Pawai karnaval Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang telah dilaksanakan pada Sabtu, 25 Agustus 2018 lalu. Semula saya berharap acara Agustusan ini akan menyuguhkan penampilan kostum yang unik dan menarik. Sayangnya, saya hanya mendapatkan lelah dan kecewa. Saya menanti arak-arakan pawai karnaval di depan Kantor Pegadaian Ngoro mulai jam 1 siang. Selama setengah jam pertama tidak ada satu pun grup karnaval yang lewat padahal sebelumnya sudah ada satu kelompok karnaval tampil. Kok lama ya, saya hanya bisa bergumam tidak senang. Keramaian hanya ada di stand penjual makanan di sepanjang jalan. Mereka asyik berdagang es, gorengan, buah dan beberapa jenis mainan anak. Keadaan ini tidak seperti karnaval Ngoro tahun-tahun sebelumnya yang terkenal ramai dan kreatif dengan aneka dandanan seru.
Saya harus bersabar karena berdiri di bawah terik matahari bukanlah perkara mudah. Debu-debu berterbangan memasuki rongga hidung. Lima belas menit kemudian muncul satu tim karnaval. Kostum mereka terkesan acak-acakan seperti penyanyi cadas. Tidak tampak sedikitpun pakaian adat budaya daerah Nusantara. Hal ini berulang terus sepanjang acara pawai. Kalaupun ada peserta karnaval yang mengenakan baju adat, itupun hanya satu dan dua saja sebagai pelengkap. Omaigat, apakah anak muda di Ngoro sudah makin alergi dengan pakaian adat Nusantara? Ini jelas bukan pertanda baik untuk nasionalisme pemuda jaman now. Pakaian Bhinneka Tunggal Ika yang dulu menjadi kebanggaan warga kini sudah jarang digunakan remaja. Mungkin Pemerintah Daerah setempat harus belajar dari Jember Carnaval Festival untuk mengelola kegiatan karnaval yang lebih bagus.
Penampilan dominan pawai kali ini adalah joget dangdut dengan menggunakan lagu Syantik. Anak-anak muda tampak berlenggak-lenggok dengan bangga di atas mobil bak terbuka. Mereka merasa menjadi artis dalam acara ini meski kostum yang dipakai tidak sopan. Sungguh memprihatinkan. Para remaja pria berdandan seperti wanita dan membuat gerakan erotis di depan umum. Saya melihat mereka dengan risih. Tontonan seperti ini yang merusak mental kids jaman now. Budaya hura-hura yang menjangkiti kebanyakan generasi muda tampak dengan jelas dalam pakaian mereka. Para pemangku kepentingan seharusnya memberikan pengarahan pakaian karnaval yang akan digunakan peserta karena busana mereka menunjukkan kepribadian desa tempat tinggal mereka.
Tinggalkan Balasan