Legenda Prabu Ajisaka dari Kerajaan Medang Kamulan dan Asal Mula Terciptanya Huruf Jawa

Kesenian tradisional Jombang
Kesenian tradisional Jombang

Manusia berilmu dan beriman selalu berusaha mengamalkan kepandaiannya untuk membantu masyarakat. Bersama blog The Jombang Taste ini Anda penulis ajak mengikuti cerita legenda asal-usul penciptaan huruf Jawa. Hampir dua ribu tahun yang lalu di Pulau Jawa terdapat sebuah kerajaan bernama Kerajaan Medang Kamulan. Kerajaan itu diperintah oleh Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang amat lalim. Kebiasaan raja yang sangat mengerikan ialah Prabu Dewatacengkar suka memakan daging manusia.

Setiap hari, patih Kerajaan Medang Kamulan harus menyediakan seorang manusia untuk menjadi santapan Sang Prabu. Kadang sang patih menemukan manusia muda, kadang juga manusia tua untuk dijadikan makanan Prabu Dewatacengkar. Rakyat Kerajaan Medang Kamulan sangat menderita dalam hidup mereka. Kehidupan mereka memang masih terbelakang. Mereka belum mengenal ilmu pengetahuan. Bahkan mereka belum mengenal huruf.

Kisah Legenda Prabu Ajisaka

Tersebutlah seorang pengembara dari negeri seberang bernama Ajisaka. Ia datang ke Pulau Jawa bermaksud menyebarkan pengetahuan. Aji Saka terdorong mengamalkan ilmu yang dimiliki untuk membantu masyarakat. Berita mengenai kekejaman Prabu Dewatacengkar telah sampai pula ke negeri seberang. Karena itu Ajisaka bermaksud pula untuk menolong rakyat Medang Kamulan dari kesewenang-wenangan rajanya.

Cerita rakyat dari Jawa Tengah menyebutkan bahwa Ajisaka turun gunung diikuti oleh dua orang pengiringnya, yaitu Dora dan Sembada. Kedua pengiringnya termasuk orang-orang baik budi dan setia kepada junjungannya. Ajisaka akan pergi ke Kerajaan Medang Kamulan tanpa membawa senjata. Ia meminta Sembada tinggal di daerah Pegunungan Kendeng dan menjaga keris pusakanya. Sedangkan Dora diperintahkan untuk mengikutinya.

“Kelak aku sendiri yang akan mengambil keris pusaka ini. Jangan sekali-kali kamu berikan kepada orang lain,” pesan Ajisaka kepada Sembada. Sembada berjanji untuk menjunjung tinggi perintah itu.

Setelah sampai di Kerajaan Medang Kamulan, Ajisaka ingin segera menghadap Prabu Dewatacengkar. Patih Medang Kamulan mencegahnya. Sang patih mengira Ajisaka tidak tahu kebiasaan buruk Prabu Dewatacengkar yang suka memakan daging manuai. Ia merasa kasihan bahwa pemuda setampan itu akan mati menjadi santapan rajanya.

Akan tetapi Ajisaka berkeras hati untuk menghadap. Katanya. “Paman Patih tidak usah khawatir. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Agung melindungi kita semua. Lagi pula, bukankah sampai sesiang ini Paman belum menyajikan seseorang kepada baginda? Paman akan dihukum bila tidak mampu memberikan makan manusia kepada sang Prabu.”

Akhirnya sang patih menuruti permintaan Ajisaka. Ajisaka dibawa patih menghadap Prabu Dewatacengkar. Melihat seorang pemuda yang berbadan kekar, Sang Prabu sangat bergembira. Segera Sang Prabu turun dari singgasananya dan mendekati Ajisaka. Prabu Dewatacengkar memandang tubuh Ajisaka tanpa berkedip. Tubuhnya bersih dan usianya masih muda. Tentu daging pemuda ini rasanya nikmat, gumam Prabu Dewatacengkar dalam hati.

Kisah legenda Prabu Dewatacengkar berlangsung lebih menarik. Ketika Prabu Dewatacengkar akan mengangkat tubuhnya, Aji Saka berkata. “Sebelum Baginda menyantap hamba perkenankan hamba mengajukan sebuah permintaan.”

“Katakan apa yang kamu minta,” sahut Sang Prabu dengan tidak sabar.

Kemudian sambil menoleh ke arah patih. Sang Prabu berkata, “Kamu akan mendapat hadiah, Paman Patih. Sudah lama aku tidak menyantap manusia semuda ini. Akhir-akhir ini hanya orang-orang tua yang kamu sajikan. Dagingnya sudah tidak enak lagi.“

“Hamba mohon diberi sejengkal tanah,” kata Ajisaka membuyarkan ucapan Prabu Dewatacengkar barusan.

“Untuk apa?” tanya Sang Prabu. “Bukankah kamu akan segera mati?”

“Sepeninggal hamba, tanah itu dapat ditempati oleh kerabat hamba. Dan lagi, tanah yang hamba minta tidak luas, “ ujar Ajisaka.

“Apakah seluas alun-alun? Atau seluas desa?” tanya Sang Prabu dengan nada geram.

“Hanya seluas ikat kepala hamba,” jawab Ajisaka singkat.

“Ha-ha-ha-ha-ha-ha,” Prabu Dewatacengkar tertawa tergelak-gelak mendengar perminataan Ajisaka. Konon jika Prabu Dewatacengkar tertawa maka suaranya menggelegar, seperti suara guruh. “Seribu kali luas ikat kepalamu pun akan kuberi,” sambungnya.

Ajisaka mulai mengurai ikat kepalanya. Ia memegang salah satu ujungnya. Ujung yang lain dipegang oleh Prabu Dewatacengkar. Sang Prabu mundur selangkah untuk membentangkan ikat kepala. Terjadilah suatu keajaiban. Ikat kepala Ajisaka ternyata dapat membentang dan membentang, makin lama makin luas sehingga alun-alun Kerajaan Mendang Kamulan tertutup oleh ikat kepala itu.

Cerita rakyat dari Jawa Tengah terus berlanjut mempertemukan Prabu Dewatacengkar dan Ajisaka. Ketika Prabu Dewatacengkar sudah mundur sampai di tepi pantai selatan, Ajisaka mengibaskan ikat kepalanya. Maka terceburlah Sang Prabu ke laut selatan dan menjelma menjadi seekor buaya putih.

Rakyat Kerajaan Medang Kamulan sangat bersukacita atas meninggalnya Prabu Dewatacengkar. Mereka telah bebas dari keangkaramurkaan sang raja yang kejam dan suka makan daging manusia. Maka rakyat Kerajaan Medang Kamulan segera berunding dan mengangkat Ajisaka menjadi raja Medang Kamulan serta bergelar Prabu Ajisaka. Prabu Ajisaka memerintah dengan adil dan bijaksana.

Sang Prabu juga berusaha agar rakyatnya menjadi pandai. Rakyat Kerajaan Medang Kamulan diajari bercocok tanam, membuat saluran air, membangun gedung, memajukan perdagangan, mengembangkan pelayaran, dan berbagai ilmu pengetahuan lain. Lebih daripada itu, di Mendang Kamulan tidak ada lagi kesewenang-wenangan. Rakyat hidup aman dan tenteram di bawah pimpinan Prabu Ajisaka.

Cerita Rakyat Jawa Tengah Dongeng Timun Emas dan Mbok Rondo Dadapan
Cerita Rakyat Jawa Tengah Dongeng Timun Emas dan Mbok Rondo Dadapan

Asal Usul Huruf Jawa

Cerita asal-usul pembuatan huruf Jawa berlanjut. Kerajaan Medang Kamulan tumbuh menjadi kerajaan besar. Penambahan luas wilayah kerajaan diikuti oleh banyaknya perampok yang berkeliaran di rumah-rumah penduduk pada malam hari. Pada suatu hari Prabu Ajisaka ingat bahwa keris pusakanya tertinggal di lereng Gunung Kendeng. Maka Dora diperintahkan untuk mengambil keris pusaka itu agar bisa digunakan membasmi para perampok.

Prabu Ajisaka berpesan kepada Dora, “Katakan kepada Sembada bahwa aku memerintahkan kamu menjemput keris pusaka itu. Ajaklah Sembada kemari.”

Setelah bertemu dengan Sembada, Dora menceritakan semua kejadian di Medang Kamulan. Dari awal mula ia menemani Ajisaka turun gunung, membantu rakyat miskin bercocok tanam, hingga membunuh Prabu Dewatacengkar yang memiliki kebiasaan makan daging warga setempat. Lalu Dora menyampaikan perintah Prabu Ajisaka. Ia harus menjemput keris pusaka dan mengajak Sembada menghadap ke Medang Kamulan.

Sembada tidak bersedia menyerahkan keris pusaka itu. Katanya, “Bukankah dulu Raden Aji Saka berjanji untuk mengambil sendiri keris pusaka ini? Aku juga mendapat pesan untuk tidak menyerahkan keris ini kepada orang lain.”

“Memang benar,” ujar Dora. “Tetapi pada saat ini baginda sangat sibuk. Banyak urusan kerajaan yang harus diselesaikannya. Karena itu, akulah yang diutusnya. Aku mengemban tugas seorang raja.”

Meski telah mendengar penjelasan Dora, Sembada tetap tidak mau menyerahkan keris pusaka itu. Hal ini menyebabkan Dora menjadi marah. “Ingat,” katanya, “aku adalah duta baginda. Dan aku wajib menjalankan segala perintahnya.”

“Aku juga abdinya,” sahut Sembada.” Aku pun wajib menjalankan segala titahnya.”

Cerita rakyat Jawa Tengah menyebutkan bahwa pertengkaran itu kemudian berkembang menjadi perkelahian. Bahkan akhirnya Dora maupun Sembada menggunakan senjata masing-masing. Keduanya sama-sama sakti karena belajar ilmu bela diri dari guru yang sama, yaitu Ajisaka. Setelah lama bertarung, Dora dan Sembada bersama-sama gugur. Tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang.

Prabu Ajisaka yang telah lama menunggu-nunggu kedatangan kedua abdinya menjadi tidak sabar. Dengan pengiring secukupnya, Prabu Ajisaka menyusul ke lereng Pegunungan Kendeng. Menyaksikan kedua abdinya yang setia bersama-sama tewas, Prabu Ajisaka sangat sedih. Sang Prabu menyadari bahwa baik Dora maupun Sembada telah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Dora benar, karena melaksanakan perintah raja. Sebaliknya Sembada juga tidak salah, karena menjunjung tinggi pesannya. Prabu Ajisaka sendiri yang bersalah.

Untuk mengenang dan menghargai jasa kedua abdinya itu, Prabu Ajisaka menggubah sebuah sajak. Kelak sajak itu akan dikenal sebagai huruf Jawa. Sajak itu dimaksudkan untuk mengenang kedua abdinya yang gugur dalam mengemban tugas.

Beginilah bunyi sajak itu: “hana caraka data sawala padhajayanya maga bathanga” yang terjemahan harfiahnya kurang lebih: “ada utusan mereka bertengkar sama-sama sakti semua menjadi mayat.” Demikian asal usul terciptanya huruf Jawa dari kisah hidup para pengawal Prabu Ajisaka.

Jika diterjemahkan secara bebas, sajak Prabu Ajisaka mengandung arti kurang lebih sebagai berikut. Tersebutlah dua orang utusan (Dora dan Sembada). Mereka terlibat dalam suatu pertengkaran karena kedua-duanya merasa benar. Karena kedua utusan itu sama-sama sakti, maka mereka gugur bersama-sama.

Prabu Ajisaka memerintahkan rakyatnya menghafalkan sajak itu. Dengan demikian, kesetiaan Dora dan Sembada kepada tugas akar selalu dikenang. Demikian pula diharapkan agar rakyat Medang Kamulan dan segenap keturunannya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti yang dilakukan Prabu Ajisaka. Untuk setiap suku kata pada sajak itu dibuatkan suatu tanda khusus. Ini kelak menjadi urut-urutan huruf yang kemudian dikenal sebagai huruf Jawa. Sampai saat ini, orang Jawa masih mempergunakan huruf itu.

Pesan Moral Cerita Rakyat

Pesan moral yang terkandung dalam cerita legenda Prabu Ajisaka adalah perilaku terpuji Ajisaka dalam melakukan kegiatan kemanusiaan perlu dicontoh. Ajisaka datang ke Pulau Jawa untuk menyebarkan pengetahuan dan memerangi kebodohan. Ajisaka tidak menggunakan kepandaiannya untuk memperkaya diri sendiri. Sebaliknya, Prabu Ajisaka malah memanfaatkan ilmu yang dimiliki untuk memperbaiki nasib rakyat kecil.

Amanat cerita rakyat dari Jawa Tengah ini juga mengajarkan agar kita selalu menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Ajisaka yang mendengar kelaliman Prabu Dewatacengkar bermaksud menolong rakyat Medang Kamulan. Ajisaka tidak mempedulikan keselamatan diri demi menolong rakyat yang hidup susah. Terdorong untuk menolong sesama manusia, Ajisaka berani mempertaruhkan nyawanya.

Setelah menjadi raja, Ajisaka memerintah dengan adil dan bijaksana. Ajisaka juga berusaha memintarkan rakyatnya dan menciptakan kehidupan yang aman dan tenteram. Maka pesan moral yang termuat dalam cerita rakyat Jawa Tengah ini adalah agara Anda selalu mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat di atas kepentingan pribadi atau golongan.

Dalam cerita legenda asal-usul terciptanya huruf Jawa dikisahkan  bahwa Dora dan Sembada rela gugur dalam tugas menegakkan kebenaran. Amanat cerita legenda Prabu Aji Saka ini adalah agar kita berani membela kebenaran dan keadilan. Seringkali para pembela kebenaran akan mendapatkan halangan dalam melangkah. Meski demikian, teruslah berbuat baik karena halangan adalah cara bagi Anda untuk menjadi manusia lebih kreatif.

Demikian asal-usul terciptanya huruf Jawa yang bersumber dari kisah legenda dari Tanah Jawa Prabu Ajisaka dari Kerajaan Medang Kamulan. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan Anda.

Daftar Pustaka:

Tim Penyusun Cerita Rakyat Laboratorium Pancasila IKIP Malang. 2008. Cerita Rakyat Dalam Kaitan Butir-butir Pancasila. Malang: Balai Pustaka.

5 Replies to “Legenda Prabu Ajisaka dari Kerajaan Medang Kamulan dan Asal Mula Terciptanya Huruf Jawa”

  1. ajisaka bukan sekedar orang berilmu, tapi juga orang ngerti. maka tak salah kalau beliau jadi tokoh idola wong jowo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *