Cerita Rakyat Kepulauan Riau: Legenda Puteri Tujuh Dari Kerajaan Seri Bunga Tanjung

Cerita Rakyat Sulawesi Barat Legenda Si Kembar Sawerigading dan Tenriyabeng
Cerita Rakyat Sulawesi Barat Legenda Si Kembar Sawerigading dan Tenriyabeng

The Jombang Taste kembali menyapa Anda melalui artikel cerita rakyat dari Provinsi Kepulauan Riau, yaitu Legenda Puteri Tujuh Dari Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Sebagaimana cerita dongeng lainnya, isi cerita legenda Nusantara memang kadang tidak masuk akal dan penuh imajinasi. Meski demikian, amanat cerita rakyat yang satu ini patut untuk kita pahami. Selamat membaca.

Di wilayah Kepulauan Riau dulu terdapat kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung yang diperintah oleh Ratu Cik Sima. Ratu Cik Sima memiliki tujuh orang putri berwajah sangat cantik dengan sebutan Putri Tujuh. Kecantikan mereka sudah terkenal ke berbagai negeri. Putri bungsu yang bernama Mayang Sari adalah putri tercantik di antara keenam saudaranya. Putri Mayang Sari dikenal juga dengan nama Mayang Mengurai karena rambutnya yang indah sering dibiarka terurai.

Pada suatu senja yang cerah, ketujuh putri dari Kerajaan Seri Bunga Tanjung mandi di Lubuk Umai. Mereka tidak menyadari bahwa Pangeran Empang Kuala sedang mengintipnya dari balik semak-semak. Sang Pangeran sangat terpesona melihat kecantikan salah satu putri tersebut. Pangeran Empang Kuala pun bergumam, “Gadis cantik di lubuk Umai, cantik di Umai. Ya, ya d’umai, d’umai…” gumam Pangeran Empang Kuala.

Pangeran Empang Kuala jatuh cinta kepada Putri Mayang Mengurai. Malam itu ia tidak dapat tidur nyenyak. Wajah cantik Putri Mayang Mengurai terbayang-bayang di pelupuk matanya. Ia mendambakan dapat hidup berdampingan dengannya. Sungguh bahagianya hidup ini bila ia bisa bersanding di pelaminan bersama gadis paling cantik yang ia intip di Lubuk Umai. Segera ia berbicara kepada ayahnya yang juga Raja Empang Kuala agar dinikahkah dengan Putri Mayang Mengurai.

Selanjutnya, Raja Empang Kuala pun mengirim utusan untuk meminang sang putri. Pinangan itu disambut baik oleh Ratu Cik Sima. Namun menurut adat, putri tertualah yang berhak menerima pinangan terlebih dahulu. Utusan tersebut kembali menghadap kepada sang Pangeran.

“Ampun Baginda Raja! Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung belum bersedia menerima pinangan tuan untuk memperistrikan Putri Mayang Mengurai,” ujarnya.

“Mengapa belum bersedia? Apa alasannya?” tanya Raja dengan hati tak senang.

“Berdasarkan adat yang berlaku di sana, puteri tertualah yang harus menikah lebih dahulu,” jawab utusan itu.

“Aku tak peduli, Putri Mayang Mengurai harus menjadi istri anakku.” kata sang Raja dengan menahan amarahnya.

Perang Besar Memakan Korban

Merasa ditolak pinangannya, Sang Pangeran segera memerintahkan pasukannya untuk menyerang Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Maka, pertempuran besar antara kedua kerajaan itu tak dapat dielakkan lagi. Pertempuran yang terjadi sangat dahsyat, sehingga Ratu Cik Sima segera menyembunyikan ketujuh putrinya di sebuah gua di tengah hutan. Setelah itu, sang Ratu kembali menghadapi pasukan Pangeran Empang Kuala di medan perang.

Sudah tiga bulan berlalu, tetapi pertempuran itu tak kunjung usai. Kedua belah pihak sama-sama kuat dan tidak ada yang mau mengalah. Setelah memasuki bulan keempat, rakyat Negeri Seri Bunga Tanjung banyak yang tewas. Diceritakan bahwa pasukan Pangeran Empang Kuala juga sudah sangat lelah menghadapi pertempuran itu. Pasukan Sang Pangeran beristirahat dan berlindung di bawah pohon bakau di hilir Sungal Umai.

Menjelang malam, secara tiba-tiba pasukan Pangeran Empang Kuala tertimpa beribu-ribu buah bakau yang jatuh dan menusuk ke badan. Banyak pasukannya yang terluka dan harus dirawat dengan serius. Melihat kenyataan itu Sang Pangeran memerintahkan pasukannya segera pulang ke Negeri Empang Kuala. Ratu Cik Sima pun sangat bersyukur dengan kabar gembira tersebut. Ratu Cik Sima berharap dapat segera membawa kembali ketujuh putrinya ke istana.

Pada esok harinya, Ratu Cik Sima pergi ke hutan untuk menjemput ketujuh putrinya, tetapi alangkah terkejutnya, karena mereka semua sudah tak bernyawa akibat kelaparan. Ia teringat bahwa bekal makanan anaknya hanya cukup untuk tiga bulan, sedangkan peperangan terjadi selama empat bulan. Ia hanya dapat menyaksikan mayat ketujuh putrinya dengan perasaan bersalah dan duka mendalam. Ia tidak menyangka bahwa peperangan panjang telah menelan korban putri-putrinya sendiri.

Sekembali ke istana, Ratu Cik Sima lebih banyak diam. Ia menyesal karena menyetujui peperangan melawan Negeri Empang Kuala. Berhari-hari ia berduka hingga akhirnya Ratu Cik Sima jatuh sakit dan tak lama kemudian ia meninggal dunia. Dari cerita ini masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambil dari kata d’umai, seperti yang pernah diucapkan oleh Pangeran Empang Kuala.

Amanat cerita Legenda Puteri Tujuh ini adalah keserakahan seorang manusia dapat membawa kerusakan bagi masyarakat secara luas. Jangan sampai karena menuruti sebuah keinginan lantas mengorbankan banyak nyawa orang lain yang tak berdosa.

Semoga kita dapat memetik hikmah cerita ini. Nantikan serial cerita rakyat Nusantara berikutnya hanya di blog The Jombang Taste.

Daftar Pustaka:

Rahimsyah, MB. 2007. Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Lengkap dari 33 Provinsi. Bintang Usaha Jaya, Surabaya.

4 Replies to “Cerita Rakyat Kepulauan Riau: Legenda Puteri Tujuh Dari Kerajaan Seri Bunga Tanjung”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *