Sekolah Dasar di Jombang Bersiap Menuju Belajar Dari Rumah (BDR) Bulan Kedua di Masa Pandemi

Kunjungan Guru ke Rumah Orang Tua Siswa dalam kegiatan Belajar Dari Rumah di Masa Pandemi di Kabupaten Jombang
Kunjungan Guru ke Rumah Orang Tua Siswa dalam kegiatan Belajar Dari Rumah di Masa Pandemi di Kabupaten Jombang

Pelajar sekolah dasar di Kabupaten Jombang bersiap mengikuti kegiatan pembelajaran dari rumah di masa pandemi ini. Belajar Dari Rumah (BDR) di bulan Agustus 2020 ini merupakan BDR bulan kedua. Salah satu bentuk persiapan tersebut adalah menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) khusus di bulan pandemi. RPP Pandemi merupakan penyederhanaan dari RPP pada masa normal.

Hari ini Kamis, 13 Agustus 2020 telah dilaksanakan pembinaan pemandu Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk setiap perwakilan guru kelas dan guru mata pelajaran di Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Kegiatan pembinaan dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang Wilayah Kerja Pendidikan Kecamatan Mojowarno bertempat di Aula SD Negeri Selorejo. Sebanyak 33 orang peserta mengikuti pembinaan yang dimulai pukul sembilan pagi ini.

Bapak Rachmat, Pengawas Sekolah Dasar menyatakan bahwa BDR bulan kedua di lingkup sekolah dasar menggunakan struktur baru. Beliau mengingatkan kembali bahwa setiap guru berkewajiban untuk melaporkan kegiatan pembelajaran di rumah pada masa pandemi. Para peserta kegiatan mendengarkan penjelasan tersebut dengan seksama.

“Kita perlu menyampaikan pesan moral kepada peserta didik bahwa menyelamatkan diri sendiri di masa pandemi ini perlu dilakukan setiap anak. Setelah itu kita perlu memperhatikan anggota keluarga, teman, dan orang lain,” demikian disampaikan oleh Rachmat di hadapan para peserta kegiatan.

“Jika kita mendapati siswa tidak dapat mengirimkan tugas belajar karena tidak memiliki handphone maka guru harus memberikan solusi pilihan belajar yang lebih memihak kepada kondisi siswa,” imbuhnya.

Sementara itu Bapak Budi Prasetyo Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Kecamatan Mojowarno menjelaskan bahwa kondisi pandemi ini mengharuskan setiap guru untuk tetap bekerja profesional.

“Kita tidak tahu sampai kapan kegiatan belajar dari rumah di masa pandemi ini akan berlangsung. Tugas kita sebagai pendidik adalah menyiapkan rencana pembelajaran dengan sebaik-baiknya, apapun kondisinya,” ujar Budi Prasetyo di hadapan para guru.

Selanjutnya Ibu Ekananta Kusbiyantari, pengawas Sekolah Dasar berujar bahwa Kabupaten Jombang sedang bersiap menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. “Jangan khawatir seandainya media pembelajaran BDR yang Anda buat tidak digunakan,” ucap wanita yang akrab dipanggil Bu Eka ini.

Bu Eka menambahkan bahwa guru jangan hanya memintarkan siswa, tapi juga harus bisa membentuk karakter siswa. “Tidak hanya kritis dan suka protes, siswa harus diajarkan bagaimana memberikan solusi bagi penyelesaian masalah belajar di pandemi,” imbuhnya.

Senada dengan beberapa pernyataan di atas, Bu Susi selaku pengawas menyatakan bahwa pembelajaran tatap muka murid sekolah dasar di Kabupaten Jombang direncanakan akan berlangsung pada awal September 2020. Kurikulum Darurat pada kondisi khusus akan diterapkan selama masa awal pembelajaran tatap muka di masa pandemi ini.

Sebagai timbal balik dari kegiatan hari ini, sebanyak tiga orang guru dari masing-masing KKG akan menjadi pemandu kegiatan pengimbasan pada dua hari ke depan. Kegiatan selama dua hari ke depan adalah menyusun RPP BDR bulan kedua untuk setiap KKG guru kelas dan guru mata pelajaran. Semoga para guru, siswa dan orang tua selalu bersemangat menjalani kegiatan pembelajaran di rumah di masa pandemi ini.

Bagikan tulisan ini:

3 Replies to “Sekolah Dasar di Jombang Bersiap Menuju Belajar Dari Rumah (BDR) Bulan Kedua di Masa Pandemi”

  1. Kalau memang keadaan belum betul-betul aman lebih baik anak-anak sekolah jangan dimasukkan dulu. Lebih baik masa belajar dirumah diperpanjang sampai keadaan memungkinkan dan aman bagi setiap anak untuk belajar bersama di sekolah.

  2. Sangat disayangkan pemerintah belum memasukkan murid-murid ke sekolah padahal pusat-pusat perbelanjaan sudah mulai ramai dikunjungi oleh warga. Bayangkan saja pusat perbelanjaan dengan jumlah pengunjung ribuan orang setiap hari sudah dibuka tapi sekolah dengan jumlah murid ratusan saja tidak boleh dibuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *