Kisah Hakim yang Bijaksana, Sebuah Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

Ride with the sun - creative artwork doodle art by Roger Duvoisin
Ride with the sun – creative artwork doodle art by Roger Duvoisin

Keadilan dapat tercipta melalui keputusan bijak seorang hakim di pengadilan. Kehidupan bisa menjadi tenteram dan damai berkat keadilan yang diberikan oleh hakim bijaksana. Melalui artikel The Jombang Taste kali ini kita akan mengambil hikmah cerita rakyat dari Sulawesi Utara. Di negeri antah berantah hidup seorang hakim yang sangat bijaksana dan amat dihormati orang karena kejujuran, kepandaian, serta keputusannya yang adil. Masyarakat merasa bahagia karena mempunyai hakim yang bijaksana.

Cerita rakyat dari Sulawesi Selatan ini mengkisahkan bahwa hakim tersebut mempunyai seorang anak laki-laki yang juga sangat cerdas. Melihat ayahnya dihormati masyarakat, anak hakim itu ingin menjadi hakim pula jika ia besar nanti. Karena itu, ketika sudah sampai waktunya, anak hakim itu belajar ilmu hukum dengan bersungguh-sungguh. Anak hakim belajar bermacam-macam ilmu hukum sampai ia menjadi pintar. Hampir semua jenis ilmu hukum sudah ia kuasai. Ia belajar dari guru-guru di sekolah dan dari ayahnya.

Akan tetapi, ketika ia sudah belajar di tingkat lanjut ia mengetahui iahwa pekerjaan menjadi hakim penuh dengan liku-liku yang rumit. Seorang hakim sering mendapat tekanan dari pihak-pihak yang berperkara. Setiap hari hakim didatangi orang untuk disuap. Ada kalanya orang yang tidak senang kepada hakim berusaha membunuhnya. Jika gagal membunuh hakim yang dimaksud, orang yang berbuat jahat akan melakukan teror terhadap anggota keluarga hakim. Pendek kata, pekerjaan menjadi hakim penuh dengan bahaya.

Menyadari hal itu, anak hakim itu menjadi ragu-ragu. Bahkan kemudian ia memutuskan untuk tidak menjadi hakim. Bukan hanya itu, ia memohon kepada ayahnya untuk meletakkan jabatannya sebagai hakim. Katanya, dengan kepandaian seperti itu ayahnya akan dapat memperoleh kedudukan yang lebih baik dan berpenghasilan yang lebih besar pula. Di samping itu, bahaya yang selalu mengancam hidupnya dapat dihindari.

Menanggapi saran anaknya agar ia berhenti menjadi hakim, sang ayah menjawab dengan tenang. “Aku sudah mencintai pekerjaanku ini,” jawab ayahnya. “Aku menjadi hakim bukan karena mengejar kedudukan. Bukan pula karena menginginkan penghasilan besar. Aku hanya ingin mengabdi kepada kebenaran dan keadilan.”

Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Kisah legendaris hakim bijaksana berlanjut. Sia-sia saja anak hakim itu membujuk ayahnya. Dalam khayalannya, pada suatu ketika nanti, ayahnya akan dibantai oleh orang-orang yang mendendam kepadanya. Ngeri akan menyaksikan peristiwa yang mengerikan itu, anak hakim itu akhirnya meninggalkan rumahnya, dan pergi mengembara. Dengan berat hati, hakim itu melepaskan anaknya pergi. Ia hanya berharap, mudah-mudahan kelak anaknya menjadi sadar akan kemuliaan pekerjaan hakim.

Ketika sampai di suatu kota, anak hakim itu bertemu dengan bekas sahabatnya. Sahabat itu menjadi seorang saudagar kaya. Sahabatnya telah mempunyai dua orang istri. Anak hakim itu diminta untuk bermalam di rumah sahabat kaya tersebut. Kedua sahabat itu saling menceritakan pengalamannya masing-masing. Anak hakim itu menginap di rumah sahabatnya beberapa malam. Ia juga sudah berkenalan dengan kedua istri saudagar itu. Istri yang tua sudah mempunyai seorang anak berusia dua tahun. Istri yang muda baru saja dinikahi.

Cerita dongeng hakim bijaksana dari Sulawesi Selatan menyebutkan bahwa pada suatu malam, ketika saudagar itu ke luar kota untuk mengurus dagangannya, terjadi suatu peristiwa yang mengerikan. Anak dari istri pertama mati terbunuh. Menurut hasil pemeriksaan, anak itu mati karena pukulan benda keras. Seisi rumah saudagar itu menjadi gempar. Tangis pilu terdengar di tengah malam yang sunyi. Terbunuhnya anak saudagar kaya menyisakan tanda tanya besar: siapa pelakunya.

Perkara ini cepat tersebar dan menjadi pembicaraan orang banyak. Bukan saja kematian si anak yang ramai dibicarakan. Istri pertama saudagar itu menuduh istri kedua yang membunuh anaknya. Istri pertama menyebar berita bahwa sudah lama ada tanda-tanda bahwa istri kedua akan membunuh anaknya. Katanya, istri kedua itu takut kelak bahwa hidupnya akan sengsara. Karena ketakutannya tidak mendapat harta dari suaminya, istri kedua berniat akan membunuh semua anak istri pertama. Demikian dalih yang digunakan istri pertama untuk menyalahkan istri kedua.

“Jika aku punya anak lagi, tentu juga akan dibunuhnya. Maunya, ia saja yang punya anak dari suamiku,” tambahnya. Istri pertama saudagar kaya berkata dengan berapi-api. Sesekali ia tampak menyeka air mata yang jatuh bercucuran di pipinya. Istri pertama ingin meyakinkan setiap orang yang berkunjung ke rumahnya bahwa istri kedua dari suaminya merupakan pelaku pembunuhan terhadap anaknya.

Istri kedua membantah semua tuduhan itu. Istri pertama bersikukuh tidak melakukan kesalahan apapun. Karena kedua  belah pihak saling merasa benar, maka perkara ini diajukan ke pengadilan. Kepada hakim yang mengadili perkara itu, istri pertama mengadukan bahwa istri kedua amat membencinya. Istri pertama juga mengajukan beberapa orang saksi yang memperkuat pengaduannya.

Hikayat Raja Arief Imam - Creative Doodle Art by Hidayat Said
Hikayat Raja Arief Imam – Creative Doodle Art by Hidayat Said

Kisah Legenda Hakim Adil

Hakim segera memperoleh kesimpulan bahwa kedua orang istri itu saling membenci. Masuk akal bahwa istri kedua membunuh anak istri pertama. Apalagi semua saksi memberatkan istri kedua itu. Hakim sama sekali tidak mengetahui bahwa semua saksi itu telah disuap oleh istri pertama. Maka akhirnya hakim memutuskan bahwa istri kedua bersalah karena melakukan pembunuhan berencana. Hukuman yang dilakukan adalah hukuman mati.

Istri kedua tidak dapat menerima putusan itu. la naik banding. Perkara itu diperiksa lagi oleh hakim yang lebih tinggi. Ternyata keputusan hakim yang lebih tinggi itu sama bahwa istri kedua bersalah, dan harus dijatuhi hukuman mati. Cerita tradisional rakyat Sulawesi Selatan bersama blog The Jombang Taste masih berlanjut lebih seru. Selanjutnya Anda kami ajak mengikuti kisah hidup hakim yang bijaksana dari Sulsel.

Tahukah sobat pembaca The Jombang Taste bahwa konon pada zaman dulu seorang tersangka kejahatan dapat berkali-kali naik banding? Sebuah perkara dapat diperiksa oleh hakim yang berlain-lainan. Demikianlah, istri kedua itu naik banding sampai beberapa kali. Akhirnya perkara ini ditangani oleh hakim yang disebut pada awal cerita ini. Sang hakim yang terkenal dapat memberi keadilan dan kebijaksanaan dipercaya memimpin sidang pembunuhan anak saudagar kaya.

Masyarakat datang berbondong-bondong ke ruang sidang karena ingin tahu proses pengadilan kasus yang menghebohkan seisi negeri. Ketika sidang diselenggarakan, anak hakim itu hadir di ruangan tempat ayahnya bekerja. Ia ingin mengetahui bagaimana ayahnya mengadili perkara yang rumit ini. Cerita rakyat dari Sulawesi Selatan ini mengkisahkan betapa kebijaksanaan seorang hakim dapat menentukan nasib seseorang di masa depan.

Kepada kedua istri itu, hakim berkata, “Hendaknya Nyonya melakukan apa saja yang saya pinta. Bersediakah?” Istri pertama menjawab dengan segera, “Saya akan melakukan apa saja yang Tuan perintahkan, Tuan Hakim.”

“Saya juga demikian,” kata istri kedua, “Asal yang Tuan perintahkan itu sopan dan adil.” Hakim itu tersenyum, sambungnya.

“Yang saya minta tidak sukar. Tanggalkan pakaian Nyonya, setelah itu larilah ke tembok sebelah sana, setelah itu kembalilah ke sini, dan kenakan kembali pakaian Nyonya.”

Cerita legenda hakim bijaksana dari Sulawesi Selatan berlanjut. Dengan tanpa ragu-ragu, istri pertama melepaskan pakaiannya, dan melakukan perintah hakim. Ia tersenyum dan merasa menang, karena telah melakukan perintah hakim dengan baik. Ketika ditoleh oleh hakim, istri kedua berkata dengan wajah merah padam.

“Rasanya saya tidak sanggup melakukan apa yang Tuan perintahkan. Menurut pendapat saya, perintah Tuan kurang patut. Tadi sudah saya katakan bahwa saya akan menjalankan perintah Tuan, asal perintah itu sopan dan adil. Lagi pula, saya tidak akan membuat malu suami dengan bertelanjang bulat di pengadilan ini,” ujar istri kedua.

Hakim itu segera mengambil keputusan, “Yang membunuh anak itu adalah istri pertama, bukan istri kedua.” Semua orang yang menyaksikan jalannya sidang pengadilan itu menjadi gempar saat mendengar pernyataan sang hakim. Mereka saling bertanya dalam hati atas dasar apa hakim yang dikenal adil itu bisa memutuskan sebuah keputusan penting hanya dalam waktu singkat.

Kemudian terdengar hakim berkata kepada istri pertama, “Nyonya begitu bernafsu untuk memenangkan perkara ini, sehingga tidak malu melakukan pekerjaan yang amat memalukan. Dengan demikian Nyonya tentu juga tega membunuh anak sendiri.”

Ucapan hakim barusan terdengar lantang di ruang sidang. Hadirin yang ikut menyaksikan jalannya persidangan hanya bisa mengangguk-angguk pelan pertanda menyetujui keputusan hakim. Akhirnya dengan diselingi isak dan tangis, istri pertama itu mengaku salah.  Di hadapan para hadirin ia mengakui bahwa dirinya adalah pelaku pembunuhan terhadap anaknya sendiri. Hadirin hampir tidak percaya atas pernyataannya.

Dongeng Rakyat Sulawesi Selatan

Istri pertama lantas menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada malam naas itu. Walaupun telah bersuami, istri pertama itu masih mempunyai pacar. Ketika malam itu suaminya pergi berangkat ke kota lain untuk urusan kerja dan sang pacar dari istri pertama datang untuk mengajaknya pergi bermesraan. Pada waktu mereka akan berangkat anak itu menangis, seakan-akan melarang ibunya meninggalkannya. Anak itu menangis tidak mau berhenti karena melihat ibunya berduaan dengan pria lain yang bukan ayahnya.

Untuk menghilangkan tangisan anaknya, ibunya memberinya makan dengan berbagai sajian lezat. Meski demikian, anak itu tidak tergoda sedikitpun terhadap hidangan enak di meja makan dan malah sebaliknya ia menangis semakin keras. Ketika digendong dan dibujuk, anak itu bahkan meronta-ronta. Ibu itu menjadi marah. Ia mengambil sebuah batu dan menghantam kepada anaknya dengan keras. Untuk menutupi kesalahannya, ia menuduh istri kedua yang membunuh anaknya. Demikian perilaku jahat istri pertama dalam cerita rakyat Sulawesi Selatan ini.

Semua orang kagum akan kecerdikan hakim itu. Anaknya juga sangat mengagumi kebijaksanaan ayahnya. Ia berpikir, seandainya ayahnya menjatuhkan keputusan yang tidak adil, maka orang yang tidak berdosa akan dihukum, sedangkan orang yang berdosa lepas dari hukuman. Kini ia insaf bahwa pekerjaan hakim adalah pekerjaan yang mulia. Maka ia memutuskan untuk melanjutkan belajar ilmu hukum dari sang ayah.

Kelak ia menggantikan kedudukan ayahnya menjadi hakim utama di negeri antah berantah. Ia menjadi hakim yang jujur, sederhana dan berwibawa. Setiap kali akan mengadili sebuah perkara, ia teringat kata-kata ayahnya, “Aku menjadi hakim bukan mengejar kedudukan. Bukan pula menginginkan penghasilan besar. Aku hanya ingin mengabdi kepada kebenaran dan keadilan.”

Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning
Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning

Amanat Cerita

Pesan moral yang terkandung dalam cerita rakyat hakim yang bijaksana dari Sulawesi Selatan ini adalah mengenai pentingnya menegakkan keadilan dalam kehidupan masyarakat. Hakim di negeri antah berantah tadi selalu menjatuhkan keputusan yang adil untuk masyarakat. Keadilan yang diberikan sang hakim dapat menciptakan kehidupan yang damai di tengah masyarakat. Anda bisa bayangkan betapa kacaunya kehidupan masyarakat jika keadilan tidak bisa ditegakkan.

Amanat cerita rakyat dari Sulawesi Selatan ini juga mengajarkan agar kita tidak semena-mena terhadap orang lain. Istri pertama secara semena-mena menuduh istri kedua telah membunuh anaknya, katanya karena benci. Hal ini termasuk perbuatan tercela dan tidak patut ditiru. Yang lebih tidak bijak lagi adalah menyuap saksi untuk memberikan keterangan palsu di pengadilan. Tentu saja kebohongan tidak akan dapat mengalahkan kebenaran. Bahayanya jika keadilan bisa dibeli adalah orang-orang miskin akan semakin tertindas perbuatan keji orang kaya.

Pesan moral ketiga dalam cerita legenda hakim adil dari Sulawesi Selatan adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam hidup. Istri kedua menolak melakukan perintah hakim karena ia menganggap perilaku ketelanjangan di depan umum adalah perbuatan asusila. Menjalankan perintah hakim memang suatu kewajiban. Akan tetapi, istri kedua itu merasa berhak pula untuk menolak suatu perintah yang tidak pada tempatnya. Lebih baik menjaga ajaran agama daripada menciptakan aib bagi keluarga.

Pesan moral selanjutnya yang bisa Anda petik dari cerita rakyat Sulawesi Selatan mengenai hakim yang bijaksana adalah agar kita tidak bergaya hidup mewah. Anak hakim itu menjadi hakim yang hidup sederhana, walaupun berkedudukan tinggi. Kesederhanaan hidup berasal dari keteladanan orang tua. Jika orang tua terbiasa mengajarkan perilaku hidup sederhana dan wajar, maka anak-anaknya pun akan meniru sifat baik tersebut.

Demikian penulis membagikan salah satu cerita legenda dalam kumpulan cerita rakyat Sulawesi Selatan. Mudah-mudahan artikel cerita rakyat dari Sulawesi Selatan ini bisa menambah wawasan Anda. Mari gali kembali beragam kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sampai berjumpa dalam artikel The Jombang Taste berikutnya!

Daftar Pustaka:

Tim Penyusun Cerita Rakyat Laboratorium Pancasila IKIP Malang. 2008. Cerita Rakyat Dalam Kaitan Butir-butir Pancasila. Malang: Balai Pustaka.

4 Replies to “Kisah Hakim yang Bijaksana, Sebuah Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *