Buddha Painting

Sejarah Tempat Wisata Pendidikan Situs Trowulan di Mojokerto Jawa Timur

Apakah Anda sedang merencanakan kegiatan liburan sekolah untuk siswa dan wali murid? Informasi tempat wisata pendidikan dari The Jombang Taste yang satu ini berguna bagi Anda dalam mengajak peserta didik mengenal kekayaan sejarah budaya Nusantara yang agung. Artikel ulasan obyek wisata pendidikan bersama The Jombang Taste kali ini membahas situs Trowulan sebagai wilayah yang banyak berisi peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit. Situs Trowulan berada di Desa Trowulan Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Anda dapat menempuh perjalanan darat selama dua jam dari Surabaya untuk sampai disana.

Menurut buku Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan, situs Trowulan merupakan satu-satunya situs perkotaan masa klasik di Indonesia. Situs yang luasnya 11 km x 9 km ini cakupannya meliputi wilayah Kecamatan Trowulan dan Sooko di Kabupaten Mojokerto serta Kecamatan Mojoagung dan Mojowarno di Kabupaten Jombang. Anda bisa bayangkan betapa luasnya persebaran peninggalan budaya Majapahit di dua kota di Jawa Timur ini. Jumlah artefak yang ditemukan pun terus bertambah seiring dengan makin banyaknya usaha penggalian di sejumlah lokasi sejarah.

Obyek wisata pendidikan situs Trowulan merupakan bekas kota kerajaan Majapahit dan dibangun di sebuah dataran yang merupakan ujung penghabisan dari tiga jajaran gunung. Gunung-gunung yang mengitari Kerajaan Majapahit adalah gunung Penanggungan, Gunung Welirang dan Gunung Anjasmara. Hal ini sesuai dengan falsafah masyarakat Jawa dalam memilih lokasi tempat tinggal, yaitu bersandar pada gunung dan menghadap lautan. Posisi ini pun dalam strategi militer dianggap sangat tepat untuk dijadikan lokasi benteng pertahanan yang kuat dalam menangkap serangan musuh.

Green tea farms are a sight to behold across Japan. This one at Katsuura, Wakayama, Japan - From Pinterest
Green tea farms are a sight to behold across Japan. This one at Katsuura, Wakayama, Japan – From Pinterest

Kondisi geografis daerah sekitar tempat wisata di Trowulan mempunyai kesesuaian lahan sebagai daerah pemukiman. Hal ini di dukung oleh topografi yang landai dan air tanah yang relatif dangkal. Sebagai bekas kota, di Situs Trowulan dapat dijumpai ratusan ribu peninggalan arkeologis baik berada di bawah maupun di permukaan tanah yang berupa artefak, ekofak serta fitur. Tempat wisata di Mojokerto ini menjadi tujuan berlibur yang relatif mudah dijangkau baik dari arah utara maupun selatan Kota Mojokerto.

Informasi terkait tempat wisata sejarah situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang sangat menarik ini diperoleh melalui penelitian yang panjang. Masih menurut buku yang ditulis oleh Wicaksono Dwi Nugroho, M. Hum. dan kawan-kawan, penelitian terhadap Situs Trowulan pertama kali dilakukan oleh Wardenaar pada tahun 1815. Ia mendapat tugas dari Thomas Stamford Raffles, penguasa imperialisme Inggris untuk mengadakan pencatatan peninggalan arkeologi di daerah Mojokerto. Hasil kerja Wardenaar tersebut dicantumkon oleh Raffles dalam bukunya yang berjudul History of Java dan diterbitkan tahun 1817.

Buku History of Java menyebutkan bahwa berbagai obyek arkeologi yang berada di wilayah Trowulan sebagai peninggalan dari Kerajaan Majapahit. Peneliti berikutnya adalah W.R. Van Hovell pada tahun 1849 menggali sejumlah artefak di situs Trowulan, kemudian dilanjutkan oleh penelitian J.V.G. Brumund dan Jonathan Rigg. Hasil penelitian mereka diterbitkan dalam “Journal of The Indian Archipelago and Eastern Asia”. J. Hageman juga pernah menulis tentang sejarah Majapahit di Trowulan dengan judul “Toelichting over den Ouden Pilaar van Majapahit” dan diterbitkan tahun 1958.

Selanjutnya, R.D.M. Verbeek mengadakan kunjungan ke sejumlah tempat wisata bersejarah di Trowulan dan menerbitkan laporannya dalam artikel Oudheden van Majapahit in 1815 en 1887, yang termuat dalam TBG XXXIII tahun 1889. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh R.A.A. Kromodjojo Adinegoro seorang Bupati Mojokerto yang memerintah antara 1849 sampai tahun 1916. Beliau sangat menaruh perhatian terhadap peninggalan arkeologi di Trowulan. Ia menggali Candi Tikus dan juga merintis pembangunan Museum Mojokerto yang berisi benda koleksi arkeologis peninggalan Majapahit.

Knebel seorang anggota Comissie voor Oudheidkundig Orderzoek op Java en Madura pada tahun 1907 melakukan inventarisasi peninggalan arkeologi di beberapa titik obyek wisata sejarah di Trowulan. Selanjutnya N.J. Krom mengulas peninggalan Majapahit di Trowulan dalam karyanya Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kunst pada tahun 1923. Penelitian terhadap Situs Trowulan lebih intensif dilakukan setelah didirikan Oudheidkundige Vereeneging Majapahit (OVM) tahun 1924 oleh R.A.A. Kromodjojo Adinegoro.

R.A.A. Kromodjojo Adinegoro bekerjasama dengan seorang peneliti Belanda yang bernama Ir. Henry Maclaine Pont dan kemudian berkantor di Trowulan. Selanjutnya kantor tersebut dijadikan museum yang memamerkan benda-benda peninggalan Majapahit. Antara tahun 1921 sampai 1924 Maclaine Pont mengadakan penggalian-penggalian di Trowulan dengan maksud mencocokannya dengan uraian dalam Kitab Negarakertagama. Hasil Lelitiannya tersebut kemudian menghasilkan Sketsa Rekonstruksi Kota Majapahit di Trowulan.

Cerita Rakyat Yogyakarta: Legenda Asal Usul Gunung Merapi
Cerita Rakyat Yogyakarta: Legenda Asal Usul Gunung Merapi

F. Stutterheim yang melakukan penelitian tentang bentuk Ibukota Kerajaan Majapahit pegang pada Kitab Negarakertagama pupuh VIII – XII dan menyimpulkan bahwa tata kota Kraton Majapahit dapat dianalogikan dengan Kraton Yogyakarta dan Surakarta. Lebih jauh disebutkan bahwa bangunan yang terdapat di dalam kompleks kraton mirip dengan yang terdapat di dalam kompleks puri di Bali. Stutterheim mengulas kesamaan tersebut dalam bukunya yang berjudul Oorkonde Van Balitung uit 905 AD dan diterbitkan tahun 1940.

Penelitian lebih lanjut mengenai kekayaan tempat wisata sejarah Trowulan dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1993. Puslit Arkenas mencoba mencari bukti-bukti tentang pembangunan kota di Kerajaan Majapahit melalui penggalian arkeoIogis yang ditentukan atas dasar nama tempat yang disebut dalam Negarakertagama atau atas dasar penemuan baru yang ditemukan secara tidak sengaja oleh penduduk. Strategi yang dikembangkan waktu itu adalah penelitian sporadis.

Hasil penggalian di lokasi obyek wisata sejarah Situs Trowulan menunjukkan bahwa sebagai tempat terakumulasinya jenis benda yang biasa disebut kota ini, tidak hanya berupa situs tempat tinggal saja tetapi terdapat situs-situs lain seperti situs upacara, situs agama, situs bangunan suci, situs industri, situs perjagalan, situs makam, situs sawah, situs pasar, situs kanal dan situs waduk. Situs-situs itu membagi suatu kota dalam wilayah-wilayah yang lebih kecil yang diikat oleh jaringan jalan. Menurut The Jombang Taste, tata kota yang teratur seperti itu merupakan salah satu bukti tingginya tingkat peradaban Nusantara di masa lampau.

Namun sejauh ini penelitian belum memberikan gambaran utuh mengenai keseluruhan kota Majapahit seperti diuraikan Empu Prapanca dalam puja sastranya Negarakertagama. Pemahaman bentuk Situs Trowulan secara lebih luas baru diperoleh setelah dilakukan foto udara oleh tim geografi Universitas Gadjah Mada yang berhasil menunjukkan Situs Trowulan sebagai kota berparit. Peran serta akademisi masih terus dibutuhkan dalam rangka mengembangkan situs Trowulan sebagai pusat pelestarian peninggalan Majapahit sekaligus sebagai tempat wisata pendidikan yang representatif.

Pelestarian yang dilakukan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala waktu itu telah menghasilkan rencana induk pelestarian yang dimaksudkan untuk melindungi situs penting di Trowulan. Tahun demi tahun situs bangunan digali, dipugar dan dipelihara serta dimanfaatkan, seperti Candi Tikus, Gapura Bajangratu, Candi Brahu, Candi Gentong, Gapura Wringin Lawang dan Candi Kedaton. Berdasarkan kegiatan arkeologis yang dilakukan, menunjukkan bahwa Situs Trowulan merupakan situs penting dalam dunia arkeologi Indonesia dan mampu menjadi tempat wisata sejarah dan pendidikan yang informatif.

Mari lestarikan kekayaan peninggalan budaya Nusantara dengan mengunjungi tempat wisata pendidikan dan obyek wisata sejarah di Trowulan, Mojokerto!

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

3 thoughts on “Sejarah Tempat Wisata Pendidikan Situs Trowulan di Mojokerto Jawa Timur”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *