Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 4)

legenda cerita rakyat sunda - asal-usul pulau majeti
legenda cerita rakyat sunda – asal-usul pulau majeti

Cerita rakyat mengenai Kerajaan Pulau Majeti ini merupakan edisi bahasa Indonesia dari buku Karajaan Pulo Majeti yang ditulis dalam bahasa Sunda. Meskipun buku ini merupakan hasil terjemahan Bahasa Sunda, isi cerita buku ini tidak terlalu banyak berubah. Akan tetapi, dalam penyajiannya sedikit agak dibedakan. Hal itu supaya tidak terlalu menjemukan pembaca. The Jombang Taste menyajikan untuk Anda dengan harapan dapat menambah wawasan terhadap sejarah Nusantara. Selamat membaca.

Baca cerita sebelumnya: Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 3)

Menyamar Menjadi Rampok

Senja hampir lepas ketika seorang laki-laki sedang berada di tempat yang sunyi. Tempat itu jarang dilalui orang. Tapi sekali orang lewat, hampir sering terjadi perampokan di tempat itu. Apalagi jika hari sudah senja atau malam, jarang orang berani lewat di jalan itu. Tempat itu memang terpencil dari tempat-tempat lainnya.

Tapi, jalan ini merupakan satu-satunya untuk menghubungkan desa-desa lainnya. Orang itu tidak berhenti sejenak. Matanya mengawasi daerah sekitarnya. Melihat gerak-gerik orang itu rasanya seperti baru memasuki daerah ini. Dari penampilannya, dapatlah disimpulkan bahwa orang itu seperti jagoan.

Ketika akan melanjutkan langkahnya, dari arah berlawanan datang lima orang yang berpakaian seperti pesilat. Satu orang di antaranya segera menegur laki-laki itu, ketika akan berpapasan. “Hai kau siapa? Dan sedang apa pula di tempat ini?” tanya salah seorang di antara lima orang itu sambil memilin-milin kumisnya yang tebal.

Kedua matanya menatap laki-laki di hadapannya. Sementara empat orang lagi, yang ternyata anak buahnya, seperti bersiap-siap akan menyerang lawan.

 “Hai Ki Sanak,” jawab laki-laki setengah baya itu dengan tenang-tenang saja. “Aku sedang menanti seseorang. Dan namaku Silung. Tapi, orang-orang memanggilku Ki Silung.”

“Siapa yang kau tunggu di tempat sunyi ini? Apalagi sebentar lagi turun malam?” tanya pemimpin gerombolan itu.

“Jadi, kalian ingin tahu siapa yang kutunggu? Boleh-boleh saja. Aku sedang menunggu Ki Darpan dan Ki Darta.” Jawabnya.

Mendengar kedua orang tadi disebut, tampak laki-laki yang bertubuh tinggi besar itu seperti terkejut. Begitu pula keempat anak buahnya. “Aku sedang menunggu kedua orang itu. Aku ada janji dengan mereka,” kata Ki Silung seolah-olah tak melihat keterkejutan mereka tadi.

“Jadi, engkau dengan orang-orang tadi ada janji?”

“Ya begitulah. Kami berjanji untuk berjumpa di sini. Di tempat yang sunyi ini!”

“Kalau kami boleh tahu, janji apa saja antara engkau dan kedua orang tadi?” si orang tinggi besar itu mendesak seperti ingin mengetahui lebih lanjut.

“Kalian ingin tahu juga rupanya,” ujar Ki Silung seperti lugu. “Boleh-boleh saja. Tak ada rahasia di antara kami. Yang jelas kami akan merundingkan suatu operasi pada malam ini.”

“Operasi? Operasi apa pula tuh?” Si pemimpin tadi mengerutkan keningnya seperti lebih keheranan lagi.

“Ah, Ki Sanak seperti tak mengerti saja,” Ki Silung bicara lagi.

“Biasa operasi malam. Kami sudah terbiasa kerja malam bagaikan kalong. Dan siangnya tentu saja tidur. Hal itu adalah kerjaan kami.” Mendengar penuturan Ki Silung tadi membuat laki-laki yang tinggi besar berkumis lebat tadi tertawa terbahak-bahak.

Tawanya yang keras itu membuat keempat anak buahnya ikut gembira. Mereka yang tampaknya garang itu jadi ikut terkubur dengan kegembiraan itu.

“Hai Ki Sanak. Mengapa pula kau tertawa-tawa begitu. Tidak takut kedengaran orang lain?” tanya Ki Silung.

“Ha ha ha….  tentu, tentu saja kami takkan takut oleh siapa pun,” sahut orang yang tinggi besar itu.

“Kau harus tahu sekarang. Aku berkawan dengan Ki Darpan dan Ki Darta yang kau tunggu-tunggu. Kalau begitu kita sebenarnya satu pekerjaan yang sama, bukan?’

“Jadi, kalian juga berkawan dengan kawan-kawanku tadi?”

“Ya tidak salah. Dan empat orang ini adalah anak buahku. Tapi, yang jelas aku sudah lama tak bertemu dengan Ki Darpan dan Ki Darta. Kira-kira di manakah mereka sekarang berada, ya?”

“Saya sendiri tak tahu persis. Tapi, beberapa hari yang lalu mereka menyuruhku menunggu di sini, di tempat ini. Katanya mereka akan menemui saudaranya yang bernama Ki Dugal dan Ki Jogol. Jadi, mungkin saja mereka sedang mencari kedua orang itu,”

“He, he, betul juga pikiranmu, Ki Silung. Mungkin juga Ki Darpan dan Ki Darta mencariku dulu.”

“Mencari Ki Sanak dulu?” tanya Ki Silung tidak mengerti.

“Ya, Ki Darpan dan Ki Darta pasti mencariku dulu,” kata orang yang tinggi besar berkumis lehat itu sambil tertawa keras.

“Akulah yang bernama Dugal ha, ha, ha. Tapi, orang-orang memanggilku Ki Dugal. Dan orang yang bernama Jogol, Ki Jogol, itu masih kawanku. Dia beroperasi di daerah utara bersama beberapa orang anak buahnya.”

Tentu saja Ki Silung jadi agak bingung juga. Di lain pihak ia disuruh menunggu oleh Ki Darpan dan Ki Darta. Kemudian mereka berdua mengatakan akan mencari dulu kawannya yang bernama Ki Dugal dan Ki Jogol.

Selanjutnya Ki Silung pun merasa gembira sekali. Betapa tidak. Dia akhirnya bisa berjumpa dengan orang tenar seperti Ki Dugal. Cuma sayang Ki Silung tak jumpa dengan Ki Jogol. Tapi, ia gembira pula mengetahui tempat operasi Ki Jogol beserta anak buahnya dari Ki Dugal itu tadi.

Untuk menutupi kebingungannya, segera Ki Silung bicara lagi kepada Ki Dugal yang berdiri di hadapannya. “Wah wah wah, kalau begitu saya beruntung bisa berjumpa dengan Ki Silah yang memiliki nama besar,” ucap Ki Silung merendah.

“Semoga saja operasi kita selanjutnya bisa tersusun rapi. Tapi, yang jelas mengapa mereka berdua tak cepat datang ke sini, ya. Padahal aku sudah lama menanti Ki Darpan dan Ki Darta. Jadi, bagaimana pendapatmu, Ki Silung jika mereka tak datang di tempat ini?” akhirnya tanya Ki Dugal seperti tak sabar.

“Apakah kita akan jadi santapan nyamuk hutan?”

“Apa boleh buat, Ki Silah. Jika mereka tak muncul-muncul juga, ya sebaiknya kita beroperasi sendiri saja,” ucap Ki Silung seperti memberi saran.

“Itu saran yang bagus juga. Tapi, kemana rencana operasi kita Ki Silung” tanya Ki Dugal seperti ingin segera mengetahui rencana Ki Silung.

“Seperti biasa, Ki Darpan dan Ki Darta, selalu merencanakan operasi ke daerah agak padat penduduknya. Soalnya, desa-desa terpencil sudah kami garap dua minggu yang lalu,” jawab Ki Silung.

“Kalau kekuatan kita disatukan dengan kekuatan Ki Jogol beserta anak buahnya, kiranya kita akan semakin hebat. Kira-kira berapa orang kekuatan Ki Jogol?” tanya Ki Dugal kepada Ki Silung.

“Saya sendiri kurang tahu. Tapi, sewaktu dua minggu lalu beroperasi, dia mengerahkan kekuatan enam orang,” jawab Ki Silung.

“Wah kalau begitu kekuatan kita jadi bertambah. Aku setuju saja bergabung dengannya,” kata Ki Dugal bergembira.

“Tapi, mengapa ke daerah itu? Bukankah tempat itu banyak perondanya. Bahkan prajurit Galuh pun sudah meronda ke daerah tersebut? Kalau daerah selatan ini, jarang dironda prajurit Galuh,” ucap Ki Dugal lagi seperti terheran-heran.

“Saya sendiri kurang tahu, Ki Sanak. Mengapa mereka memilih daerah sasaran itu ….”

“Wah yang benar saja, Ki Silung. Kau jangan menipu kami, heh!” tiba-tiba salah seorang anak buah Ki Dugal membentak.

“Eit tenang dulu, Ki Sanak. Apa pula yang kaukatakan itu. Jangan banyak omong. Kau rupanya mata-mata Kerajaan Galuh, ya?” Ki Dugal langsung berhadapan dengan Ki Silung.

Sementara itu anak buah Ki Dugal sudah mengepungnya.

“Tenang, tenang dulu, Ki Sanak! Buat apa saya menipu kalian. Kan saya sendiri baru kenal dengan kalian. Kalau begini, lebih baik cari saja Ki Darpan dan Ki Darta dulu. Bagaimana? Setuju, tidak?” tukas Ki Silung menghindari hentrokan.

la memberi saran lagi kepada kawanan penjahat itu. Sesudah berpikir beberapa saat, Ki Dugal akhirnya menjawab, “Baiklah. Kalau begitu kita cari dulu kedua orang itu. Tapi, awas kau jangan coba-coba menipu kami.”

Ki Dugal setuju, tapi itu pun masih dengan ancaman kepada Ki Silung. Akhirnya mereka berenam meninggalkan tempat itu. Mereka menyusuri tempat-tempat yang tidak dilalui oleh orang lain. Sementara itu bulan semakin bergeser ke bukit-bukit.

Jebakan Untuk Perampok

Malam itu memang sudah mendekati dini hari. Oleh karena yang dicari mereka tidak ketemu, sementara perkampungan penduduk makin sunyi, tiba-tiba saja Ki Silung bicara perlahan-lahan kepada Ki Dugal. Bahkan pada akhirnya Ki Silung berbisik kepada si jangkung besar dan berkumis lebat itu.

Seketika itu juga wajah Ki Dugal jadi cerah. Matanya berbinar-binar. Kemudian kepada keempat anak buahnya, dia memberi komando agar segera melaksanakan operasi. Tanpa menunggu komando dua kali, anak buah Ki Dugal segera beraksi. Mereka segera mendongkel pintu rumah penduduk dengan mudah. Sementara Ki Dugal dan Ki Silung mendobrak pintu rumah penduduk lainnya.

Akan tetapi, perbuatan mereka telah diketahui oleh para prajurit Kerajaan Galuh yang dibantu oleh masyarakat setempat. Segera saja prajurit Kerajaan Galuh beserta masyarakat mengepung Ki Dugal dan anak buahnya. Hanya dalam beberapa saat saja Ki Dugal dan keempat anak buahnya menyerah kepada prajurit-prajurit Kerajaan Galuh beserta masyarakat. Mereka segera diborgol dan digiring kepada pihak yang berwajib.

Dan beberapa waktu sebelumnya, Ki Jogol beserta anak buahnya pun sudah tertangkap terlebih dulu oleh para prajurit kerajaan yang dibantu oleh masyarakat setempat. Itu adalah berkat pancingan Ki Silung sebelumnya.

Sebenarnya Ki Silung sendiri pernah pula digarong di sebuah tempat yang sunyi oleh Ki Darpan dan Ki Darta beserta anak buahnya. Karena Ki Silung lebih pandai bermain silat dan berbagai ilmu bela diri, maka kawanan garong itu tak berhasil melumpuhkan dirinya. Bahkan kawanan garong itu dapat ditaklukkan oleh Ki Silung.

Selanjutnya Ki Silung sering bertemu dengan pemimpin garong itu yaitu Ki Darpan dan Ki Darta. Dari pertemuan yang sering itulah, akhirnya kedua pemimpin garong tersebut menyatakan insyaf kepada Ki Silung.

Hal itu adalah berkat Ki Silung yang sering memberikan nasihat kepada mereka. “Kita takkan selamanya hidup di dunia,” kata Ki Silung suatu ketika kepada Ki Darpan dan Ki Darta. “Suatu waktu kita akan mati. Padahal mati itu bukan habis perkara. Tapi, mati itu akan menanti perkara atau akan diperkarakan di hadapan pencipta bumi,” nasehatnya.

Untuk selanjutnya dalam beberapa waktu ini daerah tempat operasi mereka aman tenteram. Hal tersebut karena kedua pemimpin garong itu menghentikan kegiatannya. Akan tetapi, akhir-akhir ini penggarongan dan perampasan secara paksa muncul lagi. Tentu saja Ki Silung tak tinggal diam.

Dia segera menghubungi Ki Darpan dan Ki Darta yang diketahuinya sudah insaf. Dari mereka berdua itulah akhimya diketahui bahwa perampokan dan penggarongan tersebut dilakukan oleh Ki Dugal dan Ki Jogol.

Dari bersatunya kedua pimpinan garong yang sudah insaf itulah, Ki Silung merencanakan taktik untuk melumpuhkan kawanan garong yang dipimpin Ki Dugal dan Ki Jogol. Syukurlah, akhirnya taktik pancingan Ki Silung berhasil dengan gemilang. Kawanan itu dapat diringkus dengan mudah.

Kemudian keberhasilan itu diketahui sebagai taktik dari Ki Silung yang sebenarnya tiada lain adalah Ki Selang, pimpinan prajurit Kerajaan Galuh. Jadi, untuk menaklukkan kawanan garong tersebut, Ki Selang harus menyamar diri sebagai garong dengan nama samaran Ki Silung. Dengan demikian, masyarakat Kerajaan Galuh sekarang benar-benar merasa aman dan tenteram dari berbagai ancaman garong yang selama ini pernah merajalela.

Bersambung ke: Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 5)

One Reply to “Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 4)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *