Kabupaten Jombang, yang terletak di jantung Jawa Timur, bukan sekadar wilayah administratif biasa. Banyak masyarakat meyakini bahwa tanah atau bumi Jombang itu tuwa (tua) dan tawa (tawar). Keberadaannya dianggap tua dan dituakan. Begitu juga penghuninya. Karena dituakan, banyak yang memiliki potensi sebagai patron, sebagai tokoh anutan, atau kepeloporan; sehingga keberadaannya cukup disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan. Sebaliknya, tidak sedikit tokoh besar dari luar Jombang yang dikenal memiliki pesona tinggi, wibawa besar, dan daya tarik kuat (magnitude) terbukti menjadi tawar ketika menginjak bumi Jombang. Hal itu disebabkan masyarakat Jombang tidak mudah kagum (gak nggumunan) dan tidak menjadi bangga diri berlebihan (gak nggolek alem-aleman) jika dikagumi banyak orang.
Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, sifat tuwa tawa inilah yang menjadikan Jombang sebagai tempat yang mampu “menyaring” berbagai pengaruh kebudayaan tanpa kehilangan jati diri. Gelombang masuknya budaya Mataraman ke Jombang terjadi berlapis-lapis dalam kurun waktu yang berbeda. Dinamika politik, ekonomi, dan sosial sangat mempengaruhi budaya setempat. Secara ringkas, sejarah budaya Mataraman di Jombang dapat digambarkan melalui enam gelombang utama yang saling menumpuk, bercampur, dan akhirnya melahirkan sintesis budaya yang khas: halus namun teguh, sopan namun egaliter.

Gelombang Pertama: Pendirian Kerajaan Medang di Tanah Jombang (Abad ke-10)
Menurut bukti sejarah yang paling awal, budaya Mataraman masuk ke Jombang sejak masa Mpu Sindok. Pada tahun 928–929 M, Mpu Sindok memindahkan pusat Kerajaan Mataram Kuno (periode Jawa Tengah, Wangsa Sanjaya) ke Jawa Timur. Ia menjadi raja pertama Wangsa Isyana dengan gelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isanawikramadharmatunggadewa. Pusat pemerintahan pertama didirikan di Tamwlang (sekarang Tembelang, Jombang), sebagaimana tercatat dalam Prasasti Turyan (929 M) yang menyebut “Medang i Tamwlang”. Kemudian pada 937 M, pusat kerajaan dipindahkan lagi ke Watugaluh (sekitar Desa Watugaluh, Kecamatan Diwek atau Megaluh), seperti tertulis dalam Prasasti Anjukladang. Prasasti Tengaran (935 M) yang ditemukan di Desa Tengaran (dahulu Geweg) juga membuktikan bahwa Mpu Sindok menetapkan wilayah tersebut sebagai sima (tanah bebas pajak) karena jasanya kepada kerajaan.
Dengan perpindahan ini, seluruh aparat kerajaan, pujangga, seniman, dan prajurit Mataram Kuno membawa serta budaya halus Mataraman: sistem pemerintahan berbasis sima, seni pertunjukan wayang wong dan wayang kulit, sastra Kawi, arsitektur candi, serta nilai-nilai kehalusan budi pekerti. Watugaluh dan Tamwlang menjadi cikal bakal pengaruh Mataraman yang paling dalam di Jombang. Bahkan hingga kini, dialek Jawa di Kecamatan Tembelang, Diwek, Megaluh, dan Perak masih terasa “Mataraman”: lebih halus, menggunakan krama inggil yang kental, dan kalimat yang berliku-liku penuh pasemon.
Gelombang Kedua: Akhir Majapahit dan Serangan Pati Unus (Abad ke-15–16)
Pada masa akhir Kerajaan Majapahit, gelombang Mataraman kembali mengalir melalui dinamika politik Demak-Majapahit. Pati Unus, yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor, menyerang Majapahit yang dipimpin Girindrawardhana (keturunan Erlangga) untuk membalas penyerangan terhadap Brawijaya V (kakeknya, keturunan Ken Arok). Serangan ini membawa serta pasukan dan pengikut dari wilayah Mataram Islam yang sedang bangkit. Banyak prajurit dan keluarga kerajaan yang melarikan diri ke wilayah timur, termasuk Jombang, membawa serta tradisi Mataraman: tata krama istana, seni tari, gamelan, dan cerita Panji yang halus.

Gelombang Ketiga: Pangeran Benowo dan Penyebaran Islam Mataraman (Abad ke-16)
Pangeran Benowo, putra Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) dari Kesultanan Pajang, merupakan tokoh penting berikutnya. Di akhir hayatnya, Pangeran Benowo membuka hutan dan mendirikan Desa Jarak serta Wonomerto di wilayah Kecamatan Wonosalam sekarang. Ia menyebarkan agama Islam dengan cara yang khas Mataraman: lembut, melalui teladan, dan akulturasi dengan budaya lokal. Makam Pangeran Benowo di lereng Gunung Anjasmoro, Desa Wonomerto, Wonosalam, hingga kini menjadi situs ziarah yang ramai. Tradisi slametan, kenduri, dan cara berdakwah yang halus di Wonosalam sangat kental dipengaruhi pola Mataraman.
Gelombang Keempat: Pengungsi Perang Diponegoro (Abad ke-19)
Pasca-Perang Jawa (1825–1830), ribuan pengikut Pangeran Diponegoro menyingkir ke Jawa Timur, termasuk Jombang. Banyak desa di Kecamatan Jombang, Bandarkedungmulyo, Perak, Jogoroto, Megaluh, Tembelang, Sumobito, dan sekitarnya memiliki babad alas (cerita pembabatan hutan) yang dilakukan mantan prajurit Diponegoro. Tokoh seperti Mbah Pagon (Syeh Hambali), Mbah Trunodongso, Buyut Barnawi, dan banyak lagi disebut sebagai santri atau laskar Diponegoro yang membabat alas. Mereka membawa budaya Mataraman yang kuat: disiplin militer yang halus, nilai gotong royong, serta tradisi keagamaan yang mendalam. Pengaruh ini terlihat dalam banyak pesantren tua di Jombang yang berdiri di bekas ladang-ladang pembabatan laskar Diponegoro.
Gelombang Kelima: Buruh Perkebunan Kolonial (Abad ke-19–20)
Pada masa kolonial Belanda, banyak pekerja perkebunan di Wonosalam berasal dari Pacitan, Tulungagung, dan Nganjuk, wilayah-wilayah yang notabene sangat kental dengan budaya Mataraman. Mereka bekerja di perkebunan kopi, kakao, cengkeh, dan tembakau milik Perhutani dan swasta Belanda. Gelombang migrasi ini berlangsung hingga kini. Hingga saat ini, banyak pesanggem (petani hutan) di kawasan produksi Perhutani Wonosalam berasal dari Nganjuk dan sekitarnya. Mereka membawa serta bahasa Jawa yang halus, tata cara bertani Mataraman (misalnya sistem pranata mangsa), dan tradisi kesenian seperti Jathilan dan Reog yang lebih halus daripada versi Arek.

Gelombang Keenam: Relawan TKS/BUTSI Era Kemerdekaan (Dekade 1970-an)
Pada era Orde Baru, dekade 1970-an, banyak relawan Tenaga Kerja Sukarela (TKS) atau Brigade Usaha Tani Swadaya Indonesia (BUTSI) yang berasal dari Jawa Tengah ditugaskan ke Jombang. Angkatan ini banyak yang kemudian menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) Kabupaten Jombang melalui jalur “input”. Mereka membawa serta budaya Mataraman modern: disiplin birokrasi, etos kerja halus, serta nilai-nilai pendidikan dan keagamaan yang rapi. Banyak kepala desa, camat, dan pejabat daerah era 1980–2000-an merupakan keturunan atau langsung dari gelombang TKS/BUTSI ini.
Manifestasi Budaya Mataraman di Jombang Saat Ini
Enam gelombang tersebut menghasilkan kristal-kristal budaya yang masih hidup. Dalam bahasa, masyarakat di wilayah barat dan selatan Jombang (Megaluh, Perak, Tembelang, Diwek, Wonosalam) menggunakan variasi Jawa Mataraman: krama yang halus, kalimat berpasemon, dan logat yang lebih “ngoko halus” daripada Arek yang blak-blakan. Contoh: “Piye se, ora se, gak mulih ta?” adalah campuran khas Mataraman-Arek.
Dalam kesenian, wayang kulit purwa, wayang wong, dan gamelan Mataraman sangat kuat di Jombang. Dalang-dalang seperti Ki Yusuf Perak dan Pak Sutrisno dari Megaluh masih melestarikan lakon-lakon Mataram klasik. Tari Jathilan dan Reog di Wonosalam memiliki gerakan yang lebih halus dan filosofis dibandingkan versi Arek. Batik tulis Sekar Jati Jombang juga terinspirasi motif Mataraman-Majapahit dengan sentuhan lokal.
Nilai sosial masyarakat Jombang yang egaliter namun tetap sopan, anti-dominasi, dan memiliki empati tinggi adalah buah dari dialektika Mataraman-Arek yang panjang. Masyarakat tidak mudah terpesona (gak nggumunan), tapi juga tidak sombong ketika dipuji, ciri khas tanah tuwa tawa.

Warisan dan Tantangan Masa Depan
Hingga kini, budaya Mataraman terus hidup dalam kehidupan sehari-hari: cara menyapa yang halus, slametan yang rumit, hingga pola kepemimpinan yang patron-klien namun egaliter. Tokoh-tokoh besar Jombang seperti KH Hasyim Asy’ari, Gus Dur, Emha Ainun Nadjib, dan Nurcholish Madjid memiliki latar belakang yang kental dengan sintesis Mataraman ini, halus dalam berpikir, teguh dalam pendirian.
Di tengah globalisasi dan arus informasi yang serba cepat, menjaga budaya Mataraman di Jombang bukan sekadar melestarikan masa lalu, melainkan menjaga kristal kearifan yang telah terbentuk selama lebih dari seribu tahun. Karena di tanah tuwa tawa inilah, berbagai gelombang kebudayaan tidak pernah musnah, melainkan selalu menjadi bagian dari identitas yang lebih besar: Jombang sebagai miniatur Indonesia.


