Mengapa Kegagalan Adalah Anak Yatim Dalam Kehidupan?

Sesuatu yang secara ekstrim berguna bagi manusia adalah reaksi orang-orang terhadap kesuksesan dan kegagalan yang diraihnya. Ketika ditanya, orang akan membuat atribusi internal untuk hasil yang sukses dan atribusi eksternal untuk kegagalan.

Contohnya, Anda mendapat nilai A dalam sebuah tes dan saya menanyakan kepada Anda mengapa bisa sukses dalam belajar. Dalam batas-batas normal kerendahan hati, Anda akan mengatakan: saya belajar dengan sangat keras, saya punya bakat pada bidang tersebut, saya adalah pelajar yang baik. Menurut Joel Whalen, semua jawaban tersebut merupakan atribusi internal yang berlaku dalam diri manusia.

Tetapi bayangkan jika Anda mendapat nilai F dalam sebuah tes. Bukan berarti ini akan terjadi beneran dalam kehidupan Anda. Tetapi pura-pura saja Anda gagal dalam ujian dan Anda ditanya mengapa. Jawaban yang sama akan masuk: tes tadi terlalu sulit, saya bekerja sampingan sambil belajar sehingga tidak bisa konsentrasi, materi yang kami pelajari tidak sama dengan materi tes. Dalam hal ini, kegagalan menghasilkan atribusi eksternal untuk sebuah sebab. Itulah sifat manusia.

Motivasi Kerja dan Profesionalisme Pekerjaan - Hugh Jackman Large Photos
Motivasi Kerja dan Profesionalisme Pekerjaan - Hugh Jackman Large Photos

Faktor yang sama digunakan saat seorang freelancer online mendapatkan order atau job dari klien. Ada semacam kebanggaan terhadap diri mereka sendiri. Muncul anggapan: branding saya meyakinkan, portofolio saya mampu ‘menjual’, saya punya kompetensi di bidang tersebut dan lain-lain. Bahkan saat anak-anak Anda melakukan hal yang terbaik di sekolah, mungkin itulah gen terbaik milik Anda dan betapa berhasilnya Anda mengasuh mereka.

Saat meraih keberhasilan atau kesuksesan, manusia menganggap sebagai atribusi internal. Berasal dari kemampuan mereka sendiri. Sebaliknya, saat mendapat kegagalan, atribusi eksternal muncul sebagai bentuk pelimpahan tanggungjawab kegagalan. Sungguh malang nasib sebuah kegagalan, tak ada yang mau menerima kehadirannya. Persis seperti anak yatim yang dibuang oleh sebuah keluarga.

Sekarang Anda bisa memilih: keberhasilan atau kegagalan? Menjadi anak yang dicintai keluarga atau anak yang terbuang dari lingkungan? Semoga artikel ini mampu menginspirasi motivasi diri Anda. Enjoy blogging, enjoy writing!

One Reply to “Mengapa Kegagalan Adalah Anak Yatim Dalam Kehidupan?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *