Cerita Rakyat Pakistan Tentang Dongeng Burung Bayan Budiman yang Pandai Bicara

Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur: Dongeng Suri Ikun dan Dua Ekor Burung
Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur: Dongeng Suri Ikun dan Dua Ekor Burung

Setiap orang bisa menjadi penolong bagi kehidupan orang lain. Kebaikan yang Anda lakukan hari ini akan bermanfaat bagi kehidupan Anda di masa depan. The Jombang Taste kembali hadir di hadapan Anda dengan artikel cerita rakyat Pakistan yang berkisah tentang cerita dongeng burung bayan budiman yang pandai bicara.

Cerita rakyat Pakistan ini dimulai dengan suatu peristiwa di sebuah hutan di Pakistan, seorang penangkap burung yang miskin telah berhasil menangkap seekor Burung Bayan. Burung itu dibawanya pulang. Namun ketika burung itu akan disembelih untuk dimasak oleh istrinya, burung itu berteriak, “Tunggu! Jangan kaubunuh aku! Bawalah aku ke hadapan Raja, akan kujadikan kalian orang yang kaya!”

Maka pergilah penangkap burung itu bersama istrinya menghadap Raja. Mereka bermaksud menjual burung itu kepada Raja. Raja mengamat-amati burung itu dan Baginda pun segera menyukainya. “Berapa harganya?” tanya Baginda. “Delapan ribu rupee, Baginda, tak boleh kurang sepaisa pun,” sahut burung itu mendahului kata-kata si penangkapnya.

Raja hampir-hampir tak percaya ada burung yang pandai berkata-kata. “Jadi, delapan ribu rupee harganya,” Baginda menyetujui harga itu. Raja menyerahkan uangnya dan mengambil Burung Bayan itu. Dari sini dimulailah berbagai keajaiban kisah dongeng burung bayan yang bisa bicara layaknya manusia.

Betapa senang hati Baginda memiliki seekor burung yang pandai berbicara. Burung itu bukan saja pandai menceritakan segala macam persoalan, termasuk soal politik di dalamnya, bahkan juga tahu menyebutkan nama-nama dewa dalam agama Hindu. Burung bayan itu pun menjadi salah satu teman bercakap-cakap Baginda Raja. Rakyat pun menjadi senang memiliki burung bayan sepandai itu.

Dongeng Burung Bayan

Raja sangat senang dan sayang kepada burungnya itu sehingga lambat laun ia mulai lupa terhadap istri-istrinya. Dengan demikian, istri-istri Raja jadi sangat cemburu kepada burung itu dan mereka bermaksud membunuhnya. Para selir raja kemudian berunding bersama untuk menyingkirkan burung bayan budiman dari kerajaan. Mereka tidak ingin dongeng burung bayan itu mengalahkan kisah kecantikan para istri raja.

Pada suatu hari Baginda keluar dari istananya, pergi berkeliling negeri dalam beberapa hari. Kesempatan itu digunakan oleh istri-istrinya untuk membunuh Burung Bayan itu. Begitu Baginda keluar dari istana, saat itu pula mereka pergi mendapatkan Burung Bayan itu di tempatnya. Mereka mau menjebak burung itu dengan kata-kata.

“Katakanlah, wahai Bayan yang budiman, siapakah gerangan di antara kami yang paling buruk rupanya?” tanya mereka kepada burung itu.

Pertanyaan itu dimaksudkan agar burung itu menyebut nama salah seorang di antara mereka, sehingga dengan demikian mereka dapat membunuh burung itu karena kelancangannya. “Keluarkan dulu aku dari sangkar ini agar dapat melihat semua ratuku dengan jelas,” kata burung itu.

Mereka segera mengeluarkan burung itu dari sangkarnya. Begitu lepas dari sangkarnya, burung itu segera terbang ke udara sambil berkata-kata, “Tak seorang pun dari kalian dapat menandingi kecantikan Putri yang tinggal di seberang laut!”

Beberapa hari kemudian, pulanglah Raja. Ketika ia tahu bahwa Burung Bayan kesayanganya telah hilang, bukan main masgulnya hati Baginda. Tidur tak mau, makan pun enggan. Akhirnya Raja mengambil keputusan, bahwa siapa pun yang dapat mengembalikan Burung Bayan itu akan diberi hadiah yang sangat menarik.

Sekali lagi, si Penangkap Burung yang dulu itu membawa kembali Burung Bayan ke istana Raja. Burung itu segera menceritakan kepada Raja tentang maksud jahat sekalian istri Raja. Demikian besar kasih sayang Baginda kepada burungnya, sehingga setelah mendengar perkataan burung itu, ia mengusir istri-istrinya itu dari istana. Burung bayan lantas hidup tenang disamping kaisar. Raja kembali bisa bercakap-cakap dengan burung bayan mengenai beragam hal.

gambar burung dan bayangannya
Gambar burung bulbul dan bayangannya.

Legenda Putri Cantik Pakistan

Kisah dongeng burung bayan budiman berlanjut. Pada suatu raja bertanya kepada burung bayan mengenai putri cantik yang pernah diceritakannya.

“Katakanlah, wahai Burung yang budiman, benarkah Putri yang ada di seberang laut itu lebih cantik daripada sekalian istriku?” tanya Baginda kepada burung itu.

“Benar, Baginda. Namun sungguh sayang, Putri itu sedang kesepian karena pamannya yang jahat tak membolehkannya mempunyai teman seorang pun. Lebih celaka lagi, pamannya itu akan segera mengawinkan sang Putri dengan Pangeran Hitam, seorang laki-laki yang sangat kejam. Bagindalah yang harus menyelamatkan Putri itu dari tangan pamannya yang jahat itu,” sambung Burung Bayan.

“Tetapi bagaimana cara menolongnya?” tanya Raja selanjutnya. “Naiklah Baginda ke atas seekor kuda semberani. Nanti kutunjukkan jalannya,” kata Burung Bayan menambahkan. Baginda segera naik ke atas punggung kuda semberani, lalu berangkatlah ia.

Burung Bayan terbang agak jauh di muka agar dapat menunjukkan jalan. Mereka terbang bersama-sama menyeberangi laut melalui udara. Tak lama kemudian mereka mendarat dengan selamat di halaman istana tempat tinggal sang Putri. Kebetulan sekali Putri itu sedang berjalan-jalan di taman seorang diri. Cerita rakyat Pakistan terus berlangsung dengan pengalaman burung bayan mengantar raja menemui putri cantik di atas gunung.

Tatkala dilihatnya Putri ada di situ, atas nasihat Burung Bayan, Baginda menaburkan beberapa butir kancing emas ke arah jalan yang akan dituju oleh sang Putri. Kancing emas yang berceceran dan berkilauan tertimpa sinar matahari itu segera menarik perhatian Putri, lalu dipungutnya sebutir demi sebutir. Hingga akhirnya ia pun sampai ke tempat Baginda yang sedang bersembunyi.

“Nah, sudah tiba saatnya. Cepat, bawalah Putri itu terbang,” kata Burung Bayan.

Dengan sekali sambar saja, sang Putri sudah ada dalam pelukan Raja di atas kuda semberani yang segera naik ke udara. Binatang itu mengepak-ngepakkan sayapnya, kian lama kian tinggi juga meluncur ke angkasa.

Karena terlalu gembira, Raja lupa bahwa kuda itu hanya boleh dicambuk satu kali saja. Dengan maksud agar terbang lebih cepat lagi, Baginda mencambuki kudanya berkali-kali. Lambat laun, hilanglah kekuatan sayap, kuda itu, lalu mendarat di dekat hutan kepunyaan Pangeran Hitam.

Sang Putri mendengar anjing-anjing menyalak, ia merasa takut sekali. Tetapi Raja tak tinggal diam, diusahakannya supaya hati sang Putri tetap tenteram. Pada waktu itu Pangeran Hitam sedang berburu, anjing-anjing pemburu milik Pangeran itu segera berlari-lari membawa tuannya ke tempat Putri dan Raja.

Karena tahu bahwa Putri itu calon istrinya, seperti yang dijanjikan pamannya, maka sewaktu Pangeran Hitam menemukan Putri itu ada di hutan, Putri itu segera dibawanya pergi. Sementara itu perajurit-perajuritnya diperintahkannya supaya memukuli Baginda. Demikian hebatnya pukulan-pukulan yang Baginda rasakan dari para perajurit itu sehingga ketika mereka meninggalkannya, Baginda hampir saja mati tak berdaya.

Dongeng Burung Bayan Budiman

Kisah dongeng burung bayan baik hati berlanjut. Hari berganti hari, bulan demi bulan berlalu tak terasa. Selama itu pula Burung Bayan menyembuhkan tuannya dengan perlahan-lahan. Ketika Baginda merasa sudah agak baik, pertama-tama yang ia ingat ialah bagaimana caranya mendapatkan Putri kembali. Tetapi di manakah Putri itu akan didapatkannya?

Sementara itu, sang Putri sedang dijadikan tawanan oleh Pangeran Hitam. Kuda semberani ikut bersama-sama sang Putri, dan ketika Putri melihat kuda itu, ia amat berduka cita. la telah kehilangan Raja yang baik budi dan Burung Bayan yang pandai berbicara. la berfikir, kalau saja ia dapat menemukan burung yang pandai bicara itu, barangkali Baginda akan didapatkannya kembali.

Setelah beberapa saat berfikir, akhirnya sang Putri mendapat suatu akal. Setiap hari ia menaburkan biji-bijian di dalam taman, agar burung-burung berdatangan nemakannya. Mula-mula hanya sedikit saja burung yang latang untuk memakan biji-bijian itu. Namun kian lama kian banyak jua yang berdatangan.

Berita tentang seorang Putri yang suka memberi makan, tersebar di kalangan burung-burung. Lama-kelamaan berita itu sampai juga ke telinga Burung Bayan yang pandai bicara itu. Setelah mendengar berita itu, Burung Bayan segera terbang untuk menjumpai Putri yang baik budi itu.

Sang putri gembira bukan buatan, tatkala berjumpa dengan Burung Bayan. “Wahai Burung yang budiman, bagaimana kabar tuanmu? Di manakah Baginda sekarang?” tanya Putri itu.

“Baginda dalam keadaan selamat dan tinggal tak jauh dari sini. Namun tubuhnya masih lemah, belum bisa mengangkat kaki,” ujar burung itu.

“Tunggu sebentar, kuambil dulu kuda semberani yang telah pulih kekuatannya. Sesudah itu marilah kita berangkat bersama-sama untuk menyelamatkan Baginda,” bisik Putri hati-hati.

Setelah berkata demikian, pergilah sang Putri masuk ke dalam istana. Tak lama kemudian, Putri datang kembali bersama kuda semberani. “Sekarang tunjukkanlah jalan, wahai Burung yang budiman,” kata sang Putri sambil naik ke atas punggung kuda semberani.

Maka terbanglah Burung Bayan diikuti oleh Putri dari belakang. Sesaat kemudian, mereka tiba di hutan di mana Baginda beristirahat. Bangkitlah kegembiraan Baginda ketika melihat Putri kembali padanya.

“Cepatlah, mari kita tinggalkan tempat kata sang Putri. Raja segera duduk di atas punggung kuda bersama-sama Putri, lalu segera terbang ke udara pulang dengan selamat ke istananya. Akan halnya Burung Bayan, ia tetap tinggal di istana menemani Baginda dan sang Putri, tetap setia hingga akhir hayatnya. Kesetiaan burung bayan kepada sang raja tidak terbenti sampai ia meninggal dunia.

Amanat cerita rakyat Pakistan mengenai dongeng burung bayan baik hati ini adalah mengajarkan kita agar tetap berbuat baik kapan saja. Jangan pernah putus asa berbuat kebaikan meski banyak orang yang tidak menyukai Anda. Selain itu, pesan moral kisah legenda burung bayang budiman dan Raja Pakistan ini mengajarkan kita arti kesetiaan hidup kepada orang yang kita hormati. Jangan pernah merusak kepercayaan orang lain karena hal itu akan merugikan diri kita sendiri.

Demikian The Jombang Taste membagikan kisah dongeng burung bayan budiman kepada Anda. Semoga cerita rakyat Pakistan ini bisa menambah wawasan Anda.

Daftar Pustaka:

Rukingking, Puci. 2008. Kisah-kisah dari Asia. Balai Pustaka: Jakarta.

Bagikan artikel ini melalui:

3 Replies to “Cerita Rakyat Pakistan Tentang Dongeng Burung Bayan Budiman yang Pandai Bicara”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *