Cokro Manggilingan, Urip Kuwi Ibarate Rudho Kang Tansah Mubeng

Permainan Tradisional Jawa Tengah - Dolanan Anak Lomba Lari Berputar
Permainan Tradisional Jawa Tengah – Dolanan Anak Lomba Lari Berputar

Apa kabar kawan-kawan blogger Jombang? Budaya Jawa memiliki simbol-simbol kata yang unik, singkat namun memiliki makna yang mendalam bagi kehidupan. The Jombang Taste hadir menyapa Anda melalui kata-kata bijak Bahasa Jawa yang berbunyi: Cokro Manggilingan, Urip Kuwi Ibarate Rudho Kang Tansah Mubeng. Kata-kata mutiara Bahasa Jawa ini kurang lebih berarti: Hidup seperti Cakra Manggilingan seperti roda yang selalu berputar. Pergantian nasib manusia adalah suatu hal yang pasti. Maka tidak perlu terlalu bangga terhadap harta dan jabatan yang Anda miliki sekarang.

Dengan mempelajari kearifan lokal dari falsafah ini, maka jangan sampai Anda menabur penindasan terhadap orang lain. Karena ibarat roda yang selalu berputar, keadaan Anda bisa berbalik. Walaupun tidak menghantam kita, tetapi bisa jadi menghantan anak cucu kita yang ujung-ujungnya membuat kita sedih. Hukum sebab-akibat berlaku dalam kehidupan manusia. Hal ini dipercayai oleh orang Jawa. Wolak walik-e jaman, begitu bunyi lain dari falsafah di atas (Sudjono: 2013).

Manusia akan selalu menuai apa yang telah ditanamnya. Barang siapa menanam padi maka padi yang akan tumbuh, dan barang siapa menanam rumput maka rumputlah yang akan tumbuh. Barang siapa yang berbuat baik maka kebaikanlah yang akan ia terima dan barang siapa menabur keburukan maka keburukanlah yang akan ia tuai.

Firman Alloh dalam Al-Qur’an surah Az-Zalzalah ayat 7-8 berbunyi: “Barang siapa berbuat kebajikan walau sebiji zarah, dia akan mendapatkan balasannya. Dan barang siapa yang berbuat keburukan walau sebiji zarah, dia akan melihatnya pula”.

Oleh karena itu, jangan memandang orang dari harta dan pangkat martabatnya, karena sesungguhnya kaya hari ini belum tentu (kaya) esok hari, (jadi) pejabat hari ini belum tentu (jadi pejabat) esok hari, miskin hari ini belum tentu (mengalami miskin) esok hari, dan rakyat jelata hari ini belum tentu (jadi rakyat jelata) esok hari.

Pandanglah manusia semuanya sebagai manusia yang sama mulia. Karena di sisi Tuhan kita adalah umat yang satu dan berasal dari kakek buyut dan nenek buyut yang satu, yaitu Adam AS dan Hawa.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian disisi Alloh adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Takwa adalah sesuatu yang tidak kasat mata. Bisa saja orang yang papa lebih mulia disisi Alloh dibanding mereka yang kaya raya. Bisa saja seorang karyawan lebih mulia kedudukannya disisi Tuhan dibanding seorang direktur. Alloh tidak melihat itu semua, yang Alloh lihat adalah ketakwaan yang ada dalam hatimu.

Semoga tulisan ini bisa menambah wawasan Anda untuk lebih memperdalam mempelajari nasehat bijak Bahasa Jawa. Mudah-mudahan artikel ini bisa menambah motivasi hidup Anda.

Daftar Pustaka:

Sudjono. 2013. Nguri-uri Pitutur Luhur Falsafah Adi Luhung. CV. Karya Mandiri Sentosa: Ngawi

6 Replies to “Cokro Manggilingan, Urip Kuwi Ibarate Rudho Kang Tansah Mubeng”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *