Kumpulan Dongeng Persahabatan Tohan dan Benpo, Cerita Rakyat dari Asia Mongolia

Ride with the sun - Great doodle art drawing by Roger Duvoisin
Ride with the sun – Great doodle art drawing by Roger Duvoisin

Ilmu dan pengetahuan adalah harta paling berharga yang dimiliki manusia. Bersama blog The Jombang Taste ini kita akan belajar pentingnya bersekolah dari cerita rakyat Mongolia yang berkisah tentang Tohan dan Benpo. Salah satu isi kumpulan dongeng persahabatan dari Asia ini layak Anda simak. Di sebidang tanah peternakan di suatu tempat di Mongolia konon ada dua rumah yang bertetangga. Rumah yang satu kepunyaan seorang penenun miskin yang mempunyai seorang anak bernama Tohan. Tohan diasuh ayahnya, karena ibunya meninggal sewaktu Tohan masih kecil. Rumah yang satu lagi, kepunyaan seorang peternak domba yang kaya-raya dan juga mempunyai seorang anak bernama Benpo.

Tohan Belajar Membaca

Cerita rakyat dari Mongolia ini diawali dengan suatu hari ketika Tohan masih berumur kira-kira sebelas tahun, ayahnya memanggil dan berkata, “Nak, sejak dulu aku hidup sebagai seorang penenun. Kau sendiri tahu bahwa betapa sulitnya hidup dengan cara seperti ini. Bagi kita, cukuplah aku saja seorang yang menjadi penenun. Aku ingin agar engkau pergi ke kota untuk meminta pekerjaan pada pamanmu. Siang hari bekerja, malam hari belajar menulis dan membaca.”

Mendengar hal itu, bukan main girangnya hati Tohan. Hal itu segera diceritakannya kepada Benpo, sahabatnya. Benpo bukan merasa gembira seperti Tohan, malah mengangkat bahu dan berkata, “Belajar bukan bagianku. Lihatlah Ayahku. la punya seribu ekor domba, ia senantiasa tersenyum. Padahal, kau tahu sendiri, ayahku tak pandai menulis walau namanya sekalipun!”

Keesokan harinya, Tohan membungkus barang-barang miliknya yang tak seberapa, lalu mengucapkan selamat tinggal kepada ayahnya. Kemudian berangkatlah ia menuju kota. Tak lama ia menemukan rumah pamannya, lalu dibawa masuk ke dalam, dan kemudian dijadikan pelayan. Kisah legenda Tohan dan Benpo berlanjut dengan berbagai pengalaman hidup yang menarik.

Pada siang hari Tohan bekerja keras dan malam hari saat orang-orang beristirahat, ia tetap bangun untuk belajar menulis dan membaca. Ia belajar dari buku-buku yang dipinjamkan oleh pamannya. Waktu terus berlalu. Setelah empat tahun belajar menulis dan membaca, ia memutuskan untuk pulang menjumpai ayahnya.

Keesokan harinya setelah berkemas membungkus barang-barang miliknya yang tak seberapa, serta mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya, berangkatlah ia. Semua pengalaman hidup Tohan tidak dilupakannya. Pengalaman tersebut menjadi guru paling berharga untuk melangkah di masa depan. Setelah berjalan seharian, sampailah ia ke rumah ayahnya.

Dengan diam-diam ia masuk ke dalam rumah dan membuat ayahnya terkejut. “Ayah, aku pulang. Sekarang aku dapat membaca dan menulis!” kata Tohan. Sesudah terkejutnya agak reda, ayahnya berkata, “Selamat datang, Nak.”

Malam itu, Tohan dan ayahnya bercengkerama sambil menyantap makanan persediaan mereka. Banyak yang ingin mereka ceritakan karena telah lama tidak berjumpa. Tohan sangat merindukan bercanda dengan ayahnya. Sementara ayah Tohan berharap masa depan anaknya kelak bisa lebih baik dari dirinya. Tak terasa, malam kian larut juga namun percakapan antara ayah dan anak itu belum selesai. Tohan telah mengantuk.

Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said - Gambar ilustrasi orang tua menasehati cucunya agar selalu berhati-hati dalam melangkah
Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said – Gambar ilustrasi orang tua menasehati cucunya agar selalu berhati-hati dalam melangkah

Tohan Belajar Musik

Ketika Tohan merayap masuk ke balik selimut, ayahnya berkata, “Nak, aku sangat memikirkan hari depanmu. Aku ingin agar engkau kembali esok pagi ke kota. Kali ini, engkau harus belajar memainkan alat musik. Seorang pemain musik yang pandai, lebih perkasa daripada seorang raksasa, oleh karena dapat melunakkan orang yang berhati baja sekalipun!”

Cerita rakyat dari Mongolia ini akan mengajarkan kita betapa berharganya pendidikan dalam hidup. Sesungguhnya Tohan ingin sekali tinggal di rumah, akan tetapi ia patuh pada ayahnya. Begitulah, pada keesokan harinya sebelum berangkat ke kota, ia berhenti di depan rumah Benpo, lalu diceritakannya perihal manfaat belajar memainkan alat musik. Ia berharap Benpo dapat ikut serta.

Ketika mendengar hal ini, Benpo tertawa. “Dengan uang, aku bisa mendatangkan sepuluh orang pemain musik untuk bermain siang dan malam,” katanya. Sekali lagi Tohan merasa kecewa, namun hal itu tak dipikirkannya lagi. Segera ia berangkat menuju kota.

Nun di ujung kota, tinggallah seorang guru musik yang sangat pandai main seruling. Dengan sendirinya Tohan harus menemui guru musik ini, kalau betul ia ingin belajar musik. Akan tetapi Tohan bukanlah seorang anak yang kaya, ia tak punya uang untuk belajar.

Untunglah guru musik itu mau menolongnya. “Anak muda, aku akan mengajari engkau bermain seruling, sebaliknya engkau harus mengajari kedua anakku membaca dan menulis,” katanya. Tentu saja Tohan setuju dengan usul guru musik itu.

Begitulah, sejak saat itu Tohan mengajari kedua anak guru musik itu, sebaliknya guru musik mengajari Tohan meniup seruling. Dengan sungguh-sungguh Tohan belajar musik. Akhirnya, setelah dua puluh tujuh bulan berlalu, Tohan pun mahir bermain seruling, melagukannya dengan sangat merdu.

“Anak muda,” berkatalah guru musik itu pada suatu hari, “engkau sudah pandai benar meniup seruling. Sekarang engkau boleh pulang menjumpai Ayahmu, dan katakan kepadanya bahwa sedikit sekali pemain, musik yang sepandai Engkau.”

Tohan mengucapkan terima kasih kepada gurunya atas kata-kata yang ramah itu. Keesokan harinya dengan rasa haru yang dalam Tohan mengucapkan selamat tinggal kepada guru berserta kedua anaknya, dan ia pun segera berangkat menuju rumah ayahnya.

Tatkala Tohan sampai ke dekat rumah ayahnya, ia mengeluarkan seruling, lalu ditiupnya. Suara seruling yang sangat merdu segera memenuhi udara. Ketika ayahnya mendengar suara merdu yang dibawakan seruling itu, ia keluar dari rumahnya sambil berlinang air mata.

“Selamat datang, Nak,” katanya, “lagu yang keluar dari serulingmu akan menambah kebahagiaan banyak orang.” Malam itu, kembali Tohan dan ayahnya duduk-duduk bercengkerama sambil menyantap makanan simpanan mereka.

Ride with the sun - Creative Doodle art by Roger Duvoisin
Ride with the sun – Creative Doodle art by Roger Duvoisin

Tohan Belajar Catur

Sewaktu makan, tentunya mereka bercerita banyak. Akhirnya ayah Tohan berkata, “Nak, belajar dari buku dan belajar musik, keduanya amat baik. Akan tetapi orang yang benar-benar berpikir ialah yang pandai main catur. Aku yakin engkau akan mendapatkan seorang guru catur di kota, yang dapat mengajari engkau menguasai papan catur. Berangkatlah pagi-pagi sekali sebelum engkau merasa betah tinggal di rumah.”

Anak yang baik ialah anak yang patuh dan anak yang patuh tak pernah bertanya tentang kebijaksanaan ayahnya. Demikian pula halnya Tohan. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali lagi Tohan meninggalkan rumahnya menuju kota. Cerita rakyat dari Mongolia ini kembali mengajarkan kita betapa pentingnya amal bakti kepada orang tua. Sekalipun keinginan orang tua tidak kita sukai, kita harus mematuhinya.

Tohan bersiap berangkat ke kota. Meskipun kini Tohan tak lagi berhenti di depan rumah Benpo, tetapi seorang temannya memberitahukan kepada Benpo, bahwa Tohan telah berangkat lagi ke kota. “Kasihan pemuda itu,” pikir Benpo, “ayahnya tak menyayanginya lagi.”

Karena Tohan dapat membaca dan menulis, pula meniup seruling, ia tak terlalu sulit mendapatkan pekerjaan di kota. Sementara itu, ia telah menjumpai seorang juara catur yang mau mengajarinya cara-cara bermain catur. Tohan menggunakan seluruh waktunya yang tersedia buat belajar semua gerakan permainan di atas papan catur. Satu setengah tahun lamanya ia tinggal bersama guru catur.

Karena Tohan seorang pemuda yang cerdas, ia cepat mengerti dan menangkap pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Akhirnya, jadilah Tohan seorang pemain catur yang baik, semua orang di kota itu kalah olehnya, termasuk gurunya sekalipun. Karena itu Tohan memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, menemui ayahnya.

Ujian Kehidupan Tohan

Tetapi sayang, kemalangan menimpa dirinya sewaktu ia tiba kembali di rumahnya. Ayahnya telah meninggal karena sudah terlalu tua, ketika Tohan dahulu pergi. Rumahnya pun telah diduduki segerombolan penjahat yang berkuda. Mereka segera menangkap Tohan dan diikat bersama tawanan yang lain. Kisah legenda Tohan dan Benpo dari Mongolia ini berlanjut dengan perjuangan Tohan menyelamatkan diri.

Kepala penjahat yang berwajah seram itu berkata, “Dengarkan! Besok pagi kalian akan dibawa ke peternakan kuda di dekat sini. Kalian semua harus bekerja menghalau kuda. Kalian harus membantu.” Sambil berbicara, ia mencabut pedangnya yang amat besar dan sangat tajam, lalu pedang itu disambar-sambarkannya di udara. Setiap orang yang melihatnya menggigil ketakutan.

Pada saat ayam berkokok keesokan harinya berangkatlah para penjahat itu. Semua tawanan dipaksa ikut serta. Setelah seharian berjalan, para penjahat itu berniat istirahat. Lalu mereka memasang kemah untuk bermalam dan menyalakan api agar tak kedinginan. Muka para penjahat yang bengis terlihat oleh Tohan pada saat api menyala berkobar-kobar.

Tak ada seorang pun penjahat yang memandang Tohan dengan ramah. Pada saat itulah Tohan teringat akan kata-kata ayahnya, “Musik dapat melunakkan orang yang berhati baja sekalipun!”

Dengan diam-diam Tohan mengeluarkan seruling yang selalu dibawa-bawanya. Seruling itu diletakkannya di mulutnya, dan mulailah ia meniupnya. Hampir serentak, suara yang merdu terdengar ke seluruh kemah. Muka para penjahat yang bengis berangsur-angsur memudar.

Tohan meniup serulingnya berkali-kali, setelah merasa agak lelah ia pun berhenti. “Lagi! Lagi!” sekalian penjahat berseru. Tohan merasa gembira bercampur heran ketika diketahuinya bahwa para penjahat itu pun menyenangi musik. Lalu ia pun meniup lagi serulingnya.

Ketika pada akhirnya ia berhenti meniup seruling, kepala penjahat datang menghampirinya dan berkata, “Agar dapat memainkan lagu yang demikian merdu, besok pagi kau boleh pergi ke mana pun kau suka. Adakah yang ingin kaukatakan sebelum berangkat?”

Tohan menengok ke kiri dan ke kanan, melihat kepada Benpo sahabatnya, yang juga jadi tawanan. Sambil menunjuk ke arah Benpo, berkatalah Tohan, “Biarkan aku pergi bersamanya. Dialah sahabatku satu-satunya.”

Kepala penjahat berpaling kepada Benpo dan bertanya, “Apakah kau punya sesuatu kepandaian, wahai sahabat peniup seruling? Coba perlihatkan kepandaianmu!”

Payah Benpo mencari jawabannya. Sesudah beberapa saat, barulah ia menjawab, “Sayang, aku tak bisa apa-apa.” Kumpulan dongeng persahabatan dari Asia ini patut Anda simak kelanjutannya.

“Kalau begitu tak kuizinkan kau pergi,” kata kepala penjahat. “Mereka yang tak punya kepandaian apa-apa, kelak akan jadi penjahat ulung.”

Keesokan harinya Tohan berangkat menunggang kuda pemberian kepala penjahat. Karena sudah tak punya rumah, ia pergi menuruti kuda yang membawanya ke mana-mana. Akhirnya sampailah ia ke sebuah dusun kecil.

Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said
Legenda Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said

Menolong Lewat Tulisan

Tohan segera mengetahui, bahwa seluruh tempat di dusun itu adalah kepunyaan seorang tuan tanah yang kaya-raya. Semua orang di situ bekerja untuk tuan tanah. Tuan tanah tak pernah menggaji mereka, sebagai gantinya mereka hanya di beri beberapa kerat daging, minyak beberapa tetes, garam barang sedikit, dan beberapa lembar daun teh.

Tohan merasa kasihan terhadap orang-orang di dusun itu. Berjam-jam lamanya mereka bekerja keras, akan tetapi upahnya sedikit sekali. Tohan juga mengetahui bahwa di dusun itu hanya tuan tanah yang pandai menulis dan membaca. Dengan demikian tuan tanah mudah saja mengendalikan para pegawainya. Apa yang dilakukannya hanyalah sekadar membubuhkan namanya di atas secarik kertas, lalu kertas itu ditukar dengan makanan oleh para pegawainya.

Tohan pun segera meminta setumpuk kertas, lalu di atas kertas itu ia menuliskan nama tuan tanah untuk diberikan kepada semua orang di dusun itu. Mereka lalu menyerahkan kertas yang telah ditulisi itu kepada penjaga gudang, sebagai gantinya mereka menerima barang-barang dan makanan dari kepala gudang. Cerita rakyat dari Mongolia ini mengajarkan kepada kita pentingnya ilmu dalam kehidupan. Orang yang berilmu dapat membantu lebih banyak orang dan berguna bagi masyarakat daripada orang yang tidak berilmu.

Pada hari itu orang-orang mendapat makanan lebih banyak daripada yang sudah-sudah. Meskipun mereka merasa gembira karena beruntung, akan tetapi mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Tohan. Kemudian, setelah membekali Tohan dengan makanan sebanyak-banyaknya, mereka menyuruh Tohan agar segera meninggalkan dusun itu. Karena bila tuan tanah tabu bahwa Tohanlah yang telah melakukan tipu daya itu, tentu keselamatan Tohan akan terancam.

Menolong Dengan Catur

Cerita rakyat dari Mongolia mengenai kisah hidup Tohan berlanjut. Tohan berpacu dan berpacu lagi, hingga sampailah ia di sebuah kerajaan kecil bernama Sarkhim. Pada saat ia menjalankan kudanya di jalan raya, ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Semua orang terlihat murung dan sedih. Kebanyakan di antara mereka, sedang bermain catur.

Kemudian Tohan menghampiri salah seorang di antaranya dan bertanya, “Mengapa orang-orang di daerah ini tampaknya berwajah sedih?”

Sambil menggeleng-gelengkan kepala, orang itu menjawab, “Bagaimana kami takkan sedih? Raja kami sangat gemar bermain catur. Setiap hari ada saja orang yang ditangkap perajurit kerajaan untuk disuruh bermain catur melawan Raja kami. Jika Raja menang, pasti lawannya akan dibunuh! Telah banyak orang yang menemui ajalnya dengan cara demikian.”

Sambil bercerita orang itu menangis. Dengan menunggang kudanya, Tohan segera Menuju istana Raja. Sesampainya di depan istana, ia segera turun dari kudanya dan mencari jalan di antara kerumunan orang yang kebetulan sedang berkumpul di depan istana itu. Ia meneliti setiap orang yang ada di situ, dan alangkah terperanjatnya Tohan ketika ia melihat sahabatnya, Benpo, sedang dihela oleh dua orang perajurit istana.

Tohan melangkah mendekati sahabatnya itu, lalu bertanya, “Kemalangan apakah yang telah menimpa dirimu, Sahabat?”

Benpo menjawab, “Wahai Tohan sahabatku, kiranya Tuhan telah murka kepadaku. Tak lama setelah engkau pergi meninggalkan para penjahat itu, aku berusaha mencuri kuda mereka, lalu melarikan diri ke kota ini. Keesokan harinya baru aku tahu bahwa aku telah jadi tawanan perajurit Raja. Katanya, kini giliranku bermain catur melawan Raja. Jika aku kalah, tentu habislah riwayatku! Wahai Sahabatku, tolonglah aku!”

Sedang mereka berkata-kata itu, keluarlah Raja dari istananya. la berbadan besar dan gemuk, wajahnya tak pernah tersenyum. Ketika ia melangkah ke luar, air mukanya kelihatan tenang tetapi terasa ada sesuatu yang tak wajar. “Pasang meja, ayo kita main!” bentak Raja.

Sebuah meja kecil segera ditaruh di tempat terbuka di depan istana. Benpo disuruh duduk berhadap-hadapan dengan Raja. “Gerakkan bidakmu!” tiba-tiba Raja berseru. Karena Benpo tak tahu sedikit pun tentang permainan catur, maka anak-anak catur itu hanya sekadar digeser-geserkan saja olehnya. Hanya dengan beberapa gerakan saja, kalahlah Benpo.

Dengan sebelah tangannya, Raja segera menarik tubuh Benpo ke atas, sedangkan tanganny,a yang lain memegang pedang yang sangat tajam. Ketika pedang itu hampir mengenai tubuh Benpo, tiba-tiba ada orang yang berseru. “Baginda, tunggu!” teriak Tohan.

“Perkenankanlah hamba bermain dahulu dengan Baginda sebentar. Kalau hamba kalah, silakan Baginda membunuh kami berdua,” kata Tohan. Tentu saja Raja merasa senang mendapat lawan yang datang tanpa harus disuruh.

“Ayo duduk, dan mulailah,” katanya sambil mengejek.

“Baginda, apa taruhannya bila hamba menang?” tanya Tohan.

“Bukan hanya tolol, tapi kau pun sombong. Tapi biarlah. Kalau kau menang, akan kuhadiahkan apa saja yang kauminta,” kata Raja selanjutnya merasa tak percaya.

Sementara itu orang-orang semakin berkerumun karena ingin melihat pertandingan yang menarik itu. Tohanlah yang mula-mula menggerakkan bidaknya. Gerakan disambut dengan gerakan, berganti-ganti. Di atas papan catur itu terjadilah gerakan-gerakan menyerang dan bertahan, sengit dan seru.

Raja bermain baik, akan tetapi setiap saat Tohan dapat menguasai gerakan anak-anak catur itu. Tohan memperlihatkan kematangan permainannya, dan hingga saat terakhir ia tetap unggul atas lawannya. Akhirnya Raja pun menyerah kalah. Raja naik pitam dan ingin mengamuk. Akan tetapi tak dapat berbuat apa-apa, karena banyak orang yang menyaksikan tatkala ia berjanji untuk mengabulkan segala keinginan Tohan.

“Tak banyak yang hamba inginkan dari Baginda,” kata Tohan kemudian.

“Ayo katakan!” bentak Raja sambil murka.

“Hapuskan hukuman mati di kerajaan,” kata Tohan bersemangat.

“Horeee! Horeee! Horeee!” teriak orang-orang gembira. Raja tak dapat berbuat apa-apa selain menghapuskan hukuman mati dalam kerajaannya. Dengan demikian selamatlah Benpo, sahabat Tohan. Amanat cerita rakyat dari Mongolia ini adalah kepandaian yang Anda miliki berguna untuk menolong diri sendiri dan orang lain. Ilmu dan pengetahuan yang kita miliki bisa menciptakan bagi masyarakat sekitar yang telah kita tolong.

Akan tetapi orang yang merasa paling berbahagia ialah Tohan karena bukan saja ia telah mematuhi cita-cita ayahnya, melainkan juga telah menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan. Demikian blog The Jombang Taste membagikan cerita rakyat Mongolia untuk Anda. Semoga legenda Tohan dan Benpo ini bisa menambah wawasan Anda. Sampai bertemu lagi dalam kumpulan dongeng persahabatan dari Asia berikutnya.

Daftar Pustaka:

Rukingking, Puci. 2008. Kisah-kisah dari Asia. Balai Pustaka: Jakarta.

Bagikan artikel ini melalui:

5 Replies to “Kumpulan Dongeng Persahabatan Tohan dan Benpo, Cerita Rakyat dari Asia Mongolia”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *