Jiwa Kesatria Tidak Akan Diperbudak Ambisi

Gambar Satria Baja Hitam
Gambar Satria Baja Hitam

Perilaku kesatria tidak bisa disamakan dengan pecundang.

Sesungguhnya jika ada air mata yang mengalirkan pandangan kesatria yang matang, maka dia juga mengalirkan makna keyakinan yang hidup. Jika Anda mendapati kesabaran sama dengan kedunguan pada sebagian orang, maka janganlah Anda mencampuradukkan antara kebodohan orang sakit dan kesiapan orang-orang yang kuat menerima apa yang menimpanya. Semua itu tidak sama. Orang bodoh adalah mereka yang diperbudak ambisi dan keinginan yang tidak pernah habisnya. Sementara jiwa kesatria mampu memahami makna alam dan mengendalikan kemampuannya.

Seseorang yang tidak dapat dirusak oleh hasrat yang tak tercapai merupaka ciri utama kebebasan yang sempurna. Pada saat seseorang menjadi budak keinginan yang tak dicapainya, maka hal itu akan menjadi aib bagi sifat kesatrianya, dan selanjutnya menjadi aib bagi imannya. Sebab iman yang benar menjadikan seseorang bagai tonggak yang keras, tak goyah oleh angin manapun, dan tidak bengkok oleh benturan apapun. Ia adalah tugu mercusuar yang mampu memberi cahaya di tengah gulita dan tak gentar oleh badai menggelora.

Jika kita teliti orang-orang yang tidak kebingungan saat ditimpa masalah secara tiba-tiba, kita akan mengetahui bahwa mereka memiliki sesuatu dalam diri mereka yang mempermudah menghadapi masalah tersebut, demikian Al Ghazali berujar. Mereka siap kehilangan dan mereka memiliki hal-hal yang menghibur mereka dari segala yang telah berlalu. Dengan perasaan ini, mereka dapat menganggap ringan segala permasalahan yang menghimpit mereka. Selalu ada hikmah tersembunyi, demikian orang bijak menghibur diri. Semoga terinspirasi.

Enjoy blogging, enjoy writing!

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *