Kisah Dongeng Rakyat Pakistan: Empat Teka-Teki dari Tukang Kayu Penghilang Kutukan Sihir Menjadi Manusia Batu

Hikayat Raja Arief Imam - Creative Doodle Art by Hidayat Said
Hikayat Raja Arief Imam – Creative Doodle Art by Hidayat Said

Dongeng Asia bersama blog The Jombang Taste hari ini sampai di negara Pakistan. Pakistan adalah negara yang memiliki budaya Islam kuat. Kearifan hidup rakyat setempat menginspirasi banyak ilmuwan. Pada suatu waktu hidup seorang tukang kayu miskin yang seumur hidupnya tidak memiliki sesuatu yang berharga kecuali namanya yang terkenal karena pengetahuannya dan kemampuannya menerangkan hal-hal yang ajaib. Tukang kayu itu sangat disegani oleh mereka yang mengenalnya dan seringkali mempercakapkan kepribadiannya dan acapkali mereka mengulangi ucapan-ucapannya yang arif dan bijaksana. Demikian cerita rakyat Pakistan dimulai di blog ini.

Cerita kepandaian tukang kayu dari Pakistan itu sampai juga ke telinga raja. Memang pertama-tama hanya sekali dua kali saja terdengar berita kecerdasan tukang kayu yang hidupnya di tengah hutan itu. Namun lama-lama ketenaran tukang kayu itu mengusik raja untuk membuktikannya sendiri. Raja ingin tahu kebenaran cerita rakyat yang berhembus dari mulut ke mulut itu. Maka ia segera memanggil beberapa menteri dan pengawal istana untuk menghadapnya.

“Betulkah tukang kayu miskin itu bijaksana dan pandai seperti yang dikatakan orang?” Baginda bertanya kepada salah seorang menterinya.

“Siapa pun dapat mencoba mengetahuinya,” jawab menteri itu “Mengapa tidak Baginda buktikan sendiri?”

“Ceritakanlah mengenai pribadinya.” Raja bertanya dengan serius. Kelanjutan cerita rakyat Pakistan makin seru karena salah satu keluarga kerajaan menceritakan kepandaian tukang kayu Pakistan..

“Apa yang dapat diceritakan,” sahut menteri singkat. “la hanya seorang tukang kayu sederhana dan memiliki empat orang putera. Tetapi, meski demikian kata orang-orang yang mengenalnya, tukang kayu itu pandai sekali menjawab teka-teki apa pun yang ditanyakan oleh orang,” sang menteri menjelaskan dengan tak kalah serius.

Terdorong oleh rasa penasaran, niat Baginda Raja untuk mengenal si tukang kayu itu makin besar. “Apakah ia dapat menjawab setiap teka-teki yang ditanyakan orang?” tanya Baginda berulang kali. “Bagaimana jika ada teka-teki yang belum ia jawab?”

Lalu Baginda Raja memanggil seorang guru sekolah yang terkenal di seluruh negeri. la pandai sekali dalam hal berpikir dan mengajarkan ilmu penalaran kepada para siswa. Kepada orang itu Baginda memberi tugas, “Ujilah pemotong kayu yang beranak empat itu dengan teka-teki yang paling sukar. Jika ia tidak sanggup menjawab maka aku akan menghukummnya. Sebaliknya, jika ia sanggup menjawab teka-tekimu, aku berjanji bahwa dia tidak akan hidup miskin lagi.”

Ride with the sun - Creative Doodle art by Roger Duvoisin
Ride with the sun – Creative Doodle art by Roger Duvoisin

Cerita Rakyat Pakistan

Pergilah guru itu ke daerah tempat tukang kayu tersebut hidup. Akan tetapi ia tidak menuju ke rumahnya, melainkan ke tempat di mana orang itu biasa memotong kayu. Ia duduk di tikar lalu menunggu kedatangan tukang kayu. Sial betul sang guru hari itu karena tukang potong kayu sedang sakit. Pada waktu itu si tukang kayu tersebut sedang sakil dan ia suruh anak sulungnya bekerja.

Ketika anak itu pergi ke hutan untuk menebang kayu ia melihat guru yang duduk bertekun di atas sebuah tikar dalam renungan yang khusuk. Tidak seperti biasaya ada orang tua duduk bersila di tengah hutan sendirian. Terdorong oleh rasa penasaran di dalam hati, pemuda itu menyapa sang guru tua.

“Wahai Bapak tua,” ujar anak muda itu “Aku tahu Bapak adalah orang yang berilmu. Dapatkah Bapak meramalkan nasibku di kemudian hari?”

Guru itu menjawab. “Aku dapat meramalkannya. Akan tetapi katakan dahulu apa yang akan kutunjukkan kepadamu.”

“Baiklah akan kucoba.” jawab anak muda itu.

Maka guru itu menggunakan ilmu sihirnya dan tampaklah sebuah bayangan yang ganjil. Putera tukang kayu itu tiba-tiba melihat sebuah ladang gandum terbentang di depannya. Di sekeliling ladang itu ada pagar dari batang-batang kayu. Bukan main herannya ia melihat pemandangan tersebut.

Sebelum ia pulih dari rasa herannya, batang-batang pagar itu berubah menjadi bilah-bilah pisau yang membabat seluruh ladang gandum tersebut. Akhirnya ladang itu berubah menjadi tanah yang tandus. Tiba-tiba pemandangan itu hilang dan anak muda itu hanya melihat pohon yang ada di sekelilingnya.

“Nah, terangkanlah kepadaku apa arti semua itu,” kata sang guru menguji anak tukang kayu.

“Aku tidak dapat menerangkannya,” jawab anak tukang kayu. “Yang tadi itu adalah pemandangan yang aneh, tetapi tidak mengandung arti.”

“Kalau begitu nasibmu dikemudian hari pun telah dapat ditentukan,” jawab sang guru. Maka anak tukang kayu itu langsung berubah menjadi batu. Demikian salah satu bagian dari cerita klasik dari negara Pakistan. Kisah dongeng Pakistan ini pun berlanjut karena masih ada keluarga anak tukang kayu yang datang menemui sang guru.

Legenda Tukang Kayu Pakistan

Cerita legenda dari Pakistan menemui bagian kedua. Hari makin sore dan hampir malam. Ketika anak sulungnya tidak kunjung pulang, tukang kayu itu menjadi risau. Bahkan sampai malam hari tiba, anak sulungnya belum sampai di rumah. Keesokan harinya anaknya nomor dua disuruh pergi ke hutan untuk menebang kayu. Bukan hanya menebang kayu, ayahnya juga berpesan agar mencari kakaknya yang belum pulang ke rumah semalam suntuk. Anak muda itu pun pergi dan ia pun menjumpai guru seperti yang dilihat kakaknya.

“Hai orang tua. Rupanya Bapak seorang beriman dan berilmu. Dapatkah Bapak menunjukkan di mana kakakku sekarang berada?” tanyanya.

“Tentu saja,” jawab guru itu. “Akan tetapi sebelumnya kamu harus menerangkan dahulu arti pemandangan yang akan engkau lihat,” kata guru tua.

Guru itu lalu menggunakan ilmu gaibnya. Cerita rakyat Pakistan menyebutkan pada waktu itu tiba-tiba di depan mereka berdiri seekor kerbau betina yang dikerumuni anaknya. Anehnya, bukan anak kerbau yang menyusu pada induknya, melainkan induknyalah yang menyusu pada anaknya. Lalu bayangan itu menghilang.

“Dapatkah engkau menerangkan arti teka-teki ini?” tanya guru itu.

Pemuda itu menggeleng. “Bagaimana aku tahu? Pemandangan tadi aneh sekali dan berlainan dari kelaziman dalam alam kita ini.” jawabnya.

“Karena engkau tidak dapat menerangkannya, maka nasibmu akan sama seperti abangmu.” Seketika anak itu berubah menjadi batu. Cerita dongeng rakyat Pakistan ini makin seru berlanjut.

Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said
Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said

Kisah Legenda Rakyat Pakistan

Cerita legenda rakyat Pakistan mengkisahkan bahwa anak nomor dua tukang kayu tidak pulang sampai malam menjelang. Pagi hari pun anak itu belum pulang. Tukang kayu mulai khawatir lagi. Keesokan harinya si tukang kayu itu menyuruh anaknya yang ketiga mencari kedua saudaranya.

Anak ini pun bertemu dengan guru tua tersebut. “Wahai orang tua! Dapatkah Bapak mengatakan di mana aku dapat menemukan abang-abangku?”

Guru tua itu mengangguk. “Aku dapat menunjukkan dimana abang-abangmu berada tetapi katakan dahulu apa arti pemandangan ini.”

Sambil berkata demikian ia pergunakan lagi kekuatan sihirnya. Seketika itu di depan mereka tampak seorang tua yang sedang membawa kayu. Jumlah kayu yang dipikul banyak sekali. Meskipun demikian, onng itu masih terus saja mencari kayu lagi untuk ditambahkan pada kayu yang dibawanya.

Bayangan itu tiba-thba hilang dari pandangan. “Apa arti pemandangan itu?” tanya guru tua kepada anak ketiga tukang kayu. “Siapa yang dapat mengartikannya?” jawab anak muda itu. “Menurut pendapatku gambar itu tidak mempunyai arti apa-apa.”

“Jika begitu engkau pun akan menyertai abang-abangmu,” berkatalah sang guru dengan tenang. Dan anak ini pun seketika berubah menjadi batu menyusul nasib kedua kakaknya.

Cerita Rakyat Asia

Akhirnya si tukang kayu yang sudah gelisah menyuruh anaknya yang bungsu mencari ketiga kakaknya. Dan ia pun bertemu dengan guru pintar itu. Seperti halnya ketiga abang-abangnya ia diberi teka-teki oleh guru tua tersebut berupa sebuah pemandangan sihir. Terlihat air kolam mengalir ke kolam-kolam yang lebih kecil. Akhirnya kolam besar itu kosong dan kering.

“Apakah arti pemandangan ini?” tanya sang guru.

“Saya tidak mengerti.” jawab anak muda itu.

“Jika demikian engkau akan senasib dengan ketiga abangmu mu!” Dan seperti halnya dengan kakak-kakaknya, si adik pun disihir menjadi batu.

Karena si Bungsu pun tidak pulang, maka tukang kayu itu bangun dari tidurnya. la pergi sendiri untuk mengetahui apa sebetulnya yang terjadi. Dan ia pun melihat guru tua itu. Lalu ia bertanya, “Wahai orang yang beriman dan berilmu. Apakah Bapak melihat anakku ?”

“Tentu,” jawab guru itu.

“Atas nama Baginda Raja mereka telah ku tutup mulutnya. Bukankah karena adanya kabar-kabar palsu mengenai kepandaian keluargamu lalu terjadi heboh dimana-mana.”

Sambil berkata demikian sang guru itu menunjuk ke arah empat batu yang berada tidak jauh dari situ. “Mengapa Bapak berbuat demikian jahat pada orang yang tidak bersalah?” tanya tukang kayu. “Apakah mereka mengatakan sesuatu yang kurang baik dan berbuat onar?”

“Mereka anak-anakmu,” jawab sang guru itu. “Dan mereka seedikit pun tidak mampu mengartikan teka-teki yang ku berikan. Seandainya mereka mampu dengan sendirinya mereka tidak akan saya jadikan batu. Meskipun demikian jika kamu sendiri bisa menjawab teka-teki saya, putera-puteramu akan saya jadikan manusia kembali.”

“Baiklah, akan saya coba,” jawab tukang kayu. Pertama-tama, sang guru itu memperhatikan pemandangan ladang gandum yang luas. Ladang gamndum itu memiliki pagar kayu yang kokoh. Kemudian pagar landang itu berubah menjadi pisau dan membabat habis seluruh gandum yang ada. Ketika gambaran itu hilang si tukang kayu itu menerangkan.

“Gambaran itu menunjukkan seseorang yang dipercayakan untuk menyimpan uang. Ketika pemiliknya meminta uang itu kembali, maka orang yang dipercaya tadi telah menghabiskannya, sehingga ia tidak dapat mengembalikan uang tersebut.” Begitu ucapan si tukang kayu itu berakhir, maka tak lama kemudian salah satu batu berubah menjadi manusia.

Kini fakir ilu memperlihatkan pemandangan kedua perihal sapi yang menyusu pada anaknya. “Hal ini mengingatkan saya kepada seorang pemalas yang hidup dari jerih payah anaknya,” kata tukang potong kayu.

Seketika itu juga sebuah batu berubah menjadi manusia. Kemudian pemandangan ketiga mengenai orang yang membawa kayu terlalu banyak. Meski ia telah memiliki kayu di punggungnya, manusia itu masih saja menambahkan batang-batang kayu lagi ke atas punggungnya.

“Tahukah kau apa arti pemandangan tadi?” tanya sang guru.

“Bukankah itu menunjukkan seseorang yang tidak pernah merasa puas dalam hidupnya?” kata si tukang kayu dengan tenang. “Mereka terus menimbun harta melebihi dari yang diperlukan.”

Untuk ketiga kalinya sebuah batu berubah menjadi manusia. Akhirnya diperlihatkan pemandangan terakhir mengenai, kolam besar yang mengalirkan airnya ke kolam-kolam yang lebih kecil.

“Apakah arti hal itu?” tanya sang guru kepada tukang kayu.

“Begitulah keadaan di dunia ini,” jawab tukang kayu. “Sering orang memberikan segalanya kepada orang lain, akan tetapi ia sendiri tidak menerima balasan sedikit pun.”

Usai berkata demikian, batu yang keempat tiba-tiba berubah menjadi manusia. Kini guru itu menatap lurus-lurus muka tukang kayu tersebut. “Sekarang saya dapat mengatakan apa yang menjadi namamu kelak,” katanya.

“Sekiranya kamu tadi tidak dapat menerangkan teka-teki saya, di tempat ini akan berkumpul lima buah batu. Akan tetapi karena kamu telah berhasil menerangkannya, Raja akan merasa senang. Sejak hari ini kamu tidak akan miskin lagi.”

Dan apa yang dikatakan guru itu menjadi kenyataan sebab ketika Raja mendengar apa yang telah diceritakan sang guru, dengan segera ia menghadiahkan sebuah kantong berisi penuh dengan kepingan emas kepada tukang kayu lersebut.

Daftar Pustaka:

Courlander, Harold. 1955. Ride With The Sun. New York: McGraw-Hill Book Company.

4 Replies to “Kisah Dongeng Rakyat Pakistan: Empat Teka-Teki dari Tukang Kayu Penghilang Kutukan Sihir Menjadi Manusia Batu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *