Curhat Santri Kepada Ustadz

gambar-anak-anak-belajar-mengaji-di-tpq.jpg.jpeg
gambar-anak-anak-belajar-mengaji-di-tpq

Terdengar lantunan senandung asmaul husna di telinga. Suara anak-anak terdengar melengking di ujung pengeras suara. Saya pun terbangun dari tidur siang dengan terperanjat. Agak gelagapan juga saya dibuatnya. Saya sudah hafal rutinitas TPQ Al-Mujahiddin. Jika terdengar senandung asmaul husna maka itu tandanya sudah mendekati pukul empat sore. Namun kali ini saya masih terbaring di tempat tidur. Ibadah puasa membawa saya sering mengunjungi kasur di siang hari.

Saya bergegas mandi dan bersiap ke kelas TPQ. Sekali lagi saya bersyukur atas kesadaran santri yang mau mengawali bacaan asmaul husna tanpa saya suruh. Saya tidak punya waktu banyak untuk melamun. Saya buru-buru masuk kelas. Alhamdulillah disana telah ada beberapa santri marhalah wustho yang sedang mengajar para santri paket dasar jilid 1. Satu orang santri mengajar dua orang santri lainnya. Persediaan guru TPQ terbatas, terpaksa meregenerasi santri senior untuk mengajar adik-adik kelasnya. Dalam keadaan darurat seperti ini semuanya memang harus berperan.

Saya mengamati cara santri senior mengajar adik kelasnya. Mereka belum mampu bertindak dengan betul layaknya guru ngaji betulan. Maklum, mereka belum pernah mendapat ilmu metodologi pendidikan. Saya tetap senang atas kesediaan mereka mengajar. Mereka dapat belajar dari mengajar orang lain. Dua puluh menit berlalu dan mereka menuntaskan pembelajaran itu. Selanjutnya saya giliran bertugas mengajar tiga orang santri senior itu. Mereka kegirangan saya ajar. Sudah lama mereka tidak saya ajar karena selama ini saya fokus mengajar santri marhalah awal.

Usai mengajar santri, seperti biasanya saya melakukan refleksi selama lima menit. Kali ini mereka memulai lebih dulu. Mereka curhat betapa menyiksanya kegiatan mengaji selama pindah guru setelah saya. Mereka mengaku tidak bisa belajar membaca Al Quran dengan senang karena selalu dibandingkan dengan anak lain yang lebih pandai. Saya menyimak diskusi mereka dengan tenang. Ujung dari percakapan empat orang ini adalah orang tua mereka menyarankan pindah tempat mengaji jika diajar oleh guru sekarang yang kurang akrab kepada murid.

Saya terhenyak seolah bangkit dari mimpi di siang hari. Inilah potret sebenarnya dunia TPQ di desa tempat tinggal saya. Hal sama mungkin saja terjadi di desa-desa lain di seluruh penjuru Nusantara. Para guru ngaji yang mengajar santri karena terpaksa adalah kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri. Mereka mengaku sebagai pecinta Al Quran namun gagal menumbuhkan rasa cinta itu di hati para santri. Sebaliknya, para santri yang berhati rawan itu malah antipati terhadap kegiatan pembelajaran yang menyiksa.

Bagikan artikel ini melalui:

9 Replies to “Curhat Santri Kepada Ustadz”

  1. Punya guru ngaji kayak Mas Agus pasti senang. Tiap hari nggak bakalan galau karena mau jadi tempat curhat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *