Kumpulan Dongeng Asia: Legenda Gajah Putih dan Raja Burma

Gambar ilustrasi upaya penyelamatan hewan gajah dari perburuan liar di Indonesia oleh Hardi Cantrik
Gambar ilustrasi upaya penyelamatan hewan gajah dari perburuan liar di Indonesia oleh Hardi Cantrik

Orang pintar akan menggunakan kepintarannya untuk menyelamatkan hidupnya sendiri. Bersama artikel blog The Jombang Taste kali ini kita akan mengenal salah satu isi kumpulan dongeng Asia yang berasal dari negara Burma atau Myanmar. Kisah legenda gajah putih ternyata bukan hanya bisa ditemukan di negara Thailand, tetapi juga di Myanmar. Berikut ini cerita rakyat Burma selengkapnya.

Kisah legenda gajah putih ini diawali pada zaman dahulu kala di sebuah desa di kota Rangoon Burma hidup seorang tukang benara atau binatu bernama U Nam. Ia seorang yang cerdas dan suka bekerja keras. Setelah bertahun-tahun bekerja keras dan sedapat-dapatnya menabung setiap sen dari penghasilannya, maka akhirnya dapatlah ia membuka sebuah perusahaan benara. Memang ia sangat rajin bekerja, sehingga tak lama kemudian ia pun dapat mengangkat tujuh orang pembantu.

Di desa itu pun hidup pula seorang pembuat guci bernama U Tin. Ia tidak hanya bebal, tetapi juga malas. Dengan demikian walaupun telah bekerja sekian lama, tak juga ia jadi kaya. Meskipun pendapatannya sedikit namun uangnya selalu dihabiskannya untuk meminum minuman keras dan merokok. Tentu saja ia tetap miskin, sekalipun telah lama bekerja sebagai pembuat guci.

U Tin tak senang melihat orang lain berhasil dalam hidupnya. Demikianlah, ketika dilihatnya U Nam mempunyai segala yang tak dipunyainya, ia jadi sangat iri terhadap U Nam. Ia mulai menyebarkan cerita-cerita keji tentang diri U Nam. Sudan barang tentu ceritanya itu semua bohong belaka. Rasa iri dengki pada diri U Tin ini kelak akan membawanya pada legenda gajah putih dari Burma.

Dengan uangnya yang sedikit itu biasanya U Tin suka membelikan minuman buat mereka yang mau mendengarkan omong kosongnya. Akan tetapi tukang benara itu hanya tertawa saja mendengar cerita U Tin. Karenanya tukang guci itu semakin benci saja terhadap U Nam. Ia lantas berpikir bagaimana cara menyingkirkan tetangganya itu.

Raja Minta Gajah Putih

Legenda gajah putih dan Raja Burma dimulai Konon pada saat itu Raja Birma mempunyai seekor gajah yang besar dan berkulit abu-abu. Akan tetapi Raja itu sendiri sebenarnya ingin sekali memiliki seekor gajah besar yang kulitnya berwarna putih. Ini disebabkan karena suatu kepercayaan yang dianut oleh kebanyakan rakyat Birma, bahwa gajah putih itu binatang yang suci dan hanya raja-rajalah yang boleh memilikinya.

Karena itu rakyat di seluruh pelosok negeri sudah mengetahui bahwa barang siapa yang dapat mempersembahkan seekor gajah putih ke hadapan Baginda, akan diberi hadiah yang sangat menarik. Dalam benak si Pembuat Guci yang dungu itu timbullah akal licik ingin mencelakakan si Tukang Benara. Kisah legenda rakyat Myanmar ini bisa menjadi pelajaran bagi kita bersama.

Lalu pada hari yang telah direncanakannya, U Tin datang menghadap sang Raja dan bercerita, “Baginda, seluruh negeri telah maklum bahwa Baginda ingin memiliki seekor gajah putih. Kebetulan hamba tahu orang yang akan dapat memenuhi idam-idaman Baginda itu. Ia seorang tukang benara bernama U Nam.”

“Setiap orang tahu bahwa ia mempunyai ramuan rahasia yang dapat memutihkan barang apa saja, lebih daripada yang lain. Karena itu, hamba kira tidaklah sulit baginya mencuci gajah berwarna abu-abu menjadi seekor gajah yang putih bersih. Perkenankanlah patik yang hina-dina ini menyarankan kepada Baginda, agar dia melakukannya atas perintah Baginda,” tambahnya.

Tak terperikan kegembiraan sang Raja ketika mendengar cerita yang tak disangka-sangkanya itu, yang baru saja dikatakan oleh si Pembuat Guci. Baginda sangat menyukai gagasan itu. Ternyata, untuk memiliki seekor gajah putih, demikian sederhana saja caranya. Cerita rakyat Burma ini berlanjut lebih menarik lagi berkat tipu muslihat U Nam.

Setelah berterima kasih kepada si Pembuat guci, sang Raja segera memerintahkan untuk memanggil tukang benara itu, U Nam, supaya segera menghadap ke istana. U Nam sama sekali tak percaya akan apa yang didengarnya, yaitu bahwa ia dibutuhkan oleh sang Raja untuk melakukan sesuatu. Siapa pula orang yang dapat mencuci seekor gajah berwarna abu-abu hingga menjadi gajah yang putih bersih?

Namun demikian segeralah ia mengetahui siapa kiranya yang telah menimbulkan kesusahan besar bagi dirinya itu. Akan tetapi oleh karena ia seorang yang berotak cerdas, dengan tenang ia menjawab, “Baginda, memang benar hamba ini Tukang Benara yang terbaik di negeri ini. Mencuci seekor gajah abu-abu hingga menjadi putih, bagi hamba bukanlah sesuatu yang sulit. Namun hamba hanya seorang tukang cuci, jadi mencuci gajah pun tentu sama dengan mencuci pakaian.”

“Untuk melaksanakannya, hamba memerlukan sebuah guci yang sangat besar, yang dapat merendam gajah itu selama hamba mencucinya. Kebetulan hamba mengetahui bahwa di negeri ini tak ada seorang pun yang dapat membuat guci sedemikian besarnya, kecuali seorang pembuat guci yang bernama U Tin,” tambahnya.

Sang Raja gembira sekali ketika ia mendengar bahwa orang yang dapat membuat guci sedemikian besarnya ternyata U Tin, si Pembuat Guci. Pendek kata, untuk mendapatkan, gajah putih idamannya takkan ada kesulitan apa-apa. Raja mengucapkah terima kasih kepada Tukang Benara karena telah datang menghadap, lalu segera menitahkan supaya si Pembuat Guci dipanggil ke istana.

Ride with the sun - Great doodle art drawing by Roger Duvoisin
Ride with the sun – Great doodle art drawing by Roger Duvoisin

Kepandaian Mengalahkan Iri Dengki

Kisah legenda gajah putih dari Burma berlanjut lebih seru. U Tin bergegas-gegas menuju istana. Ketika ia mendengar perintah supaya membuat sebuah guci besar yang dapat merendam gajah, hampir saja ia jatuh pingsan. Namun ia tak dapat menolak perintah sang Raja karena dialah yang mula-mula menyarankan gagasan itu.

Si Pembuat Guci itu lalu pulang ke rumahnya, dan dengan dibantu oleh seluruh keluarga kerabatnya, ia mulai membuat guci yang besar itu. Setelah bekerja keras berminggu-minggu lamanya, selesailah guci itu. Guci itu tampak besar dan indah. Hampir setiap rakyat Burma yang melihatnya terpesona karena keindahan guci yang dibuat untuk raja itu.

Kemudian guci itu diangkat dengan pedati yang khusus dibuat untuk itu, lalu dipersembahkan kepada sang Raja. Ketika dilihatnya guci yang besar itu, Raja sangat gembira dan segera menitahkan untuk memanggil si Tukang Benara. U Nam berpikir ulahnya kali ini bisa mengalahkan tukang binatu itu. Ia berharap bisa menjadi satu-satunya orang sukses dan kaya di desanya.

U Nam tiba beserta para pembantunya. Air dan sabun telah mereka siapkan sebanyak-banyaknya. Dengan hati-hati gajah itu diangkat ke atas lalu dimasukkan ke dalam guci yang besar itu. Begitu gajah masuk ke dalam guci, remuklah guci itu berkeping-keping karena tak kuat menyangga binatang sedemikian berat.

Raja segera memerintahkan U Tin supaya membuat guci yang lebih kuat. “Dan ingat, kau harus membuat guci sekarang juga!” tambah sang Raja. Si Pembuat Guci yang malang itu bergegas-gegas pulang. Lalu setibanya di rumah, dengan pekerja dan tanah liat yang lebih banyak lagi, ia mulai membuat guci yang paling besar dan paling kuat di seluruh Birma.

Ketika guci itu selesai, dengan rasa bangga U Tin mempersembahkannya kepada Raja. Si Tukang Benara dipanggil lagi ke istana. Seperti yang sudah, U Nam datang bersama para pembantunya. Mereka telah menyiapkan air dan sabun sebanyak-banyaknya. Dengan hati-hati sekali, gajah itu diangkat kembali ke atas untuk dimasukkan ke dalam guci yang besar.

Kumpulan cerita rakyat dari Asia ini berlanjut. Setiap orang menahan nafas, mengira guci itu takkan kuat menahan gajah yang demikian berat. Akan tetapi semua orang tercengang karena guci itu tak pecah! Memang ada juga bagian yang retak. Tetapi hanya sedikit saja, tak berarti apa-apa.

Kini tugas U Nam mencuci gajah itu. Seperti yang pernah dikatakannya kepada Raja, ia hanya bisa mencuci gajah seperti mencuci pakaian. Untuk memanaskan air di dalam guci, maka si Tukang Benara dengan para pembantunya segera menyalakan api di bawah guci itu. Akan tetapi meskipun banyak yang dijadikan kayu bakarnya, air di dalam guci itu tak mau panas juga.

Setelah berjam-jam lamanya Raja menunggu, hilanglah kesabarannya. Kemudian Tukang Benara itu diperintahkan supaya segera menyelesaikan pekerjaannya. “Akan tetapi, Baginda,” kata U Nam, “air di dalam guci ini takkan mendidih sebab guci ini terlalu tebal. Yang kami perlukan ialah sebuah guci yang dapat dimasuki seekor gajah tetapi juga cukup tipis agar air di dalamnya dapat mendidih.”

Pembalasan Tukang Iri

Si Pembuat Guci yang malang itu disuruh pulang, setelah memerima perintah untuk membuat guci seperti yang diinginkan oleh si Tukang Benara. U Tin pun segera pulang dan dengan dibantu oleh keluarga serta kerabatnya yang lebih banyak lagi, kembali ia mencoba membuat jenis guci menurut kemauan Tukang Benara.

Ia membuat guci yang berat dan tak terlalu tebal, yang tinggi dan yang rendah, yang bulat dan persegi, guci yang bermulut besar atau pun kecil, namun tak satu pun yang menyerupai guci seperti yang diinginkan oleh si Tukang Benara. Kisah raja Burma yang menginginkan memiliki gajah putih harus terhenti disini.

Setelah berbulan-bulan lamanya menunggu, lenyaplah keinginan Baginda untuk memiliki gajah putih menurut gagasan si pembuat guci. Raja tahu bahwa U Tin tak mungkin dapat menyelesaikan pekerjaannya. Telah banyak uang yang dikeluarkan untuk membeli tanah liat guna membuat guci, dan Baginda sudah tak bersemangat lagi membuang-buang uang dengan cara yang demikian.

Raja pun memerintahkan agar U Tin menghentikan pekerjaannya serta memerintahkan pula agar U Tin segera meninggalkan negeri itu karena telah berani mempermainkan Baginda. Si Pembuat Guci yang sial itu bukan hanya harus meninggalkan negerinya, tetapi juga harus mencari pekerjaan yang lain, karena sebagai pembuat guci namanya telah tercemar.

Ada banyak pesan moral yang bisa kita petik dari kumpulan kisah dongeng Asia ini. Jika kita merenungkan hal ini sejenak, kita akan tahu bahwa si pembuat guci itu mengalami kesengsaraan karena perbuatannya sendiri. Dan si Tukang Benara tetap bekerja dengan tenang, tak ada yang mengganggu lagi. Ia menjadi salah seorang yang terkaya di negerinya dan sangat dihormati oleh semua orang, termasuk Baginda Raja.

Kisah legenda Gajah Putih dan Raja dari Burma ini hendaknya menjadi bahan pemikiran kita bersama bahwa setiap manusia diberkati Tuhan dengan kadar rejeki yang berbeda-beda. Kita tidak boleh iri hati atas kesuksesan orang lain. Perilaku iri dengki dapat menimbulkan perilaku hasut dan membahayakan diri sendiri. Demikian artikel blog The Jombang Taste mengenai salah satu cerita rakyat dari Burma. Semoga kita bisa mengambil manfaat dari dongeng gajah putih dan Raja Burma ini.

Daftar Pustaka:

Rukingking, Puci. 2008. Kisah-kisah dari Asia. Balai Pustaka: Jakarta.

 

Bagikan artikel ini melalui:

5 Replies to “Kumpulan Dongeng Asia: Legenda Gajah Putih dan Raja Burma”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *