Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 3)

Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning
Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning

Cerita rakyat mengenai Kerajaan Pulau Majeti ini merupakan edisi bahasa Indonesia dari buku Karajaan Pulo Majeti yang ditulis dalam bahasa Sunda. Meskipun buku ini merupakan hasil terjemahan Bahasa Sunda, isi cerita buku ini tidak terlalu banyak berubah. Akan tetapi, dalam penyajiannya sedikit agak dibedakan. Hal itu supaya tidak terlalu menjemukan pembaca. The Jombang Taste menyajikan untuk Anda dengan harapan dapat menambah wawasan terhadap sejarah Nusantara. Selamat membaca.

Baca cerita sebelumnya: Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 2)

Melamar Kekasih Hati

Iringan-iringan kecil memasuki wilayah Kerajaan Parakancagak. Ki Selang, Kepala Gulang-gulang Kerajaan Galuh, beserta kerabatnya tak lama kemudian memasuki pintu gerbang Keraton Kerajaan Parakancagak. Tentu saja penjaga di situ terheran-heran karena tak ada berita sebelumnya bahwa Kerajaan Parakancagak bakal kedatangan rombongan tamu.

Setelah Ki Selang menjelaskan, maka penjaga itu mempersilakan rombongan itu masuk. Sementara penjaga lainnya segera memberi laporan kepada raja perihal kedatangan rombongan Ki Selang. Tentu saja Raja Parakancagak gembira sekali setelah mendengar laporan dari prajuritnya itu. Memang sudah lama salah satu warga kehormatan Kerajaan Parakancagak ini tak kedengaran lagi beritanya. Dan hari ini dia datang. Sungguh bahagia hati raja.

Setelah rombongan kecil itu dipersilakan masuk, Ki Selang menghampiri raja. Ki Selang menghaturkan salam ke hadapan Raja Parakancagak. Raja menerima salam takzirn dari Ki Selang beserta rombongannya. Selain kegembiraan merasuki hati raja, tapi ada suatu perasaan Iain yang terusik. Untuk itulah ia langsung menanyakan hal tersebut kepada Ki Selang.

“Ama merasa bahagia atas kedatanganmu,” kata raja memulai bicara.

“Ama bertanya-tanya, mengapa sudah sekian lama justru baru sekarang engkau datang, Ki Selang.” Tampak Raja Parakancagak wajahnya berseri.

Lagipula raja itu tak canggung-canggung memanggil dirinya Ama, sebagai panggilan akrab seorang bapak kepada anaknya. Memang Ki Selang sudah diakui oleh raja sebagai anak, setelah bisa membantu menyembuhkan anaknya beberapa waktu yang lalu.

Sambil tersenyum ramah dan menggambarkan kegem-biraan yang tiada tara, Raja Parakancagak meneruskan lagi. “Sebenarnya kami di sini merasa kehilangan. Syukurlah kini kau telah berada lagi di Parakancagak. Namun demikian, Ama perlu juga tahu maksud kedatanganmu beserta rombongan ini,” kata Raja Parakancagak.

Hening sejenak. Ruangan itu sepi bagaikan tiada penghuni. Rupanya mereka seperti terhipnotis mendengar ucapan raja yang begitu bijaksana dan mempesona. Setelah sejenak menghela napas, Ki Selang segera bicara.

“Ampun… beribu ampun Ama,” sahut Ki Selang dengan penuh hormat, “Bukan hamba tak tahu diri. Tapi, hamba kini diangkat tugas di Kerajaan Galuh. Dengan demikian, atas kebaikan Ama hamba haturkan terima kasih. Dan kata-kata Ama akan hamba camkan. Akan tetapi, hamba datang kemari, selain sudah lama tak bersilaturahmi ke hadapan Ama, hamba bermaksud mau melamar…” kata Ki Selang.

Sejenak ia berhenti karena terasa tenggorokannya ada yang menghalangi. Tapi, ketika ia mau melanjutkan bicaranya, terpaksa tak jadi karena raja telah mendahului bicara.

“Duh, Ki Selang,” sahut raja seperti terkejut ketika mendengar ucapan Ki Selang. Tapi kemudian ia segera melanjutkan kata-katanya, ”Sungguh Ama jadi prihatin dan malu. Mengapa engkau tidak sejak dulu. Bukankah Ama sudah menawarkan, bahkan memberi kesempatan kepadamu tempo dulu? Mengapa pula waktu itu engkau menolaknya? Tapi, sekarang engkau melamarnya. Dia kini sudah berkeluarga, Ki Selang. Kami semua tak lupa kepadamu. Tapi, karena tempat tinggalmu tak ada yang tahu, sehingga kami tak bisa menemuimu sebelumnya. Kini Ama jadi malu kepadamu.”

Saat berkata demikian, wajah raja kelihatan kecewa. Akan tetapi, sebelum hal itu terlanjur berlarut-larut, segera Ki Selang bicara lagi. “Ama… tak usah malu atau bersedih hati,” ujar Ki Selang.

“Hamba bukan mau melamar Putri Citraasih. Apakah Ama sudah lupa? Hamba justru menganggap Putri Citraasih sudah sebagai adik hamba?”

“Jadi… kalau begitu… siapa pula yang akan kau minta, Ki Selang? Bukankah kau sendiri tahu bahwa Ama tak punya lagi anak, selain Putri Citraasih?” tanya raja semakin heran, tapi kini kekecewaan atau kesedihannya hampir sirna di wajah nya.

“Ampun… beribu ampun, Ama.” Ki Selang masih bicara sambil merundukkan kepalanya di hadapan Raja Parakancagak.

“Hamba bermaksud meminang Gandawati. Itu pun kalau dia belum ada yang melamar.” Sungguh bahagia tiada tara hati raja ketika mendengar permintaan itu dari Ki Selang. Semua yang hadir di situ turut merasakan kegembiraan raja. Kecuali Ki Selang yang saat itu masih menunggu jawaban raja.

“Ama terima pinanganmu untuk Gandawati,” ujar Raja Parakancagak dengan wibawa yang tak tercela. “Walaupun dia pelayan istana, tapi Ama sudah mengakuinya sebagai keluarga sendiri. Ama turut gembira. Semoga kau juga bahagia, Ki Selang.”

Ki Selang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengangkat kepalanya. Menatap sebentar wajah raja, lalu ia menyembah kembali. “Hamba bahagia, Ama. Ternyata cita-cita hamba bisa terlaksana.”

“Syukurlah, Ama juga turut bahagia. Jadi, kapan kalian melangsungkan pemikahan?” tanya Raja Parakancagak meminta pertimbangan secepatnya.

“Hamba belum dapat memastikan kapan waktunya, Ama. Sebab hamba harus pula memohon restu kepada junjungan kami, Prabu Raksabuana dari Galuh,” jawab Ki Selang berterus terang.

“Nah, kalau begitu, Ama secepatnya akan kirim surat kepada Prabu Galuh dan meminta izin untukmu.Tapi, kau sendiri tak perlu kembali lagi ke Galuh. Nanti saja seteIah beres perkawinanmu. Bagaimana pendapatmu, Ki Selang?” tanya raja sambil memutuskan perihal perkawinan Ki Selang dengan Gandawati. “Hamba setuju, Ama. Tapi, rasanya hamba harus bertemu sendiri dengan Baginda Prabu Galuh,” lanjutnya.

“Tapi, menurut hamba,” tiba-tiba salah seorang pengawal Ki Selang ikut bicara. “Panglima tidak perlu pulang dulu ke Galuh. Biarlah kami yang menghadap Baginda Prabu Galuh sambil memberikan surat dari Prabu Parakancagak. Namun begitu, hamba mohon ampun telah lancang.”

“Betul juga! Apa yang dikatakan pengawal itu adalah jalan terbaik,” ucap raja dengan wajah berseri-seri. “Kau, Ki Selang beristirahat dulu di sini sambil menanti waktu perkawinan. Dan tiga hari lagi pesta perkawinan akan berlangsung!” Semua yang hadir di situ menyetujui segala kebijaksanaan Raja Parakancagak.

Kemeriahan Pesta Perkawinan

Selanjutnya Ki Selang beristirahat sambil menunggu waktu perkawinannya. Sementara itu, pengawal Ki Selang beserta rombongan kembali lagi ke Galuh sambil membawa berita gembira untuk kerabat kerajaan di sana.

Ki Selang juga tidak lupa mengirim utusannya untuk menyampaikan surat kepada kedua orang tuanya di Jonggol. Surat itu sendiri menyatakan bahwa ia tak dapat memberitahu lebih dulu mengenai perkawinannya. Dan ia mohon maaf di sertai permintaan secara ikhlas atas doa restu dari kedua orang tuanya.

Beberapa hari setelah pemikahan. Ki Selang berpamitan kepada Prabu Parakancagak untuk kembali ke Galuh. Istrinya, Gandawati turut serta pula mengikuti Ki Selang yang kini telah menjadi suarninya.

Praba Parakancagak beserta keluarga tentu saja melepas keberangkatan Ki Selang dan Gandawati dengan perasaan berat. Walaupun Gandawati hanya pelayan istana, tapi Prabu Parakancagak telah menganggap sebagai anggota keluarganya.

Kepada Ki Selang pun demikian. Bukan hanya karena Ki Selang berjasa pada waktu menyembuhkan penyakit anak tunggalnya, tapi memang Prabu Parakancagak tertarik pada keikhlasan Ki Selang. Sewaktu Ki Selang mau dikawinkan kepada Putri Citraasih, ia menolak dengan sopan dan berwibawa.

“Saya sudah terlanjur menyayangi Citraasih seperti kepada adik sendiri,” katanya waktu itu, “Jadi, mohon Prabu memaafkan hamba.”

Dan ketika Prabu Parakancagak mau memberikan hadiah sesuai dengan janjinya pula, ternyata Ki Selang menolak dengan halus. “Tak ada artinya hamba menolong sesama, bila hamba dikaitkan dengan pamrih,” ucapnya penuh hormat. “Untuk itu hamba mohon ampun.”

Atas dasar itulah, akhirnya Prabu Parakancagak tidak ragu-ragu lagi menyatakan bahwa Ki Selang merupakan keluarga Kerajaan Parakancagak. Tentu saja Ki Selang bergembira, bahagia, dan bersyukur. Akan tetapi, kebahagiaan itu hanya dipendamnya di dalam hati. Mengapa?

la berpikiran bahwa segala kegembiraan dan kebahagiaan itu harus dipulangkan juga kepada pemberinya yang mutlak. Siapakah itu? Jawabannya, kita harus bisa bersyukur. Itulah jawaban Ki Selang, pemuda lugu dari desa, namun mampu bertindak cermat, penuh perhitungan disertai kebijaksanaan yang tak perlu diragukan lagi.

Prabu Raksabuana beserta permaisurinya menyambut gembira kedatangan Ki Selang dan Gandawati. Suami-istri tersebut tentu saja berterima kasih atas penyambutan tersebut. Tadinya penyambutan itu akan dirayakan pula oleh keluarga Kerajaan Galuh, tapi Ki Selang menolak dengan halus. Jawabnya, yaitu kesederhanaan lebih utama.

Prabu Raksabuana dan permaisurinya jelas maklum. Mereka setuju saja atas jawaban Ki Selang begitu. Prabu Raksahuana harus pula menghormati kehendak orang yang jadi kepercayaannya itu. Akan tetapi, untuk menghormati Ki Selang dan istrinya, Prabu Raksabuana menyediakan rumah baru. Hal ini sebagai ungkapan kegembiraan dari Prabu Raksabuana.

Untuk itu, tentu saja Ki Selang tak bisa menolaknya. Ki Selang dan Gandawati hanya bisa bersyukur atas kebaikan Prabu Raksabuana beserta permaisurinya. Atas izin Prabu Raksabuana pula, Ki Selang menempatkan kedua orang tua angkatnya di sebuah rumah yang sederhana di lingkungan Kerajaan Galuh.

Bersambung ke: Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 4)

2 Replies to “Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 3)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *