Susahnya Membina Peserta Lomba Keagamaan di Masa Pandemi

Pemukul Alat Musik Banjari di Gebyar Sholawat Murid SD
Pemukul Alat Musik Banjari di Gebyar Sholawat Murid SD

Selama dua pekan terakhir ini penulis memiliki kesibukan dadakan membina peserta Lomba Keagamaan Sekolah Dasar (SD) Tingkat Kecamatan tahun 2020. Seleksi Lomba Keagamaan SD tahun ini dilaksanakan secara online. Setiap lembaga pendidikan atau sekolah berhak mengirimkan  video penampilan satu orang peserta secara perorangan.

Video penampilan peserta lomba kemudian dinilai oleh tim juri di setiap bidang lomba. Penjurian seperti ini baru kali ini dilakukan untuk lomba keagamaan tingkat Sekolah Dasar maupun tingkat Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Jombang. Hasilnya memang sedikit berbeda dibanding dengan penjurian lomba keagamaan tahun-tahun sebelumnya. Pada penjurian kali ini penilaian tidak dapat dilakukan secara tatap muka. Alhasil, kualitas rekaman suara dan gambar dari masing-masing peserta sangat menentukan tim juri dalam memberikan nilai.

Setelah diberikan penilaian maka tiga orang juri selanjutnya melakukan pembinaan terhadap 3 orang peserta terbaik di bidang masing-masing lomba. Kesulitan membina peserta lomba keagamaan di masa pandemi ini adalah setiap peserta memiliki kelemahan dalam hal menghafal kosakata baru untuk lomba pidato. Pada umumnya mereka terpaku pada hafalan teks pidato yang sudah diajarkan oleh masing-masing guru di lembaga pendidikan masing-masing.

Ketika peserta seleksi lomba diberikan tambahan beberapa teks atau kalimat baru maka peserta tersebut masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk menghafalkannya. Padahal kita tahu sendiri bahwa pembinaan lomba keagamaan di tiap kecamatan pada umumnya berlangsung singkat, yaitu tidak lebih dari 1 minggu.  Tim Pembina lomba di tiap bidang lomba harus berkejaran dengan waktu untuk mendekati kesempurnaan profil ideal seorang peserta lomba keagamaan.

Selain itu kondisi peserta didik yang telah lama tidak melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah sangat menghambat tim pembimbing lomba. Para peserta lomba yang diseleksi untuk mengikuti lomba di tingkat kabupaten belum menemukan performa terbaik mereka untuk menghafal maupun memahami instruksi dari tim pembimbing setiap bidang lomba.

Belum lagi kondisi psikologis peserta lomba yang tidak selalu stabil di masa pandemi ini. Mereka masih harus mengerjakan tugas tugas Belajar Dari Rumah (BDR) yang diberikan oleh setiap guru di lembaga pendidikan masing-masing selagi mengikuti pembinaan lomba ini. Alhasil konsentrasi peserta lomba pun harus terpecah antara mengerjakan tugas sekolah dengan mengikuti pembinaan lomba keagamaan.

Hambatan lain dalam melaksanakan penjurian lomba keagamaan secara online adalah masih timbulnya penilaian secara subjektif di kalangan tim juri. Hal ini sangat dimungkinkan terjadi karena tidak ada pengawasan secara ketat terhadap tim juri di setiap lomba. Penilaian objektif hanya dapat dilakukan oleh anggota juri yang memang benar-benar berkompeten di bidang tersebut.

Adanya keinginan pribadi untuk memenangkan sekolah atau lembaga pendidikan tempatnya mengajar tentu masih ada. Oleh karena itu sebisa mungkin lomba keagamaan tahun depan bisa dilakukan  secara tatap muka walaupun dilakukan secara terbatas, misalkan dibuatkan jadwal penampilan sehingga mampu menghindari kerumunan massa.  Semoga pandemi ini segera berakhir dan lomba keagamaan tahun depan bisa dilaksanakan secara normal.

Bagikan tulisan ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *