Pelatihan Pelatih Membaca Al-Quran Beserta Maknanya Dengan Metode Harfun (Hari Pertama)

Kegiatan membaca Al-Quran beserta maknanya makin digemari oleh masyarakat Jombang. Pekan lalu telah dilaksanakan Seminar Moco Qur’an Sak Maknane oleh JQH Mojowarno. Bahkan Pemerintah Kabupaten Jombang telah mencanangkan bahwa dalam kurun waktu 2 tahun mendatang masyarakat Jombang harus telah bebas buta aksara Arab. Harapan Bupati Jombang itu sangat besar mengingat Jombang sebagai Kota Santri telah dikenal sebagai masyarakat yang religius dan patuh terhadap ajaran agamanya.

Senada dengan hal itu maka Harfun sebagai salah satu organisasi yang mengembangkan pendidikan dan pengajaran membaca Alquran mengadakan pelatihan pelatih (training of trainer) Harfun pada hari ini, Sabtu 16 Maret 2019. Pelatihan Harfun dilaksanakan di Balai Diklat Pesantren Tebuireng. Lokasi pelatihan berada satu kompleks dengan SMA Trensains Tebuireng yang berada di Desa Jombok, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Pelatihan ini dilaksanakan oleh Harfun Training Center IKA UNHASY dan diikuti tak kurang dari 30 orang peserta.

Sambutan Direktur Harfun

“Pelatihan pelatih Harfun dilaksanakan untuk merespon permintaan Bupati Jombang terhadap tawaran proposal Ikatan Alumni Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng (IKA UNHASY) tentang pelatihan membaca al-quran beserta maknanya,” demikian disampaikan oleh Achmad Saychu Buchori selaku Direktur Harfun saat memberi sambutan awal.

“Respon luar biasa alumni UNHASY terhadap acara ini sungguh sangat membanggakan. Kuota 30 peserta terpenuhi dalam waktu hanya satu hari,” demikian ditambahkan oleh pria yang akrab disapa Gus Daichi ini.

“Peserta pelatihan ini tidak dibebani biaya. Meski demikian terdapat nilai keberkahan di dalamnya karena para peserta pelatihan ini adalah para pengasuh pondok pesantren di berbagai kota di Jawa Timur,” ucap Gus Syaichu pada sambutan yang pertama.

Sambutan Ketua IKA UNHASY

Sambutan kedua diisi oleh Ketua IKA UNHASY, Dr Hanifuddin. Beliau menyatakan bahwa teknologi digital memudahkan koordinasi pengurus IKA UNHASY untuk melaksanakan persiapan acara ini dengan sukses.

“Dari 3000 kali kegiatan pelatihan yang telah kami lakukan, hanya ada dua kali pelatihan gratis yang diminati masyarakat. Hal ini menggambarkan bahwa untuk melihat antusias peserta perlu adanya dorongan dan motivasi lebih. Para peserta yang bersedia membayar biaya pelatihan mahal biasanya lebih serius untuk mengikuti pelatihan,” demikian ujar pria yang juga menjabat sebagai pengasuh Pesantren La Raiba Hanifida itu.

Motivasi dari Wakil Rektor

Sementara itu sambutan Wakil Rektor III Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng, Muhammad Muhsin Kasmin menjadi pembuka pamungkas pada pembukaan acara pelatihan Harfun hari ini. Beliau berujar mengenai pentingnya jaringan alumni dalam membangun masa depan sebuah perguruan tinggi.

Pria yang akrab disapa Abah Muhsin ini lantas bercerita bahwa pada 25 Juni 2013 UNHASY Tebuireng kesulitan mendapatkan calon mahasiswa baru. Kebanyakan lulusan MA, SMK dan SMA tidak tertarik dengan profil Universitas Hasyim Asy’ari yang identik sebagai kampus guru agama.

“Oleh karena itu segenap civitas akademika universitas melakukan perbaikan terkait daya tarik calon mahasiswa supaya mereka kuliah di UNHASY,” ujar Abah Muhsin.

Menurut Wakil Rektor III UNHASY Tebuireng, calon mahasiswa tertarik dengan kisah sukses para alumni Perguruan Tinggi. Karakter yang harus dimiliki oleh para alumni perguruan tinggi ada tiga, yaitu: bisa berkomunikasi dengan masyarakat, mengetahui permasalahan dirinya, dan bersedia belajar secara otodidak

Dalam mengembangkan sebuah perguruan tinggi, Abah Muhsin Kasmin berujar bahwa terdapat 5 aset yang harus dikembangkan, yaitu:

Pertama, aset spiritual berupa doa para peziarah dan para kiai yang pernah belajar di pondok pesantren Tebuireng.

Kedua, aset organisasi yaitu berupa pengelolaan sistem akademik.

Ketiga,  aset dana SPP dari mahasiswa.

Keempat, aspek sosial yaitu hubungan sosial para petinggi universitas dengan orang-orang yang berpengaruh di negeri ini.

Kelima, aset ide atau pemikiran. Organisasi UNHASY saat ini telah memiliki banyak tokoh berpengaruh di Indonesia.

“Berkat usaha dan kerja keras, UNHASY Tebuireng menjadi perguruan tinggi yang paling banyak menerima mahasiswa baru pada tahun 2018,” demikian klaim Abah Muhsin.

“Selamat berlatih dan selamat bermasyarakat. Semoga sukses dunia akhirat,” demikian sambutan pamungkas Wakil Rektor III UNHASY Tebuireng sekaligus membuka acara pelatihan pelatih Harfun hari ini.

Inspirasi Dr. Miftah Choiri

Materi inti dari pelatihan Harfun di hari pertama dibuka oleh Dr. Miftah Choiri. Beliau berujar bahwa aktivitas pendidikan dan pengajaran melibatkan pengetahuan dan pengalaman para pelaku pendidikan.

“Mengajar tidak semudah yang kita bayangkan. Banyak murid yang tidak bersemangat belajar. Mereka memilih untuk keluar kelas. Kalaupun mereka bertahan di dalam gelas maka biasanya mereka dalam kondisi mengantuk. Jika berada di dalam kelas, kebanyakan siswa jaman sekarang justru membuat kekacauan,” demikian disampaikan Dr. Miftah Choiri.

Narasumber pertama pelatihan Harfun ini menawarkan konsep Quantum Teaching sebagai solusi terhadap metode pengajaran yang lebih menyenangkan bagi siswa. Praktek Quantum Teaching melibatkan interaksi guru dan murid dalam proses pembelajaran.

“Masuklah kita ke dalam dunia mereka dan antarkan dunia kita ke dalam dunia mereka,” demikian ujar pria ramah yang selalu tampil bersemangat ini.

Beliau juga menyarankan agar setiap guru mengakui setiap usaha yang dilakukan oleh murid-muridnya. Jangan pelit memuji sekecil apapun prestasi murid. Agar murid lebih bersemangat belajar makan pengalaman murid perlu dibangkitkan dulu sebelum memulai proses belajar.

Fakta Memprihatinkan Umat Muslim

Selanjutnya narasumber kedua dalam pelatihan pelatih Harfun hari ini adalah Ustadz Yusman El Makmur. Beliau mempertanyakan sejauh mana nilai-nilai Alquran telah diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Contoh sederhana adalah jika disuruh memilih antara 3 buku: komik, novel dan Alquran, maka dalam kenyataannya anak-anak dan remaja bahkan orang dewasa lebih memilih untuk membaca komik dan novel daripada membaca Alquran. Mengapa hal ini bisa terjadi?

“Masalahnya adalah tidak ada alat transformasi yang mendekatkan masyarakat dengan Alquran,” demikian disampaikan oleh Ustadz Yusman dalam membuka wawasan peserta training Harfun di Pusdiklat Pesantren Tebuireng.

Ustadz Yusman berujar bahwa kenikmatan membaca Al-quran saat ini hanya dapat dirasakan oleh sekelompok kecil masyarakat muslim. Tentu saja keadaan ini tidak adil. Bagaimana dengan masyarakat tingkat bawah yang lebih membutuhkan informasi dari Alquran untuk memecahkan masalah mereka?

“Bentuk ketidakadilan ini harus kita hentikan,” ujarnya.

Kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNHASY Tebuireng Jombang
Kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNHASY Tebuireng Jombang

Belajar Qur’an Mudah

Pemateri selanjutnya yaitu Ustadz Achmad Syaichu Buchori. Pria yang akrab disapa Gus Saichu menjelaskan bahwa setidaknya terhadap empat fungsi Alquran untuk dipelajari,  yaitu sebagai penjelas, obat hati, pengingat,  dan petunjuk.

Kebanyakan masyarakat muslim di Indonesia menganggap kegiatan menerjemahkan Al Quran sebagai kegiatan yang sulit dilakukan. Padahal Allah sendiri sudah menjamin kemudahan belajar al-quran sebagaimana tertuang dalam Alquran surat Al-Qomar ayat 54:

Dan sungguh kami mudahkan Al-quran untuk pelajaran. Adakah yang mau mempelajarinya?

Al-quran adalah kitab suci yang mudah untuk dipelajari. Oleh karena itu setiap muslim harus bersemangat untuk mempelajarinya.

“Syarat agar mudah memahami Alquran adalah adanya kemauan dalam diri setiap muslim untuk belajar mendalami Al-quran,” pungkas Gus Syaichu menutup materi pelatihan Harfun di hari pertama.

Acara pelatihan yang dilaksanakan oleh Harfun Training Center IKA UNHASY hari ini berakhir pada pukul 22.15 WIB. Para peserta pun beristirahat untuk persiapan training Harfun hari kedua esok hari.

Bagikan tulisan ini:

5 Replies to “Pelatihan Pelatih Membaca Al-Quran Beserta Maknanya Dengan Metode Harfun (Hari Pertama)”

  1. Sangat sedikit saya jumpai kelompok alumni komunitas yang mau berkumpul dan berbakti serta mengabdikan ilmunya kepada masyarakat.
    semoga Ikatan Alumni Tebuireng ini bisa memberi kontribusi yang nyata untuk pendidikan Islam bagi masyarakat kecil yang tidak tersentuh oleh para akademisi tngkt atas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *