Belajar di Rumah Itu Asyik, Tapi Tidak Dapat Uang Saku

PAUD Ar-Rahman Jombang Kembangkan Pendidikan Berbasis Karakter
Pendidikan Berbasis Karakter apakah masih bisa diterapkan dalam home learning?

Pekan pertama pelaksanaan pembelajaran di rumah (home learning) telah berlangsung di Kabupaten Jombang dan sebagian besar wilayah kota dan kabupaten di seluruh Indonesia. Kebijakan ini diambil oleh Pemerintah dalam rangka mencegah penyebaran virus Corona yang lebih luas terhadap para pelajar. Himbauan home learning berlaku mulai jenjang pendidikan anak usia dini, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, hingga Sekolah Menengah Atas sederajat. Bahkan aktivitas perkuliahan di perguruan tinggi pun tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan melalui penugasan secara online.

Pembelajaran di rumah mensyaratkan setiap orang tua untuk mendampingi putra-putri mereka mengerjakan tugas dari guru di sekolah. Setiap guru berkewajiban tetap masuk kerja sesuai jam kerja dinas. Setiap guru kelas dan guru mata pelajaran mengawasi kegiatan pembelajaran murid-murid di rumah dari sekolah. Setiap murid mendapatkan tugas melalui komunikasi online dan harus diserahkan hari itu juga sesuai dengan mata jadwal mata pelajaran yang sedang berlangsung. Pemberian batas waktu pengiriman tugas belajar di rumah berguna untuk mencegah setiap murid melakukan kegiatan tidak penting di luar rumah.

Sebagian besar murid merasa senang karena mereka tidak wajib hadir di sekolah selama dua pekan mulai 16 Maret 2020 kemarin hingga 28 Maret 2020 mendatang. Mereka pun mendapatkan pembebasan kewajiban belajar di sekolah atau mereka menyebutkan sebagai liburan dadakan. Meskipun dalam pernyataan resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dua pekan ini bukanlah liburan bagi murid, nyatanya sama saja setiap murid merasakan liburan tahun ini cukup panjang. Mereka memiliki banyak waktu untuk berdiam di rumah, menonton televisi, bermain di rumah, maupun melakukan berbagai kegiatan lain secara santai di rumah masing-masing.

Penulis mencoba bertanya kepada sejumlah peserta didik melalui komunikasi WhatsApp terkait dampak home learning. Sebagian besar murid menyatakan senang belajar di rumah. Mereka tidak harus bangun pagi-pagi dan terburu-buru berangkat sekolah. Mereka memiliki banyak waktu luang untuk mempersiapkan diri belajar di rumah dengan berbekal smartphone dan koneksi internet yang cukup lancar. Dua minggu masa pembelajaran di rumah ibaratnya liburan tambahan bagi mereka selain jatah libur awal puasa dan libur Lebaran Idul Fitri. Walaupun tidak boleh keluar kota namun setidaknya anak-anak tidak wajib memakai seragam sekolah setiap hari.

Gambar globe dengan tumpukan uang emas - gambar diambil dari Pinterest dot com
Gambar globe dengan tumpukan uang emas. (Gambar diambil dari Pinterest.com).

Lebih Asyik Belajar di Sekolah

Masih menurut pengakuan beberapa murid yang penulis konfirmasi melalui WhatsApp, sebagian besar murid merasa biasa saja belajar di rumah dan tidak ada ada kekhawatiran akan penyebaran virus Corona. Hanya saja mereka merasa tidak senang karena jatah uang saku mereka tidak diberikan oleh orang tua selama kegiatan pembelajaran di rumah selama sepekan pertama ini. Jatah uang saku mereka dialihkan untuk belanja sehari-hari. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan hanya sedikit di antara orang tua yang bandel untuk mengajak anak-anaknya melakukan perjalanan ke luar kota.

Tidak mendapatkan jatah uang saku merupakan tantangan tersendiri bagi setiap anak. Maklum saja naluri anak-anak zaman sekarang adalah berkumpul bersama teman-teman mereka yang seusia dan mengadakan kegiatan jajan bersama. Berhubung saat ini warung-warung tetangga banyak yang tutup karena upaya pencegahan virus korona, maka anak-anak itupun memiliki lebih sedikit tempat untuk nongkrong dan berkumpul dengan teman-teman mereka sambil jajan. Sebagian anak telah mendapatkan wawasan social distancing dari orang tua mereka sehingga mereka membatasi diri untuk bergaul dekat dengan orang lain.

Sebagian kecil di antara anak-anak itu mampu berpikir lebih dewasa dengan mengatakan bahwa tidak penting bagi mereka untuk tidak mendapatkan jatah uang saku dari orang tua asalkan masih bisa makan tiga kali sehari dan perutnya kenyang. Pemikiran seperti ini tidak mudah hadir dalam alam bawah sadar anak-anak mengingat pola makan kids jaman now cenderung tidak teratur. Mereka lebih menyukai mengkonsumsi makanan instant, mencoba beragam junk food, dan berbagai kudapan yang terasa enak namun tidak memiliki kandungan gizi yang cukup berarti.

Kegiatan pembelajaran di rumah membawa hikmah bagi pengelolaan keuangan rumah tangga. Setidaknya para orang tua tidak berkewajiban untuk mengeluarkan biaya uang saku anak-anak mereka untuk berangkat ke sekolah setiap hari selama dua pekan ini. Terlebih lagi kondisi saat ini kurs mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika semakin mengkhawatirkan. Info terakhir saat tulisan ini terbit, kurs mata uangĀ  Rupiah terhadap Dollar Amerika berada pada kisaran Rp16.200 US Dollar. Beberapa harga kebutuhan utama pun beranjak naik di tengah kelangkaan stok pangan. Mudah-mudahan dengan berkurangnya biaya uang saku untuk anak-anak bisa membantu menghemat pengeluaran keluarga.

Bagaimana dengan pengalaman Anda selama sepekan ini dalam mengelola keuangan keluarga? Apakah dengan berlakunya kegiatan pembelajaran di rumah bagi murid-murid sekolah berpengaruh terhadap penghematan biaya keluarga? Atau jangan-jangan selama sepekan ini anak-anak Anda tetap meminta hak mereka untuk memiliki uang saku sendiri? Silakan berbagi pengalaman Anda pada kolom komentar dibawah ini.

Bagikan tulisan ini:

2 Replies to “Belajar di Rumah Itu Asyik, Tapi Tidak Dapat Uang Saku”

  1. Semoga virus corona ini segera berhenti nyebar. Wah…. ribet juga jadi orang tua yang harus mengajar anak-anak mengerjakan tugas di rumah. Lebih baik saya keluar uang untuk transport sekolah anak daripada harus ribet mendampingi mereka belajar di rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *