Cerita Rakyat Malaysia Tentang Sultan Mahmud Shah, Hang Nadim dan Putri Sakti dari Gunung Ophir

Dongeng Aji Bonar yang jago bermain gasing
Dongeng Aji Bonar yang jago bermain gasing

Kekuasaan bukanlah alat untuk mencapai kesenangan pribadi. Jangan sampai hidup terkungkung nafsu lantas menghancurkan keluarga sendiri. Artikel The Jombang Taste kali ini berkisah salah satu cerita rakyat Malaysia tentang raja yang tega berniat membunuh anaknya sendiri. Kisah legenda Malaysia ini menceritakan tentang seorang putri yang bersemayam di Gunung Ophir, Malaysia. Kecantikan Putri itu demikian mempesonakan sehingga setiap laki-laki yang melihatnya selalu ingin mempersuntingnya. Akan tetapi tak seorang pun yang berhasil melamarnya.

Sultan Mahmud Shah dari Malaka adalah salah seorang yang hampir saja berhasil, namun pada akhirnya gagal juga. Bukan karena ia tak mencintai Putri itu, melainkan karena cintanya yang terlalu besar. Cerita dongeng raja dari Malaysia dimulai saat suatu hari ketika Sultan Mahmud Shah mengutus Hang Nadim, sahabat baiknya, dan bertugas sebagai Kepala Penjaga Istana.

“Hang Nadim,” kata Sultan, “Aku menghendaki agar kau membawa hamba sahaya yang banyak untuk pergi mencari seorang putri yang tinggal di sebuah istana di atas Gunung Ophir. Ia tidak saja amat cantik, tetapi juga sakti, hingga dapat merubah dirinya jadi tiga puluh orang yang berlainan wajahnya. Kini di hadapanku ada hadiah yang banyak. Bawalah kepadanya dan katakan bahwa aku ingin mempersuntingnya.”

“Baginda,” jawab Hang Nadim, “Segala titah Baginda patik junjung. Hamba akan berusaha agar Putri itu dapat Baginda persunting.”

“Tetapi,” kata Sultan selanjutnya, “tidak akan mudah mencapai puncak Gunung Ophir, karena gunung itu sangat lebat hutannya. Jadi kau harus membawa parang yang tajam guna merintis jalan. Sampaikan pesanku pada Putri dan jangan kembali bila kau belum bertemu dengannya. Cepatlah, aku ingin segera mendengar jawabannya.”

Hang Nadim segera bekerja. Untuk memikul barang-barang hadiah ia memerlukan dua puluh orang anak buah. Dua puluh orang lagi memikul bahan makanan dan barang-barang lain yang diperlukan di perjalanan. Raja menginginkan rombongan itu berhasil menjalankan tugas melamar putri cantik yang berdiam di puncak gunung.

Cerita Legenda Hang Nadim

Hari pertama tidaklah begitu sulit buat mereka, karena ada jalan setapak di sepanjang jalan yang mereka tempuh sampai di kaki gunung. Ketika hari menjelang petang, Hang Nadim menyuruh anak buahnya untuk beristirahat. Esok paginya, tatkala udara masih terasa sejuk dan burung-burung berkicau riang, Hang Nadim dan anak buahnya meneruskan perjalanan.

Akhirnya sampailah mereka di tempat yang penuh dengan semak-semak dan pepohonan yang sangat lebat. Demikian lebatnya hutan di situ, tak seberkas pun cahaya yang bisa menembus celah-celahnya. Binatang-binatang dan serangga penghuni hutan saling memperdengarkan suara yang menyeramkan. Kisah legenda Hang Nadim ini berlanjut.

Meskipun Hang Nadim dan anak buahnya bekerja keras dan cukup lama menebasi semak belukar guna membuka jalan di depan, namun ketika hari senja perjalanan naik gunung itu hanya setengahnya saja yang telah mereka tempuh. Hang Nadim mulai bertanya-tanya dalam hati, bisakah mereka sampai di puncak gunung.

Tepat di saat itulah ada seberkas cahaya kilat yang memancar, lalu tiba-tiba di hadapan mereka telah berdiri seorang wanita aneh yang berpakaian serba hitam. “Aku diutus oleh Tuan Putri yang bersemayarn di puncak, untuk membantu kalian mencapai tujuan,” kata wanita itu.

Lalu sekonyong-konyong ia menghilang, dan di depan mereka terbentang jalan yang terang dan lurus menuju puncak Gunung Ophir. Kelak, Hang Nadim mengetahui bahwa wanita itu tiada lain adalah Putri itu sendiri. Hang Nadim beserta anak buahnya tiba di puncak tatkala matahari hampir terbenam.

Mereka masuk ke ruangan tahta dalam istana dan di situlah Putri duduk bersemayam di atas tahta yang terbuat dari emas dan perak. Hang Nadim belum pernah melihat wanita yang lebih cantik sebelum ini. Kecantikan Putri demikian menyilaukan matanya. Anak buah Hang Nadim segera meletakkan barang-barang hadiah di atas lantai.

“Baginda Putri,” Hang Nadim membuka kata, “Hamba diutus oleh Sultan Mahmud Shah dari Malaka, untuk menghunjukkan cinta kasih yang dalam ke pangkuan Baginda Putri, dengan harapan dapatlah kiranya junjungan hamba mempersunting Baginda Putri.”

Tuan Putri berjalan perlahan-lahan di antara barang-barang hadiah yang diletakkan di atas lantai. Kemudian ia berkata, “Kembalilah kalian segera dan katakan kepada junjunganmu, hadiah-hadiah yang dikirimkan kepadaku ini belumlah cukup untuk menunjukkan cinta kasihnya. Sampaikan, bahwa sekiranya ia ingin mempersunting diriku, ia harus membuat sebuah jembatan emas untukku guna menghubungkan kedua negeri kita hingga sewaktu-waktu aku bisa pulang buat melihat rakyatku.”

Cerita Rakyat Sulawesi Barat Legenda Si Kembar Sawerigading dan Tenriyabeng
Cerita Rakyat Sulawesi Barat Legenda Si Kembar Sawerigading dan Tenriyabeng

Kisah Legenda Raja Malaka

Maka kembalilah Hang Nadim beserta anak buahnya ke Malaka. Segera ia pergi ke istana, lalu disampaikannya kepada Sultan, hal keinginan Putri itu. Setelah mendengar apa yang telah dikatakan oleh Hang Nadim, Sultan berdiam diri beberapa saat lamanya. Akhirnya ia berkata, “Jembatan emas akan kita buat!”

Keesokan harinya Sultan memerintahkan agar semua emas yang ada di negerinya dikumpulkan. Banyak wanita yang menangis ketika para perajurit datang merampasi emas mereka. Akhirnya semua emas terkumpul jua. Beribu-ribu orang bekerja Siang dan malam untuk membuat jembatan emas.

Cerita rakyat dari Malaysia ini berkisah bahwa sesudah beberapa bulan kemudian, jembatan emas itu pun selesailah. Dalam sinar matahari pagi, jembatan itu demikian gemilang cahayanya hingga sinar emasnya menerangi alam sekitarnya. Jembatan emas itu tampak sangat indah. Meski demikian, keindahan itu tidak menyenangkan hati rakyat Malaka. Rakyat hidup menderita karena harta benda mereka dirampas. Para pria dewasa pun hidup sengsara karena dipaksa bekerja keras membangun jembatan tanpa diberikan upah.

Sekali lagi Hang Nadim beserta anak buahnya pergi menuju istana di atas Gunung Ophir. Akan tetapi kah ini jalannya tidak sesulit dahulu karena ada jembatan emas yang baru selesai dibuat. Ketika mereka tiba, sang Putri sedang berdiri di pintu gerbang untuk menyambut kedatangan mereka. Ternyata sang Putri pun tercengang oleh keindahan jembatan emas itu.

Namun, setelah beberapa saat lamanya ia memandang jembatan itu, berkatalah sang Putri, “Kembalilah dan katakan kepada junjungan kalian bahwa jernbatan emas saja belumlah cukup. Sampaikan juga kepadanya bahwa jika ia sungguh-sungguh mencintaiku, ia harus mau memenuhi permintaanku. Sebagai hadiah perkawinan, aku menginginkan secawan darah yang diambil dari pergelangan tangan putranya.”

Hang Nadim dan anak buahnya sekali lagi kembali ke Malaka, dan dengan berat hati disampaikannya kepada Sultan perihal keinginan Putri yang kedua. Sultan amat berduka cita mendengar hal ini. la tampak letih dan terlihat semakin tua.

Lalu ia berteriak, “Langkahku sudah demikian jauh! Takkan ada yang bisa menghalangiku untuk mempersunting Putri. Sampaikan, secawan darah akan ia terima sebagai hadiah perkawinan.” Hang Nadim terkejut sekali mendengar kata-kata ini.

Legenda Putri Gunung Ophir

Pada malam itu juga Sultan Mahmud Shah dan Hang Nadim masuk dengan diam-diam ke dalam kamar putranya. Sambil memegang keris yang sangat tajam, ia mengendap-endap ke tempat di mana putranya tidur. Diacungkannya keris itu perlahan-lahan, dan ketika kerisnya hampir saja ditusukkan ke tubuh si anak, tiba-tiba ia berhenti, lalu lengannya perlahan-lahan terkulai kembali. Kisah legenda Raja Malaka yang berniat melamar putri Gunung Ophir berlanjut.

Dua kali Raja Malaka mencoba membunuh anaknya, dua kali pula sia-sia. “Untuk yang ketiga kalinya aku tak boleh gagal,” katanya pada diri sendiri. Sekali lagi keris diacungkannya. Tetapi pada saat keris itu hendak ditusukkan ke pergelangan putranya, tiba-tiba berkilatlah cahaya dalam kamar itu, lalu dengan tiba-tiba pula Putri telah berdiri di hadapan mereka.

Beberapa saat lamanya suasana menjadi hening, tak ada yang berkata-kata sepatah pun. Kemudian setelah suasana tenang kembali, Putri berkata, “Haram aku menikah dengan laki-laki semacam Tuan yang sudi mengambil nyawa anak sendiri. Tuan telah gagal karena Tuan memenuhi permintaanku. Tuan akan berhasil, jika Tuan tak memenuhi permintaanku.”

Sambil berkata demikian, sang Putri mengubah-ubah dirinya menjadi tiga puluh orang wanita yang berlainan rupa. Setiap wanita yang muncul kemudian selalu lebih cantik daripada yang sebelumnya. Setelah itu, bersamaan dengan kilatan cahaya yang kedua, sang Putri menghilang selama-lamanya. Hingga hari ini, konon Putri itu masih bersemayam di Gunung Ophir. Masih tetap tak bersuami. Sedangkan jembatan emas setelah dibiarkan bertahun-tahun terlantar hilang lenyap ditelan hutan.

Demikian artikel The Jombang Taste berkisah mengenai cerita rakyat Malaysia tentang Raja Malaka yang ingin memperistri putri cantik dari Gunung Ophir. Semoga kisah legenda Putri Gunung Ophir ini bisa menambah wawasan Anda.

Daftar Pustaka:

Rukingking, Puci. 2008. Kisah-kisah dari Asia. Balai Pustaka: Jakarta.

Bagikan artikel ini melalui:

2 Replies to “Cerita Rakyat Malaysia Tentang Sultan Mahmud Shah, Hang Nadim dan Putri Sakti dari Gunung Ophir”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *