Takbiran Tetap Rame Meski Banyak Gangguan di Jalan

Ratusan manusia memadati jalanan kampung Guwo tadi malam, Kamis 14 Juni 2018. Mereka telah bersiap mengikuti acara takbir keliling dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriyah. Anak-anak sudah berkumpul di depan Masjid Baitussalam sejak selesai sholat maghrib. Namun mereka harus bersabar menunggu pengumuman resmi dari tokoh agama dan Pemerintah mengenai penetapan tanggal 1 Syawal. Sambil menanti pengumuman, mereka tak henti membuat kegaduhan khas dunia anak-anak. Beberapa anak datang ke rumah saya dan meminta pembagian oncor, sebutan obor dalam bahasa Jawa. Puluhan oncor telah disiapkan oleh Bapak, lengkap dengan isi solar dan kain sumbu. Mereka tampaknya tidak sabar menunggu acara takbir keliling desa.

Menjelang sholat isya beredar pengumuman tanggal 1 Syawal jatuh pada hari Jumat tanggal 15 Juni 2018. Pemuka agama segera memimpin sholat isya’ di masjid dan diikuti segenap warga yang sudah bersiap membayar zakat sejak satu jam sebelumnya. Anak-anak dan orang dewasa berjalan kaki menuju halaman Musholla Baiturrohman. Mereka menata diri dalam barisan takbir keliling. Mobil penyeru takbir berada di barisan terdepan diikuti anak-anak kecil. Sedangkan kelompok penabuh musik patrol modern berbaris pada posisi paling belakang. Para peserta takbir keliling mulai berjalan berarak pada pukul setengah delapan malam. Sambil membawa obor, mereka melantunkan takbir bersama.

Gangguan sound system muncul di tengah acara takbir keliling. Pengeras suara yang dipakai Cak Latif tiba-tiba tidak dapat berfungsi. Tak lama kemudian gangguan ini bisa diatasi panitia. Namun tidak begitu jauh mobil berjalan, muncul gangguan berikutnya yaitu lampu penerangan padam. Usut punya usut, ternyata akar permasalahan ada pada sumber listrik genset. Genset tidak menghasilkan arus listrik dengan baik. Hmm, kalau tahu begini saya akan membawa mini sound system yang baru saya beli saat persiapan bukber santri TPQ Al-Mujahiddin kemarin. Apa daya semua sudah terjadi. Saya dan para peserta takbir cuma bisa menggumam pelan. Sesekali ada beberapa remaja jail mencari perhatian massa dengan cara melemparkan mercon ke sisi barisan peserta takbiran. Gangguan kecil ini cukup mengganggu kenyamanan peserta takbiran. Saya pun membagikan kupon undian takbiran secara gratis kepada peserta takbir keliling.

Para peserta takbir keliling mencapai garis finish pada jam delapan malam. Mereka berkumpul di teras Musholla Baiturrohim untuk melepas lelah. Panitia mengumumkan agar para peserta takbir keliling menyobek salah satu sisi kupon dan dikumpulkan ke panitia. Sepuluh menit kemudian semua kupon telah tersobek setengah dan terkumpul di kardus panitia. Pembacaan nomor-nomor kupon yang beruntung pun dimulai. Satu demi satu nomor yang terpilih disebut. Sebanyak 50 nomor dari 900 nomor kupon telah disebut. Masing-masing penerima hadiah merasa bergembira atas perolehan mereka. Pembagian hadiah dari kupon takbiran telah selesai dilakukan tepat pada pukul sembilan malam. Para peserta pun mulai meninggalkan halaman musholla dan kembali pulang.

Saya melanjutkan kegiatan pembacaan takbir di masjid. Telah ada beberapa anak kecil di masjid. Mereka sedang memegang mikrofon seraya mengucap takbir. Saya menunggu aksi mereka di ruang utama masjid. Sesekali mereka bercanda dengan teman-temannya. Lafadz takbir yang mereka ucapkan masih belum lengkap dan ada beberapa bacaan yang salah. Saya pun segera membuka google dan mencari info teks takbiran secara lengkap. Usai mendapatkannya, saya menunjukkan teks takbiran itu kepada salah satu anak untuk dibaca. Mereka membaca perlahan dan agak grogi. Saya menemani mereka membaca takbir sampai jam sepuluh malam. Sesekali saya ikut membaca takbir dengan teks lengkap dan variasi lagu yang berbeda. Setelah jam sepuluh malam, saya mulai mengantuk dan tak tahan ingin segera tidur.

Pelaksanaan takbiran idul fitri di Dusun Guwo tahun ini memang relatif lebih sepi dari biasanya. Tidak ada persiapan khusus untuk perhelatan hari istimewa ini. Musyawarah persiapan ibadah Ramadhan yang digelar sebelum bulan puasa lalu hanya menyepakati lokasi awal pemberangkatan takbiran. Rapat warga saat itu belum membahas hal-hal penting penunjang kegiatan takbiran, misalnya jenis lomba, pembuatan kupon undian, anggaran dana, sumbangan dana takbiran, dan konsumsi takbiran. Tidak ada rapat lanjutan untuk mengkoordinasi acara takbiran supaya sukses. Selama bulan puasa ini pun saya diam saja menyaksikan drama pertengkaran pemuka agama. Saya sengaja tidak melakukan inisiatif mengadakan rapat lanjutan. Saya ingin melihat kinerja orang-orang yang banyak usul di acara musyawarah di masjid apakah mereka bisa bekerja menata warganya. Hasilnya sungguh mengecewakan.

Belum ada rapat lanjutan sampai satu hari menjelang pelaksanaan takbiran. Akhirnya saya pun terpaksa campur tangan membantu panitia pelaksana. Ini bukan hal yang saya inginkan. Kondisi Dusun Guwo sungguh memprihatinkan saat ini. Kepala Dusun apatis, Pak Modin cuek bebek, para takmir masjid dan musholla rebutan harga diri, dan para remaja masjid tidak memiliki daya kreasi mengembangkan event PHBI. Akibatnya adalah kegiatan agama di kampung disusupi oleh para pemain politik praktis. Mereka mengatasnamakan agama untuk melancarkan aksi massa. Padahal dibalik tindakan itu ada motif politik yang terselubung menjelang Pilkada 27 Juni 2018 nanti. Saya benci perbuatan demikian. Tidak ada satupun tokoh masyarakat dan tokoh agama di dusun ini yang sekarang bisa saya percaya di hari raya Idul Fitri tahun ini. Semoga keadaan ini tidak berkelanjutan.

Bagikan artikel ini melalui:

15 Replies to “Takbiran Tetap Rame Meski Banyak Gangguan di Jalan”

  1. Suka nggak suka pasti ada. Nggak usah direken mas. Semua pasti ada hikmahnya. Selamat hari raya. Mohon maaf lahir batin.

  2. Hidup bertetangga pasti ada konflik, entah besar ataupun kecil. Jgn lupa saling membuka pintu maaf di bulan Syawal ini. Kosong-kosong seperti awal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *