Belajar Move On Bersama Siswa SDN Penggaron

Tebar Motivasi Islami pada Perayaan Hari Raya Idul Qurban di SDN Kedungpari 1 Tahun 2017
Berubahnya situasi secara tiba-tiba sudah menjadi resiko pembicara publik. Pikiran stress adalah hal yang wajar terjadi namun jangan menjadi masalah penting.

Hari yang sangat melelahkan baru saja terlalui. Sungguh, begitu banyak pelajaran berharga penulis dapatkan hari ini. Manusia dapat merencanakan dan mengusahakan, namun Allah juga yang menentukan hasilnya. Sudah ada dua acara PHBI masuk agenda hari ini. Acaranya berlangsung secara urut. Dimulai dari Penggaron di pagi hari. Lalu dilanjutkan ke Catakgayam satu jam berikutnya.

Penulis sudah sampai di SDN Penggaron pada pukul tujuh tepat. Harapannya adalah doa bersama bisa segera dimulai. Pengalaman penulis sebagai pembicara publik menunjukkan bahwa anak-anak yang dibiarkan terlalu lama menunggu di luar ruangan dapat mengganggu mood belajar. Daya serap materi pun bisa menurun karena energi anak sudah hampir habis. Tentu ini bukan kondisi ideal untuk melakukan presentasi.

Panitia dan lokasi kegiatan belum siap. Acara molor satu jam. Jam delapan lebih sepuluh menit acara dimulai. Penulis mendapatkan kesempatan berbicara pukul setengah sembilan dalam keadaan anak-anak sudah bad mood. Penulis pun sudah hampir putus asa mengelola mood diri sendiri. Inilah presentasi terburuk yang pernah penulis lakukan selama menjadi public speaker.

Kendati demikian, the show must go on. Penulis menyampaikan ulasan materi peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini dengan menitikberatkan pada aspek ibadah sholat. Hal ini tidak mudah. Lingkungan sekolah sungguh tidak mendukung. Penulis menyaksikan sendiri bagaimana guru mereka menggunakan pukulan dan cubitan sebagai cara mendisiplinkan murid. Bentuk hukuman seperti ini tentu tidak baik bagi perkembangan psikologi anak. Hukuman fisik justru akan menjadikan anak pendendam dan suka menentang orang tua.

Syukur alhamdulillah, 215 anak yang memadati ruang kelas 2 itu terlibat secara aktif dalam presentasi. Bukan hanya ikut bernyanyi lagu-lagu Islam, tapi juga ikut kuis interaktif. Mereka tampak senang dan melupakan masa lalu sebagai penari jaran kepang sebagaimana dilakukan orang-orang di sekitar mereka. Penulis sadar langkah ini hanya pemancing saja. Perlu pembiasaan dan keteladanan dari orang tua untuk menjadikan anak peniru perbuatan salih.

Move on menuju ibadah itu penting. Bahkan harus dilakukan semua muslim. Setiap orang pasti punya masa lalu yang tidak menyenangkan. Namun hidup Anda tidak boleh terjebak masa lalu dan terus menatap masa depan. Anak-anak pun demikian. Tidak ada satupun anak yang terlahir sebagai anak nakal. Mereka disebut nakal karena perilaku mereka tidak sesuai keinginan orang dewasa. Semoga artikel ini bisa menambah inspirasi Anda dalam mendidik anak.

Bagikan artikel ini melalui:

3 Replies to “Belajar Move On Bersama Siswa SDN Penggaron”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *