Legenda Putri Rubiah Tidur Abadi Menjadi Batu di Teluk Karang Ujung Sibolga Sumatera Utara

Cerita Rakyat Maluku Utara: Legenda Asal Mula Telaga Biru di Halmahera Utara
Cerita Rakyat Maluku Utara: Legenda Asal Mula Telaga Biru di Halmahera Utara

Cinta sejati tidak selalu berakhir bahagia. Ada kalanya takdir memisahkan dua insan yang saling mencintai. Bersama artikel The Jombang Taste ini penulis mengajak Anda mengikuti kisah legenda Putri Rubiah dari Sumatera Utara. Cerita rakyat dari Sumatera Utara ini bermula pada Teluk Sibolga. Jika Anda pergi ke Teluk Sibolga di Sumatera Utara, Anda dapat menyaksikan sekumpulan karang berwarna hitam. Karang itu disebut Karang Ujung Sibolga.

Tahukah sobat pembaca The Jombang Taste bahwa di atas gugusan karang hitam itu terdapat batu berwarna putih? Ukuran dan bentuknya mirip seorang manusia yang sedang berbaring, mengenakan selimut putih. Inilah daerah yang disebut Keramat Ujung Sibolga. Sejak zaman dahulu, wilayah Ujung Sibolga sudah dianggap sebagai daerah keramat. Tidak ada seorang pun yang berani menginjakkan kakinya di sana. Konon batu ini dahulu adalah seorang wanita cantik.

Beberapa abad yang lalu, di sebuah desa yang bernama Kalangan, hidup seorang gadis cantik. Gadis itu bernama Putri Rubiah. Selain berwajah cantik, Putri Rubiah juga bertabiat baik dan taat menjalankan ibadat agama. Kecantikan dan kesalehan gadis Rubiah ini terdengar sampai ke tempat-tempat jauh dan menjadi bahan pembicaraan rakyat banyak. Banyak sudah pemuda yang datang untuk melamar Rubiah. Di antara mereka ada yang kaya raya, ada yang gagah perkasa, ada pula yang keturunan bangsawan.

Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang berkenan di hati Rubiah. Pada suatu hari datanglah seorang kiai bernama Alwi ke Desa Kalangan. Kyai Alwi berasal dari Sumatera Barat. Kedatangan Kyai Alwi ke Desa Kalangan adalah untuk menyebarkan agama, bukan untuk melamar Rubiah. Akan tetapi, setelah Alwi menyaksikan kecantikan dan kesalehan perilaku Rubiah, ia jatuh cinta. Ia ingin mengambil Rubiah sebagai istri. Ternyata cinta Alwi ini disambut baik oleh Rubiah.

Kisah Putri Rubiah

Pada suatu hari yang baik, Alwi dan Rubiah menikah. Mereka saling mencintai. Kehidupan mereka sebagai suami-istri sangat manis dan selalu dijadikan contoh oleh rakyat Kalangan dan sekitarnya. Beberapa tahun telah lewat. Kehidupan suami-istri itu tetap mesra. Bahkan pada waktu mereka berangkat tua, cinta kasih di antara mereka masih tetap tidak berubah. Sayang mereka belum juga dikaruniai anak. Keadaan ini memang suatu penderitaan, tetapi tidak membuat cinta mereka menj adi berkurang.

Pada suatu hari, mereka menyadari bahwa mereka termasuk berasal dari marga yang sama, yaitu marga Tanjung. Menurut adat Tapanuli, laki-laki dan perempuan yang semarga tidak dibenarkan kawin. Perkawinan semarga dianggap sebagai perkawinan antar saudara kandung. Benar-benar suatu yang aib. Alwi maupun Rubiah sangat bersedih hati mendapati kenyataan demikian. Kesedihan mereka berdua inilah yang akan menjadi isi cerita rakyat dari Sumatera Utara ini.

Setelah penduduk Desa Kalangan mengetahui bahwa mereka semarga, penderitaan Putri Rubiah dan Kyai Alwi makin bertambah-tambah. Setiap hari mereka mendengar sindiran, ejekan, bahkan makian masyarakat sekitarnya. Masyarakat menghina mereka karena menganggap pernikahan Putri Rubiah dan Kyai Alwi tidak sah. Putri Rubiah dan Kyai Alwi merasa tidak dapat bertahan hidup lebih lama lagi di Kalangan.

Apa yang akan sobat pembaca The Jombang Taste lakukan saat masyarakat tidak menyukai keberadaan Anda? Rupa-rupanya tidak ada kemungkinan lain bagi kedua suami-istri itu untuk bertempat tinggal disana kecuali meninggalkan desa Kalangan secepatnya. Akan tetapi, ke mana mereka akan pergi? Rasa malu mencegah mereka pergi ke tempat-tempat yang penduduk mengenalnya.

Alwi merasa kasihan apabila istrinya juga harus pergi. “Biar aku saja yang pergi,” katanya dalam hati. “Memang aku yang membawa sial. Jika aku pergi, tentunya keadaan menjadi baik. Rubiah pasti akan diterima kembali oleh orang-orang disini. Ia sama sekali tidak bersalah.”

Setelah berpikir masak-masak, Alwi mengambil keputusan penting. Pada suatu malam, secara diam-diam ia meninggalkan desa Kalangan. Ia membulatkan tekad untuk meninggalkan Putri Rubiah agar bisa mengakhiri hinaan masyarakat desa setempat. Dengan mengendap-endap, Kyai Alwi berjalan menuju ke pantai. Kebetulan di sana ada sebuah kapal yang akan berlayar. Kyai Alwi merasa bersyukur ada kapal yang siap berangkat ke tengah lautan.

Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said
Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said

Kyai Alwi Berlayar

Alwi mendekat ke arah kapal dengan perasaan ragu-ragu. Di satu pihak, ia merasa harus pergi meninggalkan Putri Rubiah karena masyarakat Kalangan mengutuknya. Di lain pihak, berat sekali rasanya meninggalkan Rubiah yang amat dicintainya. Putri Rubiah telah mencintainya dengan sepenuh hati. Ia tidak meragukan hal itu. Semakin ia mencintai Putri Rubiah, semakin ia ingin meninggalkannya karena ia tidak mau Putri Rubiah terus menerus dihina warga Desa Kalangan.

Alwi tersadar dari lamunannya. Ia mempercepat langkah menuju kapal yang siap berlayar. Alwi menemui nakoda kapal itu. Ia mengatakan akan ikut berlayar dengan kapal itu. “Ke mana Saudara akan pergi?” tanya nakoda dengan nada ingin tahu.

“Ke mana saja kapal ini berlayar, saya akan ikut,” jawab Alwi cepat. Nakoda kapal tidak langsung menjawabnya. Rupanya sang nakoda menaruh curiga kepada Kyai Alwi.

“Tolonglah, Pak,” sambung Alwi, “pendeknya saya harus secepat mungkin meninggalkan tempat ini.”

Nakoda kapal itu menjadi ragu-ragu. Ia curiga, jangan-jangan orang ini pencuri atau perampok, bahkan barangkali seorang pembunuh. Nakoda masih mempertimbangkan maksud hati Alwi. Dipanggilnya dua orang pembantunya. Mereka membicarakan permintaan Alwi yang aneh itu.

Merasa dicurigai, Alwi berkata, “Demi Allah, saya bukan orang jahat, Pak. Bukan pencuri atau pembunuh.” Nakoda kapal dan para pembantunya saling berpandangan.

Sebelum mereka bertanya, Alwi sudah menceritakan keadaannya. Ia harus meninggalkan tempat itu karena telah melakukan suatu tindakan yang dianggap tercela. Tanpa mengetahui sebelumnya, ia telah kawin dengan seorang perempuan semarga. Nakoda kapal itu berunding lagi dengan para pembantunya.

“Seandainya engkau menjadi dia, apa yang akan kamu lakukan?” tanya nakoda itu kepada kedua pembantunya. Kedua pembantu nakoda menyetujui keinginan Kyai Alwi untuk ikut berlayar. Akhirnya mereka sepakat untuk mengizinkan Alwi menumpang kapal. Maka kapal itu lalu membongkar sauh, dan mulai berlayar ke tengah lautan. Apakah yang akan terjadi kemudian wahai kawan pembaca The Jombang Taste? Anda bisa menebak bahwa dimulailah kisah sedih Putri Rubiah akibat keputusan Kyai Alwi berlayar tanpa sepengetahuannya.

Cerita Rakyat Sulawesi Selatan: Dongeng Putri Tandampalik dari Kerajaan Luwu
Cerita Rakyat Sulawesi Selatan: Dongeng Putri Tandampalik dari Kerajaan Luwu

Penderitaan Putri Rubiah

Kisah legenda Putri Rubiah dari Sumatera Utara berlanjut. Ketika kapal itu mulai bergerak meninggalkan pantai, terlihat ada seorang perempuan tua berlari-lari mendekati pantai. Dengan teriakan yang keras disertai isak tangis, perempuan itu memanggil-manggil nama Alwi. “Suamiku! Kembalilah kesini! Apapun yang terjadi aku tetap mencintaimu,” ujar Putri Rubiah sambil berlari menuju dermaga tempat kapal bergerak dengan perlahan.

Akan tetapi, tidak ada seorang pun penumpang kapal itu yang mendengarnya. Perempuan tua itu memang Rubiah. Tadi ketika terbangun ia merasakan bahwa Alwi tidak ada. Setelah gagal mencari suaminya di sekitar rumah, Rubiah menuju ke pantai. Dari kejauhan ia melihat suaminya naik ke kapal dan berbicara dengan beberapa orang. Kini mereka telah pergi meninggalkannya sendiri.

Dengan bercucuran air mata, Putri Rubiah menyaksikan kapal yang ditumpangi suaminya makin menjauh. Makin lama kapal itu terlihat makin kecil. Untuk dapat melihat dengan lebih jelas, Rubiah naik ke sebuah batu karang yang agak tinggi. Ia berdiri di sana dengan hampir tidak berkedip. Dengan pilu dilihatnya kapal itu makin jauh, dan akhirnya lenyap dari pandangan.

Sehari semalam sudah Rubiah berdiri di atas batu karang itu. Ia selalu berharap bahwa suaminya kembali lagi ke desa itu. Berkali-kali ia melambaikan tangan ke laut lepas. Dingin di malam hari dan panas matahari tidak dirasakannya. Yang ada dalam pikiran Rubiah hanya harapan bahwa suaminya pulang. Atau setidak-tidaknya orang yang dicintainya itu mengajaknya pergi.

Putri Rubiah berharap dapat mengikuti ke mana pun suaminya pergi. Setelah sadar ternyata bahwa suaminya tidak kunjung datang, Putri Rubiah pulang ke rumah dengan perasaan sedih dan kecewa. Tetangga-tetangganya masih tetap menyindir dan mengejek. Tidak ada seorang pun yang peduli dengan kepergian suaminya. Tentu saja keadaan ini membuatnya tidak betah tinggal di rumah.

Maka setelah sejenak beristirahat, Rubiah pergi lagi ke batu karang itu. Di sana ia mengamati laut dan sekali-sekali melambaikan tangannya. Itulah yang dikerjakan Rubiah setiap hari. Berlama-lama menanti suami di batu karang telah menjadi kegiatan sehari-hari Putri Rubiah. Kadang ia pulang sebentar ke rumah. Kemudian Rubiah merasakan bahwa ia akan lebih terhibur jika ada di batu karang itu. Setidak-tidaknya ia dapat memandang jauh ke laut, dan berharap akan ada kapal datang membawa suaminya.

Sebaliknya, di rumah hanya kesedihanlah yang ada. Setiap kali didengarnya para tetangga masih saja menyindir dan mengejek. Setelah mempertimbangkan masak-masak, Putri Rubiah memutuskan untuk tinggal di batu karang saja. Ia hanya membawa sehelai mukena dan sajadah untuk mengerjakan ibadah shalat. Yang dilakukan di atas karang itu ialah termenung, melamun, sembahyang, berdendang, berdoa, tidur, dan bangun lagi.

Cerita rakyat dari Sumatera Utara menyebutkan bahwa dari hari ke hari itulah kerjaan yang dilakukan Putri Rubiah. Kalau merasa lapar, ia akan makan apa saja yang terdapat di sekitarnya. Ia selalu membayangkan suaminya yang alim, tampan, dan kekar duduk disampingnya. Kadang-kadang seperti didengarnya, suaminya itu memanggil-manggil. Tubuh Rubiah makin kurus kering. Karena kesehatan yang makin menurun, ia lebih sering berbaring daripada berdiri atau duduk.

Akibat kurang menjaga kesehatan, Putri Rubiah mengalami sakit parah. Tidak ada seorang pun yang peduli kepadanya. Sampai pada suatu hari ia tidur untuk selama-lamanya alias meninggal dunia di atas batu karang. Dengan kuasa Tuhan, tubuhnya yang mengenakan mukena itu berubah menjadi batu. Itulah Keramat Ujung Sibolga yang sampai sekarang batu itu masih dikeramatkan orang.

Keramat Ujung Sibolga menjadi semacam batu peringatan. Tiap kali melihat batu karang Ujung Sibolga, orang menjadi ingat akan cinta dan kesetiaan abadi yang ditunjukkan oleh Putri Rubiah. Demikian kisah legenda rakyat Sumatera Utara yang mengkisahkan asal-usul batu keramat di Ujung Sibolga. Kisah legenda Putri Rubiah ini menjadi pengingat kita bersama agar lebih bijak dalam mengambil keputusan penting dalam membangun pernikahan.

Pesan Moral Cerita Rakyat

Cerita legenda Putri Rubiah dari Sumatera Utara memiliki pesan moral yang bagus untuk direnungkan bersama. Perkawinan semarga bertentangan dengan adat Tapanuli yang merupakan hasil musyawarah warga setempat. Alwi dan Putri Rubiah merasa harus pergi dari desanya karena menyadari kesalahannya. Sikap mereka berdua dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah merupakan contoh perbuatan terpuji.

Kyai Alwi memutuskan untuk pergi, dengan demikian masyarakat menjadi tenang, dan Putri Rubiah dapat diterima kembali. Sikap yang ditunjukkan oleh Kyai Alwi adalah rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. Inilah salah satu pesan moral yang harus sobat pembaca The Jombang Taste pelajari bersama dalam menciptakan kedamaian di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Amanat cerita rakyat legenda Putri Rubiah selanjutnya perilaku bijak menolong orang yang sedang kesusahan sebagaimana telah ditunjukkan oleh nakoda kapal. Nakoda kapal mengabulkan perrnintaan AIwi untuk menumpang kapalnya. Hal Ini didasarkan atas pertimbangan seandainya aku menjadi dia. Mengembangkan sikap tenggang rasa harus dilakukan oleh siapa saja kepada orang yang sedang mendapat masalah.

Masyarakat secara terang-terangan menyatakan tidak suka kepada perbuatan yang dilakukan oleh Kyai Alwi dan Putri Rubiah karena mereka berdua melakukan pernikahan semarga yang dilarang oleh adat. Alwi dan Rubiah menyadari bahwa wajib bagi setiap anggota masyarakat untuk menegakkan adat. Mereka tidak melawan, tetapi terpaksa menyingkir. Pesan moral yang tersirat dalam perbuatan ini adalah menghormati hak-hak orang lain demi kerukunan masyarakat.

Demikian kisah legenda Putri Rubiah dan Kyai Alwi dari Sumatera Utara penulis bagikan untuk Anda. Semoga kita bisa meneladani sifat-sifat baik para tokoh cerita dan tidak mencontoh perbuatan tercela para pelaku cerita. Sampai bertemu lagi dalam cerita rakyat Nusantara berikutnya bersama blog The Jombang Taste.

Daftar Pustaka:

Tim Penyusun Cerita Rakyat Laboratorium Pancasila IKIP Malang. 2008. Cerita Rakyat Dalam Kaitan Butir-butir Pancasila. Malang: Balai Pustaka.

Bagikan artikel ini melalui:

4 Replies to “Legenda Putri Rubiah Tidur Abadi Menjadi Batu di Teluk Karang Ujung Sibolga Sumatera Utara”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *