Paribasan Jawa: Tut Wuri Handayani

Lomba Agustusan antar Mahasiswa UNHASY Tebuireng
Lomba Agustusan antar Mahasiswa UNHASY Tebuireng

Salah satu peribahasa dalam Bahasa Jawa yang terkenal adalah Tut Wuri Handayani. Arti Tut Wuri Handayani dalam bahasa Jawa adalah: Menehi kalonggaran lan uga menehi pepeling amrih becik. Kata-kata bijak bahasa Jawa tersebut memiliki makna memberikan kebebasan dalam berperilaku sekaligus memberikan nasehat bijak agar perilaku tersebut tetap terarah. Filosofi tersebut terdapat dalam dunia pendidikan dimana anak-anak diberikan kebebasan menentukan masa depan mereka namun tetap dalam pengarahan guru dan pengajar.

Kata-kata bijak Tut Wuri Handayani adalah simbol perpaduan fleksibilitas sikap sekaligus pengendalian yang terarah dalam masyarakat Jawa. Para sesepuh Jawa pada umumnya memiliki kepedulian yang tinggi terhadap tingkah laku anak muda. Sejak kecil mereka dididik untuk mengetahui, memahami dan mempraktekkan unggah-ungguh atau tata-krama dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak dibiarkan memilih jenis minat dan bakat mereka namun para orang tua selalu tanggap dan peduli untuk mengarahkan tingkah laku mereka.

Semboyan Tut Wuri Handayani hanya akan menjadi sekedar kata-kata isapan jempol semata manakala masyarakat Jawa sudah lupa pada akar budaya mereka. Invasi budaya asing boleh jadi memudahkan pekerjaan manusia yang melibatkan penerapan alat-alat berteknologi. Hanya kepedulian dan tekad kuat untuk melestarikan budaya bangsa yang akan menyelamatkan nilai-nilai arif budaya lokal. Semoga terinspirasi.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

One thought on “Paribasan Jawa: Tut Wuri Handayani”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *