Menyingkap Sejarah Sayyid Jumadil Kubro di Makam Troloyo Trowulan

Menyingkap Sejarah Sayyid Jumadil Kubro di Makam Troloyo Trowulan
Menyingkap Sejarah Sayyid Jumadil Kubro di Makam Troloyo Trowulan

Apa kabar teman-teman blogger Jombang? Menjelang datangnya bulan puasa Ramadhan tahun ini semoga kita semua diberikan kesehatan. Artikel The Jombang Taste membahas sejarah sejumlah tokoh dakwah agama Islam di Pulau Jawa. Yang pertama kita bahas adalah Sayyid Jumadil Kubro. Siapakah Sayyid Jumadil Kubro? Apakah peran Sayyid Jumadil Kubro dalam melahirkan tokoh-tokoh besar anggota Wali Songo?

Sayyid Jumadil Kubro adalah sosok yang menjadi pembuka sejarah anggota Wali Songo karena kebanyakan wali di tanah Jawa merupakan keturunan Sayyid Jumadil Kubro. Makam beliau berada di tempat wisata religi Troloyo di Desa Sentonorejo Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Makam Troloyo adalah salah satu obyek wisata yang banyak dikunjungi peziarah. Tempat wisata di Mojokerto ini merupakan salah satu bagian dari tour ziarah Wali Songo.

Sejarah Sayyid Jumadil Kubro sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Sayyid Jumadil Kubro lahir di Samarkhand, negara Azerbaijan. Sayyid Jumadil Kubro dididik dan dibesarkan oleh ayah beliau, yaitu Sayyid Zainul Khusen. Sayyid Jumadil Kubro memiliki tiga orang putra, yaitu Sayyid Maulana Ibrahim (Ibrahim As-Samarkandhi), Maulana Ishaq, dan Sunan Aspadi. Kelak para putra Sayyid Jumadil Kubro yang akan menurunkan tokoh-tokoh besar dalam syiar Islam di tanah Jawa.

Sayyid Jumadil Kubro berkunjung ke Kerajaan Campa pada tahun 1399 Masehi. Kedatangan Sayyid Jumadil Kubro ke Campa bertujuan menemui putra dan cucu beliau, berdagang, sekaligus berdakwah menyiarkan agama Islam. Putra Sayyid Jumadil Kubro yang telah menetap di Campa adalah Maulana Ibrahim. Maulana Ibrahim menikah dengan putri Raja Campa, yaitu Dewi Candrawulan. Pernikahan Maulana Ibrahim dengan Dewi Candrawulan melahirkan dua orang putra, yaitu Sunan Ampel dan Raja Pandito.

Setelah singgah di Kerajaan Campa, Sayyid Jumadil Kubro melanjutkan perjalanan dengan berdakwah ke Pulau Jawa. Kegiatan dakwah Sayyid Jumadil Kubro banyak berlangsung di lingkungan Kerajaan Majapahit karena barang-barang dagangan beliau banyak dibutuhkan oleh keluarga kerajaan. Pada saat itu, yaitu abad ke-14 Masehi, Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu terbesar di Nusantara. Kejayaan Majapahit telah tersebar di seluruh penjuru Asia Tenggara. Inilah kesempatan baik bagi beliau untuk menyiarkan ajaran agama Islam di Nusantara.

Kegiatan dakwah Sayyid Jumadil Kubro di Pulau Jawa mendapatkan banyak halangan karena besarnya pengaruh agama Hindu dan Budha di masyarakat. Hambatan lain yang dialami oleh Sayyid Jumadil Kubro dalam menyiarkan agama Islam adalah kuatnya kepercayaan animisme dan dinamisme. Kebiasaan melakukan pemujaan terhadap roh nenek moyang dan benda-benda keramat menyebabkan Pulau Jawa menjadi angker.

Situasi yang sangat sulit ini menyebabkan Sayyid Jumadil Kubro melakukan dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi melalui kegiatan perdagangan. Hasil yang dicapai tentu saja tidak menggembirakan. Kegiatan dakwah secara terang-terangan tentu saja tidak mungkin dilakukan karena akan mengundang kemarahan para pejabat Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, beliau berusaha mencari cara agar aktifitas mensyiarkan agama Islam dapat berlangsung lebih baik dan bisa memberikan hasil yang lebih bermanfaat.

Bagaimana kelanjutan perjuangan Sayyid Jumadil Kubro dalam usaha menyebarluaskan agama Islam di Pulau Jawa? Ikuti artikel selanjutnya hanya di The Jombang Taste.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *