Cerita Rakyat Cina Tentang Kaisar Tiongkok Dan Burung Bulbul Baik Hati

gambar burung dan bayangannya
Gambar burung bulbul dan bayangannya.

Anda tidak akan pernah menyangka bahwa kebaikan kecil akan mampu memberikan manfaat besar bagi orang lain. Bersama blog The Jombang Taste, penulis mengajak Anda menyimak salah satu cerita rakyat Cina yang berjudul Kaisar Tiongkok dan burung bulbul baik hati.

Kisah dongeng burung bulbul dimulai pada zaman dahulu kala di Negeri Cina hidup seorang kaisar. Kaisar Wu namanya. Ia kaya-raya. Istananya indah sekali. Di belakang istananya terdapat sebidang taman yang luas, penuh dengan pepohonan dan bunga-bungaan. Di dalam taman itu, burung-burung tak henti-hentinya berkicau sej ak matahari terbit hingga saat terbenam.

Dari seluruh burung itu ada seekor burung yang bernyanyi paling nyaring dan paling merdu suaranya. Burung Bulbul namanya. Dari negeri-negeri yang jauh orang-orang berdatangan mengunjungi Kaisar Wu. Hampir setiap orang yang datang ingin berjalan-jalan di taman, guna mengagumi bunga-bungaan dan nyanyian burung-burung.

Sekalian pengunjung sepakat, bahwa yang paling mereka senangi di taman istana itu adalah nyanyian Burung Bulbul. Kisah cerita rakyat China bermula pada suatu hari datang pula seorang kaisar dari Negeri Jepang berkunjung ke Negeri Cina. Kaisar Jepang itu pun pergi ke taman untuk mendengarkan Burung Bulbul bernyanyi. Belum pernah ia mendengar nyanyian burung semerdu itu.

Demikianlah, sewaktu kembali di negerinya, ia menulis sebuah buku perihal kunjungannya ke istana Kaisar Wu. Setelah selesai, Kaisar Jepang mengirimkan buku itu kepada Kaisar Wu. Membaca buku itu, Kaisar Wu sangat bangga. Karena di dalam buku itu banyak disebutkan hal yang baik tentang Negeri Cina.

Akan tetapi, bagi Kaisar Jepang sebagaimana tertulis dalam bukunya itu bahwa hal yang paling mengagumkan di Negeri Cina ialah nyanyian Burung Bulbul. Perkataan itu sangat mengejutkan Kaisar Wu. Ia menyangka, Kaisar Jepang akan mengatakan bahwa istananya itulah yang terindah dari sekaliannya.

Orang-orang istana segera dipanggilnya. Lalu berkatalah Kaisar Wu, “Coba lihat tulisan Kaisar Jepang dalam bukunya ini. Mengapa kalian tak pernah memberitahu perihal Burung Bulbul itu? Tangkaplah segera burung itu dan bawa kemari, aku ingin mendengarkan suaranya yang merdu.”

Seluruh abdi istana segera pergi ke taman untuk mencari burung itu. Lama mereka mencari kian kemari, namun burung itu tak juga ditemukan. Malam pun tiba. Empat orang dayang masih mencari-cari dengan diterangi oleh sebuah lampu. Akhirnya, dalam cahaya lampu mereka melihat burung itu. Lalu mereka bersiul, yang kemudian diikuti oleh Burung Bulbul itu. Dengan cara demikian, mereka berhasil menggiring burung itu masuk ke dalam istana.

Burung Bulbul itu kemudian terbang di sekitar istana, akhirnya hinggap di ambang jendela kamar peraduan Kaisar Wu. Maka bernyanyilah burung itu. Adapun nyanyian yang keluar dari kerongkongan burung itu sungguhlah merdu. Belum pernah Kaisar mendengar nyanyian burung semerdu itu. Kaisar Wu sangat menyukai burung itu, dan menghendaki agar burung itu tetap, di dekatnya setiap waktu.

Semenjak hari itu, Burung Bulbul tinggal di istana dan bernyanyi untuk menghibur hati Kaisar Wu, sehingga Kaisar merasa menjadi orang yang paling berbahagia di dunia. Berbulan-bulan telah silam. Kisah legenda Kaisar Tiongkok dan burung bulbul baik hati terus berlanjut dengan beragam kejadian yang menyenangkan.

Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur: Dongeng Suri Ikun dan Dua Ekor Burung
Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur: Dongeng Suri Ikun dan Dua Ekor Burung

Dongeng Burung Bulbul dari China

Pada suatu hari, Kaisar Wu berulang tahun. Sahabatnya, Kaisar Jepang, menghadiahkan sebuah burung mainan kepadanya. Burung mainan itu dihidupkan oleh mesin kecil yang terdapat dalam tubuhnya. Apabila tombolnya ditekan, burung mainan itu akan menari dan bernyanyi. Nyanyiannya cukup merdu. Dongeng burung bulbul bersuara merdu seolah tersisihkan oleh mainan burung palsu itu.

Kaisar Wu terpesona oleh burung mainan itu. Ia mulai menghabiskan waktunya untuk bermain-main dengan burung mainan itu saja. Burung Bulbul dilupakannya sama sekali. Kaisar seolah tidak ingat lagi bahwa dirinya memiliki burung bulbul sungguhan yang bersuara indah. Merasa sudah tak disenangi lagi, Burung Bulbul itu terbang, pergi jauh.

Setahun telah berlalu, burung mainan itu masih juga berlagu. Akan tetapi, pada suatu hari mainan itu mengeluarkan suara yang aneh, lalu berhenti sama sekali. Mesin dalam tubuhnya telah rusak. Disinilah dimulai permasalahan dari cerita rakyat China ini. Kaisar Tiongkok itu ingin mendengar suara nyanyian burung sepanjang hari, namun tidak bisa.

“Nyanyi! Ayo bernyanyi lagi!” perintah Kaisar. Namun burung mainan itu tetap tinggal diam tak bergerak. Semua tukang membetulkan mainan di negeri itu dipanggil ke istana untuk membetulkan burung mainan yang rusak itu. Akan tetapi, sekalipun mereka telah bekerja keras, mainan itu tetap tak bergerak sedikit pun.

Sementara itu, pembuatnya yang tinggal di Negeri Jepang telah meninggal pula. Dengan demikian, tak ada lagi tukang yang dapat membetulkan burung mainan itu hingga dapat bernyanyi kembali. “Cari kembali Burung Bulbul itu!” perintah Kaisar Wu. Dengan tiba-tiba saja Kaisar Wu merasa rindu pada nyanyian burung itu.

Seperti dulu, semua abdi istana pergi ke taman untuk mencari Burung Bulbul. Namun burung itu tak dapat ditemukan jua. Dengan perasaan masgul, mereka kembali ke istana melaporkan kepada Kaisar Wu, bahwa Burung Bulbul tak dapat ditemukan. Kisah legenda burung bulbul bersuara merdu seolah berhenti sampai disini.

Mula-mula Kaisar Wu sangatlah murka mendengar berita tersebut. Setelah itu, tatkala berhari-hari telah silam sedangkan Burung Bulbul tak juga muncul, maka Kaisar Wu menjadi sangat bersedih dan amat berdukacita. Makan enggan, tidur pun tak mau. Tak lama kemudian, Kaisar Wu pun jatuh sakit.

Seluruh tabib di Negeri Cina dipanggil ke istana guna mengobati Kaisar Wu, namun tak seorang pun yang dapat menyembuhkannya. Dari hari ke hari, penyakit Kaisar Wu semakin parah. Tubuhnya semakin melemah. Ia tak sadarkan diri. Terbaring di tempat tidur, tak dapat bergerak. Matanya selalu tertutup dan jantungnya pelan berdegup. Setiap abdi istana hanya menangis saja kerjanya.

Pada suatu malam, tatkala sedang memikirkan Burung Bulbul itu, tiba-tiba Kaisar Wu mendengar sayup-sayup suara nyanyian seekor burung. Suara burung itu kian lama kian nyaring, sehingga akhirnya mengumandang di kamar tempat peraduan Kaisar. Maka tampaklah di ambang jendela, Burung Bulbul sedang bernyanyi dengan merdu.

Air mata mengalir di atas pipi Kaisar. Perlahan-lahan dan dengan susah payah, Kaisar Wu bangkit dari tempat peraduannya. “Syukurlah engkau telah kembali, Burung Bulbul. Aku merasa sembuh sekarang. Aku takkan lagi melupakan kau,” kata Kaisar Wu kepada burung itu. Semenjak saat itu, Kaisar Wu bisa kembali makan dan tidur dengan tenang. Lalu, setelah beberapa minggu berlalu, ia pun sembuhlah.

Semua orang di istana riang gembira dapat melihat kembali Burung Bulbul itu. Adapun Kaisar Wu, menjadi orang yang paling berbahagia karena Burung Bulbul itu telah kembali, untuk membuat seisi istana bergembira dengan lagu-lagunya yang hanya bisa dinyanyikan oleh seekor burung. Kaisar itupun meminta maaf kepada burung bulbul karena telah megabaikannya selama waktu berbulan-bulan. Kaisar merawat burung bulbul dengan kasih sayang setiap hari.

Amanat cerita rakyat dari China tentang Kaisar Tiongkok dan burung bulbul ini adalah agar kita bisa berbuat baik kepada siapa saja, tanpa memandang jabatan. Apakah ia orang miskin atau orang kaya tetap harus kita perhatikan. Pesan moral dalam dongeng burung bulbul dan kaisar Cina ini adalah jangan melupakan jasa orang-orang yang telah membantu kita selama ini walaupun ada orang baru dalam kehidupan. Teman lama jangan sampai dilupakan hanya karena kita memiliki teman baru.

Demikian blog The Jombang Taste membagikan cerita rakyat Cina tentang dongeng burung bulbul kepada Anda. Semoga kisah legenda kaisar Cina dan burung bulbul bersuara merdu ini bisa menambah wawasan Anda.

Daftar Pustaka:

Rukingking, Puci. 2008. Kisah-kisah dari Asia. Balai Pustaka: Jakarta.

Bagikan artikel ini melalui:

2 Replies to “Cerita Rakyat Cina Tentang Kaisar Tiongkok Dan Burung Bulbul Baik Hati”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *