Manuskrip Sastra Sin Jin Kwie Ceng See: Jejak Kertas yang Menyimpan Epik Kepahlawanan Dinasti Tang di Tanah Jombang

Di tengah hiruk-pikuk Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terdapat sebuah benda yang tampak sederhana namun menyimpan kekayaan budaya lintas zaman dan benua. Manuskrip Sastra Sin Jin Kwie Ceng See adalah salah satu objek warisan budaya yang kini disimpan dengan penuh kehati-hatian di Museum Pribadi Tony Hersono, atau lebih dikenal sebagai Museum Fu He An, yang berlokasi di Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. Manuskrip ini bukan sekadar tumpukan kertas lama; ia adalah saksi bisu perjalanan sastra klasik Tiongkok yang telah meresap ke dalam khazanah budaya Tionghoa-Indonesia. Dibuat dari bahan kertas, dengan dimensi lebar 22 cm, panjang 34 cm, dan tinggi 3 cm, manuskrip ini menjadi bukti hidup bagaimana cerita kepahlawanan seorang jenderal Dinasti Tang menyeberangi lautan dan berakar di Nusantara.

Menurut Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, manuskrip ini merupakan roman klasik Tiongkok yang menceritakan kisah kepahlawanan Sin Jin Kwie (atau Sie Jin Kwie dalam pengucapan lokal), seorang jenderal Dinasti Tang yang bertugas menaklukkan kerajaan-kerajaan asing demi kejayaan negerinya. Roman ini tergolong dalam genre roman sejarah (historical romance), di mana fakta sejarah dicampur dengan elemen fiksi untuk menghidupkan semangat patriotisme, kesetiaan, dan keberanian. Di Indonesia, kisah ini dikenal dalam dua sekuel utama: Ceng Tang (berperang ke Timur, menuju Korea) dan Ceng See (berperang ke Barat). Manuskrip yang tersimpan di Museum Fu He An adalah varian Ceng See, yang menekankan ekspedisi ke wilayah barat, melibatkan pertempuran epik melawan kerajaan-kerajaan asing yang mengancam kedaulatan Dinasti Tang.

Secara fisik, manuskrip ini mencerminkan keaslian produksi sastra tradisional Tiongkok yang dibawa oleh imigran Hokkien ke Nusantara pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Terbuat sepenuhnya dari kertas, bahan yang rapuh namun tahan lama jika dirawat dengan baik, manuskrip ini memiliki ukuran kompak: lebar 22 sentimeter, panjang 34 sentimeter, dan tebal 3 sentimeter. Dimensi ini menunjukkan bahwa ia dirancang sebagai bacaan pribadi atau koleksi keluarga, bukan naskah raksasa seperti kitab suci di kuil. Halaman-halaman kertasnya kemungkinan berjenis xuan paper atau kertas tradisional Tiongkok yang tipis namun kuat, dengan tinta hitam yang masih terbaca jelas meski telah berusia puluhan atau ratusan tahun. Sampulnya mungkin sederhana, mungkin dari kertas tebal atau kain tipis, dengan judul yang ditulis dalam aksara Han atau transliterasi Hokkien-Jawa. Tinggi 3 cm menandakan volume yang cukup tebal, berisi puluhan hingga ratusan halaman yang penuh dengan narasi panjang, dialog, dan deskripsi pertempuran. Kondisinya yang terawat di museum menunjukkan upaya konservasi yang serius, termasuk pengendalian kelembaban dan cahaya untuk mencegah kerusakan akibat iklim tropis Jawa Timur.

Museum Fu He An bukanlah museum biasa. Didirikan oleh Toni Harsono (juga dikenal sebagai Tok Hok Lay), cucu dari Tok Su Kwie, seorang dalang wayang potehi asal Fujian yang datang ke Gudo pada era kolonial. Museum ini terintegrasi dengan Klenteng Hong San Kiong di Desa Gudo, sebuah pusat komunitas Tionghoa yang telah ada sejak imigran Fujian datang untuk bekerja di pabrik gula. Fu He An sendiri adalah nama kelompok wayang potehi yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Tony Hersono, sebagai pemimpin Yayasan Fu He An Indonesia, tidak hanya melestarikan boneka potehi (wayang tangan Cina) beserta peralatan pertunjukannya, tetapi juga koleksi sastra dan artefak budaya Tionghoa yang terkait. Manuskrip Sin Jin Kwie Ceng See menjadi bagian penting dari koleksi tersebut karena cerita ini sering dipentaskan dalam lakon potehi. Di Gudo, wayang potehi Fu He An telah menjadi ikon budaya, bahkan pernah tampil di Surabaya pada 1933 dan kini menjadi daya tarik wisata budaya. Keberadaan manuskrip ini di museum pribadi Tony Hersono menegaskan peran Gudo sebagai pusat pelestarian budaya Tionghoa-Peranakan di Jawa Timur, di mana sastra klasik tidak hanya dibaca, tetapi juga dihidupkan kembali melalui seni pertunjukan.

Wayang Potehi Gudi di Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua Membangun Kedekatan Pemerintah dan Masyarakat di Kabupaten Jombang
Wayang Potehi Gudi di Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua Membangun Kedekatan Pemerintah dan Masyarakat di Kabupaten Jombang

Untuk memahami nilai manuskrip ini, kita harus menyelami latar belakang sejarah dan sastra Sin Jin Kwie. Tokoh utama, Sin Jin Kwie atau Xue Rengui (614–683 Masehi), adalah jenderal sungguhan pada masa awal Dinasti Tang (618–907 M). Lahir dari keluarga petani miskin di Longmen, Shanxi, ia naik pangkat berkat keberanian dan keahlian memanah serta bertarung. Dalam catatan sejarah resmi seperti Jiu Tang Shu dan Xin Tang Shu, Xue Rengui terkenal karena kampanye militernya melawan Goguryeo (Korea), suku Tujue, dan Tibet. Ia bertugas di bawah Kaisar Taizong (Li Shimin) dan Gaozong, ikut serta dalam penaklukan Liaodong dan Pyongyang. Kisah nyatanya penuh dengan kemenangan dramatis, seperti pertempuran di Ansi City di mana ia memimpin serangan dengan baju besi putih, menyelamatkan rekan-rekannya, dan mendapat pujian langsung dari kaisar. Namun, roman klasik seperti Xue Rengui Zheng Dong (Ekspedisi ke Timur) dan sekuelnya Ceng See (ke Barat) mengubah fakta menjadi legenda yang lebih epik.

Dalam versi fiksi Qing Dynasty, Xue Rengui digambarkan sebagai reinkarnasi Bintang Harimau Putih, penerima lima pusaka sakti dari Dewi Jiutian Xuannu: cambuk untuk menaklukkan harimau putih, meriam api air, busur Zhentian, panah menembus awan, dan kitab suci tanpa kata. Cerita Ceng See—yang menjadi fokus manuskrip ini, memperluas narasi ke arah barat, di mana Sin Jin Kwie dan keturunannya (seperti putranya Xue Dingshan dalam beberapa adaptasi) menaklukkan kerajaan-kerajaan asing yang mengancam Tang. Plot utamanya melibatkan perjalanan panjang melintasi lautan dan pegunungan, pertempuran melawan raja-raja barbar, intrik istana, dan tema kesetiaan kepada kaisar. Sin Jin Kwie, yang awalnya seorang petani biasa, diimpikan oleh Kaisar Lie Sie Bin (Li Shimin) sebagai penyelamat kerajaan. Ia naik pangkat, memimpin pasukan, dan menghadapi musuh seperti Kerajaan Ko Le Kok (Goguryeo) di Timur serta berbagai kerajaan barat yang fiktif. Roman ini penuh dengan elemen fantasi: kuda sakti, senjata ajaib, dan strategi perang yang brilian, sekaligus mengajarkan nilai-nilai Konfusianisme seperti zhong (kesetiaan) dan xiao (bakti).

Di Indonesia, roman ini tiba melalui gelombang imigran Hokkien pada abad ke-19. Diterjemahkan dan diadaptasi ke dalam bahasa Melayu-Peranakan, cerita Sin Jin Kwie menjadi populer di kalangan komunitas Tionghoa. Buku-buku seperti Sie Djin Koei Tjeng Tang dan Ceng See dicetak ulang dalam bentuk komik atau naskah sederhana, dan sering dibacakan atau dipentaskan sebagai cerita lisan. Di Jombang, hubungan dengan wayang potehi Fu He An sangat erat. Lakon Sie Jin Kwie Ceng See menjadi salah satu repertoar favorit dalang potehi. Boneka potehi menggambarkan Sin Jin Kwie dengan baju putih khas, memacu kuda sambil memegang senjata, sementara dalang menyuarakan dialog penuh semangat. Pertunjukan ini tidak hanya hiburan, tetapi juga medium pendidikan budaya, mengajarkan generasi muda tentang akar Tionghoa mereka di tengah masyarakat Jawa.

Signifikansi manuskrip ini semakin kuat ketika dilihat dari perspektif budaya hibrida Tionghoa-Indonesia. Di Jombang, komunitas Tionghoa telah berbaur dengan masyarakat lokal sejak era kolonial. Pabrik gula menarik buruh dari Fujian, membawa serta tradisi potehi dan sastra. Manuskrip Sin Jin Kwie Ceng See menjadi simbol ketahanan budaya: meski Indonesia mengalami berbagai perubahan politik, dari Orde Baru hingga Reformasi, cerita ini tetap hidup. PPKD 2025 secara eksplisit mengakui manuskrip ini sebagai bagian dari khazanah kebudayaan daerah Jombang. Dokumen tersebut menekankan peran objek seperti ini dalam pemajuan kebudayaan, sebagai bukti kontribusi komunitas Tionghoa terhadap identitas nasional. Manuskrip bukan hanya artefak mati, melainkan jembatan antara masa lalu Tiongkok kuno dan masa kini Indonesia yang multikultural.

Manuskrip Sastra Sin Jin Kwie Ceng See Jejak Kertas yang Menyimpan Epik Kepahlawanan Dinasti Tang di Tanah Jombang
Manuskrip Sastra Sin Jin Kwie Ceng See Jejak Kertas yang Menyimpan Epik Kepahlawanan Dinasti Tang di Tanah Jombang

 

Upaya pelestarian di Museum Fu He An patut diapresiasi. Tony Hersono dan timnya tidak hanya menyimpan manuskrip, tetapi juga mendokumentasikannya, mendigitalkannya jika memungkinkan, dan mengintegrasikannya ke dalam program edukasi. Pengunjung museum dapat melihat langsung koleksi potehi sambil mendengar cerita tentang Sin Jin Kwie. Tantangan utama adalah kerapuhan kertas di iklim lembab Jawa. Oleh karena itu, museum menerapkan standar konservasi internasional: ruang penyimpanan dengan suhu dan kelembaban terkendali, serta pelatihan bagi generasi muda untuk merawat warisan ini.

Dalam konteks lebih luas, manuskrip ini mengingatkan kita pada pentingnya sastra sebagai alat diplomasi budaya. Roman klasik Tiongkok seperti ini telah menyebar ke seluruh Asia Tenggara melalui perdagangan dan migrasi. Di Indonesia, ia bertransformasi menjadi bagian dari cerita rakyat Peranakan, mirip dengan bagaimana Sam Kok atau Sie Sie juga diadaptasi. Ceng See khususnya menyoroti tema penaklukan dan perdamaian, relevan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Kisah Sin Jin Kwie yang naik dari petani menjadi jenderal menginspirasi siapa saja yang percaya pada kerja keras dan kesetiaan.

Manuskrip Sastra Sin Jin Kwie Ceng See hanyalah satu dari sekian banyak objek di Museum Fu He An, namun ia berdiri sebagai representasi paling kuat dari perpaduan budaya. Dengan ukurannya yang sederhana, 22 cm x 34 cm x 3 cm, ia menyimpan dunia epik yang luas: pertempuran, cinta, pengkhianatan, dan kemenangan. Di era digital saat ini, di mana cerita cepat berganti, keberadaan manuskrip kertas ini mengajak kita untuk merenungkan akar budaya. Melalui PPKD 2025, Pemerintah Kabupaten Jombang telah menegaskan komitmennya untuk melestarikan warisan seperti ini, bukan sebagai relik masa lalu, melainkan sebagai inspirasi bagi generasi mendatang.

Tony Hersono, sebagai penjaga museum, sering mengatakan bahwa potehi dan sastra seperti ini adalah “jiwa” komunitas Gudo. Manuskrip ini, yang dibawa oleh leluhur dari Tiongkok, kini menjadi milik bersama Indonesia. Ia mengajarkan nilai-nilai universal: keberanian menghadapi musuh, kesetiaan kepada tanah air, dan penghargaan terhadap keberagaman. Di Desa Gudo yang tenang, di antara klenteng dan sawah, manuskrip ini terus bercerita, dalam diam, namun penuh makna.

Dengan demikian, Sin Jin Kwie Ceng See bukan sekadar manuskrip kertas. Ia adalah hidup yang abadi, sebuah roman yang terus menaklukkan hati pembaca, baik di istana Tang maupun di museum kecil di Jombang. Pelestariannya adalah tanggung jawab kita semua, agar warisan ini tetap menyala terang di tengah arus modernisasi.

Tinggalkan komentar