Pengalaman Sholat Subuh di Masjid Brigjend Soegijono Balai Kota Batu

Seni Kaligrafi pada Pintu Masuk Obyek wisata unik Masjid Perut Bumi di Kota Tuban
Seni Kaligrafi pada Pintu Masuk Obyek wisata unik Masjid Perut Bumi di Kota Tuban

Bagaimana kabar sobat pembaca The Jombang Taste? Kali ini saya akan berbagi pengalaman mengikuti kegiatan pelatihan yang dilaksanakan di Kota Batu. Saat itu saya menginap di Hotel Asida Batu. Tak jauh dari hotel tersebut terdapat masjid Brigjend Soegjono yang berada di Kompleks Balai Kota Batu. Setahun yang lalu saya sudah pernah berada berlibur di area kompleks Among Tani Batu itu. Tapi waktu itu saya belum mempunyai kesempatan melaksanakan shalat di masjid Balai Kota Batu. Oleh karena itu pada Rabu, 7 November 2018 lalu saya memaksakan diri untuk mengikuti shalat Subuh di masjid Balai Kota Batu. Saya penasaran ingin tahu perkembangan kehidupan agama Islam di kota penghasil apel ini.

Masjid balaikota Batu berada di ujung paling barat dari kompleks Balai Kota Among Tani Batu. Masjid ini memiliki bentuk bangunan yang megah dan arsitektur modern yang sangat menarik. Pada pukul 03.00 dini hari saya terbangun dari kamar Hotel Asida dan bersiap untuk mencuci muka. Lalu saya berganti pakaian bersih untuk dipakai shalat subuh. Saat itu belum satupun penghuni hotel yang tampak keluar dari kamar. Saya keluar kamar dengan hati-hati dan percaya diri. Saya menuruni kamar 130 yang berada di lantai 3 Kompleks Hotel Asida. Aula Mojopahit saya lewati dan tampak lengang. Tidak satupun orang beraktifitas di aula hotel itu. Ketika saya melewati pos penjagaan keamanan depan hotel pun masih sepi. Tampak dua orang satpam sedang tertidur pulas di lobby hotel.

Saya melanjutkan jalan kaki dan belok kiri ke arah barat menuju Balai Kota Batu. Lalu lintas Jalan Panglima Sudirman Kota Batu pada pukul setengah empat dini hari terlihat masih lengang. Hanya ada satu atau dua sepeda motor anak-anak muda yang tampak mengebut dengan kecepatan tinggi di jalan raya. Saya pun menyeberang jalan tanpa ada hambatan cukup berarti. Saya menyaksikan beberapa orang petugas sedang memasang tenda di halaman Kompleks Balai Kota Batu. Rupanya akan ada perhelatan program literasi di pusat pemerintahan Kota Batu itu. Saya terus melangkahkan kaki ke sudut Barat dari Balai Kota Batu. Di sana telah ada seorang Muadzin, yaitu petugas masjid yang melantunkan adzan subuh di Masjid. Saya mengambil air wudhu di tempat wudhu masjid tersebut. Rupanya Masjid itu baru selesai dibangun masih tampak beberapa alat renovasi bangunan terserak di beberapa sudut masjid. Meski demikian kebersihan lantai masjid dan kebersihan kamar mandi masjid terjaga dengan baik.

Shalat subuh 2 rokaat telah saya selesaikan bersama para jamaah. Ternyata masjid Balai Kota Batu menggunakan aliran kepercayaan Muhammadiyah. Shalat subuh di sana tidak menggunakan doa qunut. Begitu juga setelah selesai melaksanakan shalat jamaah maka imam dan makmum shalat berdzikir sendiri-sendiri. Tidak ada acara berdzikir bersama layaknya jamaah di masjid Nahdlatul Ulama pada umumnya. Kendati demikian saya tidak patah semangat. Saya pun melanjutkan ibadah yang tertunda sampai selesai. Sejenak saya membaca Al Quran surat Al Waqiah untuk memulai aktivitas harian. Setelah itu saya menyempatkan diri berjalan kaki sendirian mengelilingi beberapa sudut Masjid Brigjend Soegijono. Masjid yang terletak di kompleks kantor pemerintahan Kota Batu tampak megah dari kejauhan. Saya pun senang karena berkesempatan melaksanakan shalat subuh di sana.

Acara pagi itu saya lanjutkan dengan berjalan kaki ke beberapa sudut Perumahan Panorama Batu. Diantara sudut menarik adalah sentra bonsai Panorama Batu. Sentra Bonsai itu tampak hijau dan sejuk dipandang mata. Udara dingin Kota Batu memberikan suasana menyegarkan ke kulit setiap manusia yang ada disana. Pengalaman shalat subuh kali ini memberikan banyak tambahan wawasan kepada saya, terutama menyikapi perbedaan aliran kepercayaan dalam agama Islam. Meskipun berbeda-beda dalam menjalankan ibadahnya, amun kita semua memiliki satu kesamaan sebagai umat muslim dan harus saling mempererat kerukunan dalam hidup. Bagaimana dengan pengalaman Anda menjalankan sholat 5 waktu di masjid yang berbeda dengan aliran kepercayaan yang Anda anut? Silakan berbagi pengalaman di kolom komentar.

Bagikan artikel ini melalui:

16 Replies to “Pengalaman Sholat Subuh di Masjid Brigjend Soegijono Balai Kota Batu”

  1. Batu kota yg indah. Penduduknya ramah. Mengenai keberadaan masjid di balai kota Batu fungsinya tak lebih dari masjid persinggahan dan tidak banyak digunakan oleh penduduk yang bermukim di sekitar lokasi.

  2. Islam adalah agama yang mengakui adanya keindahan dalam hidup dan perbedaan dalam berperilaku selama perbedaan itu masih bisa ditoleransi dan dalam koridor ahli Sunnah Wal Jamaah.

  3. Biarpun terdapat banyak sekali mazhab atau aliran kepercayaan dalam agama Islam… tapi mereka tetap satu saudara dan kita harus hidup rukun bersama mereka.

  4. Islam yang berkembang di Indonesia sangat unik dan memiliki ciri tersendiri terlepas dari Islam yang ada di Jazirah Arab.

  5. Salat subuh dengan doa qunut itu baik….
    sholat subuh tanpa doa qunut juga baik….
    yang nggak baik itu yang gak pernah sholat subuh sama sekali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *