui penghormatan leluhur.

Secara keseluruhan, makna Unggahan adalah pengingat akan sangkan paraning dumadi, asal dan tujuan manusia. Ritual ini mengajarkan bahwa kehidupan adalah perjalanan spiritual:dari tanah (pertanian) kembali ke tanah (makam), dengan syukur sebagai jembatannya. Di tengah arus modernisasi, makna ini semakin relevan sebagai benteng identitas budaya.

Upaya Pelestarian Warisan Budaya di Tengah Tantangan

Pelestarian prosesi adat Bonokeling bukan tugas mudah. Komunitas menghadapi tantangan seperti penurunan pengikut akibat pengaruh Islam santri, urbanisasi anak muda, serta tekanan modernisasi yang menggoda komersialisasi situs sakral. Namun, semangat kolektif tetap membara.

Upaya utama dilakukan secara internal: ritual tetap digelar tepat waktu setiap tahun, dengan Kyai Kunci sebagai penjaga utama. Anak putu dari Cilacap dan Banyumas diwajibkan hadir setidaknya sekali dalam beberapa tahun untuk memperkuat ikatan. Website resmi Desa Pekuncen aktif mempromosikan tradisi ini tanpa mengurangi kesakralan, sehingga masyarakat luas dapat menghargai tanpa mengganggu.

Pemerintah daerah dan tokoh adat juga berperan. Desa Pekuncen menolak usulan desa wisata religi massal agar makam tetap sakral. Kerja sama dengan akademisi, melalui penelitian dan dokumentasi, telah menghasilkan buku serta artikel yang mendokumentasikan ajaran. Di tingkat nasional, upaya registrasi sebagai warisan budaya tak benda terus digalakkan. Gotong royong dalam membersihkan makam dan memasak menjadi sarana pendidikan generasi muda tentang nilai leluhur.

Meski ada gesekan dengan kelompok puritan di masa lalu, komunitas kini hidup rukun dengan menekankan toleransi. Hasilnya, tradisi ini tetap hidup kokoh, menjadi inspirasi bagi komunitas adat lain di Nusantara.

Kesimpulan: Warisan yang Abadi

Prosesi upacara adat Bonokeling di Desa Pekuncen bukan sekadar ritual tahunan, melainkan napas kehidupan bagi komunitas yang menjunjung Kejawen. Dari asal usul Eyang Bonokeling sebagai pembuka lahan hingga makna syukur dalam setiap langkah laku lampah, semuanya sarat filosofi mendalam. Di tengah gempuran zaman, upaya pelestarian yang dilakukan anak putu Bonokeling dari Cilacap hingga Banyumas menjadi bukti bahwa warisan leluhur bisa lestari jika dijaga dengan hati.

Bagi siapa pun yang menyaksikan prosesi ini, pengalaman tersebut meninggalkan kesan abadi: betapa indahnya harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Mari kita dukung pelestarian ini, bukan hanya sebagai wisatawan, melainkan sebagai bagian dari bangsa yang menghargai akar budayanya. Bonokeling bukan hanya milik Desa Pekuncen, melainkan warisan Indonesia yang penuh makna bagi generasi mendatang.

Tinggalkan komentar