Lebaran Idul Fitri Sepi di Tengah Pandemi, Terus di Rumah Ngapain?

Halal Bihalal Keluarga Besar Sekolah Dasar Kecamatan Mojowarno Tahun 2018
Halal Bihalal Keluarga Besar Sekolah Dasar Kecamatan Mojowarno

Apa kabar sobat komunitas blogger Jombang? 1 Syawal hadir kembali. Mimpi buruk itu terjadi juga. Seperti sudah diduga sebelumnya, perayaan hari raya Idul Fitri tahun 2020 berlangsung hampa.  Tanpa Pawai Keliling Kampung, Malam Takbir Idul Fitri Cukup di Rumah Saja Tidak ada hingar-bingar takbir keliling kampung. Tidak ada keseruan anak kecil bermain lilin dan kembang api. Suasana pagi hari pun tidak semeriah lebaran tahun lalu. Aktifitas mudik berkurang drastis seiring pemberlakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota besar di sekitar Jombang. PSBB diikuti oleh larangan mudik selama pandemi Covid-19 berlangsung. Gapura desa ditutup portal. Benar-benar siksaan bagi para pekerja yang merantau.

Berbagai cara dilakukan masyarakat Jombang untuk tetap dapat melakukan ibadah dengan mematuhi protokol kesehatan. Diantaranya adalah membagi kerumunan massa di beberapa tempat untuk meminimalkan kontak fisik. Pelaksanaan sholat sunah hari raya Idul Fitri berada di beberapa lokasi di dusun yang sama. Bukan hanya masjid, mushola-mushola pun dijadikan tempat sholat Id. Panitia sholat Id telah dibentuk sepekan yang lalu di tiap masjid dan musholla. Peristiwa bersejarah ini memberikan kesempatan baru untuk para pemuda tampil di kampung halaman sendiri sebagai imam ataupun bilal sholat Id.

Beberapa ketentuan berlaku selama sholat Id. Umat muslim wajib memakai masker kain selama mereka mengikuti sholat Idul Fitri secara berjamaah di masjid atau mushola. Barisan sholat dibuat lebih renggang dari biasanya. Tidak ada acara bersalaman setelah shalat idul fitri. Begitu juga dengan kegiatan kenduri atau makan bersama di halaman masjid setelah shalat Idul Fitri pun tidak dilaksanakan. Sebagian besar masyarakat memilih untuk pulang ke rumah masing-masing segera setelah shalat Idul Fitri selesai. Anak-anak tampak kecewa menyaksikan kenyataan bahwa mereka tidak bisa ikut kenduri bersama. Untung ada petasan sehingga anak-anak sedikit terhibur oleh pesta petasan yang berlangsung singkat.

Akses keluar masuk desa ditutup. Jalan-jalan desa pagi ini terlihat lengang pada perayaan hari raya Idul Fitri. Kali ini tidak tampak kumpulan keluarga berkunjung ke rumah-rumah saudara terdekat mereka. Pemandangan yang terlihat di jalan hanya tampak beberapa pasang suami istri datang ke rumah orang tua mereka. Masyarakat telah memilih untuk bersilaturahmi ke rumah keluarga inti saja. Sementara itu, tetangga di sekitar rumah sudah saling memahami tidak perlu melakukan kunjungan perayaan Lebaran Idul Fitri karena tahun ini situasinya berbeda dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya.

Perayaan Idul Fitri saat pandemi virus Corona berlangsung memang terasa hambar. Kesibukan warga muslim di desa tempat tinggal penulis tetap berlangsung seperti biasa. Mereka memakai pakaian bersih dan rapi hanya pada saat mengikuti shalat idul fitri saja. Usai mengikuti shalat Idul Fitri, mereka kembali mengenakan pakaian sehari-hari. Ibu-ibu memakai daster. Sementara anak-anak berpakaian celana pendek seperti halnya mereka akan bermain sepakbola. Sebagian besar anak mengaku sudah memiliki baju baru tapi tidak mereka gunakan untuk riyayan hari ini. Tidak ada kegembiraan khas suasana lebaran idul fitri seperti tahun kemarin.

Cuaca Jombang hari ini cukup cerah. Tidak ada awan yang menghalangi sinar matahari menerobos masuk ke permukaan bumi Kabupaten Jombang. Cuaca terik berlangsung hingga sore hari. Masyarakat pun dari siang sampai malam hari tidak tampak disibukkan berkunjung ke rumah keluarga. Tidak ada lagi acara halal bihalal Lebaran Idul Fitri. Bahkan sampai tulisan ini diterbitkan, penulis menemukan banyak penundaan acara halal bihalal perayaan Idul perayaan Idul Fitri bersama keluarga. Pandemi corona benar-benar mengacaukan jadwal acara tahunan reuni keluarga. Silatilurahmi tatap muka hanya mampu berlangsung lewat panggilan video (video call).

Rupanya kebijakan menutup rumah di hari raya idul fitri benar-benar dilaksanakan oleh sebagian besar keluarga muda sosialita. Mereka yang gemar menunjukkan eksistensi dirinya dengan berpakaian baru dan berfoto di hari raya ini pun terpaksa harus gigit jari. Hal itu terjadi ketika keluarga yang mereka datangi ternyata tidak antusias menyambut hari raya Idul Fitri. Tidak ada penyambutan di ruang tamu. Hal itu diikuti pula dengan kecurigaan tuan rumah yang memandang tamu di rumahnya sebagai pembawa virus. Tuh kan, niat berkunjung silaturahmi malah jadi serba salah.

Berdasarkan pengamatan penulis, sebagian besar keluarga muslim hari ini memilih untuk membuat makanan sendiri di rumah bersama anggota keluarga. Mereka menghindari membeli makanan di luar. Aktifitas masak bersama jadi cara efektif untuk menghilangkan kejenuhan anggota keluarga. Mereka memilih menu-menu rakyat yang mudah dibuat dan menggunakan bahan-bahan yang gampang ditemukan. Dampaknya adalah para penjual makanan mengaku mengalami kerugian karena sepinya penjualan. Mau bagaimana lagi, kondisinya memang demikian. Berdiam di rumah menjadi solusi terbaik mencegah penularan virus corona.

Bagaimana dengan kondisi perayaan hari raya Idul Fitri di lingkungan tempat tinggal Anda? Apakah lebaran kali ini sama sepinya dengan disini? Jangan-jangan Anda merindukan 7 Konsep Acara Halal Bihalal Keluarga Kreatif, Murah dan Menyenangkan. Silakan berbagi cerita di kolom komentar.

Bagikan tulisan ini:

2 Replies to “Lebaran Idul Fitri Sepi di Tengah Pandemi, Terus di Rumah Ngapain?”

  1. Jangan galau dong mas. Biar kata lebaran di rumah aja tetap harus semangat WFH. Setidaknya orang-orang Indonesia sadar bahwa mereka sedang menghadapi musuh bersama, yaitu serangan negara api.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *