Legenda Raja Arief Imam dan Komala Shakti dari Kerajaan Syahiful Dasa (Bagian 3)

Gambar Ilustrasi Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said
Gambar Ilustrasi Hikayat Raja Arief Imam by Hidayat Said

Baca cerita sebelumnya: Legenda Raja Arief Imam dan Komala Shakti dari Kerajaan Syahiful Dasa (Bagian 2)

Ulama Hasan terus menuju ke arah Utara. Akhirnya sampai di sebuah sungai yang besar. Sebelum menyeberangi sungai yang besar itu ia duduk di tepi untuk melepaskan lelah. Ditatapnya ke semua penjuru dan keadaannya lengang.

Tidak antara lama, dari tempat duduknya terdengar suara tangis anak yang memilukan. Ulama Hasan mendengar suara itu. Ia menjadi terperanjat. Ia bergumam: “Mengapa di tempat yang sesunyi ini ada tangis seorang anak?”

Kemudian dicarinya dari mana arah tangis itu. Ia menuju ke arah Utara. Dan terpaksa Ulama Hasan harus masuk ke dalam hutan. Ulama Hasan menginjakkan kakinya di tempat yang baru satu kali dikenal itu. Dalam hati sebenarnya ia takut. Tetapi karena terpaksa, ia harus melakukan.

Dari kejauhan tampaklah seorang anak kecil yang sedang menangis. Ia berjumpa seorang yang berbadan kuat dan kekar. Ulama Hasan berhenti sejenak untuk mengamati keadaan itu. “Hai, diam anak nakal! Kau jangan mengganggu aku. Pergilah dari tempat ini!” bentak orang kuat itu keras-keras.

“Hua, hua, hua. Aku lapar. Aku minta makan,” seru anak kecil sambil menangis.

“Ayo, diam! Kalau tidak diam, kupukul kau!” ancam orang kuat sambil memegangi lengan anak kecil.

Dengan langkah berhati-hati, ulama Hasan menghampiri tempat mereka. Orang kuat yang berbadan kekar itu berpakaian putih. Pakaian itu terbuat dari kulit serigala yang diburu sendiri di dalam hutan. Dengan pakaian itu menambah kesan, seakan-akan manusia kekar itu benar-benar penghuni asli dari hutan. Dengan tombak di tangan ia berdiri nampak angker dan garang.

Sesampai di tempat mereka, Ulama Hasan dengan lemah lembut menyapa: “Maaf, saudara. Siapakah gerangan nama saudara? Kenapakah anak kecil itu menangis?”

“Aku adalah yang menguasai hutan ini. Siapa namamu?” sambung orang kuat dengan sombongnya.

“Ooo, begitu. Nama saya Hasan Safei,” sahut Ulama Hasan.

“Ada maksud apa kau datang?”

“Saya sedang berkelana. Kebetulan pada saat saya duduk melepaskan lelah, terdengarlah tangisan anak. Untuk itu saya datang mencarinya. Saya bermaksud akan menolong.”

“Begitu maksudmu. Dari mana asalmu?” tanya orang kuat ingin tahu.

“Saya datang dari kerajaan Syahiful Dasa. Suatu kerajaan yang jaraknya dari sini kira-kira 200 km.”

 “Kenapa kau sampai ke tempat ini?”

“Ooo, itu. Saya datang hanya untuk berkelana saja,” sambung Ulama Hasan.

“Berkelana?”

“Demikianlah!” sahutnya singkat.

“Mengapakah anak kecil ini menangis? Apakah anak ini putera anda?”

“Tidak tahu, aku. Anak ini datang sendiri dan mengganggu tidurku. Kalau tidak salah, anak ini cucu dari Eyang Said yang terletak di bukit seberang sana,” orang kuat itu menerangkan.

“Kalau begitu… ” ujar Ulama Hasan, tidak meneruskan. Ia ragu-ragu.

“Apa maksudmu?”

“Kalau begitu, bolehkah anak itu kuantarkan ke rumah Eyang Said?” pinta Ulama Hasan sopan.

“Ah, boleh. Kenapa tidak? Itu kan bukan anakku,” sahut orang kuat tegas.

Mendengar ucapan itu Ulama Hasan kemudian meletakkan tongkat dan tas yang didukungnya. Dibukanya bekal yang dibawanya. Dari tas dikeluarkannya nasi dan lauk serta beberapa buah pisang. Lalu barang-barang diberikan pada orang kuat itu.

“Inilah barang sedikit untukmu. Makanlah secukupnya,” ujar Ulama Hasan menyilakan makan. Tidak lupa pula anak kecil itu pun diberinya makan dan sekonyong-konyong ia berhenti menangis.

“Ah apa itu?”

“Ini nasi, ini lauk dan ini buah pisang!” sahutnya sopan.

Tidak lama kemudian semua makanan itu habis. Karena merasa telah diberi oleh Ulama tua itu, maka orang kuat akan membalas jasa Ulama itu.

“Hai pak Hasan, kalau kau jadi mengantar anak kecil ini, aku bersedia mengantar ke desa asal anak kecil itu,” kata orang kuat.

“Benarkah kata-katamu?” tanya ulama Hasan ingin tahu dengan pasti.

“Benar! Kalau sudah siap, mari. Kita berangkat sekarang juga,” sahutnya tegas.

“Berapa lamakah perjalanan ke desa itu?” tanya ulama Hasan lagi.

“Kalau melewati jalan biasa, kira-kira sehari penuh. Tetapi kalau memotong, hanya setengah hari. Yang jelas jalan memotong itu agak sulit ditempuh. Tetapi aku sudah biasa ke sana.”

“Kalau begitu, tolonglah aku. Temanilah aku ke suatu tempat yang agak dekat dengan desa itu,” pintanya sopan.

“Baiklah, sekarang juga kuantar!” kata orang kuat.

Sementara itu Ulama Hasan berdiri sambil memanggul tas dan memegangi tongkatnya. Anak kecil itu didukung oleh orang kuat. Orang kuat itu berjalan di muka. Sedang ulama Hasan berjalan di belakang, mengikuti langkah orang kuat.

Sambil melangkah ulama Hasan terus saja mengamati anak kecil itu. Dalam hati Ulama bertanya: “Mungkinkah anak ini yang menjadi harapanku?”

Memang, dalam kenyataannya anak kecil itu parasnya tampan. Kulitnya bersih dan mempesonakan siapa saja yang melihatnya. Bagi Ulama Hasan perjalanan yang cukup sulit ini sangat melelahkan. Namun demikian, ditahannya segala perasaan yang sedih. la ingin agar cepat bisa menghadap orang tua anak kecil itu.

Dari kejauhan tampaklah cahaya dari sebuah tempat yang terletak agak tinggi. Di situlah tempat yang akan mereka tuju. Pada saat itu hari sudah malam. Dari kejauhan tampak ada beberapa orang yang membawa obor. Kiranya mereka mencari anak kecil yang hilang.

Melihat keadaan itu, orang kuat berkata: “Hai. pak Hasan. Berhubung desa yang kau cari sudah tampak, maka aku akan kembali.”

“Oooo, begitu? Terimalah bekalku ini. Aku pun berterima kasih atas jasamu,” sambung Ulama Hasan sopan.

“Baik, Pak Hasan. Selamat berpisah!” katanya.

Cepat-cepat ia masuk hutan, sesudah anak kecil yang tidur nyenyak itu diserahkan pada Ulama Hasan. Anak kecil itu beralih ke punggung ulama Hasan. Kemudian ulama Hasan meneruskan perjalanan. Jalan yang dilalui sudah mulai datar.

Sesampai di sekitar pekarangan, ia berjumpa dengan beberapa orang peronda. Mengetahui ada seseorang yang mendukung anak kecil, maka Ulama Hasan ditegur ketua rombongan peronda.

“Siapa, itu! Hai, berhenti! Mengapa malam-malam berada di sini?”

“Saya adalah Hasan Safei. Saya ingin menghadap Eyang Said,” sahut pak Hasan sopan.

“Jangan. Jangan ke situ. Di pertapaan baru ada keributan. Mungkin kedatanganmu nanti akan mengganggu.”

“Kalau mungkin bisa, tolonglah saya. Saya akan mengantarkan anak kecil yang saya ketemukan ini,” sahut ulama Hasan.

“Anak kecil?”

“Benar, anak kecil!”

“Kalau begitu, tunggulah di sini, akan saya laporkan kepadanya,” sahut ketua peronda itu.

Sementara itu Ulama Hasan duduk. Kecuali melepaskan lelah, juga menanti keterangan dari perenda.

Tidak antara lama ketua rombongan peronda datang kembali. la berkata: “Bapak diijinkan menghadap.”

“Terima kasih, Pak!” sahut Ulama Hasan puas.

Kemudian ia pergi menghadap Eyang Said. Sedang anak kecil yang didukung itu ditidurkan secara berhati-hati. Para pengikut Eyang Said dan Eyang Said sendiri tercengang.

“Eyang Said, terimalah sujud hamba,” ujar ulama Hasan sopan.

“Baik. Pak!” sahutnya.

“Lalu siapakah namamu? Juga, dari mana asalmu?” tanya Eyang Said lebih lanjut.

“Hamba bernama Hasan Safei. Dan berasal dari kerajaan Syahiful Dasa,” sambung ulama Hasan sopan.

Kemudian diceritakan tentang maksud kedatangannya. Ia menceritakan pula tentang anak kecil itu. Setelah mendengar cerita Ulama Hasan Safei, Eyang Said berkata: “Ooo, begitu!”

“Jadi, cucuku telah kau tolong dan kau serahkan padaku.”

“Betul, Eyang. Memang demikian halnya,” sambung ulama Hasan.

“Kalau begitu, aku mengucap banyak terima kasih!”

“Baik. Eyang. Itu soal biasa bagi hamba,” sambung ulama Hasan lagi.

Tidak antara lama Eyang Said memberi perintah pada para pengikutnya, agar membunyikan tambur tiga kali. Suatu tanda bahwa cucunya telah kembali dengan selamat. Perintah itu lalu diindahkan oleh para pengikutnya. Mereka bersyukur atas kembalinya cucu Eyang Said. Sebagai tanda gembira, maka mereka beramai-ramai untuk makan minum ala kadarnya.

Suasana gembira berlangsung beberapa lama. Sesudah selesai makan minum, Eyang Said berkata: “Pak Hasan, sekarang beristirahatlah. Hari sudah larut malam. Tentunya kau lelah dalam perjalanan yang sejauh itu.”

“Baik, Eyang Said,” jawab Ulama Hasan dengan sopannya. Kemudian ia diantar oleh para pengikutnya.

Eyang Said ke sebuah kamar. Setelah masuk, maka semua perabot perjalanan diletakkan. Tidak lama kemudian Ulama Hasan merebahkan diri di atas tempat tidur. Karena lelahnya, cepat ia tertidur dengan pulas. Pagi-pagi benar kira-kira pukul empat dini hari ia baru hangun dari tidurnya. Badannya terasa segar bugar. Hilanglah semua rasa ngilu pada kakinya.

Bersambung ke: Legenda Raja Arief Imam dan Komala Shakti dari Kerajaan Syahiful Dasa (Bagian 4)

Referensi: Kasim, Umi dan Mar. 1977. Raja Arief Imam. Jakarta: CV. Kurnia Esa.

2 Replies to “Legenda Raja Arief Imam dan Komala Shakti dari Kerajaan Syahiful Dasa (Bagian 3)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *