Regenerasi Lambat Jamaah Yasin, Tahlil dan Istighotsah di Desa

Zemanta Related Posts Thumbnail

Sejak saya memutuskan menetap di kampung halaman tahun lalu, saya mulai menyibukkan diri untuk mengikuti beragam kegiatan agama di desa. Salah satu acara keagamaan yang saya usahakan untuk selalu hadir adalah kegiatan Jamaah Yasin, Tahlil dan Istighotsah Putra. Acara istighostah yang dilakukan tiap hari Kamis malam Jumat ini menjadi salah satu media bagi saya untuk bersosialisasi dengan masyarakat Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang.

Awalnya saya tidak berharap banyak pada kegiatan agama Islam ini. Saya hanya datang, duduk, ikut istighotsah dan pulang. Tidak ada harapan pencapaian lain yang lebih berarti. Tapi sejak saya mengikuti Pelatihan Guru Pengajar Quran (PGPQ) di Kecamatan Mojowarno pada awal tahun 2012 ini, saya memiliki motivasi tambahan agar lebih banyak berbicara pada acara rutinan Yasin dan Tahlil Putra yang sepi peminat ini.

Regenerasi yang lambat menyebabkan acara ini tidak diminati oleh anak muda. Bisa juga berlaku sifat yang sebaliknya. Para anggota jamaah umumnya adalah bapak-bapak atau kakek-kakek yang merupakan produk pendidikan orde baru. Sentuhan anak muda sangat minim. Setahu saya, anak muda yang ada dalam jamaah yasin dan tahlil hanya empat orang. Saya merupakan salah satu anggota termuda dan satu-satunya yang belum menikah.

Akhirnya Kesempatan Itu Datang Juga

Nah, kesempatan tersebut akhirnya datang juga pada diri saya. Pada Kamis malam kemarin saya menjadi pemimpin pembacaan Yasin. Kelihatannya memang agak lucu jika mengingat usia saya yang segede ini baru dipercaya membaca Yasin. Namun tak apalah. Memang inilah sebuah kenyataan yang harus saya terima. Belum dipercaya oleh golongan tua memang tidak enak. Saya membutuhkan waktu sekian lama sehingga kepercayaan itu akan muncul dengan sendirinya.

Saya agak nervous waktu memimpin baca Yasin untuk pertama kali. Ditambah lagi penerangan lampu yang tidak terlalu terang sempat menyulitkan saya untuk membaca ayat-ayat Quran secara jelas. Dan yang paling penting, tenaga saya sudah terkuras habis pada saat itu. Acara dimulai pukul 18.30 WIB dan energi saya terserap untuk acara Walimatul Ursy dan mengajar di TPQ Al-Mujahidin sebelumnya. Kegiatan-kegiatan tersebut berlangsung secara marathon tanpa jeda sedikitpun.

Celakanya, pita suara saya jadi mengecil jika tubuh saya berada dalam kondisi capek berlebihan. Wedew, gangguan ini membuat saya sedikit stress. Pelajaran berharga yang saya petik kali ini adalah pentingnya menjaga kebugaran tubuh. Sebaliknya kita tidur siang untuk menghadapi kegiatan malam hari yang menyita energi. Walau tidur siang hanya sepuluh menit, itu sudah cukup bagi tubuh kita untuk me-refresh kebugaran fisik.

Saya begitu bersemangat akhir-akhir ini. Saya merasa dilahirkan sebagai manusia baru. Semoga motivasi diri ini bisa bertahan lama dan tidak tergantikan oleh situasi yang menggiring saya pada bad mood. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi Anda.

One Reply to “Regenerasi Lambat Jamaah Yasin, Tahlil dan Istighotsah di Desa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *