Kabupaten Jombang, terletak di jantung Provinsi Jawa Timur, Indonesia, bukan hanya dikenal sebagai “Kota Santri” karena ratusan pondok pesantrennya, tetapi juga sebagai miniatur kemajemukan budaya yang hidup berdampingan secara harmonis. Dengan luas wilayah sekitar 1.159,50 km² dan populasi lebih dari 1,3 juta jiwa, Jombang menjadi titik pertemuan berbagai etnis, agama, dan tradisi yang membentuk identitas uniknya. Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, keragaman ini tercermin dalam simbol “ijo-abang” (hijau-merah), di mana “ijo” melambangkan kaum santri yang religius, sementara “abang” mewakili kaum abangan yang lebih kejawen atau nasionalis. Simbol ini bukan sekadar warna; ia mencerminkan perpaduan budaya Mataraman (Jawa Tengah) yang halus dengan budaya Arek (Jawa Timur) yang blak-blakan, ditambah pengaruh Madura, Panaragan, Pasisiran, Arab, dan Tionghoa. Letak geografis Jombang sebagai persimpangan jalan utama dari berbagai arah memperkuat perannya sebagai muara kebudayaan, menghasilkan sintesis energi atau sinergi yang melahirkan nilai-nilai tradisional, kearifan lokal, kesenian menonjol, transformasi ilmu, dan pola interaksi sosial yang matang.
Sejarah Jombang mencerminkan dinamika keragaman ini sejak masa prasejarah hingga kolonial. Penemuan fosil Homo Mojokertensis di lembah Sungai Brantas menunjukkan wilayah ini telah dihuni sejak ribuan tahun lalu. Pada era Kerajaan Majapahit (1293-1527), Jombang berfungsi sebagai gerbang utama kerajaan Hindu terbesar di Nusantara, dengan gapura barat di Desa Tunggorono, Kecamatan Jombang, dan gapura selatan di Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng. Masa ini menandai pengaruh kuat budaya Hindu, terlihat dalam cerita Panji yang menjadi basis kesenian seperti wayang topeng. Namun, sejak abad ke-13 hingga kolonial, Jombang menjadi wilayah relatif aman bagi persembunyian pelaku kriminal, penyingkiran oposan, dan pengucilan pembaharu di berbagai bidang. Karakter penduduk pun terbentuk: keras, teguh pendirian, dengan kecenderungan kasar akibat benturan antar kelompok. Perebutan wilayah, penyebaran pengaruh, dan visi hidup berbeda melahirkan konflik, tetapi bencana alam dan kebutuhan lingkungan nyaman memaksa kerjasama, menghasilkan sinergi dan pemahaman mutual.

Pada masa kolonial Belanda, Jombang menjadi bagian dari VOC dan Hindia Belanda setelah pengaruh Mataram melemah pada abad ke-17. Tahun 1811, wilayah ini berada di bawah Kabupaten Mojokerto, hingga memisahkan diri pada 21 Oktober 1910, dengan bupati pertama Raden Adipati Aryo Soeroadiningrat. Kolonialisme membawa campuran budaya Eropa, tetapi masyarakat mempertahankan identitas Jawa. Legenda Kebo Kicak (berkulit hitam) dan Surontanu (berkulit putih) yang bertarung hingga darahnya bercampur menjadi “ijo-abang” simbolisasi harmoni santri-abangan, mencerminkan kemajemukan sejak era Majapahit. Pasca-kemerdekaan, Jombang berkontribusi melalui tokoh seperti KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926 di Pondok Pesantren Tebuireng, yang memadukan Islam dengan budaya lokal.
Keragaman etnis di Jombang didominasi suku Jawa (sekitar 97%), dengan minoritas Madura, Tionghoa, dan Arab yang signifikan, terutama di kawasan perkotaan. Etnis Tionghoa dan Arab berkontribusi dalam perdagangan dan arsitektur, seperti di sekitar Ringin Contong, ikon Jombang yang menjadi pusat pertemuan budaya. Bahasa sehari-hari adalah Jawa, dengan variasi dialek: logat Suroboyoan yang kasar dari budaya Arek, dan campuran Jawa Timuran-Tengahan yang halus dari Mataraman. Pengaruh Madura terlihat di Desa Manduro, Kecamatan Kabuh, sementara rembesan Panaragan dan Pasisiran menambah nuansa dinamis.

Kesenian menjadi ekspresi utama keragaman ini. Sikap egaliter masyarakat “abang” melahirkan kesenian rakyat-sentris, kritis dengan bahasa pasemon (sindiran) cerdas, seperti Amen Lerok yang berevolusi menjadi Besutan, kemudian Ludruk. Besutan, cikal bakal ludruk, menampilkan cerita dinamis dengan dialog Arek kental, sering menyentil isu sosial. Ludruk, teater rakyat humoris, berkembang di Jombang dengan Paguyuban Ludruk Arek Jombang (Palambang) sejak 2007. Selain itu, ada Jaran Kepang Dor, Reog, dan Jathilan yang energik, mencerminkan budaya abangan. Tari Bantengan, disebut Bantengan saja oleh masyarakat, menjadi ikon dengan gerakan dinamis meniru banteng.
Sementara itu, masyarakat “ijo” yang religius mengekspresikan kecintaannya melalui kesenian Islami: Hadrah, Gambus Misri, Qasidah Barzanji, Hadrah Izhari, Dziba’an, Samroh, Al Banjari, dan Musik Shalawat Kyai Kanjengan. Ini mencerminkan akulturasi Islam dengan budaya Jawa, seperti dalam Grebeg Apem, tradisi tahunan di Jombang yang memadukan ritual keagamaan, perayaan budaya, dan syukur, di mana kue apem dilempar sebagai simbol permohonan maaf dan kebersamaan.
Akulturasi budaya masa lalu terlihat dalam kesenian seperti Wayang Topeng, Wayang Krucil, Kentrung, dan sejenisnya, yang menyuguhkan cerita Panji (Hindu) dan Menak (Islami). Wayang Topeng Jati Duwur di Kesamben mempopulerkan cerita Panji era Majapahit. Kentrung di Jatimenok, Rejoso Pinggir, dan Tembelang; serta Sandur Gaya Rukun di Manduro. Sandur Manduro, teater tradisional Madura-Jawa, menggabungkan tari, musik, teater, dan rupa dengan alat saronen, sering dipentaskan dalam sedekah bumi. Dalang Wayang Krucil seperti Ki Yusuf Perak, Pak Suyitno dari Tembelang, dan Pak Sutrisno dari Megaluh masih aktif.

Keberadaan Wayang Kulit patut dicermati. Sebagian dalang meyakini cerita Mahabharata dan Ramayana berasal dari India, tapi kesadaran baru muncul: cerita ini asli Jawa. Pada zaman es mencair sekitar 11.600 SM, terjadi migrasi besar penduduk Atlantis (Jawa Nusantara), sebagian ke India, melestarikan warisan leluhur di sana. Di Jawa, cerita wayang berkembang sesuai karakter lokal. Pada masa Kerajaan Mataram Hindu, wayang kulit dan wayang wong menjadi favorit raja dan rakyat, seperti dalam prasasti Wukajana yang menyebut pentas wayang wong diikuti wayang kulit saat peresmian sima (tempat pemujaan), sering mengusung lakon Bhima Kumara atau Bhima Kasmaran.
Konon, Prabu Darmawangsa Teguh, raja terakhir Kerajaan Medang (Mataram Kuna), mempelopori penerjemahan Ramayana dan Mahabharata dari Sanskerta ke Kawi (Jawa Kuna). Prabu Airlangga dan penggantinya memfasilitasi empu (pujangga) menerjemahkan versi India ke Kawi. Wayang kulit lahir di Indonesia sejak zaman Airlangga (976-1012), dengan bukti prasasti menyebut “mawayang” dan “aringgit”. Ini menegaskan wayang sebagai budaya asli Jawa, bukan impor dari India, meski ada pengaruh kemudian.

Kearifan lokal Jombang terlihat dalam tradisi seperti Ruwatan Purwokolo, ritual adat membersihkan diri dan desa. Di Desa Wisata Ngoro, tarian tradisional, gamelan, dan kerajinan tangan menjadi daya tarik. Pakaian khas seperti blangkon Sundhul Mego, jas Gulon Dwi Garta, dan celana Tapih Kudawaningpati mencerminkan nilai budaya. Batik tulis Sekar Jati, terinspirasi motif Majapahit, menjadi identitas sejak 1993.
Keragaman agama memperkaya: 97,27% Islam, tapi Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu hidup damai. Kampung Ngepeh dijuluki “Kampung Toleransi” dengan masjid, gereja, dan pura berdampingan. Di Wonosalam, umat lintas agama adakan selamatan bersama. Karnaval Budaya Jombang menampilkan keindahan warisan ini.
Sebagai kesimpulan, keragaman budaya Jombang adalah hasil dialektika panjang, dari konflik ke sinergi, menghasilkan masyarakat egaliter, toleran, dan kreatif. Ini bukan hanya warisan, tapi inspirasi bagi Indonesia multikultur.


