Tari Ngremo Jombangan, Seni Multigender Khas Kota Santri

Ket cilikanku biyen, sing tak eruhi tari ngremo iku yo mung sak macem ae. Gak onok tari remo liyane sing tak delok. Tapi sak iki aku baru ngerti nek ngremo iku maceme akeh. Ngremo iso bedo-bedo jenise tergantung asale saka kutho ngendi. Onok sing Remo teko Suroboyo, Jombang, Nganjuk, Malang, lan kutho-kutho liyane nang Jawa Timur. Salah sijine warisan budaya Jawa Timuran iki dek wingi ditampilno nang acara sing jenenge Festival Dolanan Anak Jombang. Aku kroso seneng iso ndelok ngremo nang Njombang sing ditampilno arek-arek sanggar tari Lung Ayu.

Salah satu ciri khas Tari Remo adalah gerakannya yang tangkas dan gesit. Hal itu menjadi cerminan karakter orang Jawa Timur yang apa adanya, selalu bersemangat dan tanggap terhadap perubahan hidup. Saya menyukai sisi dinamis tari remo yang memadukan kepastian dan kelenturan dalam hidup. Sejak dulu orang Jombang dikenal karena sifatnya yang blak-blakan. Kalau ya dikatakan ya, kalau tidak dikatakan tidak. Ayunan tangan dan kaki yang tegas dalam gerak tari Ngremo memberi inspirasi keyakinan akan keberhasilan dalam usaha pelestarian budaya Njombangan.

Tari Remo tempo dulu menjadi pertunjukan pembuka dalam pagelaran seni wayang kulit. Kira-kira jam sembilan malam gamelan ditabuh dan siap menyambut penari remo. Saya masih ingat betapa meriahnya hajatan tetangga sebelah rumah karena kehadiran penari remo, baik remo lanangan maupun remo wedhokan. Kok ada jenis lanang dan wadhon? Yup! Itulah ciri khas tari remo yang perlu Anda ketahui. Walaupun seringkali sama-sama diperagakan oleh penari wanita, Ngremo bisa dilakukan dengan dua variasi gender, laki-laki dan perempuan. Keduanya sama-sama menarik untuk dilihat.

Ada satu cerita menarik mengenai penari remo multigender, artinya bisa berperan laki-laki maupun perempuan. Di wilayah Jombang selatan, saya mengenal penari namanya Cak Kandar. Nama keren di dunia panggung hiburan adalah Darwati. Orang-orang menyebutnya dengan nama Kandar saja. Kandar memiliki perawatan tubuh tinggi besar khas lelaki pedesaan. Menurut berita yang beredar di masyarakat dan The Jombang Taste himpun dari berbagai sumber, Kandar berasal dari Desa Mundusewu Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang. Ia merupakan sosok pekerja keras dan tidak ragu ikut bercocok tanam di sawah.

Meski demikian, penampilan Kandar di atas panggung sebagai penari remo sungguh jauh berbeda. Ia menjelma menjadi wanita cantik rupawati, bukan rupawan. Keunikan tari ngremo ala Kandar adalah memiliki sisi jenaka. Artinya, Kandar mampu menari dengan gemulai sambil sesekali memeragakan gerakan lucu khas wanita multigender. Gerakan Kandar tidak erotis dan menggoda layaknya waria yang membuka lapak di pinggir jalan. Bagi The Jombang Taste, ia adalah seniman yang mampu menghibur masyarakat dengan kegagahan postur tubuhnya dan dengan suara lantangnya yang powerful.

Itulah salah satu citra seni budaya di Kota Santri. Memang sungguh ironi. Ketika Jombang dikenal secara nasional sebagai kota asal para Kyai kharismatik dan negarawan hebat, geliat penari transgender seperti Kandar tetap memukau sebagian masyarakat. Kemunculan penari dua wajah itu awalnya bermula dari larangan pria dan wanita berkhalwat dalam satu wilayah seni yang sama. Solusi alternatif yang diambil adalah mendandani pria layaknya wanita. Namun siapa sangka bahwa dandanan feminim tersebut mampu dihayati penari secara utuh dan menghilangkan sisi maskulin yang dimiliki.

Terlepas dari perberlakuan hukum agama da adat-istiadat yang berlaku di Jombang, pelestarian budaya Jombangan mutlak diperlukan, khususnya pada seni tari. Perilaku guyub-rukun yang dihasilkan oleh aktifitas seni budaya merupakan cikal-bakal yang efektif dalam menumbuhkan kemaslahatan di masyarakat. Ingat, Jombang bukan hanya tentang pondok pesantren dan seni banjari. Aspek seni budaya Jombang sangat luas dan hal itu menuntut kepedulian serta toleransi kita bersama agar setiap ciri khusus tetap tampak dalam sejarah budaya.

Mari lestarikan budaya Jombangan!

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

One thought on “Tari Ngremo Jombangan, Seni Multigender Khas Kota Santri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *