Kisah Legenda Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan Penerima Wahyu Kerajaan Mataram Islam dari Jawa Tengah

Cerita Rakyat Yogyakarta: Legenda Asal Usul Gunung Merapi
Cerita Rakyat Yogyakarta: Legenda Asal Usul Gunung Merapi

Kedekatan seorang manusia kepada Tuhannya dapat menjadikan perilaku manusia lebih bijak dan meraih kesuksesan di masa depan. Melalui artikel blog The Jombang Taste ini penulis mengajak sobat pembaca blog The Jombang Taste untuk membaca kisah legenda dari Jawa Tengah mengenai Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan. Di sebelah selatan kota Yogyakarta terdapat suatu daerah yang kurang subur tanahnya. Daerah tersebut terkenal dengan nama Gunung Kidul. Selain wilayah dataran rendah, wilayah Jawa Tengah juga terdapat pegunungan yaitu Pegunungan Giring.

Air merupakan kebutuhan utama bagi penduduk Gunung Kidul. Lebih-lebih di musim kemarau penduduk sangat mendambakan air. Baik untuk mengairi sawah ladang maupun untuk keperluan hidup sehari-hari di rumah. Keadaan demikian telah berjalan bertahun-tahun. Tanah kering merekah dan tandus, hutan pun banyak menjadi kering. Dalam keadaan demikian sering terjadi kebakaran hutan. Sehingga penduduk menjadi semakin menderita karenanya.

Di Pegunungan Giring yang tandus hidup seorang bernama Ki Ageng Giring. Nama sebenarnya adalah Ki Ageng Linggarjati II putra dari Ki Ageng Linggarjati I dan lebih terkenal sebagai Ki Ageng Giring. Ki Ageng Giring sebenarnya masih cucu dari Ki Ageng Wanakusuma, salah satu keturunan dari Kerajaan Majapahit. Kelak Ki Ageng Giring juga akan menurunkan raja-raja di Tanah Jawa dalam masa beberapa ratus tahun kemudian. Para pemimpin Kerajaan Mataram Islam di Pulau Jawa kelak merupakan keturunan dari Ki Ageng Giring.

Tahukah sobat pembaca blog The Jombang Taste bahwa selain gemar bertani untuk menghidupi keluarganya, Ki Ageng Giring juga rajin bertapa untuk mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Bertahun-tahun kegemaran bertapa ini dilakukannya secara rutin. Kadang-kadang ia bertapa di tengah-tengah hutan belantara yang penuh binatang buas. Kadang-kadang ia juga bertapa di sebuah gua yang gelap menakutkan. Gangguan binatang buas dan makhluk jahat lainnya tidak dihiraukan.

Ki Ageng Giring Bertapa

Kisah legenda Ki Ageng Giring dimulai dari kebiasaannya bertapa di wilayah pegunungan Jawa Tengah. Asal-usul para keturunan raja Mataram Islam di Jawa Tengah bermula disini. Pada suatu hari Ki Ageng Giring meminta diri kepada Nyi Ageng Giring untuk pergi bertapa. “Nyi Ageng,” begitu kata Ki Ageng Giring membuka percakapannya dengan Nyi Ageng Giring. “Izinkanlah aku pergi beberapa lama untuk bertapa,” ucapnya.

“Telah lama aku mengidam-idamkan wahyu keraton. Agar supaya keturunan kita di kemudian hari dapat menduduki singgasana kerajaan. Alangkah bahagianya jika anak cucu kita dapat menjadi raja,” demikian Ki Ageng Giring melanjutkan.

Nyi Ageng Giring terperanjat mendengar kata-kata Ki Ageng Giring. Sama sekali tidak disangkanya bahwa suaminya mempunyai cita-cita demikian tingginya. Menjadi raja adalah keinginan yang luar biasa. Sudah barang tentu Nyi Ageng Giring ikut bergembira dan bahagia jika cita-cita suaminya dapat terkabul. Alangkah senang dan bangganya jika ia mempunyai keturunan raja.

Saat Nyi Ageng Giring melepas suaminya pergi bertapa, hujan deras menggenangi bumi. Guntur menggelegar bersahut-sahutan. Angin bertiup menderu dengan kerasnya melanda pohon-pohon yang menghalanginya. Kilatan halilintar membelah angkasa raya. Udara dingin menusuk tulang.

Namun demikian dengan penuh keyakinan akan kebesaran Tuhan, Ki Ageng Giring berangkat juga. Hatinya mantap, langkahnya tetap penuh kepercayaan bahwa Tuhan akan melindungi hamba-Nya yang mempunyai tujuan baik. Ia yakin bahwa barangsiapa yang percaya dan takwa kepada Tuhan akan dikabulkan permohonan dan cita-citanya. Hujan angin tidak menjadi rintangan akan perjalanannya. Tekadnya bulat untuk mendapatkan wahyu keraton.

Setelah berjalan cukup lama sampailah Ki Ageng Giring di sebuah hutan belantara di atas Gunung Giring. Dengan melihat ke kanan dan ke kiri akhirnya ditemukan sebuah gua yang dianggap tepat untuk bertapa. Gua tersebut tidak begitu dalam namun sepintas lalu sukar dilihat dari luar. Pintu masuk ke gua terhalang oleh air terjun. Sehingga sukarlah orang mengetahui bahwa di balik air terjun itu terdapat gua yang bersih dan cukup luas.

Dengan perasaan yang mantap Ki Ageng Giring memasuki gua tersebut. Setelah istirahat secukupnya, Ki Ageng Giring lalu membersihkan diri menggunakan air terjun. Lantai pun dibersihkan dari kotoran-kotoran yang ada. Pakaiannya yang basah kuyup segera dilepaskan dan diganti dengan pakaian bekal yang kering.

Sejenak kemudian mulailah Ki Ageng Giring melakukan tapa brata. Ki Ageng Giring lantas duduk bersimpuh, tangan bersedekap dan menutup segala pancaindera. Tidak makan, tidak minum, tidak tidur seperti galibnya orang bertapa. Hanya satu yang dituju yaitu wahyu keraton yang didambakan. Kisah legenda Ki Ageng Giring bertapa di tengah hutan berlangsung sangat lama.

Setelah berhari-hari bertapa, pada suatu malam Ki Ageng Giring seperti mendengar suara. Walaupun tidak terlalu keras, suara tersebut cukup jelas. “Hai, Ki Ageng Giring,” demikian suara itu, “Wahyu keraton yang kau inginkan terletak di sebuah kelapa muda,” demikian suara itu lebih lanjut.

“Carilah pohon kelapa yang condong ke timur dan hanya berbuah satu buah. Di situlah wahyu keraton berada. Selanjutnya tergantung pada suratan hidupmu.” Kemudian suara tersebut lenyap. Ki Ageng mendengar suara itu dengan tenang. Setelah merasa cukup mendapat jawaban, ia berniat mengakhiri kegiatan bertapa yang dijalaninya selama berhari-hari.

Serta-merta Ki Ageng Giring bergegas meninggalkan tempat pertapaannya. Dengan berjalan perlahan-lahan Ia melihat ke kiri ke kanan dengan seksama. Seolah-olah tidak ada sebatang pohon kelapa pun yang lepas dari jangkauan pandangan matanya. Suasana gelap pada malam hari tidak menyurutkan langkahnya untuk terus mencari keberadaan wahyu keraton.

Berhari-hari telah berlalu, belum juga ditemukan pohon kelapa seperti wangsit yang didengar. Masuk ke luar hutan, menyeberangi sungai mendaki bukit menuruni lembah dilakukan. Ia yakin bahwa wangsit tersebut benar. Walaupun dengan badan yang gemetar karena tidak makan, tidak minum dan tidak tidur upaya pencarian tetap dilakukan.

Akhirnya upayanya berhasil. Di suatu tempat di lereng bukit ditemukan pohon kelapa yang dimaksud. Pohon kelapa condong ke timur dengan buah kelapa muda hanya sebuah. Karena girangnya, sebelum memanjat untuk mengambil buahnya, ia duduk bersimpuh di bawah pohon kelapa tersebut. Bukan beristirahat melepas lelah melainkan mengucapkan syukur kepada Tuhan akan keberhasilannya. Ia semakin takwa dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hikayat Raja Arief Imam - Creative Doodle Art by Hidayat Said
Hikayat Raja Arief Imam – Creative Doodle Art by Hidayat Said

Keberuntungan Ki Ageng Pemanahan

Kisah legenda dari Tanah Jawa Ki Ageng Giring berlanjut setelah menemukan buah kelapa wahyu. Setelah itu dengan jantung yang berdentang karena girang diambillah buah kelapa itu. Ia membayangkan kelak anak keturunannya dapat menjadi raja besar di Pulau Jawa. Segera Ki Ageng Giring bergegas pulang. Nyi Ageng Giring senang sekali melihat suaminya pulang dengan wajah cerah. Tentunya perjalanan suaminya berhasil, demikian terkaan Nyi Ageng Giring. Dengan segera Nyi Ageng Giring menyiapkan makanan untuk suaminya.

Ia sengaja tidak bertanya-tanya kepada suaminya tentang hasil kepergiannya. Seperti biasanya Ki Ageng Giring pasti akan segera menyampaikan hasil perjalanannya. Setelah menikmati hidangan yang disajikan istrinya, Ki Ageng Giring pergi menjenguk sawahnya. Sawahnya telah lama ditinggalkan, mungkin ada tanaman yang perlu mendapat perhatian. Selama setengah hari ia merawat tanaman di sawahnya.

Sementara itu buah kelapa tempat wahyu keraton sudah ditaruhnya di belakang rumah. Nanti setelah pulang dari sawah ia berencana akan meminumnya. Dia merasa bahagia sekali karena anak-cucunyalah yang akan menjadi raja Mataram. Kisah legenda Ki Ageng Giring berlanjut dengan pertemuan bersama kawan lama yang akan menimbulkan kesalahpahaman berikutnya.

Sementara itu di tempat lain, juga di daerah Gunung Kidul yaitu di desa Girisekar ada seorang bernama Ki Ageng Pemanahan. Seperti halnya Ki Ageng Giring, Ki Ageng Pemanahan juga seorang yang gemar bertapa. Bahkan kebetulan sekali ia mempunyai maksud yang sama dengan Ki Ageng Giring yaitu ingin memperoleh wahyu keraton. Ia juga ingin anak cucunya kelak bisa menjadi raja yang hebat di Tanah Jawa.

Bersamaan dengan Ki Ageng Giring, Ki Ageng Pemanahan juga menerima wangsit yang sama. Yaitu bahwa wahyu keraton berada di sebuah kelapa muda yang pohonnya condong ke timur dan hanya berbuah sebuah kelapa muda. Sayangnya, Ki Ageng Pemanahan belum berhasil menemukan buah kelapa yang dimaksud meski sudah berusaha mencarinya selama berhari-hari. Untuk mengusir kekecewaannya, Ki Ageng Pemanahan berniat mengunjungi rumah Ki Ageng Giring yang berada tidak jauh dari keberadaannya sekarang.

Ki Ageng Giring adalah sahabat karib Ki Ageng Pemanahan yang sudah lama tidak ketemu. Oleh karena itu Ki Ageng Pemanahan memerlukan pergi ke rumah Ki Ageng Giring untuk melepas rindu. Sayang sekali pada saat kedatangan Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Giring sedang pergi ke sawah. Hanya Nyi Ageng Giring yang ditemuinya.

“Lama sekali Ki, tidak datang ke sini. Sehat-sehat saja, kan?” Begitu tegur sapa Nyi Ageng Giring pada tamunya. “Ya Nyi, akhir-akhir ini banyak hal yang minta perhatian, mana sawah yang rusak dilanda banjir. Mana ternak yang kurus-kurus karena kurang merumput. Maklum sering aku tinggalkan berkelana,” ujarnya polos.

Pembicaraan dilanjutkan kesana-kemari sambil menunggu kedatangan Ki Ageng Giring. Sementara itu Nyi Ageng Giring pergi ke dapur merebus ubi jalar untuk menjamu tamunya. Ki Ageng Pemanahan yang ditinggal sendiri akhirnya ke luar ke halaman melihat-lihat tanaman di sekitar. Tanpa terasa akhirnya Ki Ageng Pemanahan sampai di bagian belakang rumah.

Dilihatnya ada sebutir buah kelapa muda tergeletak di tanah. Kebetulan sekali, pikir Ki Ageng Pemanahan. Hausnya bukan main, ada kelapa muda. Lalu dimintanya kepada Nyi Ageng Giring untuk menghidangkan kelapa muda tersebut. “Silakan Ki. Nampaknya Ki Ageng Pemanahan haus sekali dari perjalanan jauh, air untuk wedang belum siap Ki,” demikian Nyi Ageng Giring.

Dengan lahapnya Ki Ageng Pemanahan merninum air kelapa muda tersebut sepuas-puasnya. Setelah puas minum, kembalilah Ki Ageng Pemanahan ke beranda muka sambil menunggu kedatangan Ki Ageng Giring. Cukup lama menunggu akhirnya Ki Ageng Giring datang. Alangkah girangnya. Mereka berdua adalah sahabat lama. Perjumpaannya merupakan kebahagiaan tersendiri. Serta-merta mereka berdua saling bersalaman dan berangkulan melepas rindu.

Legenda Pulau Majeti dan Prabu Selang Kuning
Legenda Pulau Majeti dan Prabu Selang Kuning

Kesepakatan Sesepuh Mataram

Setelah puas, Ki Ageng Giring mempersilakan sahabat karibnya untuk duduk menikmati ubi jalar rebus yang dihidangkan Nyi Ageng Giring. Karena haus sekali, Ki Ageng Giring segera meninggalkan sahabatnya dan pergi ke belakang rumah. Maksud hatinya adalah ia akan minum air kelapa muda yang ditinggalkan di belakang rumah. Alangkah nikmatnya minum air kelapa di siang hari, demikian pikirnya.

Namun alangkah terperanjat dan kecewanya. Air kelapa muda ternyata telah diminum orang. Celaka, siapa yang berani meminumnya. Dengan muka merah karena marah dan kecewa bertanyalah Ki Ageng Giring kepada Nyi Ageng Giring. Dengan rasa takut dan menyesal, Nyi Ageng Giring menceritakan bahwa Ki Ageng Pemanahan adalah orang yang meminumnya. Nyi Ageng Giring yang mengizinkan karena kasihan melihat Ki Ageng Pemanahan kehausan.

Lemah lunglailah Ki Ageng Giring mendengar keterangan Nyi Ageng Giring. Mau marah bagaimana ia harus marah. Dan kepada siapa harus marah. Ia memang tidak berpesan apa-apa kepada Nyi Ageng Giring tentang kelapa muda yang berisi wahyu kerajaan itu. Ia tidak menyalahkan Nyi Ageng Giring yang karena rasa kemanusiaannya mengizinkan Ki Ageng Pemanahan yang kehausan meminum air kelapa muda. Bukankah ia tidak pernah bercerita kepada Nyi Ageng Giring apa dan bagaimana sebenarnya kelapa muda itu. Jadi ia yang sebenarnya bersalah, bukan istrinya. Demikian pikirnya.

Setelah dapat mengendapkan amarahnya, Ki Ageng Giring cepat-cepat menemui tamunya. Secara terus terang diceritakannya mengenai buah kelapa muda yang telah terlanjur diminum oleh Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Ageng Giring tidak menyalahkannya karena demikianlah barangkali kehendak Tuhan. Manusia berusaha namun Tuhan yang akhirnya menentukannya. Dengan demikian Ki Ageng Giring semakin percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa telah mengatur kehidupan manusia dengan sangat baik.

Mendengar cerita Ki Ageng Giring mengenai kelapa muda hasil bertapa, Ki Ageng Pemanahan langsung minta maaf dan menyampaikan rasa penyesalannya yang tidak terhingga. Seandainya tahu sebelumnya, ia tak akan secara gegabah mengecewakan Ki Ageng Giring, sahabatnya. Setelah berdiam sejenak, kedua orang sahabat ini saling berusaha mencari jalan pemecahannya yang baik. Keduanya lantas berunding bagaimana cara menyelesaikan masalah kesalahpahaman ini.

Setelah cukup lama berunding akhirnya diperoleh kesepakatan yang dianggap tepat. Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan akan dikawinkan dengan putri Ki Ageng Giring yang bernama Rara Lembayung. Sedang keturunan Ki Ageng Giring baru dapat menjadi raja bila sudah tujuh turunan. Demikian kesepakatan dua orang sahabat karib tersebut. Musyawarah tersebut mampu menjadi penyelesaian bagi keturunan kerajaan Mataram Islam kelak di kemudian hari.

Diharapkan agar dengan demikian tali persahabatan di antara mereka berdua tetap berlanjut dan semakin erat. Keduanya sama-sama menyadari bahwa Tuhan telah mengatur kehidupan dengan baik. Setelah bermalam semalam, Ki Ageng Pemanahan mohon diri untuk kembali pulang. Ki Ageng Giring tidak berkeberatan. Diantarkannya tamunya sampai di luar halaman bersama-sama Nyi Ageng Giring.

Beberapa tahun kemudian kesepakatan dua orang sahabat diwujudkan. Asal-usul pendirian kerajaan Mataram Islam di Jawa Tengah dimulai dari keturunan Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan. Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan dikawinkan dengan Rara Lembayung putri Ki Ageng Giring. Upacara berlangsung sederhana namun teratur dan lancar. Keluarga, sahabat dan para kenalan memerlukan datang memberikan ucapan selamat.

Suasana kegembiraan dan kebahagiaan meliputi kedua keluarga pengantin. Para tamu terpesona melihat ketampanan Sutawijaya serta kecantikan Rara Lembayung. Pasangan yang serasi dan mengagumkan, demikian menurut para tamu. Beberapa tahun kemudian perkawinan Sutawijaya dengan Rara Lembayung membuahkan seorang putra yang diberi nama Raden Umbaran. Raden Umbaran ternyata tampan sekali. Wajahnya mirip sekali dengan ayah dan ibunya. Sudah barang tentu kelahiran putra yang pertama ini sangat menggembirakan dan membahagiakan ayah dan ibunya.

Demikian juga kakek dan neneknya. Kelahiran cucunya semakin menambah kecerahan hati para pini sepuh. Telah lama para pini sepuh mendambakan seorang cucu. Oleh karena itu atas kelahiran Jaka Umbaran sudah barang tentu sangat membahagiakannya. Demikian juga para keluarga dekat serta handaitolan. Mereka semua ikut bergirang hati. Sementara mengusulkan agar diadakan pesta besar-besaran. Namun Sutawijaya dan Raden Rara Lembayung tidak sependapat.

Demikian juga Ki Ageng Pemanahan maupun Ki Ageng Giring, mereka berdua lebih cenderung biasa-biasa saja. Yang penting adalah diadakan upacara sederhana sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat Tuhan. Memang sebelumnya Ki Ageng Pemanahan telah menyiapkan segala sesuatu untuk menyongsong kelahiran cucunya. Bahkan telah disediakan biaya cukup besar. Namun mereka sadar bahwa banyak rakyat di daerah tersebut yang miskin. Sehingga bukan pesta pora yang dilakukan melainkan menolong si miskin.

Maka dibagi-bagikanlah beras dan sebagainya kepada rakyat yang memerlukannya, bukan untuk pesta pora. Rakyat miskin sangat bergembira sekali memperoleh anugerah dari Ki Ageng Pemanahan. Mereka semakin hormat dan semakin menghargai kepada Ki Ageng Pemanahan sekeluarga. Keikhlasan Ki Ageng Giring memberikan minuman kelapa muda yang berisi wahyu keraton kepada Ki Ageng Pemanahan membuahkan hasil. Kerajaan Mataram Islam telah berdiri dan rakyatnya hidup makmur.

Dengan kelahiran Raden Umbaran yang nantinya bergelar Pangeran Purbaya, merupakan awal dari perwujudan wangsit yang pernah mereka terima. Di kemudian hari mernang ternyata Pangeran Purbaya inilah yang menurunkan raja Mataram. Dengan kelahiran Raden Umbaran semakin menambah eratnya persahabatan Ki Ageng Giring dengan Ageng Pemanahan. Di samping itu mereka semakin percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kerajaan Mataram Islam terus menghasilkan keturunan gagah perkasa dan bijak dalam memimpin.

Cerita Hikayat Raja Arief Imam - Wedding ilustration by Hidayat Said
Cerita Hikayat Raja Arief Imam – Wedding ilustration by Hidayat Said

Pesan Moral Cerita Rakyat

Saat itu hujan deras menggenangi bumi, guntur menggelegar bersahut-sahutan. Angin bertiup menderu dengan kerasnya, kilatan halilintar membelah angkasa raya. Udara dingin menusuk tulang namun Ki Ageng Giring tetap bertekad untuk pergi bertapa karena penuh keyakinan akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Cerita rakyat asal-usul kerajaan Mataram Islam dari Jawa Tengah ini mengandung pesan moral percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Ki Ageng Giring telah menemukan pohon kelapa yang condong ke timur dengan buah kelapa muda hanya sebuah. Karena girangnya Ki Ageng duduk tersimpuh untuk bersyukur kepada Tuhan atas keberhasilannya. Percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Itulah amanat cerita asal-usul keturunan kerajaan Mataram Islam di Jawa Tengah.

Nyi Ageng Giring mempersilakan Ki Ageng Pemanahan untuk menikmati buah kelapa muda yang sengaja dimintanya, karena Nyi Ageng Giring melihat Ki Ageng Pemanahan haus sekali dari perjalanan jauh. Sikap yang ditunjukkan olehnya adalah suka memberi pertolongan kepada orang lain. Pesan moral cerita rakyat Ki Ageng Pemanahan dari Jawa Tengah ini harus kita tiru dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menyambut kelahiran Raden Umbaran para keluarga dan handaitolan mengusulkan untuk diadakan pesta besar-besaran. Namun Sutawijaya dan Raden Rara Lembayung serta Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring tidak setuju. Mereka cenderung melaksanakan upacara sederhana saja. Tidak bersifat boros dan tidak bergaya hidup mewah merupakan pesan moral cerita rakyat dari Jawa Tengah ini.

Persediaan biaya untuk menyongsong kelahiran Raden Umbaran cukup besar. Ki Ageng Pemanahan sadar bahwa banyak rakyat daerah tersebut yang miskin. Sehingga bukan pesta besar-besaran yang dilaksanakan melainkan membagi-bagikan beras kepada rakyat yang memerlukan. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan adalah pesan moral yang terkandung dalam asal-usul silsilah keluarga kerajaan Mataram Islam di Jawa Tengah. Demikian artikel The Jombang Taste ini penulis bagikan untuk Anda. Semoga cerita rakyat Jawa Tengah mengenai asal-usul kerajaan Mataram Islam ini bisa menambah wawasan Anda.

Daftar Pustaka:

Tim Penyusun Cerita Rakyat Laboratorium Pancasila IKIP Malang. 2008. Cerita Rakyat Dalam Kaitan Butir-butir Pancasila. Malang: Balai Pustaka.

5 Replies to “Kisah Legenda Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan Penerima Wahyu Kerajaan Mataram Islam dari Jawa Tengah”

  1. Kisah ini mengajarkan kita utk selalu bergantung pada Tuhan. Ki Ageng Giring juga cukup gentleman untuk berbagi wahyu. Sangat inspiratif!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *