Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 8)

legenda cerita rakyat sunda - asal-usul pulau majeti
legenda cerita rakyat sunda – asal-usul pulau majeti

Cerita rakyat mengenai Kerajaan Pulau Majeti ini merupakan edisi bahasa Indonesia dari buku Karajaan Pulo Majeti yang ditulis dalam bahasa Sunda. Meskipun buku ini merupakan hasil terjemahan Bahasa Sunda, isi cerita buku ini tidak terlalu banyak berubah. Akan tetapi, dalam penyajiannya sedikit agak dibedakan. Hal itu supaya tidak terlalu menjemukan pembaca. The Jombang Taste menyajikan untuk Anda dengan harapan dapat menambah wawasan terhadap sejarah Nusantara. Selamat membaca.

Baca cerita sebelumnya: Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 7)

Bermufakat Lepas Diri

Beberapa hari kemudian setelah pertemuan yang diselenggarakan di balairung kepatihan, suasana di kepatihan lain dari biasa. Dilihat sepintas, seperti akan mengadakan selamatan kenaikan pangkat seseorang. Ruang-ruang di gedung kepatihan itu telah ditata dan dihias menjadi semarak.

Gapura-gapura menghiasi pintu masuk jalan-jalan yang menghubungkan bagian-bagian lain. Bendera-bendera yang terbuat dari kain serta umbul-umbul tampak memeriahkan suasana. Di ruang kepatihan telah tersedia sebuah kursi kerajaan. Meskipun sederhana, tetapi tampak gilang-gemilang. Apakah Ki Selang Kuning akan menerima tamu seorang raja? Bukan.

Hari itu Ki Selang Kuning tidak ada acara menerima tamu dari luar. Hari itu adalah hari penobatan Ki Selang Kuning menjadi raja. Pada hari itu juga Ki Selang Kuning melepaskan jabatannya sebagai Patih Kerajaan Galuh, tetapi mengangkat diri sebagai seorang raja di Kerajaan Pulau Majeti.

Dipanggillah seorang pemangku agama. Ia berasal dari masyarakat Pulau Majeti sendiri. Semula, Ki Selang Kuning menghubungi seorang resi bernama Geger Gunung dari Padepokan Saung Gunung. Padepokan itu terletak di Gunung Panyaungan yang kini termasuk wilayah Balubur Limbangan.

Resi Geger Gunung adalah seorang guru Ki Selang Kuning dalam bidang keagamaan, ketika ia merantau dari Parakancagak ke Galuh. Tetapi, ketika dihubungi, Resi Geger Gunung tidak dapat menghadiri upacara peresmian muridnya itu menjadi raja. Ia sudah terlalu tua. Dan pula pada waktu itu resi tersebut dalam keadaan sakit-sakitan. Ia hanya menyampaikan amanatnya melalui surat.

Adapun inti isi surat resi itu dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, Geger Gunung merasa gembira bahwa muridnya yang bernama Ki Selang Kuning dipercayakan menjadi seorang raja. Ia menyesal tidak dapat menghadiri dan memberi nasihat langsung karena sedang sakit. Tetapi, resi itu mengatakan bahwa penobatan menjadi raja bisa dilangsungkan.

“Bila engkau telah menjadi raja, jangan lupa diri. Tanamkan dalam dirimu sifat sabar. Dan sebaliknya jangan bersifat rakus. Harus merasa puas dan bersyukur selalu atas segala anugerah yang diberikan oleh Hyang Widi Wasa. Menjadi seorang raja, tidaklah mudah. Raja harus pandai dan mempunyai tiga ilmu, yakni raja harus dapat mapak mega. Artinya, raja harus dapat melindungi semua rakyat, bukan sebaliknya hanya pandai menindas rakyat.

Selanjutnya, seorang raja harus dapat napak sancang. Artinya, raja harus dapat berdiri di lapisan masyarakat dan golongan. Terakhir, seorang raja harus nerus bumi. Artinya, raja harus dapat menyelami kesusahan dan penderitaan rakyatnya. Seorang raja harus bijaksana dalam menjalankan pemerintahannya. Dengan demikian, seluruh rakyat bisa merasakan keadilan dan kemakmuran negerinya.

Tiga hal di atas dapat dilaksanakan, bila engkau telah dapat menguasai hal-hal sebagai berikut. Dirimu sendiri harus dapat menaklukkan nafsu yang mengajak kepada hal-hal yang bakal terjadi bentrokan. Pada akhirnya bentrokan itu akan mengambil rajapati. Atau saling membunuh. Jauhilah dalam dirimu sifat-sifat serakah dan mau menang sendiri. Jangan merasa puas karena engkau menang, tetapi pihak lain sakit atau kalah.

Dan jauhilah mengumpulkan harta kekayaan untuk dirirnu sendiri dari segala penderitaan orang lain. Itu semua hanya berpangkal pada kejujuran. Sebab itu, hendaknya engkau menjauhi segala kebohongan. Apabila pada seseorang telah melekat sifat bohong, maka apa pun akan terjadi untuk menutup kebohongannya. Apalagi bila engkau telah menjadi raja. Hindarilah tuduhan dari rakyat bahwa engkau seorang raja yang bohong,” demikianlah nasihat dari Resi Geger Gunung.

Dalam suratnya yang terakhir, resi yang telah terkenal bijaksana dan berpesan kepada Ki Selang Kuning, “Jangan mendekati minuman yang memabukkan. Alangkah nistanya seseorang yang telah menjadi seorang pemabuk. Apalagi bila mabuk itu dilakukan oleh seorang raja. Bagaimana ia dapat mengendalikan kendali pemerintahan, sedangkan dirinya selalu mabuk. Sekali lagi hindarilah minuman-minuman atau makanan yang kiranya akan membawa engkau menjadi mabuk.”

Demikian amanat singkat yang disampaikan Resi Geger Gunung melalui suratnya. Dan akhirnya resi itu memberi doa restu kepada Ki Selang Kuning atas pengangkatannya menjadi raja.

Penobatan Raja Pulau Majeti

Seorang laki-laki tua maju ke depan. Ia mengenakan pakaian kuning-kuning serta di punggungnya tertutup kain hitam. Itulah seorang pemuka agama yang bernama Jagat Ampar.

“Acara penobatan raja akan segera dimulai. Paduka raja muda silakan naik ke atas singgasana,” katanya sambil mempersilakan Ki Selang Kuning naik ke atas singgasana.

Kini Ki Selang Kuning duduk di atas kursi kerajaan. Kemudian Jagat Ampar mengenakan mahkota kerajaan. Selesai upacara itu, segera disambut teriakan yang menyatakan sangat setuju atas pengangkatan Ki Selang Kuning menjadi raja. Mereka tidak pernah dipaksa untuk menyetujui niatnya itu. Karena mereka tahu benar, siapa Ki Selang Kuning. Mereka semua menyatakan Ki Selang Kuning layak menjadi raja.

Dengan penuh wibawa, Ki Selang Kuning segera mengucapkan pidato menyambut saat-saat dinobatkan menjadi raja. Dalam pidato kenegaraannya, disinggung juga pengangkatan beberapa pegawai istana.

“Mulai hari ini, aku bukan Patih Galuh. Tetapi, aku adalah Raja Selang Kuning. Negeri kita adalah Kerajaan Pulau Majeti yang terdiri dari beberapa pulau sekitarnya. Negara kita adalah negara yang berdiri mandiri, lepas dari Kerajaan Galuh. Meski begitu, kalian tidak perlu mengumumkan ke luar dengan terang-terangan. Biarlah mereka tahu sendiri. Aku pun merasa tidak perlu memberitahukan kepada Raja Galuh,” kata Raja Selang Kuning. Ia berhenti sejenak.

Lalu dengan semangat ia meneruskan ucapannya. “Untuk mengelola negeri kita yang tercinta ini, aku mengangkat ayahandaku sebagai penasihat negara. Sedangkan istriku, Gandawati, kuangkat sebagai Ratu Gandawati. Artinya, bila aku berhalangan, istriku berhak memerintah negeri ini. Kemudian, untuk menyusun kekuatan dalam dan luar negeri, kuangkat Kalindu menjadi Patih Kerajaan Pulau Majeti dengan gelar Raden Kalindu Unara Jagat. Selanjutnya, pegawai-pegawai istana lainnya, kuserahkan kepada Paman Patih Kalindu Unara Jagat.”

Orang-orang yang namanya disinggung oleh raja baru itu, mengangguk penuh hormat, tanda menyetujui pengangkatannya. Dan ditegaskan kembali, Jagat Ampar diangkat sebagai penasihat bidang keagamaan dan pemangku adat. Dengan adanya pengangkatan beberapa pegawai istana, untuk sementara Raja Selang Kuning merasa puas.

Dan mulai hari itu juga Patih Kalindu Unara Jagat mengatur dan membentuk tentara kerajaan. Maka sahlah pendirian Kerajaan Pulau Majeti menurut anggapan mereka saat itu. Pemerintahan pun mulai dilaksanakan.

Bersambung ke: Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 9)

One Reply to “Asal-usul Kerajaan Pulau Majeti dan Legenda Ki Selang Kuning (Bagian 8)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *