Day 1 Pondok Ramadhan: Tebar Motivasi Islami untuk Murid SDN Latsari

SDN Latsari mengadakan kegiatan Pondok Romadhon pada hari ini Senin, 27 Mei 2019. Hari pertama pelaksanaan Pondok Romadhon berlangsung dengan lancar dan tanpa kendala yang cukup berarti. Sebanyak 80 orang siswa kelas 1 sampai dengan kelas 5 SDN Latsari memenuhi ruang kelas 2. Wajah-wajah ceria tampak jelas di raut muka mereka. Apalagi saat mereka mendekati latar belakang emas di depan. Inginnya main tarik saja.

Kegiatan Pondok Ramadhan hari pertama dimulai pukul 07.30 WIB. Semua siswa bersiap di lokasi acara. Acara Pondok Ramadhan merupakan bagian dari kegiatan pengembangan kurikulum keagamaan Islam yang dilaksanakan di seluruh sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Kabupaten Jombang. Para siswa menyambut antusias pelaksanaan Pondok Ramadhan tahun ini. Sebelumnya mereka harus menahan diri untuk mengikuti kegiatan ini karena waktu ujian akhir sekolah yang bertepatan dengan pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan.

“Wah, akhirnya Pondok Ramadhan juga!” demikian disampaikan oleh Putra Satria, murid kelas 3 SDN Latari yang hari ini berpakaian serba putih seraya tersenyum lebar.

“Saya selalu menunggu Pondok Ramadhan karena acaranya selalu asyik dan menyenangkan,” imbuh Davinza Akbar, siswa kelas 2 SDN Latsari yang memiliki ciri khas bertubuh subur.

Dongeng Anak di Acara Pondok Ramadhan 2017 Murid-murid SDN Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang
Dongeng Anak di Acara Pondok Ramadhan 2017 Murid-murid SDN Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang

Sekolah Dasar Negeri 4 Latari berada di Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Sekolah ini berhadapan langsung dengan jalan raya yang menghubungkan Mojoagung dengan Ngoro. Aktivitas para siswa dan guru di bulan Ramadhan ini tetap berlangsung sesuai jadwal meskipun mereka sedang menjalankan ibadah puasa.

Sebagai pengajar mata pelajaran muatan lokal keagamaan Islam, penulis menyambut baik semangat para siswa untuk mengikuti kegiatan Pondok Ramadhan ini sampai usai.

Pelaksanaan hari pertama Pondok Ramadhan diawali dengan membaca surat-surat dalam Juz Amma secara menghafal. Setiap murid diberikan tugas untuk menghafal surat-surat pendek dalam Al-quran juz 30. Tugas itu tertuang dalam kurikulum mata pelajaran muatan lokal keagamaan Islam. Mereka tidak ragu untuk melantunkan hafalan Juz Amma dengan suara nyaring.

Tiga orang siswa berebut maju untuk memimpin murotal Juz Amma. “Saya hafal, Pak!” tegas Sulton, siswa kelas empat yang langganan menjadi juara lomba tahfidz di sekolah.

Hari ini mereka menghafal secara bersama-sama urutan surat-surat pendek Alquran mulai dari surat An-Naas sampai dengan surat Ad-dhuha. Murid-murid pun tampaknya mampu mengikuti kegiatan hafalan surat-surat pendek ini dengan lancar. Tidak satupun peserta kegiatan Pondok Romadhon membawa buku Juz Amma sehingga mereka benar-benar menghafal di luar kepala semua bacaan surat-surat pendek itu.

“Alhamdulillah! Saya sudah menyelesaikan tugas menghafal,” demikian disampaikan oleh Reza, salah satu peserta didik sanggar SDN latsari yang pagi itu tampak bersemangat mengikuti kegiatan Pondok Romadhon.

Usai melaksanakan kegiatan menghafal surat-surat pendek dalam Juz Amma, semua peserta kegiatan mengikuti istirahat selama setengah jam. Naluri kekanak-kanakan mereka membutuhkan waktu untuk bermain dan melepas kepenatan selama satu jam menghafal Alquran. Mereka pun lantas berlari keluar kelas dan berkejaran dengan teman-teman sebayanya.

Acara Pondok Ramadhan dilanjutkan setelah para siswa beristirahat selama setengah jam. Penulis mengisi sesi ini dengan memberikan tausiyah motivasi Islami.

Penulis mengangkat tema Hikmah Ramadhan untuk memperbaiki perilaku diri muslim. Penulis menggambarkan perumpamaan proses perubahan ulat menjadi kepompong hingga kupu-kupu. Itulah salah satu cara mudah memberikan ilustrasi kepada anak-anak mengenai hakikat perubahan diri yang terjadi pada perilaku manusia.

Ulat adalah simbol orang yang tidak disukai oleh masyarakat. Keberadaannya selalu membawa masalah dan dibenci oleh para petani. Ulat hanya bisa membawa manfaat ketika dijadikan santapan unggas. Oleh karena itu ulat harus berusaha menahan diri untuk tidak banyak makan tanaman petani.

“Saya tidak mau jadi ulat!” celetuk Resly, siswa kelas 1 SDN Latsari. Ucapan spontan siswa bertubuh mungil ini pun mengundang tawa kakak kelasnya.

“Jangan jadi ulat. Nanti kamu dimakan ayam,” jawab Fachri, siswa kelas 4 yang duduk di sebelah Resly.

Secara alami ulat akan berdiam diri menjalani proses metamorfosis menjadi kepompong. Kepompong yang berdiam diri tidak makan dan tidak minum selama berhari-hari adalah perumpamaan untuk orang-orang beriman yang menjalankan ibadah puasa.

Orang-orang Islam yang beriman menjalankan ibadah puasa. Mereka belajar menahan diri untuk tidak makan, minum dan menuruti kemauan hawa nafsu.

Setelah sukses berdiam diri selama berhari-hari, kepompong itupun berubah bentuk menjadi bentuk menjadi kupu-kupu yang indah. Itulah gambaran bagi seorang muslim yang berhasil menjalankan ibadah puasa dan memberikan arti perubahan diri dalam hidupnya.

Manusia yang digambarkan berkarakter kupu-kupu hanya akan mengambil makanan yang baik-baik saja, dalam hal ini kupu-kupu digambarkan hanya makan nektar dari bunga-bunga berbau harum. Kupu-kupu juga berperan membantu petani dalam proses penyerbukan tanaman. Keberadaan kupu-kupu disukai oleh semua orang dari beragam usia.

“Hore! Saya jadi kupu-kupu. Saya bisa terbang!” pekik Maulana Mirdad, siswa berkebutuhan khusus yang duduk pada barisan paling depan. Hadirin pun kontan tertawa mendengarnya.

Demikian cerita hari pertama pelaksanaan Pondok Ramadhan di sekolah tempat penulis mengajar. Semoga anak-anak bisa mendapatkan hikmah dari tausiah kali ini. Selamat menjalankan ibadah puasa.

Bagikan tulisan ini:

3 Replies to “Day 1 Pondok Ramadhan: Tebar Motivasi Islami untuk Murid SDN Latsari”

  1. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan di dunia ini selain memberikan semangat kepada orang lain agar tetap berlari mengejar mimpinya. Terima kasih Pak Agus sudah berkontribusi dalam pendidikan anak-anak di Indonesia.

  2. Tidak ada pendidikan yang lebih baik daripada pendidikan agama dan karakter hidup. sekalipun seorang anak pandai dalam pelajaran matematika tapi jika ia tidak bisa berbudi pekerti luhur dan hormat kepada gurunya, niscaya ilmunya tidak akan membawa manfaat seumur hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *