Legenda Raja Dabsyalim Memerintahkan Baidaba Mengarang Cerita Hikayat

Dongeng Aji Bonar yang jago bermain gasing
Dongeng Aji Bonar yang jago bermain gasing

Halo kawan blogger Jombang! The Jombang Taste kembali melanjutkan rangkaian cerita motivasi dari hikayat Kalilah dan Dimnah. Buku jadul terbitan Balai Pustaka ini mengandung amanat cerita yang bagus untuk kita renungkan. Isi cerita hikayat ini salah satunya mengkisahkan bagaimana awal mula Raja Dabsyalim memerintahkan Baidaba menulis sebuah buku yang mampu menginspirasi banyak bangsa di dunia.

Berikut ini cerita lanjutannya…

Berkat kecakapan Bidaba mengemukakan pemerintahan negeri, bersenang hatilah seluruh rakyat Hindustan, dan sentosalah Raja Dabsyalim duduk dalam istana dengan segala kenikmatan. Maka terluanglah waktu untuk baginda memeriksa kitab-kitab karangan cerdik pandai Hindi zaman raja-raja dulu, yang ditulis dengan titah raja-raja itu.

Lalu terniatlah di hati baginda supaya untuk baginda pun ada dikarangkan sebuah kitab, menceritakan zaman pemerintahan baginda, yang jadi peringatan bagi nama baginda di kemudian hari. Dan terasa sudah oleh baginda, bahwa tiada yang cakap mengerjakan pekerjaan itu melainkan Baidaba jua. Lalu baginda menyuruh memanggil Baidaba.

Setelah datang, bersabdalah baginda, “Hai guru Yang arif bijaksana, orang cerdik dalam negeri. Kita telah memeriksa gudang pengetahuan yang didirikan raja-raja yang dahulu, maka nampak kepada kita, tidak seorang juga dari mereka yang tidak mempunyai sebuah kitab, yang dikarangkan untuk menceritakan keadaan masanya, cara pemerintahannya, dan sebagainya.”

Raja Dabsyalim Meminta Baidaba Menulis

Raja Dabsyalim kembali berkata, “Di antaranya ada yang dikarang raja-raja itu sendiri, ada pula karangan orang pandai-pandai zamannya. Oleh karena itu timbul kuatir dalam hatiku kalau-kalau datang pula kepada kita apa yang telah datang kepada mereka itu dahulu, yang tiada dapat dielakkan, pada hal belum ada dalam perbendaharaan kita sebuah kitab pun juga yang akan menjadikan kita diingat orang kemudian hari, sebagai raja-raja yang dahulu itu.

Sebab itu sangat ingin hati kita supaya guru mengarangkan sebuah Kitab bagi kita, yang sedap dibaca, pada lahirnya berisi nasihat bagi orang banyak, tetapi pada pimpinan untuk memperbaiki laku raja-raja dan pemerintahannya atas hamba rakyatnya. Sehingga mudah rakyat menurut perintah, dan hilang beberapa kesulitan terasa, baik oleh raja maupun oleh rakyat. Maksudku supaya kitab itu kekal menjadi kenangan bagi namaku selama-lamanya.”

Mendengar titah baginda itu, sujudlah Baidaba, sesaat kemudian diangkatkannya kepalanya sambil berdatang sembah, “Ampun, Tuanku, barang bertambah tinggi juga kiranya bintang kesejahteraan Tuanku senantiasa hari, lenyap segala kesusahan dan lanjut usia Tuanku dalam bahagia. Nyatalah budi Tuanku yang tinggi dan kecerdasan yang utama itu yang sempurna juga yang telah menggerakkan hati Tuanku kepada maksud yang Mudah-mudahan dikekalkan  ditolongnya segala cita-cita Tuanku. Maka bertitahlah tuanku dan hamba junjung.

Baidaba Mulai Menulis Cerita

Baidaba lalu memanggil murid-muridnya, “Ketahuilah hai murid-murid,” katanya, “raja kita telah kepadaku mengerjakan suatu pekerjaan yang akan jadi karya besar bagi kamu. Supaya pekerjaan itu lebih sempurna kukerjakan, kupanggil kamu bersama-sama bermufakat.”

Mendengar cerita murid-murid itu terdiam, seorang pun tiada yang dapat menyahut. Mengertilah Baidaba, bahwa beban yang diserahkan raja itu tiada akan sempurna, tanpa membulatkan pikirannya. Teringatlah ia kepada kapal yang berlayar di laut lepas, selamatlah pelayarannya karena ada nakhoda yang berkuasa seorang diri.

Apabila banyak yang berkuasa, tentu binasalah kapal itu, tak sampai ke tempat yang dituju. Karena itu diputuskannyalah mengarang kitab itu seorang diri, dibantu oleh seorang murid yang di antara muridnya yang banyak itu. Ia pun lalu mengunci ruang baca berdua dengan muridnya itu dalam sebuah rumah, seorang pun tidak diizinkan masuk, dan dimulailah mengarang.

Ia menyebutkan dan muridnya menulis. Tatkala genaplah sudah setahun, raja pun menitahkan orang pergi Baidaba menanyakan sudahkah sempurna apa yang diperintahkan kepadanya dulu itu?

“Saya tidak mungkir janji,” jawab Baidaba “Tetapi sebelum kitab itu saya persembahkan kepada raja, hendaklah baginda menghimpunkan rakyat di balairung lebih dulu, supaya saya bacakan kitab itu di hadapan isi negeri.”

Tiadalah terperikan kegirangan hati baginda mendengar suruhan itu menyampaikan permintaan Baidaba dan diberitahulah penduduk negeri supaya esok hari datang beramai-ramai ke balairung. Keesokan harinya berhimpunlah hamba rakyat, dan raja pun menyuruh membuatkan sebuah kursi untuk Baidaba, serupa singgasana baginda.

Rakyat Menyukai Tulisan Baidaba

Setelah semuanya bersiap dan telah berkumpul di aula, bertitahlah baginda menyuruh memanggil Baidaba. Maka memakailah Baidaba pakaian kebesarannya, dan disuruhnya muridnya menjunjung kitab itu. Saat ia masuk ke balairung, berdirilah orang banyak memuliakan kedatangannya dan raja pun berdiri juga. Setelah dekat ke hadapan singgasana raja, sujudlah Baidaba, sejurus lamanya tiada juga diangkatnya kepalanya.

Maka bersabdalah baginda, “Hai guru, angkatlah kepala guru. Hari ini ialah hari gembira, hari bersuka raya.” Lalu dititahkan baginda ia duduk. Maka duduklah Baidaba, dan mulai ia membaca karangannya itu. Dalam ia membaca itu kerap kali baginda bertanya kepadanya apa maksud tiap-tiap bab yang dibacanya itu, dan apa kias ibaratnya. Pertanyaan baginda itu dijawab Baidaba dengan sebaik-baiknya.

Selesai pembacaan, bersabdalah baginda, “Hai Baidaba amat sempurna sekali perintah kita guru kerjakan, sedikit pun tiada cacat celanya. Sebab itu patut kita memberi hadiah kepada guru, pilihlah apa yang guru kehendaki.”

“Harap diampuni hamba yang hina ini,” sembah Baidaba, “Adapun harta, tidalah gunanya bagi hamba. Dan pakaian, tiadalah patik akan menukari pakaian ini dengan yang bagaimana baguspun demikian ada pinta kepada Tuanku.”

“Katakanlah supaya kita dengar” “Permintaan patik tiada lain hanyalah supaya karangan patik ini Tuanku pelihara dengan sebaik-baiknya, seperti karangan raja-raja Parsi dan yang dicurinya.” dulu itu juga. Patik takut kalau-kalau karangan itu diketahui bangsa Mendengar itu sukacitalah raja, dan dipanggil oleh baginda murid-murid Baidaba, lalu dianugerahi baginda hadiah dengan sekadarnya.

Demikianlah cerita legenda Baidaba dalam menulis isi cerita hikayat Kalilah dan Dimnah untuk Raja Dabsyalim. Anda dapat membaca cerita hikayat ini selengkapnya melalui buku cetak Kalilah dan Dimnah yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Amanat cerita hikayat ini adalah kepintaran otak dapat mengalahkan kekuatan otot. Selain itu, amanat berikutnya adalah diperlukan kesabaran dalam mendidik masyarakat agar berperilaku santun. Semoga terinspirasi.

3 Replies to “Legenda Raja Dabsyalim Memerintahkan Baidaba Mengarang Cerita Hikayat”

  1. Hikayat yang bagus. Ayo tulis lebih banyak artikel sastra lama mas supaya makin banyak anak muda kenal hikayat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *