Tarik-menarik Organisasi Massa Islam Jelang Pemilu Serentak 17 April 2019

Pergilah kau dari hadapanku
Pergilah kau dari hadapanku

Tahun 2019 benar-benar menjadi tahun politik yang ganas. Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak pada 17 April 2019 telah dibuka dengan berbagai kebohongan. Drama politik yang menegangkan telah tersaji sejak akhir 2018. Memasuki dua bulan pertama di tahun 2019 kian mengkhawatirkan. Para cebong dan kampret saling serang. Kedua pihak saling mengklaim sebagai pihak yang benar. Rakyat pun disuguhi sajian intrik politik yang bikin kepala geleng-geleng. Aksi saling membuka aib lawan politik seolah menjadi berita biasa di media sosial.

Pemilihan Serentak pada 17 April 2019 akan memilih pasangan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, anggota DPD, anggota DPR RI, anggota DPRD Provinsi, dan anggota DPRD Kota/Kabupaten. Akan ada lima buah surat suara yang akan dicoblos oleh setiap pemilih. Potensi untuk memenangkan pemilu semakin ketat karena dipastikan tidak akan ada pemilu tahap kedua.

Alhasil, Pemilihan Serentak 2019 diprediksi akan menuai beragam masalah akibat beragam kepentingan yang terlibat di dalamnya. Diantara sekian banyak kisruh politik jelang Pemilu adalah tarik-menarik kepentingan antara kubu cebong dan kampret. Kelompok umat Islam adalah segmentasi pemilih yang menjadi rebutan kedua kubu. Lebih khusus lagi perebutan pengaruh politik mengarah ke organisasi massa Islam.

Indonesia memiliki dua organisasi massa Islam terbesar, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Jangan heran bila pengurus NU dan Muhammadiyah makin sering didatangi tokoh partai politik (parpol) akhir-akhir ini. Mereka berkepentingan untuk mengarahkan suara warga. Langkah-langkah koordinasi pun sigap dilakukan. Mereka yang dulunya mengaku tidak butuh suara umat Islam kini tiba-tiba merangkul NU penuh mesra. Betapa munafiknya politik demikian itu.

Seperti halnnya penulis mendapatkan undangan doa bersama di dusun tetangga. Bukan hanya diundang untuk hadir, penulis juga dimasukkan ke dalam rancangan susunan PBNU Ranting sebagai sekretaris. Penulis cuma bisa geleng-geleng kepala sambil merasa heran. Kok bisa penulis diangkat jadi pengurus, hadir musyawarah saja tidak pernah! Politik menjadikan seseorang buta hati. Ia rela melakukan apa saja untuk bisa memenangkan persaingan politik.

Penulis memutuskan untuk tidak menghadiri undangan itu. Penulis merasa kapok karena pernah dibohongi acara parpol berkedok agama. Pada undangan tertulis kegiatan pembacaan QS. Waqiah tapi saat acara berlangsung ternyata acara dukungan mencoblos salah satu parpol peserta pemilu. Duh, lebih memprihatinkan lagi ternyata oknum dalang semua ini adalah tokoh agama setempat. Beginilah nilai agama di akhir jaman jadi komoditi politik.

Penulis sejak dulu bertekad tidak akan terlibat politik praktis. Penulis saksikan sendiri betapa banyak perilaku keju dilakukan ulama karena memperjuangkan parpolnya. Biarlah politik itu urusan mereka. Penulis lebih nyaman hidup di area bebas kepentingan parpol.

Bagikan artikel ini melalui:

12 Replies to “Tarik-menarik Organisasi Massa Islam Jelang Pemilu Serentak 17 April 2019”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *