Awas Terjebak Syndrome Romansa Mahasiswa Abadi!

Kunjungan Mahasiswa Ekonomi Islam UNHASY Tebuireng Jombang ke Bank Indonesia Kantor Wilayah Jawa Timur di Surabaya
Kunjungan Mahasiswa Ekonomi Islam UNHASY Tebuireng Jombang ke Bank Indonesia Kantor Wilayah Jawa Timur di Surabaya

Masa menjadi mahasiswa dan kuliah di perguruan tinggi adalah waktu yang menyenangkan sekaligus membanggakan bagi kebanyakan remaja masa kini. Terasa menyenangkan karena saat kuliah itulah jati diri dan karakter seseorang terbentuk. Terasa membanggakan karena label mahasiswa memiliki prestise tinggi di masyarakat. Tidak semua pemuda mampu kuliah di perguruan tinggi, entah perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Masa kuliah menjadi waktu yang tepat dalam melegalkan budaya hedonis dan hura-hura di kalangan remaja. Apapun perbuatannya bisa dimaklumi atas dasar kebebasan iklim demokrasi dan memanfaatkan momentum ledakan ekspresi terselubung. Hanya sebagian kecil mahasiswa yang benar-benar serius kuliah, itupun karena tuntutan biaya karena kuliah gratis bidikmisi.

Begitu baju toga terpakai, lupakan semua romansa masa mahasiswa. Sekalipun Anda adalah sosok hebat dibalik perkembangan organisasi mahasiswa, lupakan semua jasa Anda. Pakaian toga yang Anda kenakan saat wisuda adalah seperangkat instrumen yang diharapkan mampu menyadarkan Anda untuk mengamalkan ilmu dan pengetahuan.

Anda bukan makhluk jenius yang pandai berteori dan merangkai kata menjadi kalimat. Anda adalah subyek perubahan budaya di lingkungan masyarakat. Jika waktu empat tahun kuliah Anda isi dengan hura-hura resmi remaja, maka topi toga adalah penutup segala kesalahan masa lalu sekaligus alat berteduh dari ujian kehidupan di bawah panas dan hujannya lingkungan nafas Anda.

Tak salah jika para penulis mengibaratkan mahasiswa jenis tersebut terkena penyakit syndrome romansa mahasiswa abadi. Mereka tidak mampu menerima kenyataan bahwa waktu bersenang-senang di kampus sudah usai. Mereka lupa bahwa ada tugas pengabdian masyarakat yang lebih besar tanggung jawabnya daripada Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Perubahan yang sangat drastis berikutnya adalah para alumni mahasiswa harus mampu mandiri secara finansial, emosional dan spiritual. Kalimat terakhir inilah tantangan yang paling besar. Sebagian besar mahasiswa masih menggantungkan keuangan mereka pada orang tua. Kini masyarakat menuntut lebih. Anda dituntut berkontribusi secara nyata kepada masyarakat ditempat tinggal Anda.

Bagikan artikel ini melalui:

13 Replies to “Awas Terjebak Syndrome Romansa Mahasiswa Abadi!”

  1. Ayo move on! Belajar adalah keharusan setiap manusia. Tapi jadi mahasiswa jangan lama-lama. Kasihan ortu kasih biaya tiap semester.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *