Serunya Halal Bihalal Keluarga Besar Bani Karso 2015

Senyum dan sapa terpancar dari setiap wajah mereka. Setelah setahun tidak pernah bertatap muka, pada Ahad 19 Juli 2015 keluarga besar Bani Karso menghadiri acara halal bihalal hari raya Idul Fitri. Acara dilaksanakan di kediaman Bapak Sunari di Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombanng. Minus Mbah Ngatsiyah yang telah wafat setahun lalu, sebanyak 87 orang hadir dalam kegiatan sambung silaturahmi. Masing-masing terdiri dari 18 orang anak dan anak menantu, 44 orang cucu dan cucu menantu, serta 24 orang cicit atau buyut.

Mulai tahun ini saya menawarkan konsep baru dalam acara halal bihlal dengan melibatkan lebih banyak cucu dan cicit sebagai petugas acara. Mereka terbagi dalam pembacaan qiroah Al-Quran, sari tilawah, tausiyah agama, dan pembawa acara. Harapannya adalah setiap anak, cucu dan cicit memiliki rasa tanggungjawab dan ikut hadir dalam acara. Tidak bisa disangkal lagi, kesibukan masing-masing orang bertambah banyak. Jika tidak ada motivasi untuk menghadiri silaturahmi, maka dikhawatirkan ikatan kekeluargaan terputus.

Oleh sebab itu, saya menyediakan Grup BBM dan Grup WA sebagai media komunikasi jarak jauh yang terbilang efektif untuk ukuran saat ini. Percakapan di Grup BBM kebanyakan diisi dengan berbagi foto-foto unik dari masing-masing anggota keluarga mereka. Dari guyonan ringan itulah kita bisa mencairkan suasana beku. Sama seperti halnya dalam organisasi, kesalahpahaman maksud ucapan bisa saja terjadi. Miskomunikasi dapat dihindari dengan cara memperbanyak frekuensi pembicaraan antar anggota keluarga.

Jika tidak salah hitung, halal bihalal kali ini sudah menginjak ke pertemuan yang ke-21. Selama dua puluh tahun acara didominasi oleh anak-anak Mbah Karso dan Mbah Ngatsiyah. Nah, kali ini cucu dan cicitnya yang dominan. Terdengar unik dan lucu juga. Kesalahan pembacaan teks di tengah-tengah sambutan menimbulkan canda-tawa. Tak jarang ada celetukan kocak terhadap mereka. Secara keseluruhan, para peserta yang hadir setuju model acara seperti ini. Dan itu membuat saya lega. Minimal setiap kepala keluarga merasa dianggap ada dan menghindari diskriminasi.

Saat ini saya tinggal berperan di belakang layar. Menyiapkan naskah pidato agama dalam empat bahasa, konsep acara dan pembagian tugas untuk masing-masing anggota keluarga. Selebihnya, biarlah berjalan secara alami. Jiwa-jiwa individualis, egois dan selalu merasa hidup dalam kesibukan biarlah itu urusan mereka sendiri. Meluangkan satu hari dalam setahun tidak akan membuat kita jatuh miskin dan menjadi orang hina, itu yang saya yakini. Semoga tali silaturahmi ini bisa terjalin selamanya. Amin.

Selamat merayakan Lebaran Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *