Kisah Legenda Asal-usul Putri Kayangan Menjadi Putri Junjung Buih dari Kerajaan Banjar Kalimantan Selatan

Cerita Rakyat Sulawesi Barat Legenda Si Kembar Sawerigading dan Tenriyabeng
Cerita Rakyat Sulawesi Barat Legenda Si Kembar Sawerigading dan Tenriyabeng

Wajah cantik dan menarik tidak selalu memberikan manfaat jika Anda bertubuh tidak sehat. Bersama artikel The Jombang Taste ini penulis mengajak Anda menyimak kisah legenda Putri Junjung Buih dari daerah Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Berabad-abad yang lalu di Kalimantan Barat terdapat sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja yang bijaksana. Raja itu selalu bertindak mementingkan kesejahteraan rakyatnya. Berbagai cara ditempuhnya untuk memperbaiki kehidupan rakyat.

Pada suatu hari, raja itu memerintahkan rakyatnya untuk membuka sebuah hutan. Perbuatan ini dimaksudkan agar hutan tersebut dapat dijadikan sawah ladang serta tempat pemukiman. Maka berbondong-bondonglah rakyat pergi ke hutan itu dengan membawa segala alat untuk menebang pohon. Setelah cukup banyak kayu besar yang terkumpul, untuk mempercepat pekerjaan, kayu-kayu itu dibakar.

Kisah legenda dari Kalimantan Selatan menyatakan bahwa ternyata tidak satu pun orang di kerajaan tersebut dapat membakar hutan itu. Bahkan menyalakan api pun, orang tidak berhasil melakukannya. Hal ini membuat orang-orang menjadi takut. Mereka menghadap raja untuk mengadukan peristiwa tersebut.

Mendengar hal itu, raja amat sedih. Kemudian baginda pergi ke dalam sanggar untuk bersemadi. Baginda meminta petunjuk para dewata, bagaimana cara mengatasi kesulitan di hutan itu. Pada jaman itu, raja dan seluruh rakyatnya memeluk agama Hindu, demikian cerita rakyat Kalsel bermula.

Di antara jaga dan mimpi, raja mendapat petunjuk dewa bahwa di hutan itu terdapat buluh betung yang terdiri atas tujuh ruas. Buluh betung adalah sejenis bambu yang memiliki kulit halus dan sedikit duri. Apabila buluh betung itu diamankan, maka hutan itu tentu dapat dibakar dengan mudah.

Cerita rakyat dari Kalimantan Selatan ini menyatakan bahwa setelah mendapat petunjuk dewa itu, baginda memerintahkan rakyatnya untuk mencari buluh betung itu. Rakyat bergotong-royong menjalankan perintah raja untuk mencari buluh betung. Beberapa hari kemudian, buluh betung beruas tujuh itu ditemukan.

Setelah dibawa menghadap baginda, buluh itu kemudian dibelah. Ajaib sekali! Ternyata di dalam tiap ruas buluh betung itu terdapat seorang bayi. Enam bayi pertama adalah laki-laki. Sedangkan bayi ketujuh adalah bayi perempuan yang amat cantik.

Setelah semua bayi itu dibawa ke istana, hutan itu dengan mudah dapat dibakar. Baginda mengumumkan bahwa ketujuh bayi itu diangkat menjadi anak. Kebetulan baginda memang belum dikaruniai seorang anak pun. Baginda raja sangat senang hatinya mempunyai tujuh anak sekaligus. Cerita rakyat Banjar ini berlanjut dengan penuturan sang raja.

Baginda bersabda, “Semua bayi ini kuambil sebagai anak. Kelak mereka akan mewarisi kerajaan ini. Bayi putri yang bungsu ini kuberi nama Putri Kayangan.”

Maka diadakanlah pesta besar selama tujuh hari tujuh malam. Rakyat Kerajaan Banjar bersukacita. Terlebih-lebih baginda. Dalam waktu sehari baginda mendapat tujuh orang anak yang cakap dan cantik. Anugerah Tuhan ini sangat besar dan disyukuri sepenuh hati.

Cerita legenda buaya ajaib dari Nusantara
Cerita legenda buaya ajaib dari Nusantara

Cerita Rakyat Kalimantan Selatan

Tahun demi tahun terlampaui. Para putra raja yang enam orang itu dididik untuk menjadi kesatria yang perkasa. Ilmu perang, ilmu pemerintahan, dan ilmu sastra makin dikuasai oleh putra-putra raja itu. Mereka tumbuh menjadi putra-putra yang cerdas dan membanggakan baginda raja. Kisah legenda dari Kalimantan Selatan ini berlanjut lebih menarik lagi karena ada yang istimewa pada diri Putri Kayangan.

Putri Kayangan ketika menjelang dewasa menjadi seorang putri yang sangat cantik. Benar-benar sesuai dengan namanya. Mungkin para bidadari dari kayangan tidak dapat menandingi kecantikannya. Putri Kayangan juga sudah mahir menenun, mengatur istana, memerintah para dayang, dan seribu satu tugas kewanitaan sebagai putri raja.

Sayang, kebahagiaan seperti itu tidak abadi. Pada suatu hari Putri Kayangan terserang penyakit puru, suatu penyakit kulit yang amat mengerikan, dan mudah menular. Sudah banyak tabib yang didatangkan baginda untuk mengobati putri itu. Namun penyakit Putri Kayangan tidak kunjung sembuh. Tentu saja baginda dan segenap rakyat Banjar sangat menderita.

Rakyat menaruh iba kepada Putri Kayangan. Selain kasihan kepada sang putri di samping itu mereka juga merasa takut dijangkiti penyakit puru itu. Apabila banyak di antara rakyat yang menderiti penyakit puru tentu kerajaan itu akan rusak. Mereka bermusyawarah untuk memberi jalan ke luar.

Setelah dicapai mufakat, diutuslah seorang wakil yang akan menyampaikan usul kepada baginda. Ketika wakil itu diterima menghadap baginda, maka sembahnya. “Ampun Baginda. Patik diutus oleh rakyat untuk menyampaikan suatu usul. Ini memang rumit sekali. Tetapi Baginda diharapkan bertindak, demi untuk kejayaan kerajaan.”

Baginda yang sudah dapat menduga ke mana arah pembicaraan, berkata, “Katakanlah apa yang engkau harus katakan!”

Setelah ragu-ragu sejenak, wakil itu berdatang sembah, “Kedatangan kami bersangkutan dengan penyakit putri Baginda, Putri Kayangan. Rakyat khawatir akan tertulari penyakit puru yang kini diderita Putri Kayangan. Karena itu, kami memohon, kiranya Putri Kayangan dapat diasingkan dari kerajaan ini.”

Baginda terdiam. Berat nian permohonan rakyatnya itu. Akan tegakah baginda mengasingkan putri yang dicintainya? Tetapi seandainya tidak, apa yang akan dilakukan oleh rakyatnya? Sungguh suatu masalah yang sulit. Kemudian seperti menerka sesuatu, baginda berkata lagi, “Teruskan!”

“Maaf Baginda,” kata wakil itu sambil menunduk. “Apabila Baginda tidak mengasingkan Putri Kayangan, maka kami sudah berketetapan hati, kamilah yang akan menyingkir dari kerajaan ini.”

“Siapa yang tega mengusir anaknya sendiri?” tanya baginda di dalam hati. Akan tetapi, baginda juga teringat bahwa ia adalah seorang raja. Raja yang harus mengutamakan negaranya. Kepentingan rakyat harus didahulukan.

Jika baginda menerima usul rakyatnya, maka ia akan kehilangan putrinya. Akan tetapi, apabila ia mempertahankan putrinya, maka seluruh rakyatnya akan meninggalkan negeri itu. Setelah melewati berbagai pertimbangan, akhirnya baginda dapat menerima usul rakyatnya. Katanya, “Aku setuju dengan usulmu. Tolong buatkan rakit untuk putriku.”

Baginda mengatakan bahwa Putri Kayangan akan dihanyutkan dengan rakit di sungai. Nasib Putri Kayangan akan diserahkan kepada dewa penunggu sungai itu. Rakit yang telah siap dibuat itu dilengkapi dengan berbagai makanan dan keperluan lain. Kemudian Putri Kayangan dipersilakan naik ke rakit. Dengan bermuram durja, baginda dan keenam saudara Putri Kayangan mengantarkan sampai ke tepi sungai.

Legenda Putri Junjung Buih

Rakyat Banjar banyak sekali yang mengantarkan. Mereka juga sangat iba. Banyak terlihat orang mencucurkan air mata. Kasihan Putri Kayangan. Dengan diiringi ratap tangis, rakit itu akhimya dilepas, kemudian mengikuti aliran sungai. Beberapa hari kemudian, rakit itu terdampar di suatu tempat yang keramat, yaitu Labuhan Gending.

Konon menurut cerita rakyat Kalimantan Selatan, di Labuhan Gending hidup seekor buaya putih yang terkenal amat ganas. Menyadari bahwa ia telah sampai di Labuhan Gending, Putri Kayangan hanya dapat pasrah kepada para dewata. Karena lelah, Putri Kayangan itu lalu tertidur. Ketika bangun, Putri Kayangan merasa ada yang menjilati tubuhnya.

Ketika membuka matanya, ia terkejut bukan main. Ternyata yang menjilati tubuhnya, seekor buaya putih yang amat ditakuti. Apakah ia akan dimangsa oleh buaya putih itu? Tak ada yang dapat dilakukannya kecuali memejamkan mata dan berdoa. Ternyata buaya putih itu tidak memakannya.

Bahkan selesai menjilati seluruh tubuh Putri Kayangan, buaya putih itu pergi, dan masuk ke dalam sungai. Kemudian Putri Kayangan baru menyadari bahwa penyakit kulitnya telah lenyap. Bukan hanya itu. Sekarang kulitnya menjadi sangat halus dan bersih, seakan-akan ia tidak pernah menderita penyakit apa. Buaya putih itu ternyata bukan buaya biasa.

Di dalam hati, Putri Kayangan berterima kasih kepada buaya putih. Tak lama kemudian, datang seorang penangkap ikan. Ia sangat heran menyaksikan seorang gadis berada di atas rakit di sungai yang keramat seorang diri. Mengetahui bahwa tiba-tiba saja ada orang datang, Putri Kayangan sangat terkejut. Maka ketika penangkap ikan itu menyapanya, Putri Kayangan hanya diam saja.

“Baiklah,” kata penangkap ikan. “Ini rupa-rupanya anugerah dewata. Sejak sekarang, engkau kujadikan anakku.” Penangkap ikan itu memang belum mempunyai anak. “Siapa namamu, Nak?” tanya penangkap ikan itu lagi. Putri Kayangan tidak menjawab. Ia menjadi bingung. Apakah ia akan mengaku sebagai putri raja? Apakah dengan demikian ia akan diterima kembali oleh ayahnya? Lama Putri Kayangan itu berdiam diri.

Kemudian penangkap ikan itu berkata, “Engkau kuberi nama Putri Junjung Buih, karena engkau berada di atas buih ketika aku jumpai.” Putri Kayangan, yang sekarang bernama Putri Junjung Buih tidak menjawab. Penangkap ikan itu mengajaknya pulang.

Alangkah sukacita istri penangkap ikan itu. Mereka sekarang mempunyai seorang. anak gadis yang cantik jelita. Tidak lama kemudian, di daerah itu terdampar sebuah perahu layar. Pemilik perahu itu ternyata seorang putra, raja Mataram yang telah memeluk agama Islam.

Selain berkelana, putra raja Mataram dan rombongannya itu juga bermaksud menyebarkan agama Islam. Konon rombongan dari Mataram itu menyebarkan agama Islam secara damai. Mereka meniru cara yang digunakan oleh para wali di tanah Jawa. Tanpa kekerasan, tanpa paksaan. Bahkan mereka menghormati penduduk asli yang mempunyai kebiasaan-kebiasaan lama. Sebaliknya penduduk juga tidak memusuhi para pendatang yang berusaha menyebarkan agama baru itu.

Putra raja Mataram itu lalu jatuh cinta kepada Putri Junjung Buih. Rupa-rupanya ia tidak bertepuk sebelah tangan. Akhirnya rnereka kawin. Putri Junjung Buih kemudian mengaku bahwa ia adalah putri raja dan bernama Putri Kayangan. Putra raja Mataram itu berhasil pula mengislamkan baginda ayahanda Putri Kayangan dengan seluruh rakyatnya.

Dari perkawinan putra raja Mataram dengan Putri Kayangan atau Putri Junjung Buih itu lahir beberapa orang anak. Anak sulung menjadi raja di sana, yang kemudian disebut sebagai Kerajaan Ketapang. Demikianlah, keturunan raja itu berkembang sehingga menjadi raja-raja dari rakyat Ketapang, yang di kemudian hari hidup dengan aman sentausa, adil dan makmur. Demikian cerita rakyat Kalimantan Selatan yang berkisah mengenai asal-usul Putri Junjung Buih.

Download-Star-Plus-Mahabharat-Wallpaper
Download-Star-Plus-Mahabharat-Wallpaper

Pesan Moral Cerita Rakyat

Cerita rakyat dari Kalimantan Selatan memberikan pesan moral kepada setiap manusia yang mengetahuinya. Legenda Putri Kayangan ini mengingatkan kita bahwa Raja mementingkan kesejahteraan rakyatnya dan selalu berusaha memperbaiki kehidupan rakyat. Hal ini merupakan tindakan terpuji karena rakyat dan raja bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial. Cerita rakyat Banjar ini mengajarkan kita untuk selalu memikirkan kepentingan rakyat banyak.

Pesan moral yang kedua adalah rakyat bermusyawarah untuk mencari jalan ke luar agar mereka tidak dijangkiti penyakit Putri Kayangan. Mereka mengirim wakil untuk mengajukan usul kepada raja. Hal ini merupakan tindakan terpuji karena musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan dapat mempererat persatuan warga. Rakyat Banjar tidak mengambil keputusan sendiri melainkan meminta persetujuan baginda raja.

Selanjutnya, Raja menerima usul rakyat dan tidak mempertahankan putrinya agar tetap di istana, walaupun barangkali baginda berkuasa untuk melakukan hal itu. Amanat cerita rakyat dari Kalimantan Selatan ini adalah tidak memaksakan kehendak kepada orang lain meskipun Anda memiliki kekuasaan. Pemaksaan kehendak kepada rakyat tidak akan mendatangkan kedamaian. Justru dengan bermusyawarah dapat menciptakan keselarasan hidup.

Rombongan dari Mataram menyebarkan agama Islam secara damai serta meniru cara yang digunakan para wali. Hal ini merupakan amanat cerita rakyat dari Kalimantan Selatan yaitu tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada, orang lain. Rombongan penyebar agama itu menghormati kebiasaan penduduk, sebaliknya penduduk tidak memusuhi para pendatang. Hormat-menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda dapat membina kerukunan hidup.

Daftar Pustaka:

Tim Penyusun Cerita Rakyat Laboratorium Pancasila IKIP Malang. 2008. Cerita Rakyat Dalam Kaitan Butir-butir Pancasila. Malang: Balai Pustaka.

4 Replies to “Kisah Legenda Asal-usul Putri Kayangan Menjadi Putri Junjung Buih dari Kerajaan Banjar Kalimantan Selatan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *