Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 2)

Cerita Rakyat Sulawesi Barat Legenda Si Kembar Sawerigading dan Tenriyabeng
Cerita Rakyat Sulawesi Barat Legenda Si Kembar Sawerigading dan Tenriyabeng

Cerita rakyat mengenai Kerajaan Pulau Majeti ini merupakan edisi bahasa Indonesia dari buku Karajaan Pulo Majeti yang ditulis dalam bahasa Sunda. Meskipun buku ini merupakan hasil terjemahan Bahasa Sunda, isi cerita buku ini tidak terlalu banyak berubah. Akan tetapi, dalam penyajiannya sedikit agak dibedakan. Hal itu supaya tidak terlalu menjemukan pembaca. The Jombang Taste menyajikan untuk Anda dengan harapan dapat menambah wawasan terhadap sejarah Nusantara. Selamat membaca.

Baca artikel sebelumnya: Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 1)

Mengikuti Sayembara Kerajaan

Parakancagak adalah sebuah kerajaan kecil. Wilayah kerajaan ini berbatasan dengan Kerajaan Ukur dan Kerajaan Sumedang. Akan tetapi, pada akhirnya nanti Parakancagak sering disebut juga Parakanmuncang. Dan nama tempat ini kini masih ada. Letaknya yaitu sebelum kota Cicalengka sekarang.

Saat itu, Putri Citraasih, anak Raja Parakancagak sedang sakit. Tentu saja seluruh rakyat kerajaan itu dalam keadaan berkabung, turut berduka. Dan yang paling menyedihkan lagi karena penyakit Putri Citraasih itu tak kunjung sembuh.

Beberapa tabib yang tersohor sudah didatangkan untuk mengobati putri kesayangan itu. Bukan hanya tabib-tabib yang berada di dalam negeri yang diundang oleh raja. Tapi, tabib-tabib dari luar wilayah kerajaan pun didatangkan pula. Namun, ternyata penyakit yang menyerang Putri Citraasih belum juga mau berlalu.

Akhirnya pihak kerajaan mengadakan sayembara. Sayembara tersebut isinya menyatakan bahwa siapa saja yang dapat menyembuhkan Putri Citraasih, maka akan mendapat hadiah istimewa. Bahkan jika yang menyembuhkan itu seorang laki-laki, maka ia akan diangkat sebagai menantu raja. Dan apabila yang menyembuhkan penyakit putri itu adalah perempuan, maka ia akan diangkat anak oleh raja.

Baru beberapa hari sayembara itu diberitakan kepada seluruh rakyat Kerajaan Parakancagak, maka tiba-tiba saja seorang pemuda berpenampilan sederhana muncul di tempat keramaian. Dia memberanikan diri turut serta dalam sayembara tersebut. Dan hanya beberapa hari saja, Putri Citraasih dapat disembuhkan. Tentu saja atas kesembuhan kembali putri itu, seluruh rakyat turut bergembira. Bahkan seluruh kerabat kerajaan merasa berbahagia.

Dan atas kesembuhan putri itu, maka Raja Parakancagak berkenan memanggil pemuda tadi. “Nah… sesuai dengan janjiku dalam sayembara itu,” kata raja sambil menarik napas agak dalam.

“Kami seluruh kerabat kerajaan akan memenuhi janji tersebut. Selain itu, kau juga bisa bersanding dengan putriku. Artinya kau harus menikah dengan Citraasih. Kau akan menjadi penerus kerajaan ini nantinya. Nah, bagaimana? Apakah kau sudah siap menerima anugerah ini?”

“Ampun beribu ampun, Tuanku,” sahut pemuda dari desa itu penuh hormat. “Hamba tidak bermaksud cari hadiah, bukan pula cari pamrih. Akan tetapi, hamba pun tidak bermaksud menolak anugerah dari Gusti Prabu…”

“Jadi… apakah hadiah sayembara ini kurang berharga bagimu?” tanya raja memotong kata-kata pemuda yang berada di hadapannya.

“Nah, sebaiknya katakanlah terus terang! Kami di sini akan mengabulkan permintaanmu. Ini sesuai de-ngan janji dalam sayembara…”

“Terima kasih, Gusti Prabu. Sekali lagi hamba haturkan terima kasih atas keikhlasan Gusti Prabu,” kata pemuda itu lagi sambil merundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada raja.

“Hamba tidak bermaksud merendahkan segala kebaikan Gusti Prabu. Tapi, bagi hamba ini apalah artinya suatu pertolongan kalau pertolongan itu sendiri harus disertai pamrih…”

“Jadi?” tanya raja seperti penasaran.

“Hamba harus menolak segala kebaikan yang dijanjikan Gusti Prabu. Hamba tak bermaksud menarik keuntungan dari sayembara itu.”

Beberapa saat ruangan di pendapa kerajaan itu hening seakan tidak ada penghuninya. Aneh. Sungguh aneh pemuda ini, kata hati Raja Parakancagak. “Jadi…” kata raja pelan, membuka kembali pembicaraan-nya. “Harus bagaimana kami berterima kasih kepadamu?”

“Betul…” sahut permaisuri yang mendampingi raja ikut bicara. “Sebaiknya kau terima saja apa yang dikatakan raja. Soal Citraasih tak perlu lagi diragukan kesetiaannya. Dia sendiri sudah sepakat dengan kami sebagai orang tuanya.”

“Baiklah, Gusti Prabu. Hamba tidak meragukan pula kebaikan dan kesediaan Tuan Putri Citraasih,” kata pemuda itu agak perlahan dan hampir tak kedengaran.

“Tapi, seperti yang sudah hamba katakan tadi, maka hamba pun menolak segala hadiah yang dijanjikan Gusti Prabu. Perlu diketahui bahwa hamba menolak segala kebaikan itu karena hamba hanya seorang pengembara. Jadi, hamba belum perlu memiliki harta. Juga hamba belum berniat membangun suatu rumah tangga. Untuk itu, mohon pengertian dari Gusti Prabu. Sekali lagi hamba mohon maaf…”

Kini Raja Parakancagak mengerti, mengapa pemuda yang baik hati itu menolak segala hadiah yang dijanjikan oleh kerajaan. Tapi, atas kebaikannya itu, raja benar-benar merasa berhutang budi. Untuk itu raja mengharap kepada pemuda yang baik hati tersebut agar mau menginap dulu beberapa lama di lingkungan Kerajaan Parakancagak.

Dengan maksud tidak ingin menyakiti hati, maka pemuda itu akhirnya mengabulkan permintaan raja. Dan hari itu ia bermalam di Keraton Kerajaan Parakancagak sambil berpikir untuk meneruskan pengembaraan selanjutnya.

Cerita Rakyat Jawa Barat Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi
Cerita Rakyat Jawa Barat Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi

Cinta Dua Manusia

Segala penghormatan dari keluarga Kerajaan Parakancagak diterima oleh pemuda itu dengan rasa syukur yang tiada terhingga. Bahkan rasa syukur tadi bertambah pula akibat bahagianya hati pemuda desa itu ketika tinggal di lingkungan istana kerajaan. Betapa tidak. Dan mengapa tidak?

Oleh karena sering bertemu, baik berpapasan ataupun sengaja mendapat pelayanan, maka jelaslah dua hati itu pun rasanya jadi berbunga-bunga. Masing-masing memberikan harapan. Pemuda itu memang sempat berkenalan dengan pelayan istana yang selama ini mengurus segala keperluan Putri Citraasih. Memang, dialah emban istana yang mengurus pula segala keperluan pemuda desa selama berada di lingkungan Kerajaan Parakancagak.

Nama emban yang masih belia itu ialah Gandawati. Dan ia memang menaruh hati kepada pemuda yang berhasil mengobati Putri Citraasih. Akan tetapi, karena ia merasa perbedaan derajat dengan pemuda itu, maka dipendam sajalah hati yang tulus tersebut.

Namun, karena seringnya berhadapan dan ditegur oleh pemuda itu, justru perasaannya kini semakin tidak menentu. Ada juga perasaan malu dan hina. Aku hanyalah emban, sedangkan dia… demikian kata hati Gandawati tak mau melanjutkan kata hatinya.

“Silakan diminum tehnya, Kakang… eh Juragan!” kata Gandawati suatu ketika salah omong.

“Maafkan hamba… hamba keseleo hicara.”

“Tak apa-apa. Kau tidak perlu minta maaf,” sahut pemuda itu dengan ramah.

“Aku senang panggilanmu itu. Tapi, aku tak suka panggilan yang terakhir tadi. Aku bukan juraganmu. Nah… sebaiknya kau teruskan saja kebiasaanmu memanggil saya tadi. Kau pun tak boleh merendahkan menyebut hamba di hadapan saya. Saya kan bukan raja.”

Betapa bahagia Gandawati bisa bicara lama dengan pemuda itu. Ada rasa bahagia di hatinya. Begitu pula dengan pemuda itu. Tampaknya wajahnya yang berseri-seri, kedua matanya berbinar-binar. Dan suatu ketika, pemuda itu berani menyatakan isi hatinya kepada Gandawati. Beruntunglah ia tidak bertepuk sebelah tangan. Ternyata Gandawati pun menerima isi hati pemuda yang baik budi itu.

Selanjutnya mereka semakin akrab. Mereka sering berbincang-bincang mengenai diri mereka. Terutama ketika mereka sedang memadu hati ataupun memupuk cita-cita berdua. Itulah kalau dua hati sedang coba berpadn. Rasanya semakin lama semakin berbunga-bunga.

Dalam keheningan malam terdengar sesuatu jatuh bergedebuk di kamar yang menghadap ke taman istana kerajaan. Ternyata pemuda desa itu jatuh dari tempat tidurnya. “Oh… rupanya aku bermimpi,” katanya bicara sendiri.

Pemuda desa yang sederhana itu tidak lain adalah Ki Selang yang kini telah menjadi salah seorang pembesar Kerajaan Galuh. Sambil menguap, ia bangkit dan menjatuhkan kembali tubuhnya ke atas pembaringan. Kedua matanya berkali-kali dikedip-kedipkan. Kemudian coba menatap langit-langit kamar. Coba lagi pikirannya menerawang pada kejadian tadi. Akan tetapi, ternyata kedua matanya semakin menyipit. Dan akhirnya Ki Selang tertidur lagi.

Memohon Restu Orang Tua

Hari hampir senja ketika seseorang memacu kudanya pelan-pelan memasuki Kampung Selajambe. Laki-laki muda berpakaian prajurit kerajaan itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Ia meloncat turun dari punggung kuda. Kemudian menambatkan kuda kesayangannya di belakang rumah itu.

“Sampurasun,” katanya setelah prajurit kerajaan tadi berada di depan pintu yang tertutup.

“Sampurasun…”

“Rampes,” ujar jawaban dari dalam rumah.

“Siapa di luar, ya?” Pintu rumah itu terbuka lebar-lebar.

Seorang kakek berdiri sambil terbengong-bengong. Ia mengawasi prajurit kerajaan yang berdiri di hadapannya. Sementara prajurit kerajaan itu tersenyum ramah melihat orang tua itu terbengong-bengong keheranan.

“Bapak, ini saya… Selang,” ucap pemuda itu sambil meraih tangan orang tua itu.

Mereka bersalaman. Baru pemuda itu melepas tangan orang tua itu setelah agak lama berjabatan.

“Mana Ambu, Pak?”

“Wah… wah… wah. Ini Jang Selang? Tidak disangka-sangka bakal datang. Ayo, terus masuk. Tuh… Ambu mah ada di dapur.” Selang masuk bergegas sambil terus ke dapur.

Sementara Ambu Saca pun tergopoh-gopoh ke tengah rumah karena mendengar ada tamu. Dan akhirnya mereka bertiga berkumpul di ruang tengah rumah itu. Mereka bertiga tampak gembira karena telah sekian lama baru bertemu lagi.

“Maaf Selang, Ambu. Juga Bapak mesti memaafkan saya. Saya baru bisa datang lagi sekarang…”

“Tidak apa-apa, Jang Selang. Kami gembira kau datang,” ujar kedua orang tua itu hampir berbarengan.

“Syukur kau telah jadi orang besar rupanya.”

“Ini kan berkat restu dari Ambu dan Bapak juga. Memang saya sekarang mengabdi di Kerajaan Galuh. Panjang juga ceritanya. Tapi, yang jelas… tanpa nasihat serta doa dari Ambu dan Bapak, rasanya saya takkan bisa begini.”

“Syukur… syukur. Moga-moga derajatmu makin meningkat. Bapak dan Ambu mah hanya ikut bahagia saja melihat Jang Selang dipercaya oleh Raja Galuh,” ucap Pak Saca ikut berbahagia melihat anak angkatnya telah mendapat kebahagiaan.

“Benar, Ujang. Ambu pun turut berbahagia melihat kamu bisa jadi orang berbakti untuk Kerajaan Galuh,” ujar Ambu Saca ikut pula gembira. “Ayo, Jang… diminum tehnya mumpung panas.” Setelah beberapa lama berhicara ke sana kemari sambil menikmati teh panas beserta makanan ringan lainnya, akhirnya Selang menceritakan pula maksud kedatangannya ke Kampung Selajamhe.

Jadi, selain menemui kedua orang tua angkatnya, Selang segera menceritakan segala permasalahan yang kini sedang dihadapinya. Sementara kedua orang tua itu mendengarkan anak angkatnya dengan penuh kesabaran.

Ki Selang bercerita dari awal sampai akhir tiba di Kerajaan Parakancagak, mengobati Putri Citraasih, dan bertemu dengan Gandawati yang kini jadi pujaan hatinya. “Jadi… Gandawati itu siapa?” Pak Saca dan Ambu Saca bertanya hampir berbarengan.

Ki Selang segera menceritakan asal usul calon istrinya kepada kedua orang tua angkatnya. Walaupun ia seorang emban atau pelayan istana, tapi raja berserta keluarganya sudah menganggap Gandawati sebagai keluarganya sendiri. Kedua orang tua angkat Ki Selang kini mengerti. Akhirnya mereka menyetujui pula rencana serta maksud anak angkatnya itu.

Akan tetapi, kedua orang tua angkat yang baik hati itu pun bertanya mengenai kedua orang tua asli Ki Selang yang bermukim di Jonggol.

“Untuk itulah saya datang kemari,” kata Selang. “Saya minta pendapat Ambu dan Bapak. Rasanya jika saya pulang dulu ke Jonggol… waktu tidak memungkinkan lagi.”

“Begini saja, Jang Selang. Karena hari perkawinan makin mendesak, maka sebaiknya Ujang kirim saja kurir untuk menyampaikan berita gembira ini. Jangan lupa dalam surat itu Ujang minta doa restu dari kedua orang tua dan sekaligus mohon permintaan maaf. Bapak kira mereka yang di Jonggol bisa maklum,” demikian pikiran Pak Saca secara garis besarnya.

“Ambu juga setuju atas pikiran Bapak tersebut,” ucap Ambu seperti meyakinkan anak angkatnya.

Ki Selang sangat berterima kasih atas pendapat kedua orang tua angkatnya yang bijaksana itu. Kini ia merasakan ketenangan dalam kalbunya. Semoga saja ayah dan ibunya di Jonggol memakluminya, begitulah kata hati Ki Selang seakan-akan berdoa.

Bersambung ke artikel berikutnya: Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 3)

2 Replies to “Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *