Seperti Inikah Rasanya Social Distancing?

Musik anak-anak
Berjauhan sungguh tidak nyaman.

Hari ini (23/3/2020) memasuki pekan kedua dari kegiatan pembelajaran di rumah (home learning) yang dijalankan oleh para pelajar di Jombang. Murid-murid dari jenjang pendidikan anak usia dini, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi tidak wajib belajar di sekolah atau kampus mereka hingga tanggal 5 April 2020 mendatang. Mereka mendapatkan tugas belajar di rumah melalui sistem pembelajaran online.

Surat edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang telah terbit terkait upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Surat edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang kemarin malam terkesan mendadak. Terlebih lagi surat diterbitkan pada Minggu malam saat semua orang beristirahat di rumah. Para guru masih aktif masuk sekolah Sabtu (21/3/2020) kemarin. Mereka belum menyiapkan diri untuk bekerja di rumah.

Surat edaran tersebut juga mengatur kehadiran Aparat Sipil Negara (ASN) yang bekerja di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang. Para pendidik dan tenaga kependidikan tidak wajib hadir selama dua pekan ke depan. Oleh karena itu pagi hari tadi penulis beserta beberapa rekan guru hadir di sekolah untuk mengemas buku-buku serta alat-alat elektronik yang dapat digunakan untuk bekerja dari rumah (working from home).

Beberapa orang guru sengaja hadir di sekolah lebih pagi dari biasanya. Mereka hadir sebelum pukul 07.00 WIB. Mereka sengaja hadir awal untuk menghindari kontak fisik dengan rekan guru lainnya. Prinsip social distancing benar-benar dijalankan oleh para pendidik dalam pergaulan di lembaga pendidikan. Bahkan ketika penulis tiba di sekolah pukul 07.00 hanya mendapatkan beberapa orang guru. Tanpa bersalaman, penulis pun hanya mengucapkan selamat pagi dan assalamu’alaikum kepada dua orang rekan guru yang telah hadir lebih dulu.

Selebihnya, kami semua menyibukkan diri dengan aktifitas mengemasi buku-buku pelajaran, jurnal penilaian, laptop serta perangkat pembelajaran untuk dibawa pulang. Penulis membawa dua buah tas punggung untuk menyimpan buku-buku serta berkas-berkas yang diperlukan selama bekerja dari rumah. Kegiatan working from home ternyata cukup merepotkan dalam dunia pendidikan. Walaupun saat ini telah ada teknologi komunikasi yang cukup canggih, namun kehadiran tatap muka tetap diperlukan.

Pergilah kau dari hadapanku
Pergilah kau dari hadapanku

Belajar dari Kesalahan Italia

Selama masa pencegahan penyebaran wabah virus Corona ini guru dan murid dipaksa untuk melakukan social distancing. Keduanya tidak diperkenankan berkontak fisik walaupun hanya bersalaman sebagai bentuk tanda hormat. Hidup berjauh-jauhan bukanlah karakter orang Indonesia. Selama ini masyarakat Indonesia telah dikenal sebagai penduduk yang rama, suka menolong, hidup dalam kerukunan, dan memiliki semangat gotong royong yang tinggi. Dengan adanya batasan bersentuhan secara fisik ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi setiap orang, tak terkecuali bagi penulis.

Bagaimanapun kita harus belajar dari kesalahan Pemerintah negara Italia yang membiarkan penduduk mereka berkumpul dalam kerumunan massa dan tidak ada tindakan pelarangan yang lebih memaksa penduduk Italia. Sebulan yang lalu warga Italia masih mengabaikan larangan pemerintah untuk berkerumun dan hasilnya hari ini bisa kita saksikan bersama. Mereka terus dihantui oleh penyebaran virus Corona yang memakan korban ribuan orang setiap hari. Kita semua tentu tidak berharap Indonesia menjadi kacau seperti kondisi negara Italia saat ini.

Social distancing yang dijalankan oleh masyarakat Indonesia sepertinya tidak akan mudah. Terbukti sampai detik ini di tempat tinggal penulis masih mudah ditemui orang-orang bergunjing dan berkelakar di teras rumah dengan tetangganya meskipun untuk tujuan yang tidak penting. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka sehingga mengabaikan larangan pemerintah Indonesia untuk tidak keluar rumah dalam waktu dua pekan ke depan.

Suasana desa akibat social distancing tentu saja berubah. Sore hari ini sejak magrib hingga pukul sembilan malam tidak terlihat satupun pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai makanan. Menu rakyat seperti bakso, nasi goreng, mie goreng, pentol bakar, mie ayam dan lain-lain mulai sulit ditemukan. Ruas jalan-jalan desa tidak tampak orang hilir-mudik naik kendaraan maupun berjalan kaki. Suasana malam hari ini sangat sepi dan mirip kota mati. Penulis hanya bisa memandangi layar Smartphone untuk mencari hiburan dari film-film kartun kesukaan maupun membaca cerita novel di aplikasi Wattpad.

Sepekan yang lalu penulis masih mampu bertahan dengan suasana social distancing. Hidup berjauhan selama sepekan memang tidak terasa, namun memasuki pekan kedua ini mulailah rasa bosan dan jenuh menyerang penulis. Penulis berandai-andai jika saja aktivitas ASN di sekolah tidak diliburkan tentu bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan. Minimal penulis bisa bertemu sesama rekan guru untuk berbagi cerita maupun sekedar bercanda tawa dengan batasan jarak paling dekat 1 meter untuk setiap orang.

Mudah-mudahan wabah virus Corona ini segera berhenti penyebarannya sehingga kita semua bisa hidup kembali secara normal tanpa berjauh-jauhan dengan orang-orang yang kita kenal maupun dengan orang-orang yang belum kita kenal.

Bagikan tulisan ini:

One Reply to “Seperti Inikah Rasanya Social Distancing?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *