Hujan Kue Apem pada Upacara Adat Ongkowiyu di Jatinom Klaten

Senyum Anak TPQ Al-Mujahiddin Guwo Latsari Mojowarno Jombang
Senyum Anak TPQ Al-Mujahiddin Guwo Latsari Mojowarno Jombang

Bagaimana kabar sobat blogger Jombang hari ini? Blog The Jombang Taste kembali membahas ragam seni budaya dan tradisi unik yang berkembang di Nusantara. Pernahkah Anda mengikuti upacara adat yang berisi kegiatan pembagian kue tradisional? Ternyata Indonesia memiliki upacara adat Ya Qowiyu yang acara utamanya adalah pembagian kue apem kepada seluruh masyarakat yang hadir disana. Bagaimana asal-usul dan sejarah upacara adat Ya Qowiyu dimulai di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten?

Asal-usul Tradisi Ongkowiyu

Tradisi upacara Ya Qowiyu berasal dari apa yang pernah dikerjakan oleh seorang penyiar agama Islam bernama Ki Ageng Gribig. Konon Ki Ageng Gribig pulang dan tanah suci Mekah membawa buah tangan atau oleh-oleh berupa roti gimbal. Betapa sulitnya untuk membagi roti itu kepada anak cucu secara adil, karena jumlahnya terbatas. Oleh karena itu, Ki Ageng Gribig mencari cara untuk membagi roti gimbal secara adil dan merata kepada kerabatnya.

Ki Ageng Gribig memerintahkan kepada isterinya agar roti itu dimasak lagi, dicampur dengan tepung beras, gula, tape, dan dijadikan apem. Apem-apem ini kemudian dibagi-bagikan kepada anak cucunya serta kenalan-kenalannya. Saat membagi-bagi kue apem, Ki Ageng Gribig atau sesepuh Jatinom ini berseru, “Ya qowiyu, ya qowiyu, ya qowiyu!” Harapannya adalah, “Berilah kami kekuatan, ya Tuhan !” Ucapan itu kurang lebih serupa dengan doa kepada Tuhan agar keluarga Jatinom diberikan kemampuan menjalankan perintah agama sebaik-baiknya.

Pembagian apem ini dilakukan oleh Ki Ageng Gribig pada bulan Safar tahun 1616. Sampai sekarang kebiasaan ini ditiru dan menjadi tradisi masyarakat Jatinom.  Setiap tanggal 15 Safar ke atas, dan pada hari Jumatnya merupakan acara puncak pembagian kue apem. Kegiatan ini menjadi salah satu kalender wisata unik di Jatinom. Masyarakat sekitar Jatim berbondong-bondong datang ke Jatinom untuk ikut ngalap berkah kegiatan ini.

Masyarakat Jatinom dan sekitarnya biasa menyebut upacara ini dengan Ongkowiyu, asalnya dari kata Ya Qowiyu atau dengan menyebut Saparan karena upacara itu dalam bulan Sapar. Tradisi Ongkowiyu turut menjadikan Kota Solo sebagai salah satu tempat wisata sejarah dan budaya yang utama di Indonesia. Bukan hanya itu, tradisi Ongkowiyu mampu menarik kunjungan ribuan wisatawan dari berbagi daerah di Pulau Jawa dan menghasilkan pendapatan bagi masyarakat setempat.

Kesibukan Menyambut Tradisi Ongkowiyu

Adapun upacara adat Jatinom Klaten yang bernama tradisi Ongkowiyu dapat dituturkan secara umum sebagai berikut. Sekitar lima atau tujuh hari sebelum inti acara berlangsung, maka seluruh lapisan masyarakat Jatinom mulai sibuk mempersiapkannya, baik Pemerintah Daerah maupun warga kota atau masyarakat. Baik pengusaha, pedagang, maupun petani semuanya sibuk bersiap diri. Persiapan tersebut terutama menyangkut ketersediaan bahan-bahan pembuatan kue apem yang akan menjadi komoditas utama pawai budaya Jawa ini.

Panitia Ongkowiyu dibentuk, tempat pertunjukan dan permainan disiapkan, tempat berjualan ditentukan, tempat parkir kendaraan disiapkan, dan panggung tempat apem yang akan disebarkan, semua sudah dipersiapkan baik-baik. Maksud dari persiapan ini adalah untuk mengadakan semacam pasar siang maupun pasar malam. Pasar rakyat Jatinom ini memanjakan para pengunjung untuk mendapatkan hiburan, dari jenis bahan, permainan, makanan sampai kepada pertunjukan. Maka selama beberapa hari sebelum acara inti ramailah kota Jatinom baik siang maupun malam.

Daerah yang dalam hari-hari biasa keadaannya dapat dikatakan sepi itu, maka dalam beberapa hari ini berubah menjadi ramai, terang-benderang dan tidak pernah tidur siang dan malam. Hiruk-pikuk kendaraan di jalan raya kota ini datang dan pergi membawa para pengunjungnya. Maka berjejal-jejallah dari tempat parkir kendaraan sampai ke tempat-tempat yang mereka tuju di siang dan malam. Keramaian itu menjadi daya tarik wisata Kota Klaten.

Setelah mereka hilir-mudik, mereka kemudian menuju ke makam Ki Ageng Gribig dan Nyai Ageng Gribig. Ada juga mereka terus menuju ke Gua Belan, lalu ke Sumber Suran, dan lain-lain. Selama itu pengunjung membanjir dan tak kunjung putus, baik dari daerah sekitar maupun dari daerah jauh dan kota-kota besar. Pada jaman dulu ratusan ribu pengunjung itu tidak ada yang memikirkan bahwa di sana tidak disediakan tempat khusus untuk beristirahat. Namun untungnya saat ini telah banyak dibangun losmen dan hotel murah di Kota Klaten untuk menunjang aktifitas berlibur wisatawan.

Diceritakan oleh narasumber bahwa pada jaman dulu banyak wisatawan yang beristirahat di bawah pohon, di emper rumah atau toko, di tepi sungai, di dekat gua atau di kuburan-kuburan asal mereka bisa duduk-duduk atau tidur, jadilah. Dan banyak juga yang bahkan sengaja semalam suntuk hilir-mudik atau berkeliling jalan kaki, atau berzikir di pesarean yang maksudnya supaya mendapatkan keselamatan serta limpahan barokah dari Tuhan. Masyarakat demikian antusias menyambut tradisi Ongkowiyu.

Pelajar dan pedagang asal Jatinom yang sedang berada di luar daerah banyak yang meluangkan waktu untuk pulang. Demikian pula tidak sedikit mereka yang berasal dari Jatinom yang sudah lama menetap di luar atau di kota-kota besar, setahun sekali kembali untuk tradisi Saparan ini. Mereka tidak ingin melewatkan salah satu kalender wisata Kota Solo yang unik dan menarik ini.

Prosesi Pembagian Kue Apem

Telah disebutkan tadi bahwa acara inti ya qowiyu jatuh pada hari Jumat. Sebelum shalat Jumat di masjid selesai, tumpukan apem dalam keranjang telah disiapkan di atas panggung di Kota Klaten. Dua buah panggung setinggi empat meter yang telah siap di depan masjid itu penuh dengan apem. Upacara Ongkowiyu membutuhkan ribuan kue apem untuk dibagi-bagikan secara gratis kepada setiap masyarakat yang hadir disana.

Jauh-jauh hari sebelumnya, pihak keamanan yang ditangani oleh Kepolisian dari Polsek dan Polres telah menggembar-gemborkan agar jangan mengenakan perhiasan berharga. Bahkan di tepi-tepi jalan, plakat-plakat besar dengan tulisan Awas Copet! banyak ditempelkan. Sementara itu, siapa saja yang mau menyetor apem masih juga bisa diterima dengan memasukkan melalui loket sambil menyebutkan nama, alamat dan nadzarnya.

Sepanjang jalan menuju Masjid Besar Klaten itu berderet-deret ibu-ibu penjual apem untuk siapa yang membutuhkan untuk keperluan seperti di atas tadi. Maka tidaklah aneh, bila puluhan ribu apem akan terkumpul di atas panggung yang siap untuk disebarkan. Begitu shalat Jumat selesai, maka ketua keamanan segera menaiki panggung, dan dengan pengeras suara sekali iagi menyerukan, mengingatkan agar melepas anting-anting gelang, kalung, atau perhiasan lainnya yang berharga.

Sementara itu di bawah dua buah panggung ini manusia berdesak-desakan. Seorang sesepuh Jatinom yang mengenakan pakaian seragam destar dan jas tutup hitam model Surakarta Hadi-ningrat, membuka acara, memulai menyebar apem, dengan menggenggam apem, serunya: “Ya Qowiyu! Ya Qowiyu! Ya Qowiyu!”

Kemudian, brrrrrrr….! Hujan kue apem terjadi. Dapat kita bayangkan, bahwa siang itu pengunjung adalah yang paling banyak. Mereka Di bawah panggung manusia berdesak-desakan, mengelompok, berdiri berjubel desakan, tanpa sela, di bawah panggung dan sekitarnya, di jalanan, di halaman mesjid, dan di kebun-kebun orang. Semua memiliki satu tujuan untuk mendapatkan apem yang tersebar sebagai tanda barokah.

Penyebaran selanjutnya diteruskan oleh puluhan petugas yang mengenakan pakaian seragam bertuliskan: Ya Qowiyu Jatinom, melaksanakan tugas penyebaran ke segala jurusan. Setiap kali apem berjatuhan di sana-sini mereka ribut berebutan, kacau-balau pria dan wanita, gaduh-riuh, dan diselingi dengan canda-tawa. Pakaian mereka kumal dan basah kuyup karena keringat, tidak dihiraukan sedikit pun asal mereka mendapatkan apem yang dipercaya mengandung banyak barokah di dalamnya.

Untuk apakah mereka memperebutkan apem sebanyak mungkin? Terdapat kepercayaan bahwa semakin banyak mendapatkan apem makin banyak barokah Tuhan kepadanya. Si pelajar mengharapkan agar cepat pandai, terus naik kelas, terus lulus, dan menjadi seorang cerdik-cendekia. Si pedagang berharap dagangannya menjadi laris, cepat laku dan banyak untung. Si petani berharap tanamannya cepat subur tertolak segala hama sarnpai tua banyak panenannya. Untuk pegawai berharap agar selamat dan baik hasil kerjanya, dikasihi atasannya dan cepat naik pangkat.

Konon demikianlah kepercayaan sebagian dari mereka. Yang jeias sesuai dengan seruan Ya Qowiyu bahwa apem itu sarana saja, yang penting ialah permohonan: Berilah kami kekuatan, ya Tuhan. Upacara inti selesai dilaksanakan sekitar pukul 14.00. Begitu selesai penyebaran apem, maka pengunjung pun berangsur-angsur berkurang. Mereka menuju ke pasar mencari oleh-oleh dan kemudian menuju ke tempat kendaraan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Demikian asal-usul dan sejarah tradisi Ongkowiyu yang berlangsung di Jatinom. Semoga artikel The Jombang Taste ini bisa menambah wawasan Anda sekaligus mempertebal rasa cinta kepada budaya Nusantara. Mari kenali budaya Indonesia!

Daftar Pustaka:

Sunaryo, BA. 1984. Mengenal Kebudayaan Daerah. Tiga Serangkai: Solo

2 Replies to “Hujan Kue Apem pada Upacara Adat Ongkowiyu di Jatinom Klaten”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *